Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Validasi Menjadi Candu dan Hubungan Kehilangan Empati

Kompas.com, 26 Juni 2026, 14:00 WIB
Buku It's Not You - Mengidentifikasi dan Memulihkan Diri dari Orang Narsistik Sumber Gambar: Dok. M&C! Buku It's Not You - Mengidentifikasi dan Memulihkan Diri dari Orang Narsistik
Rujukan artikel ini:
It's Not You: Mengidentifikasi dan…
Pengarang: Dr. Ramani Durvasula
|
Editor Novia Putri Anindhita

Ada orang-orang yang bisa membuat kita merasa tidak berarti tanpa perlu berteriak.

Mereka seperti pusat gravitasi dalam hubungan.

Semua pembicaraan, keputusan, bahkan perasaan kita, perlahan-lahan berputar di sekitar kebutuhan mereka.

Pola seperti ini tidak hanya masalah pribadi.

Sekarang, hal ini sudah menjadi fenomena sosial yang sering kita temui sehari-hari, terutama di media sosial dan budaya, tempat kita semua ingin diakui.

Baru-baru ini, banyak orang membicarakan tentang perilaku narsisistik di TikTok, podcast, maupun forum kesehatan mental.

Beberapa orang sadar bahwa hubungan yang melelahkan tidak selalu terlihat sebagai kekerasan fisik.

Terkadang luka yang paling sakit justru datang dari manipulasi halus, permainan emosi, atau kebiasaan membuat orang lain merasa bersalah hanya untuk menjaga harga diri seseorang.

Fenomena ini memang menarik karena muncul bersamaan dengan budaya “aku harus terlihat sempurna” yang makin mendominasi kehidupan modern.

Media sosial memberi kesempatan besar bagi kita untuk menampilkan citra diri yang baik.

Banyak orang berlomba-lomba menampilkan versi terbaik dari hidup mereka, seperti paling sukses, paling sibuk, paling bahagia, dan paling menarik.

Memang tidak ada yang salah dengan ingin diapresiasi oleh orang lain, tetapi ketika kebutuhan akan pengakuan berubah menjadi obsesi, hubungan antarmanusia mulai kehilangan ruang untuk empati.

Di tempat kerja, misalnya, semakin banyak cerita tentang atasan yang sangat ingin dipuji tetapi sulit menerima kritik.

Ada juga teman yang hanya datang ketika membutuhkan validasi, lalu menghilang saat kita sedang kesulitan.

Bahkan dalam hubungan romantis, tidak sedikit yang mulai menyadari pola “love bombing", gaslighting, atau sikap manipulatif yang sebelumnya dianggap normal.

Fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana budaya “aku harus terlihat sempurna” memengaruhi kehidupan modern dan hubungan antarmanusia.

Mengenali Bentuk Manipulasi Halus dalam Hubungan

Orang dengan perilaku narsisistik sering kali menyembunyikan sifat aslinya di balik pesona yang kuat.

Mereka bisa terlihat sangat percaya diri, karismatik, dan sangat meyakinkan saat pertama kali kita bertemu.

Orang seperti ini sangat pandai membaca situasi dan tahu cara membuat orang lain merasa spesial.

Namun, seiring waktu berjalan, hubungan yang terjalin dengan mereka berubah menjadi suatu arena yang mendorong mereka berusaha mengendalikan emosi orang lain.

Pendapat atau pandangan orang lain dianggap sebagai ancaman bagi mereka, dan mereka sering memutarbalikkan kritik yang ditujukan kepada mereka.

Lambat laun, korban dari perilaku narsisistik ini mulai meragukan kemampuan dan keyakinan diri mereka sendiri.

Hal ini menjadi semakin relevan karena kesadaran akan kesehatan mental meningkat, terutama di kalangan generasi muda.

Dahulu, banyak orang memilih untuk bertahan dalam hubungan yang toksik karena takut dianggap berlebihan atau tidak setia jika mereka memutuskan untuk meninggalkan hubungan tersebut.

Namun, sekarang generasi muda mulai lebih berani dalam mengenali dan memberi nama pada pengalaman emosional mereka.

Mereka telah memahami bahwa merasa lelah secara mental bukanlah sesuatu yang harus mereka toleransi terus-menerus.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Namun, kita juga harus berhati-hati saat menggunakan istilah “narsisistik".

Banyak orang yang terlalu cepat menuduh orang lain sebagai narsisistik hanya karena mereka egois atau berperilaku buruk sesaat.

Padahal, perilaku buruk tidak selalu berarti seseorang memiliki gangguan kepribadian narsisistik.

Ada perbedaan besar antara seseorang yang sesekali egois dengan seseorang yang memiliki pola perilaku manipulatif dan merusak.

Orang yang egois mungkin hanya memprioritaskan diri sendiri dalam situasi tertentu, tapi tidak selalu berusaha mengontrol atau merusak orang lain.

Kita perlu memahami masalah ini dengan lebih bijak.

Tujuannya bukan untuk membuat kita semua menjadi ahli diagnosis, tetapi untuk membuat kita lebih sadar akan pola hubungan yang tidak sehat.

Dengan kesadaran ini, kita bisa membangun batasan yang lebih sehat, mengenali tanda-tanda manipulasi, dan tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas luka yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan kita.

Menariknya, kehidupan modern ini ternyata juga turut memelihara sifat narsisistik tanpa kita sadari.

Media sosial menggunakan algoritma yang memberikan penghargaan pada perhatian.

Semakin kontroversial seseorang, semakin besar kemungkinan mereka menjadi viral.

Semakin dramatis kehidupan yang ditampilkan, semakin banyak interaksi yang diterima.

Dalam keadaan seperti ini, empati sering kali kalah cepat dibandingkan dengan sensasi.

Akibatnya, banyak orang tumbuh dengan tekanan untuk selalu terlihat superior.

Mereka takut terlihat gagal, takut diabaikan, dan takut kehilangan pengakuan.

Dari sinilah muncul hubungan-hubungan yang dangkal: koneksi yang ramai di permukaan tetapi lemah secara emosional.

Banyak orang yang terjebak dalam situasi ini.

Di tengah-tengah keadaan itu, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan: bagaimana cara menjaga diri sendiri tanpa kehilangan empati? Sebab menghadapi perilaku narsisistik bukan berarti membalas dengan kebencian.

Terkadang, langkah paling sehat justru menciptakan jarak, menetapkan batas, dan berhenti merasa bertanggung jawab atas ego orang lain.

Fenomena ini menunjukkan satu hal yang penting.

Manusia modern sekarang lebih sadar bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang diri sendiri.

Kesehatan mental juga tentang orang-orang yang kita izinkan ada dalam hidup kita.

Hubungan yang sehat tidak selalu yang paling dramatis, sementara hubungan yang sehat juga tidak selalu yang terlihat sempurna di media sosial.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri.

Jika kamu pernah atau sedang berada di posisi ini, buku It's Not You - Mengidentifikasi dan Memulihkan Diri dari Orang Narsistik bisa jadi bacaan yang tepat.

Buku ini akan mengajakmu untuk mengambil kendali atas diri kamu sendiri dan lepas dari orang narsistik.

Baca bukunya sekarang dengan memesan secara online melalui Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau