Buku Aku Putuskan Mengubah Hidupku Hari Ini Bagi sebagian orang, bangun pagi dengan tubuh bugar adalah hal biasa.
Namun, bagi sebagian lainnya yang hidup dengan perihnya eksim, lelahnya autoimun, nyeri hebat endometriosis, atau keterbatasan fisik lainnya, pagi hari sering kali diawali dengan rasa cemas.
Mereka yang mengalami kondisi tersebut sering kali bertanya dalam hati, "Bagaimana kondisi tubuhku hari ini? Apakah tubuhku mau diajak bekerja sama?"
Hidup dalam tubuh yang sering kita anggap sebagai "musuh" memang sangat melelahkan.
Apalagi di media sosial, kita terus-menerus dibombardir oleh konten produktivitas, seperti harus bangun pagi buta, olahraga berat, dan bekerja tanpa batas.
Akibatnya, mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau gampang lelah, sering merasa tertinggal dan bersalah, seolah-olah rasa sakit itu muncul karena kita kurang disiplin.
Namun, benarkah kita harus menunggu punya tubuh baru yang sempurna dulu untuk bisa bahagia?
Sudut pandang yang membebaskan ini ditulis dengan sangat apik oleh Kim Seonyeong dalam bukunya, Aku Putuskan Mengubah Hidupku Hari Ini.
Sebagai perempuan yang kenyang dengan berbagai penyakit kronis sejak kecil, mulai dari eksim parah, HNP, endometriosis, hingga migrain, Seonyeong tidak sedang menjual mimpi instan tentang kesembuhan yang ajaib.
Ia menceritakan secara blak-blakan masa lalunya yang sering mendapat julukan "rumah sakit berjalan" saking seringnya jatuh sakit.
Hidupnya dulu juga akrab dengan ketergantungan pada berbagai macam obat demi bisa bertahan melewati hari.
Waktu membaca salah satu halamannya, kita mungkin bakal mengernyitkan dahi karena ada kalimat yang bunyinya begini, "Bagi orang yang sering sakit, ketidaktahuan adalah penyakit dan tahu terlalu banyak adalah anugerah." (hlm. 110)
Lho, bukannya pepatah aslinya terbalik, ya? Bukannya tidak tahu itu yang bikin tenang? Yapp, buat orang sehat, mungkin begitu.
Namun bagi sebagian orang yang punya tubuh rentan, "tahu banyak" tentang kondisi tubuh sendiri itu justru sebuah berkah.
Daripada terus menebak-nebak dengan rasa cemas tiap bangun pagi, tahu detail soal apa yang terjadi di tubuh justru bikin kita lebih damai.
Dari sanalah Seonyeong mengajak pembaca untuk menjadikan momen sakit ini sebagai gerbang untuk lebih mengenal diri sendiri.
Bagi siapa pun yang berjuang dengan autoimun, eksim, atau keterbatasan fisik, tubuh sebenarnya punya bahasanya sendiri.
Mengenal diri berarti berhenti memaksakan standar "orang normal" ke tubuh kita.
Caranya bisa kita lalui lewat tiga langkah sederhana berikut ini.
Para pemilik tubuh sensitif perlu mencari tahu kapan eksim akan meradang atau makanan apa yang membuat pencernaan terganggu.
Kalau tubuh meminta istirahat, itu bukan berarti kita malas atau kalah dari "kaum produktif".
Istirahat adalah sebuah kebutuhan biologis yang sah dan wajib dipenuhi.
Kita memang tidak bisa memilih takdir genetik atau kondisi tubuh yang rapuh.
Meskipun begitu, kita punya kendali penuh atas bagaimana cara merawatnya hari ini.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Salah satu kesalahan terbesar ketika menghadapi tubuh yang sakit atau memiliki kemampuan berbeda adalah menganggap tubuh sebagai medan perang.
Memaksa diri melampaui batas buat melawan rasa sakit justru ujung-ujungnya malah bikin kelelahan fisik dan mental yang lebih parah.
Seonyeong memberikan metafora yang sangat menyentuh dalam bukunya bahwa tubuh kita seperti mobil tua yang tidak bisa dikembalikan ke dealer.
Pilihannya bukan membuang mobil itu, melainkan bagaimana cara mengendalikan dan mengendarainya dengan hati-hati.
Makanya, menyerah pada rasa sakit terkadang bukan berarti kita kalah.
Ada satu strategi unik dari Seonyeong saat tubuhnya mulai tidak kooperatif, yaitu berpura-pura mundur dengan mengangkat kedua tangan sambil berkata 'saya kalah', lalu buru-buru minum obat.
Strategi ini sebenarnya sebuah serangan balik terbaik.
Maksudnya, alih-alih keras kepala memaksakan diri tetap produktif saat tubuh sedang tumbang, pilihan untuk "mengaku kalah" dan langsung istirahat justru cara paling cerdas buat menyelamatkan tubuh kita.
Saat kita berhenti mengutuk tubuh yang rapuh, di situlah kita mulai memperlakukannya dengan lebih hormat.
Perubahan besar tidak selalu lahir dari keputusan yang dramatis.
Bagi mereka yang ruang geraknya terbatas atau energinya mudah terkuras karena kondisi kesehatan, kebiasaan kecil sehari-hari adalah kunci utama untuk bertahan.
Perubahan hidup yang penuh bisa dimulai dari rutinitas sederhana yang konsisten:
Tidak perlu langsung lari maraton atau angkat beban.
Gerakan simpel seperti meregangkan tubuh di kasur atau jalan santai beberapa menit sudah cukup.
Cukup sisihkan waktu 5 menit sehari untuk menulis jurnal atau menyalin tulisan bagus yang menenangkan pikiran.
Saat fisik terbatas, kesehatan mental justru harus dijaga ekstra ketat.
Kita harus membangun batasan yang tegas untuk menolak ajakan atau pekerjaan yang bakal menguras fisik.
Kenyamanan dirimu jauh lebih penting daripada penilaian orang lain.
Buku ini memberikan tamparan lembut bahwa melakukan sesuatu secara tidak sempurna, tetapi konsisten, jauh lebih bernilai daripada menunggu hari ketika tubuh kita sehat total (yang mungkin tidak pernah datang).
Semua kebiasaan kecil ini dimulai dari satu pemantik, yaitu tekad di dalam batin yang berbunyi, "Aku putuskan mengubah hidupku mulai hari ini."
Kalimat itu bukan janji kalau besok pagi rasa sakitmu akan langsung hilang secara ajaib.
Itu adalah janji setia kepada diri sendiri bahwa apa pun kondisi tubuh besok, entah eksim sedang meradang atau autoimun sedang kambuh, kita akan tetap memperlakukan diri dengan penuh rasa hormat dan tetap mencari celah kecil untuk bahagia.
Lutut atau kulit kita mungkin memiliki keterbatasan dan menua, tetapi semangat kita untuk merayakan hidup harus tetap muda.
Maka dari itu, untukmu yang juga sering merasakan lelahnya berjuang dalam tubuh yang tidak kooperatif, sering merasa tertinggal oleh standar produktivitas orang lain, dan butuh suntikan semangat tanpa dihakimi, buku ini wajib kamu baca.
Buku Aku Putuskan Mengubah Hidupku Hari Ini sudah tersedia dan bisa kamu dapatkan di seluruh gerai toko buku Gramedia terdekat atau secara online melalui Gramedia.com.