Buku Setelah Melompat, Aku Ingin Hidup Kematian.
Satu topik sensitif yang sulit dihindari manusia.
Ia sesuatu yang menyamaratakan semua orang, tak peduli siapa namamu, berapa usiamu, atau bagaimana latar belakangmu.
Barangsiapa yang pernah lahir dan pernah hidup, pada akhirnya harus mengalami yang namanya kematian.
Meski begitu, cara setiap orang memandang kematian sering kali berbeda dan tidak sederhana.
Banyak yang takut padanya—takut pada caranya, atau apa yang terjadi setelahnya.
Sebagian sudah berdamai dengannya, menganggapnya hanya bagian dari kehidupan yang mau tidak mau harus dihadapi.
Namun, bagi orang-orang yang merasa sudah lelah hidup, kematian kadang terdengar seperti sebuah penghiburan.
Karakter Mori dalam Setelah Melompat Aku Ingin Hidup memahami ini lebih dari siapapun.
Ia adalah makhluk pencabut nyawa, ditugaskan untuk menjemput ajal selama seribu tahun.
Selama masanya bertugas, Mori telah menyaksikan kematian dalam segala bentuknya, mulai dari anak kecil yang sakit, orang dewasa yang memilih mengakhiri hidupnya, hingga seekor kucing di malam Natal.
Dilihat sekilas saja, Setelah Melompat Aku Ingin Hidup mungkin tampak seperti buku yang kelam dan penuh dengan kematian.
Setelah dibaca, barulah kita menyadari bahwa perkara kematian tidak pernah hanya soal kematian semata—melainkan soal kehidupan yang mendahuluinya.
Kita semua tahu bahwa hidup suatu hari akan selesai.
Hanya saja, kita tidak bisa tahu kapan tepatnya.
Akibatnya, tanpa sadar, kita mungkin jatuh dalam kebiasaan menjalani hidup seolah-olah waktu akan selalu tersedia.
Masih ada hari esok untuk menelepon orang tua.
Masih ada tahun depan untuk mengejar cita-cita yang tertunda.
Selalu ada kata nanti untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya ingin kita lakukan sekarang.
Atau, bagi beberapa orang, yang ditunggu-tunggu adalah momen yang terasa “sempurna”.
Kita berjanji akan menikmati hidup setelah lulus kuliah.
Setelah mendapatkan pekerjaan impian.
Setelah punya cukup uang.
Setelah menemukan pasangan.
Seakan-akan kehidupan yang sedang kita jalani sekarang hanyalah ruang tunggu menuju kehidupan yang sebenarnya.
Setelah Melompat Aku Ingin Mati menawarkan sebuah pengingat keras tentang penyesalan hidup:
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
“Penyesalan selalu datang selayaknya kerikil tajam dalam sepatu. Ia mengganggu perjalanan hidup seseorang, memberatkan langkahnya, dan membuat mereka menyalahkan diri sendiri.”
Seorang pencabut nyawa seperti Mori telah menjadi saksi.
Melihat momen-momen kematian orang lain, lengkap dengan segala penyesalannya masing-masing, sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.
Buku ini menjadi menarik karena caranya menggambarkan hidup dengan gamblang dan apa adanya.
Hidup memang tidak selalu indah.
Ada duka, kehilangan, kesepian, penyakit, dan berbagai pergolakan yang harus dihadapi manusia.
Tidak ada satu pun kehidupan yang benar-benar berjalan mulus dan sempurna.
Tapi justru karena hidup memiliki akhir, setiap momen di dalamnya terasa lebih berarti—termasuk yang tidak sempurna sekalipun.
Kesadaran bahwa hidup tidak berlangsung selamanya boleh saja membuat kita takut.
Namun, lebih dari itu, seharusnya kesadaran ini juga membuat kita serius bertanya: selagi masih ada waktu, bagaimana sebenarnya kita ingin menjalaninya?
Setelah Melompat Aku Ingin Mati juga menunjukkan bahwa hidup tidak pernah sungkan menguji kesabaran manusia, mendesak manusia menuju batasnya.
Di dunia yang serba tidak adil, sudah bukan sebuah kejutan apabila orang-orang yang baik tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Orang-orang jujur belum tentu menang.
Dan orang-orang yang berusaha belum tentu dihadiahkan keberhasilan.
Maka semangat menjalani hidup bukanlah persoalan yang sesederhana itu.
Masalahnya, kita hanya dapat melihat seseorang sebatas apa yang mereka perbolehkan.
Kita mungkin melihat teman yang masih bercanda, atau rekan kerja yang tetap menyelesaikan tugasnya.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi ketika mereka pulang dan menutup pintu kamarnya.
Padahal, perjuangan seseorang tidak selalu datang dalam bentuk yang dramatis.
Kadang ia berupa kesedihan yang belum sempat diproses tuntas, rasa sepi yang belum pernah diceritakan, atau kecemasan akan masa depan yang sulit dijelaskan.
Mustahil untuk benar-benar mengetahui keseluruhan cerita seseorang.
Meski begitu, kita tidak perlu mengetahui semuanya untuk dapat belajar memahami posisi mereka dan, barangkali, membagikan sedikit semangat yang sudah sekian lama hilang.
Setelah Melompat Aku Ingin Hidup bukan sekadar kumpulan kisah-kisah kematian.
Buku ini justru mengajak pembacanya melihat kembali kehidupan sebelum kematian datang menjemput, dan apa yang ingin mereka lakukan dengan kehidupan tersebut.
Maka pertanyaan terpenting yang ditinggalkan buku ini bukanlah kapan kita akan mati, melainkan bagaimana kita menggunakan waktu yang kita miliki sebelum itu terjadi.
Buku Setelah Melompat Aku Ingin Hidup tersedia di toko Gramedia terdekat dan Gramedia.com.