Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Melompat Aku Ingin Hidup: Belajar Tentang Hidup Melalui Kematian

Kompas.com, 10 September 2026, 11:04 WIB
Buku Setelah Melompat, Aku Ingin Hidup Sumber Gambar: Grasindo Buku Setelah Melompat, Aku Ingin Hidup
Rujukan artikel ini:
Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
Pengarang: Brian Khrisna
|
Editor Novia Putri Anindhita

Kematian.

Satu topik sensitif yang sulit dihindari manusia.

Ia sesuatu yang menyamaratakan semua orang, tak peduli siapa namamu, berapa usiamu, atau bagaimana latar belakangmu.

Barangsiapa yang pernah lahir dan pernah hidup, pada akhirnya harus mengalami yang namanya kematian.

Meski begitu, cara setiap orang memandang kematian sering kali berbeda dan tidak sederhana.

Banyak yang takut padanya—takut pada caranya, atau apa yang terjadi setelahnya.

Sebagian sudah berdamai dengannya, menganggapnya hanya bagian dari kehidupan yang mau tidak mau harus dihadapi.

Namun, bagi orang-orang yang merasa sudah lelah hidup, kematian kadang terdengar seperti sebuah penghiburan.

Karakter Mori dalam Setelah Melompat Aku Ingin Hidup memahami ini lebih dari siapapun.

Ia adalah makhluk pencabut nyawa, ditugaskan untuk menjemput ajal selama seribu tahun.

Selama masanya bertugas, Mori telah menyaksikan kematian dalam segala bentuknya, mulai dari anak kecil yang sakit, orang dewasa yang memilih mengakhiri hidupnya, hingga seekor kucing di malam Natal.

Dilihat sekilas saja, Setelah Melompat Aku Ingin Hidup mungkin tampak seperti buku yang kelam dan penuh dengan kematian.

Setelah dibaca, barulah kita menyadari bahwa perkara kematian tidak pernah hanya soal kematian semata—melainkan soal kehidupan yang mendahuluinya.

Seandainya Tahu Hidup Akan Berakhir, Bagaimana Kita Menjalaninya?

Kita semua tahu bahwa hidup suatu hari akan selesai.

Hanya saja, kita tidak bisa tahu kapan tepatnya.

Akibatnya, tanpa sadar, kita mungkin jatuh dalam kebiasaan menjalani hidup seolah-olah waktu akan selalu tersedia.

Masih ada hari esok untuk menelepon orang tua.

Masih ada tahun depan untuk mengejar cita-cita yang tertunda.

Selalu ada kata nanti untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya ingin kita lakukan sekarang.

Atau, bagi beberapa orang, yang ditunggu-tunggu adalah momen yang terasa “sempurna”.

Kita berjanji akan menikmati hidup setelah lulus kuliah.

Setelah mendapatkan pekerjaan impian.

Setelah punya cukup uang.

Setelah menemukan pasangan.

Seakan-akan kehidupan yang sedang kita jalani sekarang hanyalah ruang tunggu menuju kehidupan yang sebenarnya.

Setelah Melompat Aku Ingin Mati menawarkan sebuah pengingat keras tentang penyesalan hidup:

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

“Penyesalan selalu datang selayaknya kerikil tajam dalam sepatu. Ia mengganggu perjalanan hidup seseorang, memberatkan langkahnya, dan membuat mereka menyalahkan diri sendiri.”

Seorang pencabut nyawa seperti Mori telah menjadi saksi.

Melihat momen-momen kematian orang lain, lengkap dengan segala penyesalannya masing-masing, sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.

Buku ini menjadi menarik karena caranya menggambarkan hidup dengan gamblang dan apa adanya.

Hidup memang tidak selalu indah.

Ada duka, kehilangan, kesepian, penyakit, dan berbagai pergolakan yang harus dihadapi manusia.

Tidak ada satu pun kehidupan yang benar-benar berjalan mulus dan sempurna.

Tapi justru karena hidup memiliki akhir, setiap momen di dalamnya terasa lebih berarti—termasuk yang tidak sempurna sekalipun.

Kesadaran bahwa hidup tidak berlangsung selamanya boleh saja membuat kita takut.

Namun, lebih dari itu, seharusnya kesadaran ini juga membuat kita serius bertanya: selagi masih ada waktu, bagaimana sebenarnya kita ingin menjalaninya?

Memahami Mereka yang Sedang Berjuang

Setelah Melompat Aku Ingin Mati juga menunjukkan bahwa hidup tidak pernah sungkan menguji kesabaran manusia, mendesak manusia menuju batasnya.

Di dunia yang serba tidak adil, sudah bukan sebuah kejutan apabila orang-orang yang baik tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Orang-orang jujur belum tentu menang.

Dan orang-orang yang berusaha belum tentu dihadiahkan keberhasilan.

Maka semangat menjalani hidup bukanlah persoalan yang sesederhana itu.

Masalahnya, kita hanya dapat melihat seseorang sebatas apa yang mereka perbolehkan.

Kita mungkin melihat teman yang masih bercanda, atau rekan kerja yang tetap menyelesaikan tugasnya.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi ketika mereka pulang dan menutup pintu kamarnya.

Padahal, perjuangan seseorang tidak selalu datang dalam bentuk yang dramatis.

Kadang ia berupa kesedihan yang belum sempat diproses tuntas, rasa sepi yang belum pernah diceritakan, atau kecemasan akan masa depan yang sulit dijelaskan.

Mustahil untuk benar-benar mengetahui keseluruhan cerita seseorang.

Meski begitu, kita tidak perlu mengetahui semuanya untuk dapat belajar memahami posisi mereka dan, barangkali, membagikan sedikit semangat yang sudah sekian lama hilang.

Setelah Melompat Aku Ingin Hidup bukan sekadar kumpulan kisah-kisah kematian.

Buku ini justru mengajak pembacanya melihat kembali kehidupan sebelum kematian datang menjemput, dan apa yang ingin mereka lakukan dengan kehidupan tersebut.

Maka pertanyaan terpenting yang ditinggalkan buku ini bukanlah kapan kita akan mati, melainkan bagaimana kita menggunakan waktu yang kita miliki sebelum itu terjadi.

Buku Setelah Melompat Aku Ingin Hidup tersedia di toko Gramedia terdekat dan Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau