Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Semua anak kecil pasti pernah bermimpi.
Siapapun dia, dari manapun ia berasal, setiap orang memiliki mimpi.
Ada yang bercita-cita menjadi pemain bola.
Ada yang ingin pergi ke luar angkasa.
Ada yang membayangkan dirinya sebagai superhero yang memiliki kekuatan hebat untuk menyelamatkan dunia.
Namun, semakin beranjak dewasa banyak orang kehilangan mimpi-mimpinya.
Terjebak di rutinitas yang sama setiap hari, bosan dengan hidup yang begitu-begitu saja, dan mulai menyadari bahwa sebagian mimpi masa kecil memang mustahil untuk digapai.
Atau, bagi sebagian orang seperti Ale di Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, mendewasa bahkan lebih kejam daripada sekadar kehilangan kemampuan untuk bermimpi.
Ia kehilangan gairah untuk hidup.
Sejak kecil, Ale diterpa berbagai kesulitan.
Dilahirkan dengan tubuh yang lebih besar dari teman-teman seusianya, ia kerap menjadi sasaran ejekan.
Belum lagi wajahnya, yang menurut pengakuannya sendiri, “memang tak tampan dari lahir”, serta warna kulitnya yang gelap seperti terbakar matahari.
Lebih menyedihkan lagi, orang tua Ale gemar menasihatinya dengan berbagai pelajaran tentang kesabaran, alih-alih memasang badan dan membela anaknya.
Ale tumbuh dengan minim pujian atas pencapaiannya.
Justru orang tuanya sendirilah yang mengajarkannya untuk memaklumi segala perkataan buruk yang dilontarkan kepadanya.
Seperti banyak laki-laki lainnya, Ale juga menjadi korban dari sistem sosial yang menuntutnya untuk tidak menangis, tidak cengeng, dan tidak pernah terlihat lemah.
Akibatnya, Ale tumbuh menjadi seseorang yang memiliki harga diri yang rendah, tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, dan menganggap keberadaannya sebagai sebuah kesalahan besar.
Suatu malam, Ale merayakan ulang tahunnya dengan sepotong kue murah dan lilin kecil yang ia beli sendiri.
Sepulang kerja, ia duduk di kamar apartemen sempitnya dengan kue itu, sebotol bir, dan sebatang rokok, tanpa seorang pun untuk merayakan bersamanya.
Malam ulang tahunnya yang menyedihkan itu sekaligus menjadi malam ketika Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam 24 jam ke depan.
Maka Ale mulai menyiapkan kematiannya.
Ia bolos kerja, menghabiskan uang tabungannya, pergi karaoke, hingga berdansa dalam keadaan mabuk di sebuah pesta.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Namun, ketika tiba waktunya untuk meneguk obat lebih dari dosis yang seharusnya—yang akan menjamin kematiannya—Ale justru merasa lapar.
Ia teringat pada mie ayam langganannya.
Lalu terbersit sebuah ide cemerlang di benaknya: "Sebelum mati, aku ingin makan mie ayam dulu."
Ale berjalan menuju tempat mie ayam tersebut.
Namun yang tidak ia sangka, mie ayam satu-satunya yang ia dambakan itu tutup.
Singkat cerita, Ale menunda kematiannya demi seporsi mie ayam.
Tiga bab pertama Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ini mungkin terdengar seperti sebuah lelucon.
Betapa konyolnya tokoh Ale yang membatalkan rencana bunuh dirinya hanya demi makan mie ayam.
Namun sesungguhnya, kisah ini membukakan kepada kita sebuah rahasia yang lucu sekaligus berharga tentang kehidupan manusia
Bahwa manusia, terutama orang dewasa, terkadang tidak membutuhkan alasan yang spektakuler untuk bertahan hidup.
Mungkin bukan lagi demi sebuah cita-cita berkilauan seperti menjadi pemain bola, astronot, bintang film, atau dokter.
Bukan pula demi mimpi-mimpi masa kecil seperti terbang ke luar angkasa atau menjadi superhero.
Terkadang, alasan untuk tetap menjalani hidup satu hari lagi sesederhana seporsi mie ayam.
Uniknya, wujud mie ayam berbeda-beda bagi setiap orang.
Bagi sebagian orang, mungkin seekor kucing peliharaan menggemaskan yang mereka cintai.
Sementara bagi sebagian lainnya, mungkin rasa penasaran untuk menonton film baru di akhir pekan, atau rencana mengopi bersama teman.
Atau, bagi orang seperti Ale, semangat hidup benar-benar mengambil wujud sebagai makanan favorit.
Belum tentu yang paling mahal atau paling istimewa—hanya sesuatu yang selalu menghadirkan rasa nyaman, seperti pelukan di akhir hari yang melelahkan.
Karena ketika hidup terasa terlalu berat, alasan untuk bertahan tidak selalu harus besar dan megah.
Terkadang, ia hadir dalam bentuk yang paling sepele.
Dan jika Ale memilih untuk hidup satu hari lagi demi seporsi mie ayam, maka barangkali tidak ada alasan yang terlalu remeh untuk dipegang erat.
Jika kamu menyukai novel yang hangat, dekat dengan keseharian, dan penuh makna, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati layak masuk daftar bacaanmu.
Beli bukunya sekarang, tersedia di Gramedia.com dan Gramedia Digital.