Monety Talk Apa yang membuat seseorang mau datang ke toko buku, menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya, lalu kembali lagi di lain hari? Jawabannya ternyata tidak selalu soal seberapa lengkap koleksi buku yang tersedia.
Di tengah kebiasaan belanja yang semakin praktis dan serbadigital, pengalaman ketika berada di sebuah toko justru bisa menjadi alasan seseorang memilih datang langsung.
Hal ini pula yang terlihat dari konsep baru yang dikembangkan Gramedia melalui Makarya dan Gramedia Jalma.
Dalam episode podcast di YouTube Monety Official bersama Adis dari tim Business Development Gramedia, dibahas bagaimana toko buku tidak hanya perlu menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang yang membuat orang merasa nyaman untuk datang, melihat-lihat, menemukan sesuatu yang baru, hingga berinteraksi dengan orang lain.
Ada tiga elemen yang menjadi perhatian dalam membangun pengalaman tersebut, yaitu the art of display, the art of collaboration, dan the art of hospitality.
Ketiganya menawarkan perspektif menarik tentang bagaimana sebuah tempat dapat membuat pengunjung merasa lebih dekat dan akhirnya ingin kembali.
Pernah merasa malas masuk ke toko buku karena melihat rak yang penuh dan tidak tahu harus mulai dari mana? Bagi sebagian orang, toko buku yang terlalu besar justru bisa terasa intimidating.
Pilihannya terlalu banyak, sementara pengunjung tidak selalu tahu buku mana yang cocok untuk mereka.
Karena itu, cara sebuah buku ditampilkan ternyata memiliki peran penting.
Dalam podcast tersebut, Adis menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang digunakan adalah membuat suasana toko tidak terasa mengintimidasi.
Penataan rak dibuat secara sengaja agar pengunjung lebih mudah menemukan buku yang menarik perhatian.
Bahkan, nama kategori rak dibuat dengan bahasa yang lebih dekat dengan pembaca, bukan sekadar menggunakan istilah kategori buku yang formal.
Pendekatan ini sebenarnya bisa diterapkan pada banyak jenis bisnis.
Ketika menjual produk, jangan hanya berpikir tentang apa yang ingin dijual.
Pikirkan juga bagaimana pelanggan akan menemukan dan memahami produk tersebut.
Elemen kedua adalah kolaborasi.
Dalam pengembangan Makarya, konsep toko buku tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri buku independen dan bisnis coffee shop.
Pendekatan ini membuat ruang yang dihasilkan tidak hanya berorientasi pada buku, tetapi juga memiliki karakter yang lebih dekat dengan komunitas dan aktivitas sehari-hari.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Bagi pengunjung, kolaborasi semacam ini bisa menciptakan alasan tambahan untuk datang.
Kolaborasi yang menarik justru bisa terjadi ketika dua pihak memiliki nilai yang saling melengkapi.
Kuncinya adalah mencari kesamaan nilai dan menciptakan pengalaman yang tidak bisa didapatkan pelanggan jika masing-masing pihak berjalan sendiri.
Ada satu hal yang sering dilupakan bisnis ketika berusaha meningkatkan pengalaman pelanggan, yaitu hospitality.
Pelayanan yang baik bukan hanya tentang tersenyum atau menyapa pelanggan.
Lebih jauh dari itu, pelanggan ingin merasa bahwa mereka diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar angka transaksi.
Konsep ini terlihat dalam cara Makarya memandang orang-orang yang bekerja di dalam toko.
Mereka disebut sebagai pramu buku, yaitu orang-orang yang tidak hanya memahami buku, tetapi juga diharapkan mampu menjadi teman berdiskusi bagi pengunjung.
Salah satu tantangan terbesar bisnis fisik di era digital adalah memberikan alasan bagi pelanggan untuk datang langsung.
Dalam podcast tersebut, Adis menjelaskan bahwa sebelumnya ada jarak antara toko dan audiens karena hubungan yang terbentuk hanya bersifat transaksional.
Dari sini, konsep toko kemudian diarahkan untuk menciptakan ruang yang lebih dekat dengan pengunjung.
Ketika sebuah tempat mampu memberikan alasan tersebut, hubungan antara bisnis dan pelanggan bisa berkembang lebih jauh.
Pelanggan tidak lagi datang hanya karena membutuhkan produk.
Mereka datang karena merasa nyaman berada di sana.
Konsep yang dibangun melalui Makarya dan Gramedia Jalma ini menunjukkan bahwa pengalaman pelanggan bukanlah satu elemen tunggal.
Terbentuk dari banyak detail yang saling terhubung, mulai dari cara produk ditampilkan, siapa saja yang diajak berkolaborasi, hingga bagaimana pelanggan diperlakukan ketika berada di dalam ruang tersebut.
Untuk mengetahui cerita di balik pengembangan Gramedia Jalma dan Makarya secara lebih lengkap, termasuk bagaimana Gramedia mencoba mendengarkan kebutuhan pembaca dan menghadirkan konsep toko yang lebih relevan dengan perkembangan zaman, saksikan episode podcast Monety Official selengkapnya di YouTube Monety Official.
Jangan lupa untuk terus mendapatkan insight menarik seputar bisnis, keuangan, teknologi, lifestyle, news update, dan rekomendasi buku untuk meningkatkan skill dengan mengikuti Instagram @monety.id, subscribe YouTube Monety Official, dan mengunjungi www.monety.id.
Monety adalah platform belajar untuk Milenial dan Gen Z yang menghadirkan berbagai konten seputar bisnis, keuangan, teknologi, lifestyle, dan perkembangan berita terkini, sekaligus memberikan rekomendasi buku yang bisa membantu pembaca terus belajar dan mengembangkan diri.