Bicara Itu Ada Polanya Ada politisi yang dikenal publik karena kebijakan ekstremnya, ada yang selalu bikin heboh gara-gara kontroversi tiada henti, dan ada pula figur yang menonjol berkat kombinasi kebijakan strategis serta cara bicaranya yang memikat.
Anies Baswedan menurut saya jelas berada di kategori terakhir.
Selain rekam jejak kinerjanya yang sering jadi sorotan publik, gaya komunikasinya pun punya daya pikat tersendiri yang selalu menarik buat dibahas.
Julukan "The King of Retorica" yang sempat di-spill komika Kiky Saputri usai debat capres beberapa tahun lalu sebetulnya bukan sekadar gimik.
Kalimat yang tersusun rapi, rima yang mengalir halus, sampai ritme bicara yang teratur bikin publik merasa gaya bicaranya punya kelas dan keunikan tersendiri.
Sensasi terpesona saat mendengar cara seseorang bicara sebetulnya bisa dijelaskan secara ilmiah.
Kebanyakan dari kita sering mengira bahwa jago public speaking adalah bakat alami bawaan lahir.
Kita berpikir, orang yang jago ngomong itu bisa jadi punya cheat code khusus yang mustahil dipelajari orang biasa.
Pandangan itu dipatahkan secara total oleh Oh Su Hyang, pakar komunikasi asal Korea Selatan, lewat bukunya Bicara Itu Ada Polanya.
Ia membocorkan bahwa kemampuan bicara yang memikat audiens sebenarnya punya rumus, struktur, dan pola yang bisa ditiru siapa pun.
Menariknya, kalau kita bedah isi buku ini, lima pilar utama yang diajarkan Oh Su Hyang persis banget dengan teknik komunikasi yang dipakai Anies Baswedan di panggung publik.
Penasaran gimana racikannya biar gaya bicara kamu makin berbobot dan effortless? Yuk, kita kaji lima polanya bersama.
Buku Bicara Itu Ada Polanya menegaskan bahwa rasa cemas bukanlah bukti kalau kamu nggak berbakat ngomong.
Pembicara kelas dunia pun tetap merasakan desakan adrenalin yang sama sebelum naik panggung.
Rahasia membedakan pembicara pemula dengan pembicara profesional terletak pada respons mereka terhadap stres tersebut.
Stres dijadikan bahan bakar buat lebih fokus, ditambah penerapan prinsip TPO alias Time, Place, Occasion supaya pesan tepat sasaran.
Kunci terpenting dari pilar pertama ini adalah memahami bahwa bicara di depan publik itu soal menyampaikan alur berpikir, bukan menghafal naskah kata demi kata.
Orang yang menghafal naskah bakal gampang panik begitu ada gangguan kecil di panggung.
Orang yang paham inti konsepnya bakal tetap tenang mau dilempar pertanyaan seacak apa pun.
Pola ini kelihatan jelas di acara Desak Anies.
Saat dijejali pertanyaan kritis yang spontan dan menohok dari audiens, Anies tidak terlihat gelagapan.
Ketenangan itu muncul karena dia menguasai kerangka berpikir gagasannya.
Rasa percaya diri yang asli pada akhirnya selalu lahir dari penguasaan materi yang matang, lalu kelancaran bicara bakal menyusul secara alami.
Komunikasi yang asyik itu selalu bekerja dua arah seperti main lempar tangkap bola.
Jangan sampai kita malah asyik monolog sendiri tanpa memedulikan lawan bicara.
Agar obrolan tetap hidup, kita perlu memperkaya kosa kata, mengasah dinamika suara, dan fleksibel menyesuaikan gaya bahasa berdasarkan konteks lawan bicara.
Satu prinsip paling ikonik di pilar kedua buku Bicara Itu Ada Polanya adalah efisiensi kata.
Buat kalimat yang singkat, padat, hemat kata, sekaligus kaya makna.
Triknya sederhana, langsung sampaikan kesimpulan di depan, sesuaikan gaya dengan tipe kepribadian lawan bicara, lalu rutin merekam suara sendiri buat bahan evaluasi mingguan.
Gaya hemat kata yang kaya makna inilah yang bikin Anies dijuluki "The King of Retorica".
Ia punya kemampuan merangkai argumen rumit menjadi potongan kalimat yang mudah dipahami sekaligus gampang diingat publik.
Contoh paling terasa ada pada kalimat penutup debatnya yang viral seperti, "Wakanda no more, Indonesia forever."
Gagasan politik yang luas dan berlapis berhasil dipadatkan menjadi slogan pendek yang langsung nyantol di kepala audiens.
Contoh lain terlihat dari kalimat simetris berikut, "Setiap pelanggaran hukum harus dihukum. Karena pelanggaran hukum bisa menular, dan lama-lama bisa dianggap benar."
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Formulasi sebab-akibat yang rapi ini membuat sebuah opini politik berbunyi layaknya prinsip dasar yang sangat logis.
Pada era di mana perhatian orang cuma bertahan beberapa detik gara-gara terbiasa scrolling media sosial, kemampuan meringkas gagasan menjadi kalimat pendek yang berkesan adalah skill mahal yang wajib dimiliki.
Buku Bicara Itu Ada Polanya menyoroti fenomena menarik tentang bagaimana kekuatan kata-kata positif dapat meruntuhkan benteng pertahanan lawan bicara.
Kebiasaan menyelipkan diksi negatif seperti "tidak bisa", "sulit", atau "jangan" sebenarnya memancarkan rasa tidak aman (insecurity) dari si pembicara.
Sebaliknya, kata-kata yang bernada positif dan optimistis punya keajaiban buat meruntuhkan benteng pertahanan lawan bicara sekaligus membuka hati mereka.
Langkah merespons situasi sulit dengan perspektif positif inilah yang menjadi ciri khas komunikasi Anies Baswedan.
Ketika ditanya mengenai karut-marut kondisi negara, ia hampir selalu memilih untuk menyuntikkan narasi positif.
Alih-alih meratapi keadaan, ia konsisten menegaskan bahwa harapan itu selalu ada karena masih banyak anak negeri yang peduli serta mampu berjuang bersama membangun Indonesia menjadi lebih baik.
Bentuk nyata dari kekuatan kata-kata positif ini juga terlihat dari surat apresiasi yang ditulis Anies untuk para tenaga kesehatan saat pandemi COVID-19 melanda Jakarta.
Di tengah kepanikan nasional dan kelelahan mental para nakes yang bertaruh nyawa di garis depan, ia mengirimkan pesan tertulis yang menyapa mereka secara hangat sebagai pahlawan bangsa.
Kalimat yang penuh empati dan apresiasi positif tersebut terbukti sukses menyentuh hati para tenaga medis, memberikan suntikan semangat baru, serta menyatukan langkah buat melewati masa-masa krisis bersama.
Banyak orang terlalu fokus mencari kata-kata keren sampai lupa bahwa tubuh kita juga ikut bicara.
Bahasa tubuh, tatapan mata, ekspresi wajah, hingga pengaturan jeda suara punya porsi sangat besar dalam menentukan apakah pesan kita bakal dipercaya audiens atau malah diabaikan.
Pengaturan ritme vokal yang pas mampu menyentuh emosi kolektif dan membangkitkan empati dari orang yang mendengarkan.
Jeda satu atau dua detik sebelum masuk ke poin penting memberikan waktu buat audiens mencerna pesan secara mendalam.
Kekuatan nada dan jeda ini terasa kuat saat Anies berpidato di hadapan massa dalam skala besar, seperti di Jakarta International Stadium (JIS).
Pengaturan intonasi yang tertata dikombinasikan dengan jeda yang pas membimbing puluhan ribu pendengar untuk merasakan emosi dan pesan yang sama.
Keheningan singkat di tengah pidato justru sering kali menyampaikan makna yang jauh lebih dalam dibanding rentetan kata yang diucapkan secara terburu-buru.
Bagian penutup buku Bicara Itu Ada Polanya membahas level tertinggi dalam berkomunikasi, yaitu cara meredam perselisihan tanpa harus adu otot.
Kita diajak sadar akan dampak ucapan, punya keberanian minta maaf saat salah, serta menanamkan mindset bahwa kritik itu bentuk masukan, bukan serangan pribadi.
Selain validasi kata-kata, menyampaikan pesan kritis secara halus tanpa konfrontasi terbuka juga bisa dilakukan melalui simbol visual atau satire yang cerdas.
Langkah ini kerap diperlihatkan Anies melalui unggahan di media sosialnya.
Salah satu contoh paling ikonik adalah ketika ia mengunggah foto dirinya yang sedang santai membaca buku How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt di akun Instagram pribadinya.
Foto sederhana tersebut langsung menjadi bahan perbincangan nasional.
Tanpa melontarkan makian atau pidato amarah, pesan sindiran terhadap kondisi demokrasi tersampaikan secara elegan dan memantik publik untuk berpikir.
Pendekatan ini membuktikan prinsip utama si Buku Bicara Itu Ada Polanya bahwa tujuan akhir dari komunikasi saat terjadi konflik adalah membangun pemahaman bersama, bukan mencari siapa yang menang atau kalah dalam perdebatan.
Mengakhiri seluruh petualangan belajar dari buku ini, ada satu kutipan emas di halaman 82 dari buku Bicara Itu Ada Polanya yang sangat layak ditempel di cermin kamar kita: "Ucapan adalah cerminan dari kepribadian seseorang. Cara seseorang berbicara menunjukkan siapa dirinya."
Kata-kata yang kerap keluar dari mulut kita pada akhirnya memperlihatkan isi pikiran, tingkat kedewasaan, dan kualitas karakter kita yang sebenarnya.
Orang yang terbiasa melontarkan sindiran pedas atau kebanggaan semu sebetulnya sedang memperlihatkan rasa tidak aman yang tersembunyi di dalam batinnya.
Begitu pun sebaliknya.
Belajar dari pola bicara ala Oh Su Hyang di buku Bicara Itu Ada Polanya dan teknik retorika Anies Baswedan bukan bertujuan agar kita jadi orang yang selalu menang adu argumen atau kelihatan paling pintar di panggung.
Tujuan sejati dari belajar bicara adalah menata jalan pikiran kita, mengontrol emosi, serta menyebarkan pesan yang jujur, jelas, dan berdampak positif bagi orang banyak.
Buat kamu yang penasaran ingin mengulik lebih dalam kelima pola taktis ini, buku Bicara Itu Ada Polanya karya Oh Su Hyang sudah bisa kamu dapatkan di toko buku Gramedia terdekat atau Gramedia.com.
Selamat membaca, mencoba, dan merasakan perubahan besar dalam gaya komunikasimu, yaa!