Buku Peta Jiwa Artikel ini merupakan salah satu artikel pemenang dalam Lomba Menulis Artikel Quanta 2026 yang diselenggarakan oleh Penerbit Quanta (imprint Elex Media Komputindo / Gramedia Group).
Hiruk pikuk dunia hari ini sering kali menuntut kita untuk bergerak lebih cepat.
Seakan ada desakan kepada diri untuk segera sukses, cepat berhasil, hingga berlomba-lomba sembuh dari setiap luka dan rasa sakit yang dirasa.
Ekspektasi yang tak terbendung, algoritma sosial media yang turut melahirkan kebiasaan membandingkan diri bagi penggunanya, menjadi sebuah jebakan batin yang melelahkan.
Dan mungkin pada orang penyintas gangguan kecemasan (anxiety disorders) seperti saya, hal tersebut akan berjuta juta kali lipat letihnya.
Saya ingat betul, 5 tahun yang lalu, tepatnya pada 17 Juni 2021, diagnosis medis itu resmi disematkan pada diri saya.
Anxiety Disorders adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan rasa takut, khawatir, atau cemas yang berlebihan, menetap, dan sulit dikendalikan, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Hampir 8 bulan lamanya saya rutin kontrol dan mengonsumsi obat dari psikiater.
Padahal ketika awal didiagnosis, ada harapan besar bahwa hari itu adalah awal dari proses pemulihan saya.
Namun nyatanya, hari itu adalah awal dari perjalanan saya dengan segala dinamikanya.
Teringat pasca perawatan awal, gejala kecemasan saya melonjak dua kali lipat, membawa rentetan pertanyaan runyam di kepala :”Kenapa saya bisa seperti ini?”, ”Apa saya separah ini?”,”Apa saya selemah ini?”.
Saya menjadi lebih mudah tersinggung, menjadi lebih sensitif, dan selalu berpikiran negatif bahkan terhadap kehidupan sehari-hari saya.
Hal-hal kecil dan sederhana saya tafsirkan sebagai masalah yang besar.
Akibat benang kusut dipikiran, saya kesulitan untuk merespon dengan pikiran jernih tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Atas kondisi yang saya alami tersebut, memunculkan ribuan pertanyaan di kepala.
Teringat ketika itu, sering kali kondisi psikis tersebut mempengaruhi kondisi fisik saya.
Dalam dunia psikologi, ini dikenal dengan istilah psikosomatis, yaitu gangguan fisik nyata (soma) yang dipicu, dipengaruhi, atau diperparah oleh faktor mental/emosional (psyche) seperti stres, kecemasan, atau depresi.
Saya merasakan berbagai gejala psikosomatis yang menyiksa, mulai dari sesak di dada, jantung berdebar, hingga otot leher yang menegang kaku.
Saya semakin terjebak dalam rasa frustrasi.
Kenapa dan mengapa terus menghantui.
Mengapa saya yang tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan tanpa trauma masa lalu bisa mengalami hal ini? Begitu batin saya waktu itu, yang masih sangat tabu dengan isu kesehatan mental.
Saya menganggap bahwa, gangguan-gangguan kesehatan mental hanya dapat terjadi pada orang-orang yang memiliki kejadian traumatis, pengalaman masa lalu yang buruk maupun karena kurangnya dukungan dan rasa aman dari keluarga.
Sementara saya tidak termasuk ke dalam kategori tersebut, begitu menurut saya.
Belakangan saya ketahui ketika duduk di bangku perkuliahan sebagai seorang mahasiswa psikologi, bahwa terdapat banyak faktor yang bisa mempengaruhi adanya kondisi tersebut.
Mulai dari faktor kerentanan biologis serta adanya distorsi kognitif atau kesalahan dalam memproses informasi yang menyebabkan seseorang berpikir secara tidak rasional sehingga realitas yang dirasakan menjadi lebih negatif daripada keadaan sebenarnya.
Dalam prosesnya, pertanyaan riuh di kepala bukan satu-satunya yang menjadi tantangan.
Stigma masyarakat terhadap gangguan mental juga menjadi hambatan dalam proses pemulihan saya.
Di tengah pandangan masyarakat awam yang masih menganggap tabu isu kesehatan mental, bahkan kerap kali melabelinya dengan stigma ”kurang iman”, ”kurang ibadah” dan semacamnya membuat suasana hati saya semakin terpuruk.
Rasa bersalah sempat menyusup ke dalam kepala, "Apakah kecemasan ini memang dikarenakan saya kurang iman?"
Ummu balqis dalam bukunya yang berjudul Peta Jiwa menjawab hal tersebut.
Beliau menjelaskan bahwa kecemasan bukanlah bukti dari kurangnya iman, melainkan sebuah pertanda bahwa hati tengah berjuang mencari keseimbangannya.
Dalam bukunya, ia mengutip sebuah hadis shahih yang mengisahkan bahwa Rasululah, manusia yang paling tenang di muka bumi, juga pernah menangis, pernah bersedih dan bernah merasa takut.
Dalam kisah wafatnya putra beliau ibrahim, diriwayatkan: ”Mata ini menangis, hati ini bersedih, tetapi kami tidak akan mengucapkan kecuali yang diridhoi Allah.”
Melalui kisah tersebut, Ummu Balqis menegaskan bahwa rasa sedih, cemas, dan ketakutan bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari kemanusiaan yang diizinkan untuk dirasakan.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Perlahan saya mulai menerima hadirnya gangguan cemas ini dalam hidup saya.
Saya berhenti memandang kecemasan sebagai musuh yang harus saya lawan, melainkan teman yang harus saya pahami.
Selain itu, saya mulai membuka ruang komunikasi yang lebih lebar bagi keluarga sebagai support system utama saya, juga mulai mencari bentuk coping yang saya rasa cukup sesuai, yakni journaling.
Melalui lembar demi lembar kertas, saya belajar hadir sepenuhnya untuk diri.
Setiap hari saya menulis hal hal yang saya rasakan, perasaan negatif dihari itu, pikiran yang menganggu dan juga hal hal yang membuat saya bahagia dan bersyukur.
Setiap kata yang saya torehkan ternyata dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurai benang kusut di kepala.
Disinilah saya menyadari sebuah realita bahwa hati, pikiran dan jiwa manusia bukanlah perkara yang sederhana.
Dan sebagai manusia biasa, satu hari bukanlah waktu yang cukup untuk memahaminya.
Bolehlah dikata kala itu jiwa saya runtuh, dan saya terlalu keras menuntutnya untuk pulih.
Padahal jiwa yang terluka tidak seperti luka di lutut akibat jatuh yang dapat mengering dalam hitungan hari.
Ada bagian-bagian yang hanya bisa sembuh ketika diberi waktu, ruang dan penerimaan.
Bertahun tahun setelah diagnosa itu disematkan kepada saya, bertahun tahun setelah saya menjalani pengobatan dan segala prosesnya, dan bertahun tahun setelah saya memutuskan untuk menghentikan pengobatan.
Hingga suatu pagi di tengah riuhnya suasana Car Free Day (CFD), langkah saya terhenti di sebuah stan bernama Pojok Healing, sebuah layanan konsultasi oleh psikolog dan psikiater yang difasilitasi oleh salah satu Rumah Sakit di daerah saya.
Tidak ada gelombang kecemasan hebat yang menyerang saya saat itu, hanya gelombang kecil yang sedikit mengganggu.
Dan juga alasan sederhana bahwa saya ingin menyapa kembali kondisi jiwa saya, dengan melihat sejauh mana jiwa ini telah bertumbuh dan belajar berdamai dengan semua yang dialaminya.
Dan hari itu, saya akan selalu mengingat kalimat yang disampaikan psikiater kepada saya, ”Anggap saja kamu diberikan gift (hadiah) oleh Tuhan”.
Kalimat tersebut seperti tamparan halus namun dirasakan lembut oleh diri ini, yang perlahan mengubah cara pandang saya terhadap kondisi yang saya alami.
Sejak saat itu saya belajar memaknai kembali semua yang terjadi, saya sadar bahwa anxiety bukanlah musuh yang harus saya kalahkan.
Anxiety bukanlah sesuatu yang harus saya hindari.
Anxiety disorders adalah bagian dari diri saya, yang dengannya saya berproses, bertumbuh dan belajar.
Anxiety disorders adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk saya.
Saya adalah manusia yang diberikan kesempatan istimewa untuk hidup berdampingan dengan anugerah tersebut.
“Setelah perjalanan panjang, kita tahu bahwa tenang bukan berarti tidak ada gelombang, melainkan tahu kemana harus berlabuh saat gelombang datang.”-Peta Jiwa.
Entah mengapa kutipan itu terasa hangat , merangkul dan begitu memahami para pejuang.
Menjadi tenang bukan berarti menghilangkan gelombang kecemasan, melainkan tahu ke mana harus berlabuh dan bagaimana cara merangkul diri sendiri saat gelombang itu datang
Pemulihan dan proses bertumbuhnya jiwa, bukanlah tentang siapa yang paling cepat sampai pada garis selesai, melainkan siapa yang memilih bertahan dan berjuang di setiap langkahnya.
Tak apa jika mungkin hari ini kamu hanya sanggup menapaki satu langkah.
Tak apa jika sesekali kamu memilih jeda untuk mengurai lelah.
Karena selama kamu menolak untuk berhenti dan tetap berani menapaki jalanmu, kamu tetap layak disebut bertumbuh.
Karena bertumbuh adalah proses panjang yang perlu dilalui setiap insan.
***
Nikmati Inspirasi Literasi Lainnya bersama Penerbit Quanta!
Tertarik dengan tulisan-tulisan menggugah seputar self-improvement, spiritualitas Islam, dan pengembangan diri? Jangan lewatkan berbagai kegiatan literasi seru, info buku terbaru, serta diskusi menarik lainnya dari Penerbit Quanta (Gramedia).
Yuk, ikuti akun media sosial resmi kami di Instagram @quantabooks, @ngajiliterasigramedia.
Mari terus menebar inspirasi dan kebaikan lewat membaca dan menulis bersama Quanta dan Gramedia!