Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bagaimana Proses Terbentuknya Lahar? Ini Penjelasannya 

Kompas.com, 8 Oktober 2026, 16:00 WIB
Proses Terbentuknya Lahar Sumber Gambar: Wikipedia Commons Proses Terbentuknya Lahar
Rujukan artikel ini:
Gunung Api - Perjalanan Menjelajahi…
Pengarang: Tom Jackson, Maggie Li
Penulis Nadia
|
Editor Novia Putri Anindhita

Lahar sering disangka sebagai lava yang mengalir dari gunung api.

Padahal, keduanya sangat berbeda! Lahar merupakan aliran campuran air dan material vulkanik seperti abu, pasir, kerikil, hingga bongkahan batu yang dapat bergerak deras mengikuti lereng dan alur sungai.

Lantas, bagaimana proses terbentuknya lahar dan kenapa alirannya bisa begitu berbahaya? Menariknya, lahar tidak hanya terjadi saat gunung sedang meletus, tetapi juga dapat terbentuk setelah erupsi ketika material vulkanik yang menumpuk bercampur dengan air.

Yuk, simak proses terbentuknya lahar, jenis, serta faktor yang memengaruhi kemunculannya!

Apa Itu Lahar?

Lahar merupakan aliran yang terdiri dari campuran air dan material vulkanik seperti abu, pasir, kerikil, lapili, hingga bongkahan batu yang bergerak menuruni lereng gunung api atau mengikuti alur sungai.

Lahar dapat terbentuk ketika material vulkanik yang berada di lereng gunung api bercampur dengan air dalam jumlah cukup banyak.

Karena dipengaruhi gravitasi dan memiliki kandungan material padat yang tinggi, aliran lahar dapat bergerak deras dan membawa material dalam jumlah besar.

Secara umum, lahar memiliki beberapa karakteristik seperti:

  • Terdiri dari air dan material vulkanik, bukan magma cair seperti lava.
  • Mengandung material berukuran beragam, mulai dari abu dan pasir hingga batu berukuran besar.
  • Mengalir mengikuti topografi, terutama lereng, lembah, dan alur sungai.
  • Dapat terjadi saat maupun setelah erupsi, tergantung sumber air dan kondisi material vulkanik.
  • Bisa membawa material dalam jumlah besar, sehingga mampu mengikis atau menimbun area yang dilewatinya.
  • Dapat menempuh jarak cukup jauh dari sumber erupsi, terutama jika alirannya masuk ke sistem sungai.

Dari Mana Air Pembentuk Lahar Berasal?

Air yang memicu terbentuknya lahar tidak selalu berasal dari satu sumber.

Beberapa sumber air yang dapat berperan antara lain:

1. Hujan Lebat

Hujan dapat menggerakkan kembali endapan abu dan material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung.

Jenis ini sering disebut lahar hujan dan dapat terjadi bahkan setelah erupsi berakhir.

2. Air Danau Kawah

Jika gunung api memiliki danau kawah, airnya dapat bercampur dengan material vulkanik dan memicu terbentuknya aliran lahar dalam kondisi tertentu.

3. Pelelehan Salju atau Es

Di gunung api yang memiliki salju atau lapisan es, panas dari aktivitas erupsi dapat mencairkannya dan menyediakan air untuk membentuk lahar.

4. Sumber Air Permukaan Lainnya

Sungai, genangan, atau badan air lain di sekitar gunung api juga dapat menjadi sumber air yang bercampur dengan endapan vulkanik.

Jadi, lahar bukanlah lava yang bercampur dengan air, melainkan aliran air yang membawa material vulkanik dalam jumlah besar.

Karena dapat bergerak mengikuti lembah dan sungai, keberadaan lahar perlu diwaspadai terutama di wilayah yang berada di sekitar lereng dan alur sungai yang berhulu di gunung api.

Proses Terbentuknya Lahar

Lahar terbentuk ketika air bercampur dengan material vulkanik yang berada di sekitar gunung api, kemudian campuran tersebut bergerak menuruni lereng karena pengaruh gravitasi.

Prosesnya bisa berlangsung saat erupsi maupun setelah erupsi selesai, terutama ketika endapan vulkanik masih banyak dan mudah terbawa air.

Secara sederhana, proses terbentuknya lahar dapat berlangsung melalui beberapa tahapan berikut:

1. Erupsi Menghasilkan Material Vulkanik

Ketika gunung api mengalami erupsi, berbagai material seperti abu, pasir, lapili, kerikil, dan bongkahan batu dapat terlempar dan kemudian menumpuk di lereng gunung.

Endapan ini umumnya masih lepas dan belum terkonsolidasi.

2. Material Vulkanik Menumpuk di Lereng

Semakin banyak endapan yang berada di lereng, semakin besar pula material yang berpotensi terbawa oleh air.

Endapan di sekitar lembah dan alur sungai juga dapat menjadi sumber material lahar.

3. Air Bercampur dengan Endapan Vulkanik

Hujan deras menjadi salah satu pemicu yang umum.

Air meresap dan mengalir di permukaan, kemudian mengikis serta membawa material vulkanik.

Dalam kondisi tertentu, air dari danau kawah, salju, atau sumber air lainnya juga dapat berperan.

4. Terbentuk Aliran Campuran Air dan Material Vulkanik

Ketika jumlah air cukup untuk memobilisasi endapan, campuran air dan material vulkanik berubah menjadi aliran yang sangat kaya sedimen.

Aliran ini kemudian bergerak mengikuti kemiringan lereng.

5. Lahar Mengalir Menuju Lembah dan Sungai

Karena dipengaruhi gravitasi, aliran lahar cenderung mengikuti jalur rendah seperti lembah, parit, dan sungai.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sepanjang perjalanan, lahar dapat mengikis material di sekitarnya sekaligus membawa tambahan sedimen.

6. Aliran Dapat Menyebar dan Mengendapkan Material

Ketika kemiringan medan berkurang atau energi aliran melemah, maka material yang dibawa lahar mulai mengendap.

Endapan tersebut dapat menumpuk di sepanjang lembah, sungai, atau area dataran yang dilewati.

Mengapa Lahar Bisa Terbentuk Setelah Erupsi?

Lahar tidak selalu muncul bersamaan dengan letusan.

Endapan vulkanik yang tersisa setelah erupsi masih dapat menjadi sumber lahar ketika terkena hujan deras.

Karena itu, potensi lahar dapat tetap ada selama beberapa waktu setelah aktivitas erupsi, terutama jika material vulkanik yang mudah tererosi masih banyak di lereng.

Singkatnya, rangkaian pembentukan lahar adalah erupsi → material vulkanik menumpuk → air datang → material tercampur dan termobilisasi → aliran bergerak menuruni lereng → material terbawa dan mengendap.

Besarnya aliran lahar sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jumlah dan kondisi endapan vulkanik, intensitas hujan, ketersediaan air, kemiringan lereng, serta bentuk jaringan sungai atau lembah yang dilaluinya.

Kenapa Lahar Bisa Sangat Merusak?

Meski tidak berupa material pijar seperti lava, lahar tetap dapat menjadi salah satu bahaya gunung api yang serius.

Campuran air dan material vulkanik membuat lahar memiliki massa dan daya gerus yang besar.

Ketika bergerak menuruni lereng, aliran ini dapat membawa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu sekaligus mengikis material di sepanjang jalurnya.

Ada beberapa alasan mengapa lahar bisa sangat merusak, yaitu:

1. Membawa Material dalam Jumlah Besar

Lahar dapat mengangkut campuran abu, pasir, kerikil, batu, dan material vulkanik lainnya.

Semakin banyak material yang terbawa, semakin besar pula massa alirannya.

2. Bergerak Mengikuti Lereng dan Alur Sungai

Gravitasi membuat lahar bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang lebih rendah.

Ketika masuk ke lembah atau sungai, alirannya dapat mengikuti jalur tersebut dan mencapai area yang cukup jauh dari gunung api.

3. Memiliki Daya Erosi yang Kuat

Material padat yang terbawa aliran dapat mengikis dasar dan tepi sungai maupun lereng yang dilewatinya.

Dalam perjalanannya, lahar bahkan dapat mengambil tambahan sedimen sehingga volume alirannya semakin besar.

4. Membawa Bongkahan Batu dan Material Berukuran Besar

Lahar tidak hanya terdiri dari lumpur halus.

Aliran tertentu dapat membawa kerikil, batu, bahkan bongkahan batuan yang meningkatkan kemampuan merusak ketika melewati suatu area.

5. Bisa Terjadi Setelah Erupsi Berakhir

Bahaya lahar tidak otomatis hilang setelah letusan berhenti.

Endapan vulkanik yang masih menumpuk di lereng dapat kembali terbawa hujan deras sehingga lahar dapat terjadi dalam periode pascaerupsi.

6. Sulit diprediksi hanya dari kondisi cuaca di satu tempat

Hujan di kawasan hulu gunung api dapat memicu lahar yang kemudian mengalir ke bagian hilir.

Artinya, wilayah yang mengalami aliran lahar tidak selalu merupakan wilayah yang sedang diguyur hujan deras.

Jadi, bahaya lahar bukan hanya karena alirannya deras, tetapi juga karena kemampuannya membawa material dalam jumlah besar, mengikis lingkungan, dan mengikuti jalur sungai hingga ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi.

Inilah yang membuat lahar perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana gunung api, bahkan setelah erupsi selesai.

Untuk memahami gunung api dan berbagai fenomena yang menyertainya dengan lebih lengkap, buku Gunung Api: Perjalanan Menjelajahi Gunung Api Dahsyat di Dunia bisa menjadi bacaan yang menarik.

Buku ini mengajak kamu mengenal sejarah dan sains dari gunung api di dunia, mulai dari rahasia terbentuknya gunung api, jenisnya, fitur vulkanik, hingga kisah letusan legendaris Vesuvius, Santorini, Etna, Tambora, dan Krakatau.

Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi istilah geologi, buku ini sangat cocok dibaca untuk anak-anak maupun orang tua.

Yuk, pesan dan dapatkan buku Gunung Api: Perjalanan Menjelajahi Gunung Api Dahsyat di Dunia sekarang hanya di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau