Proses Terbentuknya Lahar Lahar sering disangka sebagai lava yang mengalir dari gunung api.
Padahal, keduanya sangat berbeda! Lahar merupakan aliran campuran air dan material vulkanik seperti abu, pasir, kerikil, hingga bongkahan batu yang dapat bergerak deras mengikuti lereng dan alur sungai.
Lantas, bagaimana proses terbentuknya lahar dan kenapa alirannya bisa begitu berbahaya? Menariknya, lahar tidak hanya terjadi saat gunung sedang meletus, tetapi juga dapat terbentuk setelah erupsi ketika material vulkanik yang menumpuk bercampur dengan air.
Yuk, simak proses terbentuknya lahar, jenis, serta faktor yang memengaruhi kemunculannya!
Lahar merupakan aliran yang terdiri dari campuran air dan material vulkanik seperti abu, pasir, kerikil, lapili, hingga bongkahan batu yang bergerak menuruni lereng gunung api atau mengikuti alur sungai.
Lahar dapat terbentuk ketika material vulkanik yang berada di lereng gunung api bercampur dengan air dalam jumlah cukup banyak.
Karena dipengaruhi gravitasi dan memiliki kandungan material padat yang tinggi, aliran lahar dapat bergerak deras dan membawa material dalam jumlah besar.
Secara umum, lahar memiliki beberapa karakteristik seperti:
Air yang memicu terbentuknya lahar tidak selalu berasal dari satu sumber.
Beberapa sumber air yang dapat berperan antara lain:
Hujan dapat menggerakkan kembali endapan abu dan material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung.
Jenis ini sering disebut lahar hujan dan dapat terjadi bahkan setelah erupsi berakhir.
Jika gunung api memiliki danau kawah, airnya dapat bercampur dengan material vulkanik dan memicu terbentuknya aliran lahar dalam kondisi tertentu.
Di gunung api yang memiliki salju atau lapisan es, panas dari aktivitas erupsi dapat mencairkannya dan menyediakan air untuk membentuk lahar.
Sungai, genangan, atau badan air lain di sekitar gunung api juga dapat menjadi sumber air yang bercampur dengan endapan vulkanik.
Jadi, lahar bukanlah lava yang bercampur dengan air, melainkan aliran air yang membawa material vulkanik dalam jumlah besar.
Karena dapat bergerak mengikuti lembah dan sungai, keberadaan lahar perlu diwaspadai terutama di wilayah yang berada di sekitar lereng dan alur sungai yang berhulu di gunung api.
Lahar terbentuk ketika air bercampur dengan material vulkanik yang berada di sekitar gunung api, kemudian campuran tersebut bergerak menuruni lereng karena pengaruh gravitasi.
Prosesnya bisa berlangsung saat erupsi maupun setelah erupsi selesai, terutama ketika endapan vulkanik masih banyak dan mudah terbawa air.
Secara sederhana, proses terbentuknya lahar dapat berlangsung melalui beberapa tahapan berikut:
Ketika gunung api mengalami erupsi, berbagai material seperti abu, pasir, lapili, kerikil, dan bongkahan batu dapat terlempar dan kemudian menumpuk di lereng gunung.
Endapan ini umumnya masih lepas dan belum terkonsolidasi.
Semakin banyak endapan yang berada di lereng, semakin besar pula material yang berpotensi terbawa oleh air.
Endapan di sekitar lembah dan alur sungai juga dapat menjadi sumber material lahar.
Hujan deras menjadi salah satu pemicu yang umum.
Air meresap dan mengalir di permukaan, kemudian mengikis serta membawa material vulkanik.
Dalam kondisi tertentu, air dari danau kawah, salju, atau sumber air lainnya juga dapat berperan.
Ketika jumlah air cukup untuk memobilisasi endapan, campuran air dan material vulkanik berubah menjadi aliran yang sangat kaya sedimen.
Aliran ini kemudian bergerak mengikuti kemiringan lereng.
Karena dipengaruhi gravitasi, aliran lahar cenderung mengikuti jalur rendah seperti lembah, parit, dan sungai.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Sepanjang perjalanan, lahar dapat mengikis material di sekitarnya sekaligus membawa tambahan sedimen.
Ketika kemiringan medan berkurang atau energi aliran melemah, maka material yang dibawa lahar mulai mengendap.
Endapan tersebut dapat menumpuk di sepanjang lembah, sungai, atau area dataran yang dilewati.
Lahar tidak selalu muncul bersamaan dengan letusan.
Endapan vulkanik yang tersisa setelah erupsi masih dapat menjadi sumber lahar ketika terkena hujan deras.
Karena itu, potensi lahar dapat tetap ada selama beberapa waktu setelah aktivitas erupsi, terutama jika material vulkanik yang mudah tererosi masih banyak di lereng.
Singkatnya, rangkaian pembentukan lahar adalah erupsi → material vulkanik menumpuk → air datang → material tercampur dan termobilisasi → aliran bergerak menuruni lereng → material terbawa dan mengendap.
Besarnya aliran lahar sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jumlah dan kondisi endapan vulkanik, intensitas hujan, ketersediaan air, kemiringan lereng, serta bentuk jaringan sungai atau lembah yang dilaluinya.
Meski tidak berupa material pijar seperti lava, lahar tetap dapat menjadi salah satu bahaya gunung api yang serius.
Campuran air dan material vulkanik membuat lahar memiliki massa dan daya gerus yang besar.
Ketika bergerak menuruni lereng, aliran ini dapat membawa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu sekaligus mengikis material di sepanjang jalurnya.
Ada beberapa alasan mengapa lahar bisa sangat merusak, yaitu:
Lahar dapat mengangkut campuran abu, pasir, kerikil, batu, dan material vulkanik lainnya.
Semakin banyak material yang terbawa, semakin besar pula massa alirannya.
Gravitasi membuat lahar bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang lebih rendah.
Ketika masuk ke lembah atau sungai, alirannya dapat mengikuti jalur tersebut dan mencapai area yang cukup jauh dari gunung api.
Material padat yang terbawa aliran dapat mengikis dasar dan tepi sungai maupun lereng yang dilewatinya.
Dalam perjalanannya, lahar bahkan dapat mengambil tambahan sedimen sehingga volume alirannya semakin besar.
Lahar tidak hanya terdiri dari lumpur halus.
Aliran tertentu dapat membawa kerikil, batu, bahkan bongkahan batuan yang meningkatkan kemampuan merusak ketika melewati suatu area.
Bahaya lahar tidak otomatis hilang setelah letusan berhenti.
Endapan vulkanik yang masih menumpuk di lereng dapat kembali terbawa hujan deras sehingga lahar dapat terjadi dalam periode pascaerupsi.
Hujan di kawasan hulu gunung api dapat memicu lahar yang kemudian mengalir ke bagian hilir.
Artinya, wilayah yang mengalami aliran lahar tidak selalu merupakan wilayah yang sedang diguyur hujan deras.
Jadi, bahaya lahar bukan hanya karena alirannya deras, tetapi juga karena kemampuannya membawa material dalam jumlah besar, mengikis lingkungan, dan mengikuti jalur sungai hingga ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi.
Inilah yang membuat lahar perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana gunung api, bahkan setelah erupsi selesai.
Untuk memahami gunung api dan berbagai fenomena yang menyertainya dengan lebih lengkap, buku Gunung Api: Perjalanan Menjelajahi Gunung Api Dahsyat di Dunia bisa menjadi bacaan yang menarik.
Buku ini mengajak kamu mengenal sejarah dan sains dari gunung api di dunia, mulai dari rahasia terbentuknya gunung api, jenisnya, fitur vulkanik, hingga kisah letusan legendaris Vesuvius, Santorini, Etna, Tambora, dan Krakatau.
Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi istilah geologi, buku ini sangat cocok dibaca untuk anak-anak maupun orang tua.
Yuk, pesan dan dapatkan buku Gunung Api: Perjalanan Menjelajahi Gunung Api Dahsyat di Dunia sekarang hanya di Gramedia.com.