Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Ikut Standar Orang, Begini Cara Pilih Properti Pertama

Kompas.com, 2 Oktober 2026, 11:00 WIB
Buku Kapan Punya Rumah? Sumber Gambar: Dok. Elex Media Komputindo Buku Kapan Punya Rumah?
Rujukan artikel ini:
Kapan Punya Rumah?
Pengarang: Eric Hermanto
|
Editor Novia Putri Anindhita

Punya rumah sendiri sering dianggap sebagai pencapaian yang harus mengikuti standar tertentu.

Rumah harus berada di lokasi strategis, ukurannya luas, atau bahkan harus sesuai dengan gambaran “rumah ideal” yang selama ini ada di kepala.

Padahal, kebutuhan setiap orang terhadap properti bisa berbeda.

Ada yang membutuhkan rumah dekat keluarga, ada yang lebih nyaman tinggal di apartemen, sementara yang lain justru memilih membeli tanah terlebih dahulu.

Perbedaan kebutuhan ini juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam podcast Monety Official bersama praktisi properti Erick Hermanto.

Menurutnya, keputusan membeli properti sebaiknya tidak hanya mengikuti tren, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing.

Properti Bukan Sekadar Soal Rumah

Di Indonesia, kata properti memang lebih sering dikaitkan dengan rumah.

Padahal, dalam arti yang lebih luas, properti dapat berupa berbagai benda, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Dalam konteks kebutuhan tempat tinggal, properti menjadi salah satu bagian dari kebutuhan dasar manusia.

Rumah, apartemen, hingga tanah dapat menjadi pilihan, tergantung pada kondisi dan tujuan masing-masing orang.

Karena itu, tidak ada satu bentuk properti yang otomatis cocok untuk semua orang.

Rumah Pertama Tidak Harus Sama dengan Orang Lain

Pengalaman Erick menunjukkan bahwa kebutuhan bisa menjadi pertimbangan utama dalam menentukan jenis properti.

Sebelum membutuhkan rumah untuk keluarga, ia justru memulai investasi properti melalui apartemen yang kemudian disewakan.

Rumah pertama baru dibeli ketika kebutuhan untuk menikah dan tinggal lebih dekat dengan ibunya muncul.

Contoh lainnya, ada orang yang memilih membeli apartemen di tengah kota karena ingin dekat dengan tempat kerja.

Ada pula yang lebih memilih membeli tanah di kampung untuk dipersiapkan secara bertahap sebagai tempat tinggal di masa depan.

Artinya, ukuran keberhasilan bukan sekadar punya rumah dengan bentuk tertentu, tetapi apakah properti tersebut sesuai dengan kebutuhan hidup.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Jangan Sampai Properti Malah Jadi Beban

Memilih properti juga membutuhkan proses belajar.

Pengalaman membeli rumah pertama menunjukkan bahwa tampilan luar tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya.

Erick pernah membeli rumah yang terlihat rapi dan terawat.

Namun, ketika hendak direnovasi, ditemukan masalah serius pada struktur bangunan hingga akhirnya rumah tersebut harus dirobohkan dan dibangun kembali.

Dari pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya memahami properti sebelum membeli.

Terutama saat membeli rumah bekas, calon pembeli perlu lebih teliti melihat kondisi bangunan, lokasi, serta potensi biaya tambahan setelah transaksi.

Jadi, jangan hanya terpaku pada rumah yang terlihat bagus saat pertama kali dilihat.

Punya Properti Juga Berarti Belajar Finansial

Membeli properti memang bukan keputusan satu malam.

Ada proses belajar mengenai jenis properti, cara menyimpan uang, perencanaan, hingga bagaimana mengembangkan aset.

Dalam podcast, Erick menekankan pentingnya memiliki mindset untuk belajar dan mencari tahu sebelum menentukan pilihan.

Bahkan, perjalanan seseorang bisa dimulai dari pemula yang baru ingin memiliki rumah hingga berkembang menjadi investor properti.

Properti yang tepat bukan selalu yang paling mahal atau paling dekat dengan pusat kota.

Yang lebih penting adalah memahami apa yang dibutuhkan, kemampuan finansial yang dimiliki, serta tujuan jangka panjang dari properti tersebut.

Pembahasan lengkap mengenai cara memilih properti, pengalaman membeli rumah pertama, hingga edukasi finansial dalam perjalanan menjadi pemilik properti bisa disaksikan melalui podcast Monety Official.

Bagi yang ingin mempelajari dunia properti lebih lengkap, buku Kapan Punya Rumah? karya Erick Hermanto juga membahas berbagai jenis properti, cara menyiapkan keuangan, hingga tahapan untuk berkembang menjadi investor properti.

Buku tersedia di Gramedia.com, Gramedia Digital, maupun toko Gramedia terdekat.

Untuk mendapatkan insight seputar bisnis, keuangan, teknologi, lifestyle, serta rekomendasi buku, subscribe YouTube Monety Official, ikuti Instagram @monety.id, dan kunjungi www.monety.id.

Monety adalah platform belajar untuk Gen Z dan milenial yang membahas keuangan, bisnis, teknologi, lifestyle, news update, hingga rekomendasi buku untuk membantu upgrade skill dan mindset finansial.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau