Buku Labirin Cromboloni: Filsafat Kontemplatif dalam Cerita Ringan dan Asyik Ada tipe orang yang kalau makan cromboloni ya sudah, makan saja, bilang enak, lalu selesai.
Namun, ada juga yang setelah menghabiskannya justru berpikir, kok makanan seperti ini bisa membawa kita memikirkan makna dan kehidupan, ya?
Penulis buku, Rio Christiawan, termasuk tipe yang memikirkan makna.
Setelah membaca buku Labirin Cromboloni: Filsafat Kontemplatif dalam Cerita Ringan dan Asyik, saya jadi tahu bahwa hal yang dipikirkannya dari sesuatu yang sederhana ternyata tidak sesederhana itu.
Buku karya Rio terbitan PT Elex Media Komputindo ini memang berangkat dari hal-hal yang dekat dengan keseharian.
Dari cromboloni, perjalanan, makanan, lalu pembahasannya bergerak ke emoji, budaya pop, teknologi, privasi, relasi, hingga pencarian makna hidup.
Hal-hal tersebut sebenarnya begitu biasa kita temui.
Namun, Labirin Cromboloni mengajak pembaca berhenti sejenak dan melihat kembali hal-hal tersebut.
Apa yang sebenarnya bisa kita temukan ketika sesuatu yang selama ini terasa biasa dilihat dari sudut yang berbeda?
Cromboloni menjadi metafora utama yang digunakan buku ini untuk membawa pembaca masuk ke berbagai pembahasan.
Pastri yang sempat ramai di media sosial tersebut terdiri dari lapisan yang renyah dengan isian manis di dalamnya.
Menurut Rio, pengalaman menikmati cromboloni dapat menjadi gambaran tentang bagaimana manusia mengalami kehidupan dengan berbagai rasa.
Dalam bagian Berbagi Dessert, Rio menjelaskan alasan cromboloni digunakan sebagai metafora dalam buku ini.
“Cromboloni merupakan metafora yang digunakan dalam buku ini untuk mengantarkan pembaca pada berbagai ‘hambar’ dan ‘manis’ dari setiap cerita dengan latarnya masing-masing.”
Ia kemudian menghubungkannya dengan cara manusia memandang perbedaan.
“Bagi saya cromboloni itu manis dan itu mutlak bagi saya, tetapi belum tentu bagi orang lain. Itulah pluralisme, cara kita memandang dan menerima perbedaan yang ada.” — Rio Christiawan
Gagasan ini menjadi fondasi yang cukup penting untuk memahami buku secara keseluruhan.
Cromboloni bukan sekadar makanan yang dipakai sebagai judul agar terdengar unik.
Lapisan-lapisan yang ada di dalamnya menjadi metafora untuk berbagai pengalaman manusia yang juga tidak selalu memiliki satu rasa.
Salah satu karakter yang paling terasa dalam Labirin Cromboloni adalah luasnya topik yang dibahas.
Pembaca bisa menemukan perjalanan, makanan, emoji, teknologi, privasi, relasi, hingga pencarian makna hidup dalam satu buku.
Pada pembahasan mengenai emoji, misalnya, simbol yang sehari-hari digunakan untuk berkomunikasi menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana bahasa digital berkembang.
Di bab QRIS untuk Keuangan, Emoji untuk Bahasa dan Perasaan, Rio menulis bahwa emotikon telah menjadi bagian dari bahasa digital modern.
“Sama halnya dengan QRIS yang hadir merevolusi metode pembayaran konvensional menjadi digital payment yang praktis dan global, emotikon adalah bentuk nyata dari digital language; sebuah gaya komunikasi baru yang tidak bisa lagi kita tolak kehadirannya di dalam peradaban modern.” — hlm. 37
Dari sini, pembahasan mengenai emoji tidak berhenti pada kebiasaan menggunakan simbol di layar, tetapi juga melihat bagaimana konteks, kebiasaan, dan perkembangan komunikasi digital ikut memengaruhi cara manusia menyampaikan perasaan dan memahami pesan.
Bagi saya, bagian ini cukup menggambarkan pendekatan buku secara keseluruhan.
Rio mengambil sesuatu yang sudah akrab, kemudian menggeser sedikit sudut pandangnya agar pembaca melihat persoalan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu diperhatikan.
Pembahasan mengenai teknologi kemudian membawa buku pada persoalan interaksi manusia.
Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi semakin cepat dan mudah.
Kita bisa mengirim pesan kepada seseorang yang berada jauh dalam hitungan detik atau memesan makanan tanpa banyak percakapan.
Namun, buku ini juga memperhatikan hal-hal kecil yang muncul ketika manusia benar-benar berinteraksi secara langsung, konsep From Hand Warmer to Heart Warmer namanya.
Bentuknya bisa berupa senyum seorang pramusaji, percakapan ketika memilih makanan, tulisan personal pada gelas, hingga perhatian kecil dari orang lain yang dibaca sebagai bentuk kehangatan dalam interaksi manusia.
“Teknologi digital melipat jarak dengan efisien, tetapi sering kali menghapus sentuhan-sentuhan personal kecil yang justru menjadi bahan bakar utama bagi kehangatan hati manusia.” — hlm. 91
Menurut saya, bagian ini menarik karena buku tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi membawa dampak baik atau buruk.
Perhatian justru diarahkan pada sesuatu yang lebih kecil, yaitu pengalaman manusia yang mungkin berubah ketika interaksi semakin bergantung pada teknologi.
Setelah membicarakan berbagai fenomena di sekitar manusia, pembahasan Labirin Cromboloni bergerak menuju persoalan yang lebih personal.
Kintsugi, misalnya, digunakan untuk membicarakan retakan, kegagalan, dan ketidaksempurnaan.
Filosofi Jepang tentang memperbaiki keramik yang pecah dengan menonjolkan bekas retakannya menjadi metafora tentang pengalaman manusia.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Retakan tidak selalu harus disembunyikan.
Justru retakan dapat menjadi bagian dari cerita yang membentuk seseorang.
Dari sana, buku ini membawa pembaca kepada pembahasan ikigai dan istilah “egoguy”.
Dalam buku, egoguy digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika ego mengambil alih pencarian makna hidup.
Pembahasan ini kemudian membawa pertanyaan yang lebih mendasar tentang alasan seseorang mengejar sesuatu dan bagaimana keberadaannya memberi arti bagi kehidupan di sekitarnya.
Di bagian ini, menurut saya, karakter reflektif buku semakin terasa.
Rio tidak menawarkan satu formula mengenai bagaimana seseorang harus menemukan makna hidup.
Gagasannya lebih banyak disampaikan sebagai bahan untuk melihat kembali alasan di balik pilihan dan perjalanan masing-masing.
Meskipun menggunakan kata “filsafat” dalam judul, Labirin Cromboloni tidak terasa seperti buku filsafat akademik.
Pembaca tidak perlu memiliki pengetahuan filsafat terlebih dahulu untuk mengikuti pembahasannya.
Cerita, pengalaman, fenomena sehari-hari, dan metafora menjadi jembatan menuju gagasan yang ingin disampaikan.
Menurut saya, pendekatan ini menjadi salah satu kekuatan buku karena pembaca awam dapat masuk melalui sesuatu yang sudah dikenal sebelum kemudian diajak melihat persoalan dari sudut yang lebih dalam.
Di sisi lain, luasnya topik membuat kedalaman pembahasan setiap bagian tidak selalu sama.
Ada bagian yang terasa lebih mudah dicerna, sementara bagian lain membutuhkan perhatian lebih untuk memahami gagasan yang sedang dibangun.
Namun, hal tersebut masih sejalan dengan posisi buku sebagai bacaan kontemplatif yang menggunakan kehidupan sehari-hari sebagai bahan refleksi.
Dari segi struktur, Labirin Cromboloni memiliki karakter yang cukup berbeda dari buku pengembangan diri pada umumnya.
Buku ini tidak bergerak dengan pola masalah, solusi, lalu langkah-langkah praktis yang harus dilakukan pembaca.
Pembahasannya lebih menyerupai perjalanan pemikiran yang berpindah dari satu topik ke topik lainnya.
Dari makanan, pembaca dibawa kepada pengalaman dan pluralisme.
Dari emoji, pembahasan masuk ke persoalan komunikasi.
Dari teknologi, pembahasan bergerak menuju kehangatan.
Dari privasi, pembahasan mengarah pada relasi dan batas diri.
Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju ego, ikigai, dan pencarian makna.
Perpindahan tersebut menjadi salah satu karakter utama buku.
Bagi pembaca yang senang mengeksplorasi banyak gagasan, pola seperti ini bisa terasa menyenangkan.
Namun, pembaca yang lebih menyukai struktur yang sangat linear mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian karena hubungan antartopik tidak selalu langsung terlihat.
Menurut saya, di sinilah metafora “labirin” bekerja.
Pembaca memang tidak diarahkan mencari solusi atau jalan keluar.
Seperti labirin, buku ini membawa pembaca melewati berbagai topik dan persimpangan pembahasan yang berbeda, tetapi semuanya tetap berada dalam suasana reflektif yang sama.
Rio Christiawan selama ini dikenal sebagai akademisi dan praktisi hukum yang aktif merespons isu-isu kebijakan publik serta lingkungan hidup, termasuk lewat kolom kebudayaan Aruna di harian Kompas.
Rekam jejak kepenulisannya pun cukup beragam, mulai dari naskah fiksi hingga buku cerita anak bertema alam seperti Crombo & Loni: Sahabat dari Hutan.
Terbitnya Labirin Cromboloni menjadi karya pertamanya di ranah self-improvement.
Latar belakangnya yang luas membuat buku ini ditulis dengan gaya yang sangat terbuka (open-minded), peka pada isu kemasyarakatan, dan sama sekali tidak terkesan menggurui.
Ia tidak terburu-buru menyodorkan jalan keluar yang kaku, melainkan membuka pintu-pintu refleksi agar pembaca menemukan jawabannya sendiri.
Buku ini memberi perasaan yang mirip dengan istilah yang dipakai Rio di halaman awal bukunya, yaitu “berbagi dessert”, sebuah hidangan penutup yang disantap santai saat obrolan panjang mulai mencapai kehangatannya.
Jika akhir-akhir ini pikiranmu terasa riuh oleh berbagai berita di lini masa, mungkin kamu sedang membutuhkan jeda sejenak dari layar gawai.
Buku Labirin Cromboloni: Filsafat Kontemplatif dalam Cerita Ringan dan Asyik bisa menjadi salah satu bacaan untuk menemani jeda tersebut.
Buku ini tersedia di Gramedia.com maupun di toko buku Gramedia.