Buku DEFY: Berani Bersuara Saat Situasi Menekan Anda Jam kerja hampir selesai, laporan mingguan sudah dikirim, tab di laptop mulai dirapikan, dan sudah bersiap untuk pulang.
Lalu, beberapa menit sebelum meninggalkan kantor, atasan datang membawa satu permintaan.
“Bisa tolong selesaikan materi presentasi ini sekarang? Sekalian data desk bulan ini di-markup sekitar 10%. Segera kerjakan ya, penting banget untuk rapat besok pagi jam delapan. Kalau bukan kamu yang bantu, saya nggak tahu lagi harus minta tolong ke siapa.”
Kita tahu hal ini tidak adil dan tidak benar.
Tugas ini datang mendadak karena perencanaan atasan yang minim atau kelalaian tim lain di menit-menit terakhir, dan bukan tanggung jawab darurat kita.
Menyanggupinya berarti mengorbankan waktu istirahat, komitmen personal, dan boundaries yang sudah kita jaga.
Namun di bawah todongan permintaan itu, kepala kita langsung dibanjiri rasa bersalah dan kalkulasi risiko.
Kalau menolak, apakah kita akan dicap tidak loyal? Apakah atasan akan menganggap kita tidak bisa mengikuti budaya kerja atau egois saat tim sedang butuh bantuan? Kita takut penolakan kita terdengar seperti mengatakan, “Saya tidak bisa melakukan itu. Lagian, itu kan keteledoran Bapak, kenapa jadi urusan saya?”.
Sebelum sempat menyusun alasan untuk menolak, bibir kita justru mendahului, “Baik, Pak, biar saya kerjakan.”
Percakapan selesai.
Namun, pertanyaan di kepala justru baru dimulai, mengapa kita mengatakan iya ketika seluruh tubuh dan pikiran kita ingin berkata tidak?
Keengganan untuk bersuara sering kali dianggap sebagai persoalan keberanian.
Seseorang yang diam dianggap terlalu takut, kurang percaya diri, atau tidak mampu mempertahankan pendapat.
Padahal, ada perbedaan antara bagaimana kita membayangkan akan bertindak dan bagaimana tubuh benar-benar merespons ketika tekanan datang.
Buku DEFY: Berani Bersuara Saat Situasi Menekan Anda karya Dr. Sunita Sah membahas penelitian Julie Woodzicka dan Marianne LaFrance yang menggambarkan hal tersebut dengan menarik.
Dalam simulasi wawancara kerja, para peserta sebelumnya memperkirakan akan menegur pewawancara atau meninggalkan ruangan jika mendapat pertanyaan yang tidak pantas.
Ketika situasi itu benar-benar terjadi, tidak satu pun peserta melakukan perlawanan seperti yang mereka bayangkan.
Mereka justru membeku dan merespons dengan senyuman canggung.
Ada respons freeze yang membuat seseorang sulit melakukan apa yang sebelumnya ia yakini akan dilakukan.
Hal ini membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa sangat vokal ketika berdiskusi dengan teman sejawat, tetapi kehilangan kata-kata ketika berhadapan dengan atasan.
Tekanan dan kehadiran otoritas dapat mengubah cara kita merespons situasi yang sama.
Jadi, ketika seseorang gagal bersuara dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman, persoalannya tidak selalu sesederhana “kurang berani”.
Ada kondisi psikologis dan sosial yang ikut membentuk respons tersebut.
Lalu muncul persoalan berikutnya.
Kalau seseorang mengatakan iya atau hanya mengangguk, apakah itu berarti ia benar-benar setuju?
Kita terbiasa membaca persetujuan dari perilaku yang terlihat.
Seseorang mengangguk berarti setuju, mengikuti arahan berarti menerima, dan tidak menyampaikan keberatan berarti tidak ada masalah.
Buku DEFY mengajak pembaca membedakan compliance dan consent.
Compliance berarti mengikuti permintaan atau arahan, sedangkan consent mengandung persetujuan yang diberikan secara sadar dan bebas.
Perbedaan ini menjadi penting ketika seseorang mengambil keputusan dalam situasi yang penuh tekanan.
Di sinilah konsep compliance dan consent menjadi penting.
Compliance berarti mengikuti permintaan atau arahan, sementara consent mengandung persetujuan yang diberikan secara sadar dan bebas.
Karena itu, seseorang dapat patuh tanpa benar-benar menyetujui.
Seorang staf junior dapat mengikuti keputusan pimpinan karena mempertimbangkan dampaknya terhadap pekerjaan.
Seorang pekerja kontrak dapat mengangguk karena menyadari bahwa menolak saat itu memiliki risiko tertentu.
Dari luar, keduanya terlihat setuju.
Namun, kepatuhan tersebut belum tentu menggambarkan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.
Ada alasan lain yang membuat kita sulit menyampaikan keberatan.
Sah menyebutnya sebagai insinuation anxiety atau kekhawatiran bahwa ketika kita mempertanyakan keputusan seseorang, keberatan tersebut akan dianggap sebagai tuduhan bahwa ia keliru, tidak kompeten, atau memiliki niat buruk.
Akibatnya, kita memilih menjaga hubungan dan menahan pendapat sendiri.
Di sinilah kepatuhan mulai menjadi persoalan yang lebih kompleks.
Sebab, kemampuan untuk berkata tidak juga dipengaruhi oleh posisi kita dalam sebuah relasi.
Menyarankan semua orang untuk “langsung speak up” dapat mengabaikan ketimpangan kuasa.
Karyawan senior dengan posisi yang relatif aman memiliki pilihan berbeda dari pekerja yang masih dalam masa percobaan.
Pimpinan memiliki ruang berbeda dari staf junior yang pekerjaannya sangat bergantung pada keputusan atasannya.
Dalam kondisi seperti ini, diam atau mengikuti arahan tidak selalu berarti menyerah.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Sah membahas konsep conscious compliance, yaitu kepatuhan yang dilakukan dengan kesadaran setelah mempertimbangkan situasi dan konsekuensinya.
Seseorang dapat memilih mengikuti arahan karena memahami bahwa penolakan terbuka saat itu membawa risiko yang besar.
Pilihan tersebut tidak otomatis berarti ia menyetujui semuanya, yang terpenting adalah kesadaran bahwa ia sedang membuat keputusan dalam kondisi yang terbatas.
Adakalanya seseorang perlu membaca situasi, mencari dukungan, mengumpulkan informasi, atau menunggu waktu yang lebih aman sebelum mengambil sikap.
Namun, ini juga tidak berarti semua bentuk diam dapat dianggap tepat.
Kendati demikian, menahan diri terkait penugasan teknis amat berbeda dari mendiamkan praktik pelecehan, intimidasi SARA, pelanggaran hukum, manipulasi data berat, atau bahaya keselamatan fisik.
Pada ranah ini, taruhannya bukan lagi rasa canggung di kantor, melainkan integritas serta martabat kemanusiaan.
Persoalannya juga tidak berhenti pada keberanian korban untuk berbicara.
Seseorang yang berada dalam situasi penuh intimidasi dapat mengalami respons freeze dan kesulitan melakukan perlawanan seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
Karena itu, pertanyaan seperti, “Kalau memang tidak suka, kenapa waktu itu diam?” menjadi tidak sesederhana yang terdengar.
Diam dalam situasi penuh tekanan tidak dapat begitu saja dibaca sebagai persetujuan.
Karena ketika risiko sudah menyentuh keselamatan, martabat, atau prinsip yang mendasar, tindakan untuk melindungi diri dan menyuarakan persoalan menjadi semakin penting.
Meski demikian, bersuara tidak selalu berarti melakukan konfrontasi secara langsung.
Mendokumentasikan kejadian, mencari dukungan dari orang yang dipercaya, membangun sekutu, atau menggunakan jalur pelaporan yang tersedia dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi situasi tersebut.
Dengan kata lain, keberanian juga membutuhkan strategi, terutama ketika berhadapan dengan relasi kuasa yang tidak seimbang.
Menariknya, persoalan ini tidak berhenti di ruang kantor.
Tekanan untuk patuh dapat muncul dalam berbagai relasi dan situasi kehidupan.
DEFY membawa pembaca melihat pola tersebut melalui beragam konteks, termasuk tempat kerja, dunia medis, hubungan personal, serta kasus korupsi dan pelecehan seksual.
Konteksnya berbeda, tetapi persoalan dasarnya memiliki kemiripan.
Ada situasi ketika seseorang berada di bawah tekanan untuk mengikuti orang lain, sementara keputusan untuk menolak memiliki konsekuensi tertentu.
Melalui riset psikologi dan berbagai kisah nyata, Sah menunjukkan bahwa kepatuhan manusia tidak selalu lahir dari persetujuan atau keyakinan bahwa sesuatu memang benar.
Ada pengaruh otoritas, norma sosial, relasi kuasa, keinginan menjaga hubungan, hingga respons psikologis yang bekerja ketika seseorang merasa tertekan.
Dari sinilah pembahasan tentang defiance menjadi lebih menarik.
Melawan tidak cukup dipahami sebagai keberanian untuk berkata tidak.
Oleh karena itu, sebelumnya kita perlu memahami apa yang membuat kita mengatakan iya.
Pemahaman tersebut membawa kita pada gagasan Moral Maverick yang diperkenalkan Sah.
Moral Maverick atau pembangkang moral bukanlah orang yang selalu mengatakan tidak dan melakukan konfrontasi ke semua hal.
Ia juga bukan orang yang selalu mengatakan iya.
Ia mampu mengenali tekanan untuk patuh, memahami situasi yang sedang dihadapi, lalu menentukan sikap berdasarkan nilai yang ingin dipertahankan.
Ada saat ketika kita memilih mengikuti keputusan orang lain karena memahami risikonya.
Ada saat ketika kita meminta waktu untuk berpikir.
Ada saat ketika kita menyampaikan keberatan dengan cara yang tetap menjaga hubungan.
Ada pula saat ketika kita perlu mengatakan tidak meskipun keputusan itu membawa konsekuensi yang tidak nyaman.
Hal yang membedakan semuanya adalah kesadaran bahwa kita tetap memiliki peran dalam menentukan pilihan tersebut.
Di situlah makna defiance dalam buku ini menjadi lebih luas daripada sekadar pemberontakan.
Melawan tidak selalu berarti mengambil posisi berlawanan.
Di buku ini, defy atau melawan berarti tetap memiliki kendali atas keputusan kita, bahkan ketika tekanan mendorong kita untuk menyerahkannya kepada orang lain.
Karena itu, persoalannya bukan lagi seberapa sering kita mengatakan "tidak".
Persoalannya adalah apakah “iya”, “tidak”, atau bahkan diam yang kita pilih benar-benar merupakan keputusan kita.
Jawabannya adalah tidak.
Namun, kita perlu belajar mengenali kapan kita sedang memilih untuk diam, kapan kita mengiyakan secara sadar, dan kapan ada nilai pribadi yang justru sedang dikorbankan dan melawan adalah cara terbaik.
Bagaimana cara membedakan ketiganya? Bagaimana tekanan sosial dan figur otoritas memengaruhi keputusan kita? Lalu, bagaimana cara tegas mengatakan “tidak” saat sebuah situasi menuntut kita untuk bersuara?
Pertanyaan-pertanyaan tulah yang dikupas tuntas dalam DEFY: Berani Bersuara Saat Situasi Menekan Anda karya Dr. Sunita Sah.
Buku ini mengajak pembaca memahami dinamika di balik kepatuhan, sekaligus menemukan cara bertindak ketika kondisi tak lagi sejalan dengan integritas yang ingin dipertahankan.
Bagi siapa pun yang pernah mengangguk saat batinnya ingin menolak, DEFY menawarkan satu kesadaran penting dalam keseharian bahwa memahami alasan kita berkata “iya” adalah langkah awal untuk tahu kapan kita akhirnya harus berani berkata “tidak”.
Baca selengkapnya di Buku DEFY: Berani Bersuara Saat Situasi Menekan Anda yang kini telah tersedia di seluruh jaringan toko buku Gramedia, Gramedia.com, Gramedia Digital, dan gerai resmi e-commerce kami.