Buku What My Mother and I Don’t Talk About Ada jenis pertanyaan yang terasa lebih sulit diajukan kepada ibu daripada kepada orang asing.
Apakah Ibu pernah bahagia? Apakah Ibu pernah menyesal? Atau mungkin pertanyaan yang terdengar sederhana, Ibu dulu ingin jadi apa?
Rasanya mungkin aneh.
Kita bisa berbicara berjam-jam dengan orang yang baru dikenal.
Namun, kepada seseorang yang sudah ada dalam hidup kita sejak awal, justru ada begitu banyak hal yang tidak pernah kita tanyakan
Keheningan semacam itulah yang menjadi pusat What My Mother and I Don’t Talk About: Fifteen Writers Break the Silence, antologi esai yang disunting Michele Filgate.
Edisi Indonesia berjudul What My Mother and I Don’t Talk About: Esai-Esai yang Memecah Hening di Balik Hubungan Kita dan Ibu, diterbitkan Elex Media Komputindo pada 2026.
Buku ini tidak terasa seperti kumpulan cerita tentang “ibu” dalam pengertian yang sederhana.
Isinya seperti kumpulan hal yang selama ini tidak pernah dibicarakan.
Salah satu gagasan paling menarik dari buku ini adalah bagaimana para penulis perlahan mencoba melihat ibu mereka sebagai manusia.
Kita sering mengenal ibu hanya berdasarkan perannya.
Figur yang mengurus rumah, memasak, mengingatkan, memarahi, melindungi, atau mengorbankan banyak hal demi anak.
Namun, sebelum peran ibu itu benar-benar dialami, seorang ibu tetaplah seseorang yang memiliki kehidupan sendiri.
Ibu pernah menjadi anak, pernah punya ketakutan, pernah membuat keputusan yang salah, pernah juga memiliki mimpi yang mungkin tidak tercapai.
Mungkin juga ada hal-hal yang pernah ia alami tetapi tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Melihat ibu dengan cara seperti ini membuat hubungan ibu dan anak menjadi jauh lebih rumit.
Seorang anak bisa mencintai ibunya sekaligus merasa terluka oleh ibu.
Sementara seorang ibu bisa mencintai anaknya sekaligus melakukan sesuatu yang meninggalkan luka.
Dua hal tersebut bisa muncul bersamaan.
Oleh karena itu, buku ini memberi ruang untuk melihat hubungan ibu dan anak dengan segala kerumitannya.
Michele Filgate sendiri berkisah dari pengalaman yang sangat pribadi.
Saat masih kuliah, ia mulai menulis tentang kekerasan yang dialaminya dari ayah tirinya.
Butuh lebih dari sepuluh tahun sampai ia menyadari bahwa tulisan itu sebenarnya juga membicarakan hubungannya dengan ibunya dan bagaimana keheningan yang ibunya alami turut memengaruhi pengalamannya.
Esai itu kemudian dipublikasikan di Longreads pada 2017 dan menjadi awal dari ide untuk mengumpulkan tulisan lain tentang hal-hal yang tidak pernah dibicarakan seseorang dengan ibunya.
Di sini, kata “diam” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tidak berbicara.
Diam bukan hanya bisa berarti takut, malu, atau ingin melindungi seseorang.
Namun, diam juga bisa berarti seseorang tidak tahu bagaimana menghadapi kenyataan.
Itulah sebabnya, hubungan keluarga sering kali terasa membingungkan.
Orang-orang di dalamnya bisa saling mencintai, tetapi tetap tidak bisa membicarakan hal yang paling penting.
Antologi ini memuat lima belas esai yang masing-masing berasal dari pengalaman yang berbeda.
Ada hubungan yang sangat dekat, ada yang sangat jauh, ada yang dipenuhi trauma, dan ada pula yang menunjukkan kasih sayang lewat cara yang tidak biasa.
André Aciman, misalnya, menulis tentang pengalaman memiliki ibu yang tuli.
Dalam hubungan seperti ini, komunikasi bukan sekadar soal memilih kata yang tepat.
Tubuh, bahasa, pendengaran, dan cara seseorang hadir bagi yang lain ikut memengaruhi bagaimana hubungan terbentuk.
Julianna Baggott menampilkan pengalaman lain, seorang ibu menceritakan hampir segala hal kepada anaknya.
Ini menarik karena kedekatan pun memiliki masalah sendiri.
Terlalu banyak keterbukaan bisa membuat batas antara ibu dan anak menjadi kabur.
Sementara itu, Leslie Jamison mencoba melihat siapa ibunya sebelum ia menjadi ibu.
Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung makna besar.
Seberapa jauh kita benar-benar mengenal kehidupan orang tua sebelum mereka memiliki kita?
Perbedaan cerita-cerita di dalamnya membuat buku ini tidak terasa seperti satu argumen panjang tentang hubungan ibu dan anak.
Buku ini lebih terasa seperti kumpulan pengalaman yang saling berdampingan.
Masing-masing cerita memiliki persoalannya sendiri, tetapi ketika dibaca bersama, semuanya menunjukkan betapa rumitnya menjadi seorang anak.
Ada anggapan bahwa semakin dekat hubungan, maka akan semakin mudah untuk saling berbicara.
Namun, kenyataannya sering kali bertentangan.
Justru karena ibu sangat penting bagi kita, kata-kata yang disampaikan kepadanya membawa risiko emosional lebih besar.
Mengatakan kepada teman, “Aku kecewa padamu,” memang terasa sulit.
Namun, mengatakannya kepada ibu terasa seperti menanyakan seluruh hubungan yang sudah dibangun puluhan tahun.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, jika diucapkan selama bertahun-tahun, kalimat tersebut bisa jadi bahasa yang sering digunakan dalam keluarga.
Buku ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak dibicarakan bukan berarti sudah selesai.
Kadang justru sebaliknya.
Apa yang tidak pernah dibicarakan bisa terus terbawa dalam ingatan.
Ada sesuatu yang perlahan berubah setelah membaca kumpulan esai ini.
Kita bisa datang dengan niat mengikuti cerita orang lain tentang ibu mereka, tapi tanpa sadar akhirnya membuka cerita di dalam keluarga sendiri.
Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita simpan dan jarang kita pikirkan kembali.
Apa yang sebenarnya tidak pernah aku bicarakan dengan ibu?
Apakah ada percakapan yang sengaja kita hindari karena takut mengubah hubungan yang selama ini terasa baik-baik saja?
Adakah peristiwa dari masa kecil yang dulu kita anggap sepele, tetapi kini terasa maknanya setelah kita tumbuh dewasa?
Atau mungkin ada sesuatu yang sejak lama ingin kita tanyakan kepada ibu, tetapi setiap kali kesempatan datang, kita memilih membicarakan hal lain?
Di situlah pengalaman membaca buku ini terasa begitu dekat.
Bukan karena kisah para penulis persis sama dengan kehidupan kita, melainkan karena perasaan yang mereka bawa terasa akrab.
Keinginan untuk dipahami, rasa kecewa yang sulit diberi nama, kasih sayang yang tidak selalu pandai menemukan bentuk, serta percakapan yang terus tertunda karena kita tidak pernah tahu bagaimana harus memulainya.
Hampir setiap keluarga punya hal-hal yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Ada hal-hal yang sengaja disimpan demi menjaga keadaan tetap tenang, ada kenangan yang terlalu rumit untuk diceritakan kembali, dan ada perasaan yang akhirnya dianggap tidak perlu dibahas karena semuanya sudah berlalu.
Nuansa yang membuat kumpulan esai ini terasa manusiawi adalah caranya membiarkan hubungan ibu dan anak tetap berada dalam wilayah yang rumit.
Tidak semua cerita harus berakhir dengan rekonsiliasi, pelukan, atau kalimat maaf yang akhirnya menyelesaikan semuanya.
Sebab dalam kehidupan nyata, hubungan tidak bekerja sesederhana itu.
Ada luka yang tidak serta-merta hilang hanya karena kita akhirnya memahami alasan di baliknya.
Ada keputusan orangtua yang mungkin baru bisa dimengerti setelah kita dewasa, tetapi tetap meninggalkan rasa sakit.
Memahami seseorang bukan berarti kita harus menganggap semua yang dilakukannya benar.
Kita bisa melihat latar belakangnya, merasakan empati, sekaligus tetap mengakui bahwa kita pernah terluka.
Barangkali inilah yang sering terlupakan ketika orang berbicara tentang hubungan keluarga.
Kita terlalu cepat menganggap bahwa akhir yang baik selalu berarti memaafkan dan kembali dekat.
Berdamai dengan masa lalu tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama.
Bagi sebagian orang, penyelesaian mungkin datang melalui percakapan yang selama ini tertunda.
Namun bagi yang lain, mungkin hadir dalam bentuk batas yang lebih sehat atau jarak yang dibutuhkan untuk bernapas.
Ada juga yang tidak membutuhkan apa-apa selain kesempatan untuk menerima bahwa masa lalu memang tidak dapat diubah.
Menerima kenyataan itu tanpa terus menyalahkan diri sendiri juga merupakan bentuk berdamai.
Hal seperti inilah yang membuat esai-esai dalam buku ini terasa kuat.
Buku ini tidak menawarkan satu cara untuk memperbaiki hubungan antara ibu dan anak, melainkan menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki luka, bahasa, dan cara bertahannya masing-masing.
Buku What My Mother and I Don’t Talk About tidak menampilkan sosok ibu yang selalu benar, maupun anak yang selalu jadi korban.
Hal yang digambarkan justru sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sebenarnya: dua orang yang saling mencinta, tetapi tidak selalu tahu bagaimana cara memahami satu sama lain.
Mungkin itulah kekuatan terbesar dari buku ini.
Buku ini tidak terburu-buru memberikan jawaban, tetapi meninggalkan pembaca dengan pertanyaan yang perlahan-lahan terasa makin personal.
Setelah membaca kisah-kisah di dalamnya, hubungan antara ibu dan anak jadi sulit dilihat sebagai sesuatu yang mudah.
Cinta ternyata bisa berjalan bersama dengan kekecewaan, kedekatan tidak selalu berarti saling paham, dan kenangan yang kita anggap sebagai kebenaran tentang masa kecil bisa terlihat berbeda dari sudut pandang orang yang mengalaminya bersama kita.
Semakin lama memikirkannya, semakin terasa bahwa bagian yang paling sulit dari sebuah hubungan tidak selalu berasal dari kata-kata yang pernah diucapkan.
Terkadang, justru dari kalimat yang tidak pernah kita katakan.
Ada pertanyaan yang baru muncul ketika kita sudah dewasa.
Ada cerita tentang masa lalu yang baru ingin kita pahami setelah semuanya berlalu.
Ada juga sisi dari seorang ibu yang baru terlihat ketika kita mulai sadar bahwa ia bukan hanya sosok yang membesarkan kita, tetapi juga seseorang yang pernah punya ketakutan, kesalahan, impian, dan luka sendiri.
Mungkin setelah membaca buku ini, kita jadi mulai memikirkan kembali hal-hal yang selama ini tidak pernah dibicarakan dengan ibu.
Bukan berarti semua harus segera dibahas atau semua hubungan harus diperbaiki.
Namun, setelah menyadari keberadaannya, kita tidak bisa lagi menganggapnya seolah-olah tidak pernah ada.
Baca selengkapnya buku What My Mother and I Don't Talk About yang kini tersedia di seluruh toko buku Gramedia, Gramedia.com, dan Gramedia Digital untuk versi e-book.