Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satu Kalimat Sebelum Tidur

Kompas.com, 10 September 2026, 13:00 WIB
Buku Sejenak Jeda dari Gegap Gempita Dunia Sumber Gambar: Gramedia.com Buku Sejenak Jeda dari Gegap Gempita Dunia
Rujukan artikel ini:
Sejenak Jeda dari Gegap Gempita…
Pengarang: Mifta Novikasari
|
Editor Novia Putri Anindhita

Artikel ini merupakan salah satu artikel pemenang dalam Lomba Menulis Artikel Quanta 2026 yang diselenggarakan oleh Penerbit Quanta (imprint Elex Media Komputindo / Gramedia Group).

"Hidup berubah ketika kita mengubah cara melihatnya."

Berhenti Sejenak di Tengah Kesibukan

Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul 22.30.

Rumah telah sunyi.

Satu per satu lampu dipadamkan, menyisakan cahaya redup yang menemani saya duduk di ruang kerja.

Di atas meja masih berserakan beberapa buku, secangkir teh yang mulai dingin, dan sebuah buku catatan berwarna cokelat yang belum lama saya beli.

Hari itu terasa melelahkan.

Banyak pekerjaan telah selesai, tetapi entah mengapa hati saya belum benar-benar tenang.

Percakapan yang kurang menyenangkan, keputusan yang mungkin keliru, serta pekerjaan yang belum tuntas terus berputar di kepala.

Saya duduk cukup lama tanpa melakukan apa pun.

Hingga akhirnya pandangan saya tertuju pada sebuah kalimat sederhana yang pernah saya baca, "Tuliskan satu hal yang kamu syukuri hari ini."

Kalimat itu seakan mengetuk ruang hati yang selama ini dipenuhi berbagai kegelisahan.

Saat itulah saya teringat pada sebuah pemikiran yang saya temukan dalam buku Sejenak Jeda dari Gegap Gempita Dunia karya Mifta Novikasari.

Buku itu mengajak pembacanya untuk berani berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, memberi ruang bagi hati untuk bermuhasabah, lalu menemukan kembali makna di balik setiap peristiwa yang dialami.

Saya pun bertanya kepada diri sendiri, kapan terakhir kali saya benar-benar berhenti? Bukan untuk sekadar mengistirahatkan tubuh, melainkan memberi kesempatan kepada hati untuk berbicara.

Sejak saat itu saya mulai memahami bahwa menuliskan satu kalimat syukur setiap malam bukan sekadar kebiasaan menulis.

Kebiasaan kecil itu perlahan menjadi latihan hati untuk mengenali kasih sayang Allah dalam setiap peristiwa yang saya alami.

Namun, perjalanan menuju kebiasaan itu tidak terjadi begitu saja.

Hari-hari saya tetap dipenuhi rutinitas yang nyaris tidak memberi ruang untuk berhenti.

Pagi dimulai dengan daftar pekerjaan yang panjang, siang dihabiskan mengejar target, dan malam ditutup dengan tubuh yang lelah.

Anehnya, di tengah kesibukan itu saya justru lebih sering mengingat hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan.

Jika ada sepuluh peristiwa dalam sehari, sembilan di antaranya mungkin berjalan baik, tetapi pikiran saya justru terpaku pada satu hal yang mengecewakan.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa kebiasaan itu membuat hidup terasa berat.

Bukan karena kehidupan saya dipenuhi masalah, melainkan karena saya terbiasa melihat apa yang kurang daripada apa yang sudah saya miliki.

Saya sering membandingkan diri dengan orang lain, memikirkan kegagalan kecil, atau menyesali sesuatu yang sebenarnya sudah lewat.

Tanpa sadar, saya sedang membangun tembok yang menghalangi rasa bahagia.

Saya sempat tersenyum kecil.

Benarkah menulis satu kalimat bisa membawa perubahan? Rasanya terlalu mudah untuk dipercaya.

Namun, saya memutuskan untuk mencobanya.

Toh, saya tidak akan kehilangan apa pun.

Malam pertama, saya menulis, "Hari ini saya bersyukur masih diberi kesehatan."

Kalimat itu terasa biasa saja.

Malam berikutnya saya menulis, "Saya bersyukur dapat menikmati makan malam bersama keluarga."

Hari-hari berikutnya, saya mulai menulis hal-hal yang lebih sederhana lagi.

Saya bersyukur hujan turun setelah cuaca yang panas.

Saya bersyukur seorang teman menyapa lebih dulu.

Saya bersyukur sempat menikmati secangkir teh hangat di sore hari.

Awalnya saya menganggap kebiasaan itu sekadar latihan menulis.

Namun, tanpa saya sadari, ada sesuatu yang perlahan berubah.

Belajar Menemukan Cahaya dalam Hal-Hal Sederhana

Minggu pertama menjadi masa penyesuaian.

Tidak setiap malam saya langsung menemukan sesuatu untuk dituliskan.

Pernah saya membuka buku catatan cukup lama tanpa satu kata pun muncul.

Rasanya hari itu berjalan biasa saja.

Tidak ada pencapaian yang membanggakan, tidak ada kejadian yang berkesan.

Namun setelah merenung beberapa menit, saya menyadari bahwa hari yang tenang tanpa masalah besar pun layak disyukuri.

Malam itu saya menulis, "Hari ini saya bersyukur karena semuanya berjalan dengan baik."

Kalimat sederhana itu mengajarkan saya bahwa rasa syukur tidak selalu lahir dari peristiwa luar biasa.

Hari-hari berikutnya, saya mulai menunggu saat sebelum tidur.

Bukan karena ingin memenuhi halaman buku catatan, melainkan karena saya ingin mengingat kembali perjalanan hari itu.

Tanpa sadar, saya mulai menjalani setiap hari dengan perhatian yang berbeda.

Saya menjadi lebih mudah menemukan alasan untuk tersenyum, lebih peka terhadap kebaikan orang lain, dan lebih menikmati hal-hal kecil yang dahulu sering saya abaikan.

Perlahan saya menyadari bahwa yang berubah bukan keadaan di sekitar saya, melainkan cara saya menjalaninya.

Kesibukan tetap sama, tanggung jawab pun tidak berkurang.

Namun, beberapa menit sebelum tidur menjadi ruang kecil tempat saya berhenti, menghela napas, lalu memandang kembali perjalanan hari itu dengan hati yang lebih jernih.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Setiap menjelang malam, saya mulai bertanya kepada diri sendiri, "Apa hal baik yang terjadi hari ini?" Pertanyaan itu membuat saya lebih peka.

Saya mulai memperhatikan senyum orang-orang di sekitar, udara pagi yang sejuk, suara burung yang terdengar dari halaman rumah, atau pesan singkat dari sahabat lama yang menanyakan kabar.

Hal-hal kecil yang dulu saya anggap biasa kini terasa lebih berarti.

Masalah dalam hidup tentu tidak hilang begitu saja.

Saya tetap menghadapi kesibukan, kekecewaan, dan berbagai tantangan.

Ada hari ketika rencana berantakan, ada pekerjaan yang tidak selesai tepat waktu, bahkan ada harapan yang tidak terwujud.

Namun, di penghujung hari saya tetap berusaha menemukan satu hal yang layak disyukuri.

Ternyata,… selalu ada.

Kadang hanya secangkir kopi yang masih terasa hangat.

Kadang hanya langit sore yang berwarna jingga.

Kadang hanya tawa seorang anak kecil yang terdengar saat saya lewat.

Hal-hal sederhana itu mengingatkan saya bahwa hidup tidak sepenuhnya buruk.

Masih banyak kebaikan yang sering luput dari perhatian karena saya terlalu sibuk mengejar sesuatu yang lebih besar.

Jeda yang Mengubah Cara Pandang

Beberapa bulan kemudian, saya membuka kembali halaman-halaman yang telah saya tulis.

Buku kecil itu dipenuhi ratusan kalimat sederhana.

Tidak ada kisah yang luar biasa, tetapi setiap halaman menyimpan potongan-potongan kebahagiaan yang pernah saya alami.

Saya tersenyum saat membacanya.

Betapa seringnya saya hampir melupakan momen-momen indah itu jika tidak sempat menuliskannya.

Saat itulah saya memahami bahwa rasa syukur bukanlah menunggu hidup menjadi sempurna.

Rasa syukur adalah kemampuan menemukan cahaya, bahkan ketika langit belum sepenuhnya cerah.

Bersyukur bukan berarti menolak kenyataan bahwa hidup memiliki masalah, tetapi memilih untuk tidak membiarkan masalah menguasai seluruh pandangan kita.

Semakin lama saya menjalani kebiasaan itu, semakin saya memahami bahwa beberapa menit sebelum tidur ternyata bukan sekadar waktu luang.

Itulah saat saya berhenti dari gegap gempita kehidupan.

Tidak ada suara rapat, tidak ada daftar pekerjaan, tidak ada target yang harus diselesaikan.

Yang ada hanyalah saya, buku catatan kecil, dan kesempatan untuk berbicara jujur kepada diri sendiri di hadapan Allah.

Saya semakin memahami bahwa muhasabah tidak selalu membutuhkan tempat yang sunyi atau waktu yang panjang.

Kadang-kadang, ia hanya membutuhkan keberanian untuk berhenti sejenak.

Dari jeda itulah saya belajar melihat bahwa hidup tidak hanya tentang apa yang telah saya capai, tetapi juga tentang bagaimana saya mensyukuri setiap langkah yang telah Allah izinkan terjadi.

Kebiasaan menulis satu kalimat setiap malam juga mengajarkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar.

Kita sering berpikir akan bahagia ketika memiliki pekerjaan yang lebih baik, rumah yang lebih besar, atau kehidupan yang lebih mapan.

Padahal, kebahagiaan sering kali bersembunyi dalam hal-hal yang sangat dekat dengan kita: keluarga yang masih bisa berkumpul, tubuh yang masih sehat, teman yang setia mendengarkan, atau kesempatan untuk memulai hari yang baru.

Saya juga menyadari bahwa rasa syukur bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya.

Perlu dilatih, seperti halnya kita melatih kesabaran atau kedisiplinan.

Semakin sering saya menuliskan hal-hal baik yang terjadi setiap hari, semakin mudah pula saya melihat bahwa kehidupan selalu menyimpan harapan.

Masalah memang tidak hilang, tetapi cara saya menghadapinya menjadi berbeda.

Hati terasa lebih lapang karena tidak lagi hanya dipenuhi oleh kekurangan, melainkan juga oleh kesadaran bahwa masih banyak nikmat yang sering luput dari perhatian.

Kini, sebelum memejamkan mata, saya masih menyediakan beberapa menit untuk menulis satu kalimat syukur.

Tidak selalu kalimat yang indah, tidak pula panjang.

Yang penting, kalimat itu jujur.

Kebiasaan sederhana tersebut mungkin tidak akan mengubah dunia dalam semalam.

Namun, ia telah mengubah cara saya memandang hidup.

Saya menjadi lebih tenang, lebih mudah menerima keadaan, dan lebih menghargai setiap proses yang saya jalani.

Saya belajar bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar apa yang belum dimiliki, tetapi juga merawat rasa syukur atas apa yang telah ada.

Kini saya percaya bahwa hidup tidak selalu berubah karena keputusan-keputusan besar.

Sering kali perubahan justru lahir ketika kita berani berhenti sejenak di tengah kesibukan, memberi ruang bagi hati untuk bermuhasabah, lalu kembali melangkah dengan cara pandang yang baru.

Bagi saya, jeda itu hadir setiap malam, hanya beberapa menit sebelum tidur.

Di hadapan sebuah buku catatan sederhana, saya belajar mengingat kembali jejak-jejak kebaikan yang hampir terlupakan.

Dari satu kalimat syukur itulah saya memahami bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang dicari jauh ke depan.

Ia tumbuh perlahan ketika kita mampu menghargai setiap nikmat yang telah Allah titipkan hari ini.

Mungkin dunia tidak berubah seketika, tetapi hati yang belajar bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk tetap melangkah dengan penuh harapan.

***

Nikmati Inspirasi Literasi Lainnya bersama Penerbit Quanta!

Tertarik dengan tulisan-tulisan menggugah seputar self-improvement, spiritualitas Islam, dan pengembangan diri? Jangan lewatkan berbagai kegiatan literasi seru, info buku terbaru, serta diskusi menarik lainnya dari Penerbit Quanta (Gramedia).

Yuk, ikuti akun media sosial resmi kami di Instagram @quantabooks, @ngajiliterasigramedia.

Mari terus menebar inspirasi dan kebaikan lewat membaca dan menulis bersama Quanta dan Gramedia!

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau