Buku Qur’an Underrated Artikel ini merupakan salah satu artikel pemenang dalam Lomba Menulis Artikel Quanta 2026 yang diselenggarakan oleh Penerbit Quanta (imprint Elex Media Komputindo / Gramedia Group).
"Hidup bukan perlombaan."
Kalimat itu sering kudapati di media sosial.
Aku mengamininya.
Namun, sering kali tanpa disadari, justru aku kerap berlari mengejar garis finish yang entah ada di mana.
Katanya, hidup bukan perlombaan.
Bukan perkara siapa yang lebih dulu sampai di garis finish.
Tidak pula berlomba-lomba menjadi yang tercepat.
Sayangnya, kerap kali ucapan orang lain membuat diri tidak yakin, "Benarkah hidup bukan perlombaan?"
"Si A masih 30-an tahun, tapi sudah punya posisi di kantornya. Rumahnya dua, mobilnya dua. Kamu jangan malas, biar nggak begitu-begitu saja!"
"Si B lulusan SMK, tapi sekarang usahanya moncer. Masa kamu yang S2 kalah sama dia."
"Si C kemarin menang lomba menulis blog, padahal background-nya bukan penulis. Masa kamu yang bertahun-tahun jadi jurnalis kalah sama dia."
Di satu titik, kalimat-kalimat yang tujuannya memotivasi malah terdengar seperti perbandingan menohok.
Tak ingin kalah, aku berusaha lari sekencang-kencangnya.
Namun, apa lacur, hasil terkadang tak sebanding dengan usaha.
Ya, ada orang yang harus berlari puluhan kilometer untuk meraih pendapatan yang baik.
Akan tetapi, ada juga orang yang hanya perlu bergeser beberapa langkah untuk memperoleh hasil yang sama.
Sayangnya, sering kali aku termasuk kelompok pertama.
Dulu, aku pekerja yang setiap tanggal 25 menerima gaji dua digit.
Cukup banyak untuk seseorang yang tidak punya banyak tanggungan.
Berbagai hal duniawi yang diinginkan, dengan mudah Allah kabulkan.
Sepertinya benar, jika mapan secara finansial, tidak perlu khawatir.
Sayangnya, aku malah makin sibuk dengan urusan dunia.
Aku masih asyik bekerja saat azan berkumandang.
Salat pun dilakukan secepat kilat karena meeting bertubi-tubi.
Berdoa ala kadarnya, lantaran yakin tanpa melangitkan doa yang detail, Allah tahu kebutuhan hamba-Nya.
Hingga suatu hari, aku memutuskan berhenti bekerja.
Jika sebelumnya sibuk dengan meeting dan pekerjaan di kantor yang seolah tiada habisnya, kini fokus pada rutinitas ibu di rumah.
Lebih banyak waktu di rumah membuatku bisa belajar mengaji.
Kuperbaiki bacaan Al-Qur'an memperbanyak salat sunnah, juga puasa sunnah.
Kupikir, hidupku akan semakin baik.
Tak disangka, Allah mengatur kembali roda hidupku.
Jika sebelumnya aku ada di atas dalam waktu lama, kini Allah menempatkanku agak ke bawah.
Aku dan suami harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan dan menunaikan kewajiban.
Secara finansial, hidup kami tidak semudah dulu.
Dalam situasi itu, selain mendengar perbandingan orang lain, aku juga mulai membandingkan diriku sendiri.
Kenapa ada orang yang hidupnya tenang banget? Mengapa orang lain mudah mendapatkan pekerjaan, menang lomba, atau meraih impiannya?
Sementara itu, kami harus berupaya keras sekali.
Tanpa disadari, aku sedang mengukur perjalanan hidupku dengan garis waktu milik orang lain.
Memang benar, hidup itu serupa roller coaster.
Kadang di atas, di tengah, mulai menurun, bahkan di titik terbawah.
Lamanya berhenti di tiap-tiap posisi pun bervariasi.
Ada yang sebentar, tapi juga ada yang sangat lama.
Durasi di fase kurang menguntungkan ini yang kadang bikin lelah.
Bertahun-tahun lalu hidupku mudah sekali.
Namun, kini kok lebih melelahkan? Mungkin karena harus berlari lebih lama dan lebih keras untuk bisa mendapatkan sesuatu.
Ironisnya, hasil yang didapat kerap tidak banyak, padahal tenaga terkuras luar biasa.
Apa seharusnya dulu aku tidak perlu berhenti bekerja? Agar anak-anak bisa sekolah di mana saja tanpa orang tuanya berhitung terlalu rinci.
Supaya anak-anak bisa les apa saja yang mereka mau, tanpa melihat berkali-kali biayanya.
Kadang, terselip di hati pertanyaan, "Kenapa ketika berusaha lebih dekat pada Allah, justru ada ujian lebih? Apa Allah tidak sayang?" Pertanyaan itu kian menguat kala suamiku terancam tidak diperpanjang kontrak kerjanya.
Ya Allah, in this economy, tanpa penghasilan yang pasti, tentunya bukan perkara mudah.
Berkali-kali aku membaca Al-Qur'an, lalu menggelar sajadah dan meluapkan perasaan pada Illahi.
"Ya Allah, apakah hidup akan jadi lebih berat setelah ini?"
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Di saat hati rapuh, Allah seolah-olah menenangkan diri ini melalui Surah Al-Baqarah ayah 216.
Ayat yang sudah sering aku baca, tapi hari itu terasa lebih dalam masuk ke jiwa.
Terjemahan ayat tersebut aku baca di buku Qur'an Underrated.
Menariknya, di buku tersebut aku menemukan nasihat yang terasa seperti oase di gurun pasir.
Mendekatkan diri pada Allah, antara lain dengan lebih sering membaca kalamullah, ternyata tidak otomatis membuat hidupku lebih mudah.
Ujian lebih sering menyapa dengan berbagai bentuknya.
Namun, seperti yang aku baca di buku Qur'an Underrated, hidup bersama Al-Qur'an tidak akan membuat seseorang menjadi kebal dari rasa sedih, gagal, kehilangan, dan putus asa.
Seharusnya aku tidak perlu kecewa saat diuji berkali-kali oleh Allah.
Siapalah aku ini? Sedangkan para nabi yang jelas-jelas manusia terbaik pilihan Allah saja mendapat ujian berulang kali.
Lalu, ada satu kalimat dari buku tersebut yang menyejukkan dadaku. "... mereka tidak pernah kehilangan arah. Karena mereka hidup bareng wahyu. Karena mereka berjalan bersama cahaya. Dan kamu bisa melakukan hal yang sama bareng Qur'an."
Aku jadi tersadar, Qur'an sama sekali bukan sulap yang serta-merta menghilangkan beban hidup.
Hanya saja, Al-Qur'an penuh berisi pedoman yang bikin kita nggak akan meraba-raba di tengah gelapnya dunia.
Bersama Qur'an, sekalipun terjatuh, kita akan jatuh di jalan yang benar dan di posisi terhormat.
Masyaallah.
Ketika aku gagal, hidupku dibanding-bandingkan, dan aku tertekan dengan pencapaian diri yang begitu-begitu saja, seharusnya aku tak perlu takut.
Ya, aku nggak perlu khawatir bakal merasa sendiri atau terluka.
Allah pasti punya tujuan di balik setiap keadaan yang Dia hadirkan.
Allah sedang mendidikku.
Namun, yang aku harus ingat, Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya terombang-ambing.
Seperti dijelaskan di buku Qur'an Underrated, rasa aman sejati bukanlah ketika semua hal berjalan lancar.
Namun, karena ada rasa tenang, meski situasi sangat berantakan.
Ini karena kita tahu bahwa Allah yang telah menulis skenario dan mengaturnya dengan sempurna.
Dalam hidup, terserak aneka pilihan.
Ketika aku gagal menang lomba menulis, misalnya, tidak perlu terpuruk berlama-lama.
Seharusnya aku juga tidak perlu merasa buruk.
Jatuh bangun adalah fase yang biasa dalam perjalanan hidup.
Begitu pula saat aku melamar pekerjaan, tapi belum ada satu pun yang berlabuh, juga tidak perlu sedih berkepanjangan.
Bisa jadi rezekiku tidak di situ.
Mungkin saat ini Allah ingin menguji seberapa kuat aku menggenggam tali-Nya.
Allah sedang mengajarkanku untuk terus berikhtiar sambil menguatkan tawakal.
Suamiku memang terancam kehilangan pekerjaan.
Bayang-bayang masa depan yang tidak mudah mulai menghantui.
Kami harus menghitung pengeluaran dengan detail.
Rencana juga harus disusun ulang demi bertahan esok hari.
Saat hidup tidak selalu ideal, bukan alasan berprasangka buruk kepada Allah.
Aku belajar bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan tetap melangkah sembari menyerahkan hasil terbaik kepada-Nya.
Aku dan suami saling menguatkan.
Tidak apa-apa jika langkah kami pelan.
Ketika melihat orang lain memiliki pencapaian luar biasa dalam karier maupun kondisi finansial, tidak perlu juga merasa gagal.
Aku semakin paham, tidak semua hal harus berjalan sesuai harapan.
Pasti akan ada rencana yang berubah.
Ada pula doa yang belum dikabulkan sesuai waktu yang diminta.
Bahkan mungkin ada daftar keinginan yang lebih lama terwujud.
Karena itu, saat hidup dipenuhi kekecewaan, aku ingin terus memilih tawakal.
Aku akan bangkit, ikhtiar lagi, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Biarlah Allah yang mengurus hal-hal yang tak bisa aku urus.
Seperti kata Syaikh Al-Albani, "Jalan menuju Allah itu panjang, dan kita berjalan di atasnya dengan lamban seperti kura-kura. Bukan bagaimana cara agar kita bisa sampai di ujung jalan, namun tujuannya adalah bagaimana agar kita bisa mati di atas jalan tersebut."
***
Nikmati Inspirasi Literasi Lainnya bersama Penerbit Quanta!
Tertarik dengan tulisan-tulisan menggugah seputar self-improvement, spiritualitas Islam, dan pengembangan diri? Jangan lewatkan berbagai kegiatan literasi seru, info buku terbaru, serta diskusi menarik lainnya dari Penerbit Quanta (Gramedia).
Yuk, ikuti akun media sosial resmi kami di Instagram @quantabooks, @ngajiliterasigramedia.
Mari terus menebar inspirasi dan kebaikan lewat membaca dan menulis bersama Quanta dan Gramedia!