Sejenak Menepi Menata Hati Artikel ini merupakan salah satu artikel pemenang dalam Lomba Menulis Artikel Quanta 2026 yang diselenggarakan oleh Penerbit Quanta (imprint Elex Media Komputindo / Gramedia Group).
Bagaimana jika sesuatu yang paling kita sesali dalam hidup ternyata adalah pintu menuju kehidupan yang paling kita syukuri?
Ada masa ketika kita mengira hidup hanya bergerak satu arah: ke atas.
Seolah bertumbuh selalu berarti lebih banyak tepuk tangan, lebih panjang daftar pencapaian, lebih luas lingkaran pertemanan, dan lebih sering nama kita disebut.
Mungkin karena sejak kecil kita lebih akrab dengan penambahan daripada kehilangan.
Kita diajarkan mengejar nilai yang lebih tinggi, prestasi yang lebih banyak, dan kehidupan yang tampak terus menanjak.
Tidak banyak yang mengajarkan bahwa ada hari ketika hidup justru sedang menumbuhkan kita melalui sesuatu yang diambil.
Saya pun pernah mempercayai definisi itu.
Pada usia tujuh belas tahun, hidup terasa sedang berada di jalur terbaiknya.
Hari-hari dipenuhi latihan musik, kegiatan organisasi, pertandingan olahraga, dan berbagai kesibukan yang membuat saya merasa memiliki tempat.
Saat itu saya mengira hidup memang sedang menuju puncaknya.
Sebuah kecelakaan lalu lintas mengubah seluruh cara saya memandang hidup.
Tulang patah.
Luka robek yang harus dijahit di beberapa bagian.
Lecet, memar, dan nyeri yang bahkan membuat setiap tarikan napas terasa sesak.
Bermain musik dan berolahraga—dua aktivitas yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian—harus berhenti selama berbulan-bulan.
Namun yang sesungguhnya patah hari itu bukan hanya tulang.
Ada identitas yang ikut retak bersamanya.
Dalam hitungan menit, panggung yang selama ini terasa begitu akrab mendadak hilang.
Hari-hari yang biasanya dipenuhi latihan, rapat, dan pertandingan berubah menjadi ruang pemulihan yang sunyi.
Sekian tahun kemudian saya baru memahami bahwa kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk perpisahan yang dramatis.
Kadang ia hanya membuat orang-orang berjalan menjauh tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
Teman-teman yang dulu memenuhi hari-hari saya menghilang satu per satu.
Saat itu belum ada kedewasaan untuk memahami semua.
Yang ada hanyalah satu pertanyaan yang terus berulang dalam kepala, “Kenapa ini harus terjadi kepada saya?”
Bertahun-tahun kemudian, ketika membaca Sejenak Menepi Menata Hati, saya berhenti cukup lama pada satu bagian.
Penulis mengingatkan bahwa kehidupan bukan diukur dari seberapa mulus jalan yang kita lewati, melainkan dari keberanian untuk tetap melangkah ketika arah hidup berubah tanpa pernah kita minta.
Kalimat itu seolah mempertemukan saya dengan diri saya yang lain—di masa lampau.
Saat itu saya sungguh percaya bahwa hari besar itu datang untuk menghancurkan masa depan.
Rupanya tidak semua yang terasa seperti akhir sesungguhnya sedang mengakhiri kita.
Ada yang justru sedang mengarahkan kita ke tempat yang tidak pernah terpikir sebelumnya.
Usia menghadiahkan satu kemampuan yang tidak dimiliki masa muda: melihat kembali hidup dengan jarak yang lebih utuh.
Baru saat itulah kita menyadari bahwa ada banyak hal yang dahulu terasa tidak masuk akal, ternyata sedang menyusun maknanya sendiri.
Ada peran-peran dalam hidup yang baru terasa maknanya ketika kita sudah tidak lagi sibuk membandingkannya dengan peran orang lain.
Kini saya memahami bahwa bertumbuh juga bisa berarti bersedia hadir sepenuhnya di tempat yang Allah pilihkan, meskipun dari luar tempat itu tampak lebih sunyi.
Kehidupan kemudian memperkenalkan saya pada musim-musim yang berbeda.
Ada masa ketika saya mengejar cita-cita hingga akhirnya menjadi seorang dokter.
Ada masa ketika saya belajar membangun keluarga.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Lalu datang musim yang meminta saya memperlambat langkah di dunia profesional agar dapat membersamai tahun-tahun awal kehidupan buah hati.
Dari luar, pilihan itu mungkin tampak seperti jeda.
Namun justru di sanalah saya memahami bahwa tidak semua kemajuan harus terlihat.
Ada hal-hal yang hanya dapat tumbuh ketika seseorang bersedia hadir sepenuhnya di tempat yang sedang Allah amanahkan.
Saya tidak akan mengatakan bahwa keputusan itu datang tanpa kegelisahan.
Di tengah dunia yang begitu akrab mengukur keberhasilan dari seberapa cepat kita melangkah, memperlambat langkah sering kali terasa seperti sedang tertinggal.
Ada hari-hari ketika saya bertanya dalam diam, apakah pilihan ini akan membuat saya kehilangan begitu banyak hal yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Barangkali pertanyaan itu tidak hanya pernah saya miliki.
Banyak dari kita pernah mengalaminya ketika kehidupan meminta sesuatu yang tidak selalu sejalan dengan ukuran keberhasilan yang selama ini kita percaya.
Pada bagian lain dari Sejenak Menepi Menata Hati, penulis menuliskan bahwa setiap orang adalah aktor dalam jalan hidupnya sendiri.
Kita mungkin tidak dapat memilih seluruh alur cerita, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk memainkan peran yang sedang Allah titipkan dengan sebaik-baiknya.
Lambat laun saya menyadari bahwa yang berubah bukanlah jalan hidup saya, melainkan cara memandangnya.
Dulu saya sering bertanya mengapa Allah membawa saya ke jalan yang berbeda dari rencana yang pernah saya susun.
Kini pertanyaan itu perlahan bergeser menjadi, “Apa yang dapat saya lakukan dengan kehidupan yang Allah titipkan hari ini?”.
Ketika pertanyaan itu berubah, hati pun ikut berubah.
Perhatian tidak lagi tertuju pada jalan yang tidak saya miliki, melainkan pada kesempatan menghadirkan manfaat di jalan yang sedang saya jalani.
Sebab ada musim ketika kita dipanggil untuk berdiri di depan banyak orang, dan ada musim ketika kita diminta setia pada ruang-ruang yang jauh lebih sunyi.
Keduanya sama-sama berharga.
Yang membedakan hanyalah pelajaran yang Allah titipkan di dalamnya.
Hampir setiap orang pernah memiliki satu peristiwa yang diam-diam mengubah arah hidupnya.
Mungkin bentuknya berbeda pada setiap orang.
Ada yang dipertemukan dengan kehilangan, ada yang berhadapan dengan kegagalan, ada pula yang diminta memperlambat langkah ketika dunia justru sedang berlari.
Namun pertanyaannya hampir selalu sama: “Mengapa harus jalan ini?”.
Mungkin jawabannya memang tidak diberikan hari itu.
Karena ada jawaban yang hanya bisa dibaca setelah kita cukup jauh berjalan.
Ternyata Allah tidak selalu menumbuhkan kita dengan menambahkan sesuatu ke dalam hidup.
Dia justru menumbuhkan kita dengan mengambil sesuatu yang selama ini kita kira tidak bisa hidup tanpanya.
Barangkali karena itu, pertumbuhan tidak selalu terdengar riuh.
Ia tidak selalu lahir di atas panggung atau hadir bersama tepuk tangan.
Ada kalanya ia bertumbuh dalam sunyi, nyaris tak disadari, hingga suatu hari kita menoleh ke belakang dan akhirnya mengerti.
Karena itu, hari ini saya tidak lagi terburu-buru menyebut sebuah peristiwa sebagai musibah atau sebuah jeda sebagai kemunduran.
Saya hanya belajar mempercayai bahwa hidup tidak selalu dapat dipahami ketika sedang dijalani.
Ada jawaban yang memang baru diberikan setelah waktu menyelesaikan pekerjaannya.
Sebagaimana sebuah lukisan, ada goresan yang baru memperlihatkan keindahannya ketika seluruh gambar telah selesai.
***
Nikmati Inspirasi Literasi Lainnya bersama Penerbit Quanta!
Tertarik dengan tulisan-tulisan menggugah seputar self-improvement, spiritualitas Islam, dan pengembangan diri? Jangan lewatkan berbagai kegiatan literasi seru, info buku terbaru, serta diskusi menarik lainnya dari Penerbit Quanta (Gramedia).
Ikuti akun media sosial resmi kami di Instagram @quantabooks, @ngajiliterasigramedia.
Mari terus menebar inspirasi dan kebaikan lewat membaca dan menulis bersama Quanta dan Gramedia!