Museum Sejarah Kolonial Belanda Pernahkah kamu ingin melihat langsung jejak kolonialisme Belanda yang masih tersimpan dalam bentuk koleksi museum?
Museum-museum tersebut tidak hanya menyimpan benda bersejarah, tetapi juga membantu kamu memahami perjalanan Batavia, perdagangan maritim, sistem keuangan kolonial, hingga hubungan Indonesia dan Belanda yang terus dikaji sampai sekarang.
Di Indonesia, beberapa contohnya adalah Museum Sejarah Jakarta, Museum Benteng Vredeburg, Museum Bahari, Museum Gedung Sate, dan Museum Bank Indonesia.
Sementara di Belanda terdapat institusi seperti Wereldmuseum Amsterdam dan Rijksmuseum yang memiliki koleksi berkaitan dengan sejarah Indonesia serta hubungan Belanda dengan Asia.
Kalau kamu ingin menelusuri jejak kolonialisme Belanda di Indonesia, beberapa museum berikut menawarkan perspektif yang berbeda, mulai dari pusat pemerintahan Batavia hingga perdagangan maritim dan sistem keuangan kolonial.
Museum Sejarah Jakarta menempati bekas Stadhuis atau Balai Kota Batavia yang diresmikan pada 1710 dan kini menjadi salah satu bangunan penting di kawasan Kota Tua Jakarta.
Pada masa kolonial, gedung ini digunakan sebagai pusat pemerintahan dan administrasi kota Batavia, sedangkan sekarang ruang-ruangnya digunakan untuk menampilkan sejarah Jakarta melalui koleksi arkeologi, mebel, keramik, prasasti, dan benda-benda yang berkaitan dengan perjalanan kota dari masa ke masa.
Salah satu bagian yang paling sering menarik perhatian pengunjung adalah ruang penjara bawah tanah di kompleks gedung, sementara patung Hermes yang dikenal sebagai salah satu penanda kawasan Kota Tua juga menjadi bagian dari narasi sejarah bangunan tersebut.
Untuk kunjungan, kamu sebaiknya mengecek jadwal terbaru melalui kanal resmi pengelola sebelum berangkat karena informasi operasional museum dapat berubah, terutama saat ada pemeliharaan atau agenda khusus.
Benteng Vredeburg bermula dari benteng garnisun yang pembangunannya dimulai pada Desember 1765 atas permintaan VOC dengan alasan resmi untuk menjaga keamanan Keraton Yogyakarta.
Namun, catatan sejarah resmi museum menjelaskan bahwa keberadaan benteng tersebut juga berkaitan dengan kepentingan VOC untuk mengawasi aktivitas Keraton Yogyakarta sehingga lokasinya yang berada tidak jauh dari keraton memiliki arti strategis.
Kini benteng tersebut menjadi museum yang menyajikan sejarah perjuangan Indonesia melalui koleksi dan diorama, termasuk Diorama 1 yang menggambarkan rangkaian peristiwa sejak periode Pangeran Diponegoro hingga pendudukan Jepang.
Secara keseluruhan, museum memiliki empat kelompok diorama yang mencakup berbagai peristiwa sejarah, mulai dari periode Diponegoro, Proklamasi dan Agresi Militer, Perjanjian Renville, hingga periode pengakuan kedaulatan Indonesia.
Museum Benteng Vredeburg buka Selasa–Kamis pukul 08.00–20.00 WIB, Jumat–Minggu pukul 08.00–21.00 WIB, sedangkan Senin tutup.
Museum Bahari menempati kompleks bangunan yang pada masa kolonial Belanda berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan, memilih, dan mengepak berbagai hasil bumi, termasuk komoditas perdagangan seperti rempah-rempah.
Kompleks tersebut terdiri atas Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat dan Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur.
Pembangunan Gudang Barat berlangsung secara bertahap sejak 1652 hingga 1771.
Bangunan yang kini menjadi Museum Bahari dahulu digunakan untuk menyimpan komoditas dagang VOC seperti rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil, sedangkan pada masa Jepang kompleks tersebut digunakan untuk menyimpan logistik militer.
Museum Bahari lebih banyak mengajak kamu memahami sejarah kemaritiman Indonesia melalui koleksi perahu tradisional, miniatur kapal, jangkar, perlengkapan navigasi, dan berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan bahari Nusantara.
Di kawasan yang sama, kamu juga dapat menemukan Menara Syahbandar yang dibangun sekitar 1839 sebagai menara pemantau lalu lintas kapal sekaligus berkaitan dengan fungsi kepabeanan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa.
Informasi layanan museum yang tercantum pada portal resmi Kementerian Kebudayaan menunjukkan Museum Bahari buka Selasa–Minggu pukul 08.00–16.00 WIB, sedangkan Senin tutup.
Tarif masuk yang tercantum berbeda antara hari biasa dan akhir pekan.
Museum Gedung Sate berada di kompleks Gedung Sate, Bandung, bangunan yang menjadi salah satu ikon arsitektur pemerintahan pada masa Hindia Belanda.
Gedung utamanya dirancang dengan perpaduan unsur arsitektur Eropa dan penyesuaian terhadap lingkungan setempat sehingga sering dikaitkan dengan gaya Indische Empire dalam pembahasan arsitektur kolonial di Indonesia.
Jika kamu berkunjung ke museum ini, fokus utamanya bukan sekadar melihat bangunan kolonial, tetapi memahami sejarah pembangunan Gedung Sate serta perkembangan pemerintahan dan tata kota Bandung pada masa itu.
Informasi jam kunjungan Museum Gedung Sate perlu dikonfirmasi melalui kanal resmi pengelola sebelum datang karena jadwal kunjungan dapat mengikuti ketentuan kompleks Gedung Sate dan agenda pemerintahan yang berlangsung di dalamnya.
Museum Bank Indonesia menempati gedung bersejarah yang sebelumnya digunakan oleh De Javasche Bank (DJB), lembaga yang pada 1828 memperoleh hak istimewa dari pemerintah Kerajaan Belanda untuk bertindak sebagai bank sirkulasi di Hindia Belanda.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Dalam perannya sebagai bank sirkulasi, De Javasche Bank memiliki kewenangan menerbitkan dan mengedarkan uang Gulden di wilayah Hindia Belanda sehingga sejarahnya berkaitan erat dengan perkembangan sistem moneter dan ekonomi kolonial.
Museum Bank Indonesia menyajikan perjalanan sejarah kebijakan moneter dan perkembangan ekonomi melalui koleksi numismatik, termasuk uang kerajaan di Nusantara, uang kolonial, uang awal kemerdekaan, hingga koleksi uang yang berkaitan dengan perkembangan Bank Indonesia.
Museum ini juga memanfaatkan teknologi interaktif untuk membantu pengunjung memahami sejarah kebijakan Bank Indonesia, koleksi uang, serta perkembangan dan arsitektur gedung yang menjadi tempat museum.
Berdasarkan informasi, kunjungan Museum Bank Indonesia berlangsung Selasa–Minggu pukul 08.00–15.30 WIB, sedangkan Senin dan hari libur nasional tutup.
Pengunjung juga tidak dikenakan biaya masuk.
Jika kamu ingin melihat jejak sejarah Indonesia dari sisi koleksi yang tersimpan di Belanda, beberapa museum berikut menarik untuk dikunjungi:
Wereldmuseum Amsterdam sebelumnya dikenal sebagai Tropenmuseum, sedangkan sejarah institusinya berawal dari Colonial Institute yang dibuka pada 1926.
Pada awalnya, lembaga tersebut memiliki tujuan mengumpulkan pengetahuan tentang wilayah jajahan Belanda sekaligus mendukung kepentingan kolonial sehingga sejarah koleksinya tidak bisa dilepaskan dari konteks kolonialisme.
Kini museum ini menjadi bagian dari National Museum of World Cultures dan menyimpan koleksi dari berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia dan Asia Tenggara.
Salah satu pameran permanennya, Our Colonial Inheritance, secara khusus membahas sejarah kolonial Belanda di Indonesia dan wilayah lainnya melalui sekitar 500 objek, karya seni, foto, film, serta instalasi interaktif.
Kamu juga bisa melihat bagaimana museum kini mencoba membaca ulang koleksi kolonialnya dengan perspektif yang lebih beragam, termasuk membahas eksploitasi, perlawanan, rasisme, dan dampak kolonialisme yang masih terasa hingga sekarang.
Museum ini secara terbuka mengakui bahwa sebagian koleksinya memiliki sejarah perolehan yang berkaitan dengan ketimpangan kekuasaan kolonial sehingga penelitian asal-usul benda dan proses restitusi (pengembalian) menjadi bagian penting dari pekerjaan institusi tersebut.
Rijksmuseum bukan museum khusus sejarah kolonial Belanda, tetapi koleksinya memiliki banyak objek yang dapat membantu kamu memahami hubungan Belanda dengan Asia dan Indonesia.
Salah satu contohnya adalah koleksi model kapal VOC, termasuk model kapal Prins Willem yang dibuat pada 1651 dan kapal aslinya melakukan pelayaran ke Batavia sebanyak lima kali sebelum tenggelam pada 1662.
Rijksmuseum juga menyimpan berbagai bendera yang berasal dari Kepulauan Indonesia, termasuk objek yang tercatat berasal dari sekitar 1750–1830.
Salah satu bendera dalam koleksinya bahkan memiliki keterkaitan dengan ekspedisi Belanda di Hindia Timur, meskipun asal dan tanggal pastinya tidak selalu dapat ditentukan secara pasti.
Koleksi kapal dan bendera tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah perdagangan, pelayaran, dan ekspansi kekuasaan Belanda di Asia.
Rijksmuseum juga terlibat dalam penelitian asal-usul benda dari masa kolonial bersama National Museum of World Cultures dan NIOD, termasuk penelitian terhadap objek yang berasal dari Indonesia.
Museum Bronbeek memiliki fokus yang berbeda karena sejarahnya sangat erat dengan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) atau tentara kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Koleksinya membantu kamu melihat sejarah militer kolonial melalui berbagai benda dan dokumentasi yang berkaitan dengan kehidupan prajurit serta konflik bersenjata di wilayah Indonesia.
Untuk memahami sejarah Perang Aceh dan konflik kolonial lainnya, Bronbeek memiliki koleksi dan dokumentasi sejarah militer yang berkaitan dengan Hindia Belanda hingga dapat memberikan gambaran mengenai keterlibatan KNIL dalam berbagai operasi.
Namun, penting untuk melihat koleksinya secara kritis karena sejarah KNIL juga berkaitan dengan perang kolonial dan kekerasan yang dialami masyarakat di wilayah yang ditaklukkan Belanda.
Dengan begitu, Museum Bronbeek tidak hanya dapat dilihat sebagai tempat mengenang sejarah militer Belanda, tetapi juga sebagai salah satu sumber untuk memahami kompleksitas sejarah kolonial Indonesia dari perspektif militer dan veteran.
Sejarah museum kolonial tidak hanya membantu kamu mengenali bangunan dan benda peninggalan masa lalu, tetapi juga mengajak melihat bagaimana kekuasaan, perdagangan, dan kebijakan kolonial membentuk kehidupan masyarakat Indonesia.
Salah satu bacaan yang bisa melengkapi pemahaman tersebut adalah buku Politik Etnisitas Hindia-Belanda: Dilema dalam Pengelolaan Keberagaman Etnis di Indonesia karya Prof. Dr. Abdullah Idi, M.Ed.
Buku ini membahas kebijakan etnisitas pada masa kolonial, masa kemerdekaan, hingga era Reformasi, termasuk dampaknya terhadap hubungan antarkelompok dan pengelolaan keberagaman di Indonesia.
Jika kamu ingin memahami sejarah kolonial bukan hanya dari bangunan dan artefaknya, tetapi juga dari sisi kebijakan dan kehidupan sosial masyarakat, buku ini bisa menjadi bacaan lanjutan yang menarik.
Dapatkan bukunya melalui Gramedia Digital dan lanjutkan perjalananmu memahami sejarah Indonesia dari perspektif yang lebih luas!