Fakta Unik Kemerdekaan Korea 15 Agustus diperingati sebagai Gwangbokjeol, yaitu hari ketika Korea terbebas dari penjajahan Jepang pada tahun 1945.
Setelah sekitar 35 tahun berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang, Korea akhirnya kembali mendapatkan kedaulatannya.
Di balik peringatan tersebut, terdapat berbagai fakta menarik yang tidak banyak diketahui.
Berikut beberapa fakta tentang kemerdekaan Korea yang menarik untuk disimak.
Gwangbokjeol (광복절) adalah Hari Pembebasan Nasional Korea yang diperingati setiap 15 Agustus untuk mengenang berakhirnya kekuasaan kolonial Jepang pada tahun 1945.
Istilah ini secara harfiah bermakna “Hari Kembalinya Cahaya” atau Day the Light Returned.
Secara bahasa, gwang (광) berarti “cahaya”, bok (복) bermakna “memulihkan” atau “mengembalikan”, sedangkan jeol (절) merujuk pada hari peringatan atau hari raya nasional.
Makna Gwangbokjeol menggambarkan kembalinya “cahaya” setelah Korea melewati masa panjang penjajahan Jepang sehingga 15 Agustus tidak hanya menjadi hari libur nasional, tetapi juga menjadi simbol pembebasan dan kembalinya kedaulatan Korea.
Di balik perayaan 15 Agustus, ada sejumlah fakta sejarah yang membuat hari pembebasan Korea jauh lebih kompleks daripada sekadar peringatan berakhirnya penjajahan Jepang.
Korea Selatan memperingati 15 Agustus sebagai Gwangbokjeol, sedangkan Korea Utara menyebutnya Chogukhaebangui Nal (조국해방의 날) atau Hari Pembebasan Tanah Air.
Keduanya sama-sama memperingati berakhirnya kekuasaan kolonial Jepang pada 1945, meski cara kedua negara memaknai dan merayakannya berbeda.
Jadi, 15 Agustus menjadi salah satu tanggal bersejarah yang sama-sama diperingati oleh dua negara Korea yang hingga kini terpisah secara politik.
Pembebasan Korea pada 15 Agustus 1945 dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 terjadi dalam rentang waktu yang sangat berdekatan.
Jepang mengumumkan penerimaan syarat penyerahan Sekutu pada 15 Agustus, sementara Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dua hari kemudian.
Namun, keduanya memiliki proses sejarah masing-masing dan tidak tepat jika dikatakan bahwa pembebasan Korea secara langsung memicu kemerdekaan Indonesia.
Kesamaan waktunya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perubahan besar di Asia setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Gwangbokjeol juga beberapa kali menjadi momentum pemberian pengampunan khusus atau special pardon oleh presiden Korea Selatan.
Kebijakan ini dapat mencakup narapidana tertentu dan, pada beberapa kesempatan, tokoh bisnis atau pemimpin perusahaan besar yang dikenal sebagai chaebol.
Meski begitu, pengampunan tersebut bukan tradisi wajib yang otomatis diberikan setiap 15 Agustus.
Keputusan amnesti merupakan kewenangan presiden dan penerimanya dapat berbeda pada setiap periode.
Saat Gwangbokjeol tiba, Taegeukgi, bendera nasional Korea Selatan, menjadi salah satu simbol utama yang menghiasi berbagai ruang publik.
Bendera ini dapat terlihat pada gedung pemerintah, jalan, serta sejumlah rumah dan bangunan masyarakat.
Pengibaran Taegeukgi menjadi cara masyarakat Korea Selatan mengenang pembebasan sekaligus menegaskan identitas nasional mereka pada hari yang bersejarah tersebut.
Lagu kebangsaan Korea Selatan, Aegukga, memiliki sejarah hak cipta yang tidak kalah menarik dari sejarah pembuatannya.
Hak cipta atas komposisi tersebut pernah berada di tangan keluarga komposer Ahn Eak-tai, sebelum kemudian diserahkan kepada pemerintah Korea Selatan untuk kepentingan publik.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Kisah Aegukga tidak sekadar berkaitan dengan lagu kebangsaan, tetapi juga menyangkut bagaimana sebuah karya musik nasional kemudian ditempatkan sebagai bagian dari kepentingan publik dan identitas negara.
Berakhirnya penjajahan Jepang tidak langsung membuat seluruh Semenanjung Korea berdiri sebagai satu negara merdeka.
Setelah Jepang menyerah, Korea dibagi sementara di sekitar garis lintang 38 derajat untuk mengatur penerimaan penyerahan pasukan Jepang.
Pasukan Soviet menerima penyerahan Jepang di wilayah utara, sedangkan pasukan Amerika mengambil alih tanggung jawab di wilayah selatan.
Pembagian yang awalnya dimaksudkan sebagai pengaturan sementara itu kemudian berkembang menjadi pemisahan politik yang semakin permanen.
Korea Selatan menjadikan Gwangbokjeol sebagai hari nasional yang diisi dengan upacara resmi dan berbagai kegiatan budaya.
Sementara itu, Korea Utara memperingati 15 Agustus dengan narasi kenegaraan yang berbeda dan menempatkannya dalam sejarah perjuangan pembebasan Korea versi pemerintahnya.
Oleh karena itu, kurang tepat jika perbedaannya hanya digambarkan sebagai Seoul yang mengadakan festival pop dan Pyongyang yang menggelar parade militer.
Bentuk acara dapat berubah dari tahun ke tahun, tetapi kedua negara memang memiliki cara berbeda dalam membingkai sejarah pembebasan Korea.
Meskipun sama-sama memperingati berakhirnya penjajahan Jepang pada 15 Agustus 1945, Korea Selatan dan Korea Utara memberi nama serta konteks perayaan yang berbeda terhadap hari bersejarah tersebut.
Di Korea Selatan, hari kemerdekaan dikenal sebagai Gwangbokjeol (광복절) yang berarti Hari Kembalinya Cahaya atau Hari Pemulihan Cahaya.
Sementara itu, Korea Utara menyebutnya Chogukhaebangui Nal (조국해방의 날) yang berarti Hari Pembebasan Tanah Air.
Baik Korea Selatan maupun Korea Utara sama-sama memperingati hari kemerdekaan setiap tanggal 15 Agustus sebagai penanda berakhirnya penjajahan Jepang pada tahun 1945.
Di Korea Selatan, peringatan ini menandai berakhirnya penjajahan Jepang sekaligus kembalinya kemerdekaan dan kedaulatan Korea pada tahun 1945.
Sementara itu, Korea Utara memaknainya sebagai hari pembebasan Korea dari kekuasaan kolonial Jepang pada tahun 1945.
Korea Selatan merayakan Gwangbokjeol dengan upacara kenegaraan, pengibaran bendera Taegeukgi, pertunjukan budaya, serta berbagai kegiatan peringatan.
Di Korea Utara, peringatan dilakukan dengan upacara dan kegiatan kenegaraan yang menekankan narasi pembebasan nasional.
Dalam perayaan Gwangbokjeol, Taegeukgi dan bunga Mugunghwa sebagai simbol nasional.
Sementara itu, Korea Utara menggunakan bendera Republik Rakyat Demokratik Korea beserta simbol-simbol resmi negaranya.
Agustus 1945 menjadi titik balik penting bagi Asia karena Jepang menyerah kepada Sekutu setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki pada 9 Agustus.
Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan penerimaan Deklarasi Potsdam yang menandai berakhirnya Perang Dunia II.
Rangkaian peristiwa tersebut mempercepat berakhirnya kekuasaan Jepang di berbagai wilayah Asia, termasuk Korea yang terbebas dari penjajahan Jepang dan Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Bagi Korea, pembebasan tersebut kemudian diperingati sebagai Gwangbokjeol, sedangkan bagi Indonesia, momentum Agustus 1945 menjadi bagian penting dari lahirnya negara merdeka setelah perjuangan panjang melawan kolonialisme.
Jika kamu ingin memahami bagaimana pembebasan Korea justru berlanjut ke ketegangan politik dan konflik bersenjata yang membelah Semenanjung Korea, buku Perang yang Tidak Boleh Dimenangkan: Konflik Korea dapat menjadi bacaan lanjutan yang relevan karena membahas Perang Korea 1950–1953 serta keterlibatan Korea Utara, Korea Selatan, pasukan PBB, Amerika Serikat, dan Tiongkok.
Buku ini juga membantu kamu melihat bahwa sejarah Korea tidak berhenti pada berakhirnya penjajahan Jepang, tetapi berlanjut pada konflik Perang Dingin yang meninggalkan dampak panjang hingga sekarang.
Dapatkan buku ini melalui Gramedia Digital dan segera tambahkan ke daftar bacaanmu!