Buku Contekan Saat Dewasa Ada satu momen dalam film Inside Out 2 yang secara diam-diam membuat banyak penonton terkesan.
Riley tidak lagi menghadapi masalah yang sederhana seperti memilih rasa es krim atau bertengkar dengan teman.
Ia mulai menghadapi kecemasan, ekspektasi, rasa takut gagal, dan pertanyaan yang lebih dalam, yakni, “Kalau aku tidak cukup baik, lalu siapa aku sebenarnya?”
Aneh juga, ya.
Dulu saat kecil kita pikir menjadi dewasa berarti bebas melakukan apa saja.
Bisa tidur larut malam, punya uang sendiri, membuat pilihan hidup tanpa harus minta izin siapa pun, termasuk orang tua.
Namun kenyataannya, ketika benar-benar masuk ke dunia orang dewasa, kita justru menemukan bahwa kebebasan itu datang dengan tagihan, tekanan kerja, hubungan yang melelahkan, dan standar hidup yang terus naik.
Tidak ada panduan cara bermain atau tingkatan latihan yang jelas.
Kita seolah dipaksa langsung memainkan permainan yang aturan mainnya saja belum kita mengerti sama sekali.
Di sinilah Buku Contekan Saat Dewasa karya Yosia Margaretta terasa sangat menyentuh hati.
Buku ini tidak menjanjikan rumus ajaib yang bisa membuat semua masalah hidup langsung selesai begitu saja.
Sebaliknya, buku ini lebih terasa seperti teman perjalanan yang membisikkan kepada kita bahwa rasa tersesat itu bukan hanya milik kita sendiri, tetapi orang lain pun juga sedang merasakannya.
Kalau diperhatikan, kesalahan terbesar Joy di Inside Out adalah keyakinannya bahwa hidup harus selalu bahagia.
Joy berusaha menyingkirkan emosi-emosi lain karena menganggap sedih, takut, dan marah hanyalah pengganggu.
Padahal, setelah menerima semua emosinya, Riley justru mulai bertumbuh.
Banyak orang dewasa juga hidup dengan cara yang sama.
Kita merasa harus selalu terlihat produktif, tersenyum di kantor, dan tampak baik-baik saja di media sosial, seolah-olah lelah adalah kelemahan dan menangis adalah kegagalan.
Akibatnya, kita menjadi ahli menutupi diri sendiri.
Yosia Margaretta mengajak pembacanya melakukan hal yang sebaliknya.
Ia tidak memoles kenyataan menjadi motivasi murahan.
Namun, ia mengakui bahwa menjadi dewasa memang melelahkan.
Ada hari ketika pekerjaan terasa menguras tenaga, hubungan yang membuat kita bertanya tentang nilai diri sendiri, dan impian yang ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Kejujuran seperti ini rasanya menyegarkan sekali karena jarang sekali kita temukan.
Di tengah banyaknya konten yang sibuk menyuruh orang untuk terus semangat, buku ini memilih untuk duduk di samping pembaca.
Buku ini merangkul pembaca dengan memberi pengertian bahwa hidup itu memang penuh lelah dan derita.
Kadang, sikap sederhana seperti itu terasa jauh lebih menyembuhkan daripada seribu kutipan motivasi.
Ada semacam mitos yang diwariskan hampir kepada semua anak muda, bahwa apabila dia sudah kuliah, lalu lulus, kemudian kerja dan menikah, dia pasti akan bahagia.
Masalahnya, hidup jarang berjalan serapi bagan di presentasi.
Ada yang lulus kuliah tetapi menganggur, ada yang sudah bekerja bertahun-tahun tetapi kehilangan arah, ada yang menikah lalu belajar kenyataan hidup melalui kesepian, dan ada juga yang harus memulai hidup dari nol ketika orang lain sudah menganggap semuanya selesai.
Hal yang melelahkan bukan hanya kenyataan itu, tapi kebiasaan kita membandingkan perjalanan hidup dengan perjalanan orang lain.
Media sosial sering kali memperburuk keadaan.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Dalam lima menit saja kita bisa lihat teman membeli rumah, rekan kantor naik jabatan, saudara liburan ke luar negeri, lalu tiba-tiba kita merasa hidup kita tertinggal jauh.
Padahal kita sedang membandingkan setiap bagian hidup sendiri dengan potongan terbaik hidup orang lain.
Melalui kisah-kisahnya, Yosia mengingatkan bahwa kedewasaan tidak seperti perlombaan siapa yang paling cepat sampai garis finis karena tidak semua orang bahkan berlari di lintasan yang sama.
Kalau ada karakter Pixar yang menggambarkan banyak pekerja masa kini, mungkin bukan Joy, melainkan Anxiety.
Anxiety terus berlari, membuat daftar kemungkinan buruk, memikirkan skenario terburuk, dan memastikan semuanya berjalan sempurna.
Ironisnya, banyak orang dewasa justru memuji perilaku seperti ini.
Lembur dianggap dedikasi dan tidak pernah libur dianggap pekerja keras.
Bahkan, selalu tersedia akan dianggap profesional.
Padahal tubuh dan pikiran juga memiliki batas.
Buku Contekan Saat Dewasa mengingatkan bahwa berhenti sejenak bukanlah bentuk kemunduran.
Kadang kita perlu menarik napas, bukan karena menyerah, melainkan agar mampu melanjutkan perjalanan dengan lebih sehat.
Pesan ini terasa penting di era ketika kesibukan sering dianggap ukuran keberhasilan.
Seolah-olah semakin sibuk seseorang, semakin bernilai dirinya.
Padahal, belum tentu demikian.
Bisa jadi ia hanya terlalu lama lupa pulang ke diri sendiri.
Salah satu hal yang paling membuat orang merasa cemas saat sudah dewasa adalah keinginan untuk merasa pasti.
Karier harus jelas, hubungan harus stabil, dan masa depan harus terencana.
Padahal, hidup sering kali berjalan dalam ketidakpastian.
Itulah yang membuat buku ini terasa sangat dewasa.
Buku ini tidak memaksa pembaca untuk menemukan semua jawaban sekarang, melainkan mengajak kita menerima bahwa ada pertanyaan yang hanya bisa dipahami setelah kita melalui perjalanan itu sendiri.
Ada saat-saat dimana keberanian terbesar bukanlah mengambil keputusan yang sempurna, tapi justru terus melangkah meskipun kita belum tahu seluruh jalan yang akan diambil.
Mungkin itulah yang sering kita lupakan.
Kita terlalu sibuk mencari jawaban, padahal yang kita butuhkan justru keberanian untuk tetap berjalan.
Buku dengan judul Contekan Saat Dewasa memang terdengar lucu dan menarik.
Namun, semakin dalam membacanya, semakin terasa bahwa buku ini sebenarnya menyampaikan kalau ini adalah pengingat kecil bahwa kita tidak sendirian.
Banyak orang pernah gagal, salah memilih, atau kehilangan arah, tetapi mereka tetap bisa bangkit dan melanjutkan hidup.
Mungkin, itulah salah satu pelajaran paling berharga dalam proses menjadi dewasa.
Menjadi dewasa bukan berarti kita harus selalu punya jawaban untuk semua masalah yang datang.
Menjadi dewasa justru tentang bagaimana kita tetap mau terus belajar saat menyadari bahwa jawaban yang kita miliki ternyata salah.
Jika film Inside Out mengajarkan kita bahwa setiap emosi itu penting, maka buku ini mengingatkan kita bahwa setiap fase kehidupan pasti punya makna, meskipun keadaan sedang terasa sangat berantakan.
Baca selengkapnya dan temukan Buku Contekan Saat Dewasa di Gramedia.com dan Gramedia Digital sekarang juga!