Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Nelson Mandela Mengajarkan Kita tentang Garis Start Kehidupan

Kompas.com, 21 September 2026, 15:00 WIB
Buku Telanjang Kaki  Sumber Gambar: Dok. Elex Media Komputindo Buku Telanjang Kaki 
Rujukan artikel ini:
Telanjang Kaki: Poor Privilege Life…
Pengarang: Je Radite
|
Editor Novia Putri Anindhita

Ketika melihat seseorang sukses, kita sering hanya melihat hasil akhirnya saja.

Nilai tinggi dianggap sebagai bukti kecerdasan, pekerjaan bagus dianggap sebagai hasil kerja keras, dan keberhasilan ekonomi dianggap sebagai tanda kegigihan.

Kita jarang bertanya bagaimana seseorang memulai, apa kesempatan yang dimilikinya, dan seberapa berat perjalanan yang ia lalui.

Ini adalah masalah yang membuat buku Telanjang Kaki karya Je Radite menarik untuk dibaca.

Jika dibandingkan dengan perjalanan Nelson Mandela, ada sesuatu yang sama meski keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda.

Mandela melawan sistem apartheid di Afrika Selatan.

Je Radite mengisahkan pengalamannya dengan kemiskinan dan perjuangannya untuk keluar dari situasi itu.

Keduanya menunjukkan hal yang sama, yaitu manusia tidak selalu mulai dari posisi yang sama.

Mandela dan Garis Start yang Tidak Sama

Nelson Mandela lahir pada 1918 di Afrika Selatan, ketika ketimpangan rasial sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Ketika apartheid secara resmi diberlakukan pada 1948, masyarakat kulit hitam menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan pembatasan hak.

Pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, hingga hak politik dipengaruhi oleh sistem rasial tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, keberhasilan seseorang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan seberapa keras ia bekerja.

Ada sistem yang menentukan ruang geraknya bahkan sebelum ia memulai.

Mandela kemudian memilih melawan sistem tersebut.

Perjuangannya membuat ia dipenjara selama 27 tahun.

Setelah dibebaskan pada 1990, ia tidak berhenti pada kebebasan pribadi.

Ia terlibat dalam proses perubahan politik Afrika Selatan dan pada 1994 menjadi presiden kulit hitam pertama negara tersebut melalui pemilu demokratis.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan selalu memiliki konteks.

Mandela tidak sekadar menjadi presiden karena memiliki ambisi atau kemampuan pribadi.

Perjalanannya dibentuk oleh kondisi sosial, sejarah, diskriminasi, perjuangan politik, dukungan orang lain, dan keputusan-keputusan yang diambil sepanjang hidupnya.

Gagasan tersebut terasa dekat dengan Telanjang Kaki.

Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa kemiskinan bukan hanya tentang kekurangan uang.

Kemiskinan dapat menentukan akses kemiskinan terhadap pendidikan, kesempatan, lingkungan, rasa aman, bahkan cara kemiskinan memandang dirinya sendiri.

Karena itu, membandingkan dua kemiskinan hanya berdasarkan hasil akhirnya sering kali tidak adil.

Kemiskinan sebagai Pengalaman Hidup

Orang yang tumbuh dalam keterbatasan bisa jadi belajar membuat keputusan dengan cara berbeda.

Hal sederhana seperti membeli barang pun bisa mereka pertimbangkan berkali-kali.

Pendidikan terasa seperti kesempatan yang harus diperjuangkan, bukan sesuatu yang otomatis tersedia.

Bahkan, kegagalan memiliki konsekuensi yang berbeda karena tidak semua orang memiliki keluarga atau lingkungan yang bisa menjadi jaring pengaman.

Pengalaman yang diceritakan dalam buku Telanjang Kaki ini menjadi penting karena buku ini tidak hanya mengajak pembaca melihat kemiskinan dari luar, tetapi juga memahami bagaimana pengalaman tersebut dapat membentuk seseorang bahkan setelah kondisi ekonominya berubah.

Seseorang bisa saja sukses secara finansial, tapi masih menyimpan kebiasaan, rasa cemas, dan pola pikir yang terbentuk saat hidup dalam keadaan tidak cukup.

Keluar dari kemiskinan tidak selalu berarti melupakan sepenuhnya pengalaman hidup yang pernah dialami.

Ini mengingatkan kita pada perjalanan Nelson Mandela setelah ia bebas dari penjara.

Kebebasannya itu tidak langsung menghapus masa lalu yang ia alami.

Setelah 27 tahun dipenjara, Mandela justru menghadapi tanggung jawab yang jauh lebih berat.

Ia harus menghadapi sebuah masyarakat yang terbagi dan berusaha membangun kembali Afrika Selatan pasca-apartheid.

Mengubah hidup tidak berarti kita bisa melupakan sejarah karena masa lalu akan selalu menjadi bagian dari cara seseorang menjalani masa depan.

Dari Kemiskinan hingga Apartheid

Di sini, semakin jelas hubungan antara buku Telanjang Kaki dan Mandela.

Apartheid menunjukkan bagaimana sistem bisa menentukan peluang hidup seseorang berdasarkan identitasnya.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sementara buku Telanjang Kaki menunjukkan juga bagaimana kondisi ekonomi dan pengalaman hidup bisa menentukan titik awal seseorang.

Keduanya mengingatkan bahwa ketimpangan tidak selalu terlihat dari hasil akhir.

Dua orang mungkin sama-sama memiliki kemampuan, tetapi kesempatan mereka berbeda.

Dua orang bisa bekerja keras, tetapi salah satunya memiliki akses pendidikan yang lebih baik.

Dua orang bisa mengalami kegagalan, tetapi hanya salah satunya yang memiliki keluarga yang mampu membantunya memulai kembali.

Jadi, kita tidak bisa begitu saja menelan mentah-mentah kalimat bahwa setiap orang pasti bisa sukses asalkan mau bekerja keras.

Kita perlu melihat pernyataan itu dengan lebih teliti.

Memang benar bahwa kerja keras itu penting, tetapi kerja keras bukan satu-satunya faktor yang menentukan segalanya.

Kesempatan, lingkungan sekitar, dukungan dari orang lain, bahkan keberuntungan juga memiliki peran dalam menentukan sejauh mana seseorang dapat mencapai tujuannya.

Nelson Mandela sendiri tidak berjuang sendirian dalam hidupnya.

Perubahan politik di Afrika Selatan adalah hasil dari perjuangan panjang banyak orang dan berbagai gerakan.

Begitu juga dengan seseorang yang berhasil keluar dari kemiskinan, mereka biasanya tidak benar-benar berjalan sendirian.

Pasti ada keluarga, guru, teman, lembaga pendidikan, pekerjaan, atau kesempatan yang ikut membantu membuka jalan bagi mereka.

Tidak Semua Penderitaan Harus Menjadi Motivasi

Kita sering kali melihat kisah perjuangan hanya sebagai cerita motivasi belaka.

Ada orang yang hidupnya susah, lalu tiba-tiba sukses, kemudian ceritanya dipakai untuk membuktikan bahwa siapa saja bisa sukses seperti itu.

Namun, cara pandang seperti ini justru membuat masalah kemiskinan terlihat terlalu sederhana.

Kenyataannya, tidak semua orang yang sedang kesulitan punya kesempatan yang sama untuk mengubah nasib mereka.

Tidak semua penderitaan otomatis membuat seseorang menjadi kuat, dan tidak semua kegagalan bisa berubah menjadi pelajaran yang begitu indah.

Begitu juga dengan perjuangan Mandela.

Kita tidak bisa menyederhanakan perjuangan Mandela hanya sebagai kisah tentang seseorang yang pantang menyerah.

Perjuangan Mandela adalah bagian dari konflik sejarah yang sangat besar, yang melibatkan ketidakadilan rasial, gerakan politik, pengorbanan, dan perubahan sosial.

Membaca buku Telanjang Kaki dari sudut pandang itu, membuat kita lebih hati-hati saat melihat kisah sukses seseorang.

Kemiskinan bukan hanya latar belakang dramatis sebelum seseorang sukses.

Namun, itu adalah pengalaman yang bisa memengaruhi hampir semua bagian kehidupan.

Belajar Melihat Garis Start

Buku Telanjang Kaki dan kisah Nelson Mandela sama-sama mengajarkan pentingnya melihat orang secara utuh.

Mandela tidak bisa dipahami tanpa memahami apartheid, begitu pula orang yang tumbuh dalam kemiskinan tidak dapat dipahami hanya dengan melihat pencapaiannya hari ini.

Ketika kita melihat seseorang yang melanjutkan pendidikan, belum tentu kita tahu bahwa kesempatan itu datang setelah perjuangan panjang keluarganya.

Itulah sebabnya metafora “telanjang kaki” terasa kuat.

Bayangkan dua orang berlari menuju garis finis.

Kalau keduanya tiba di waktu berbeda, kita tidak bisa langsung bilang yang pertama lebih rajin.

Perjalanan Nelson Mandela menunjukkan gagasan tersebut dalam sejarah.

Ia lahir dan hidup di masyarakat yang membatasi kebebasan kelompoknya, tetapi ia memilih melawan ketidakadilan.

Telanjang Kaki membawa persoalan yang sama ke kehidupan pribadi, bagaimana seseorang tumbuh di dalam keterbatasan, berusaha mengubah hidupnya, dan tetap memegang jejak masa lalu setelah berhasil melewatinya.

Buku ini tidak hanya mengajak kita bertanya siapa yang berhasil, tetapi mengajak untuk memahami mengapa perjalanan setiap orang berbeda.

Sebelum menilai seberapa cepat seseorang mencapai garis finis, kita perlu melihat terlebih dahulu garis start yang ia dapatkan.

Ada orang yang memulai perjalanan dengan sepatu yang nyaman dan bekal yang lengkap, sementara yang lain mendapat bantuan dari banyak orang di sekitarnya.

Namun, ada pula yang harus memulai perjalanan dengan bertelanjang kaki.

Mungkin mereka bukan orang yang kurang berusaha, melainkan hanya harus menempuh jalan yang berbeda.

Baca selengkapnya buku Telanjang Kaki yang tersedia di Gramedia.com dan Gramedia Digital untuk versi e-book.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau