Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren "Marriage Is Scary": Benarkah Menikah Adalah 'Ijazah Kelulusan' Hidup yang Wajib Dikejar?

Kompas.com, 26 Juni 2026, 15:00 WIB
Buku I Choose Not to Get Married Sumber Gambar: Dok. M&C! Buku I Choose Not to Get Married
Rujukan artikel ini:
I Choose Not to Get…
Pengarang: Kwon, Mi Ju
|
Editor Novia Putri Anindhita

Pernahkah kamu duduk di tengah acara keluarga besar, lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur tanpa diundang: "Kapan menyusul?" atau "Sudah umur segini, kok masih betah sendiri?".

Seketika, atmosfer hangat berubah menjadi canggung.

Banyak perempuan modern yang sedang berada di fase terbaik dalam hidupnya (memiliki karier stabil, rutinitas mandiri yang nyaman, dan lingkaran pertemanan suportif), justru dipandang seolah belum "sah" bahagia sebelum ada “pernikahan” yang melegalisasinya.

Jika kamu pernah atau sedang berada di posisi ini, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri dan kamu tidak salah.

Bukan sekadar perasaan personal, pergeseran cara pandang ini terpotret nyata dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang mencatat bahwa sebanyak 71,04 persen pemuda Indonesia berusia 16–30 tahun berstatus belum menikah.

Angka ini melonjak tajam dalam satu dekade terakhir dibandingkan dengan tahun 2014 yang hanya sebesar 54,1 persen.

Pernikahan yang dulu dianggap sebagai milestone atau “upacara kelulusan wajib” setelah lulus kuliah, kini mulai kini mulai ditandai oleh tren marriage is scary dan dipertanyakan ulang tujuannya.

Fenomena inilah yang melandasi buku I Choose Not to Get Married karya Kwon Mi Ju.

Diterbitkan dalam versi Indonesia oleh m&c! pada 2026, buku esai reflektif karya konselor psikologi asal Korea Selatan ini hadir bukan untuk menggugat pernikahan, melainkan sebagai ruang literasi yang memvalidasi perasaan orang-orang yang tersisih oleh standar sosial.

Menikah Bukan ’Ijazah Kelulusan’ yang Harus Dikejar demi Level Sosial

Menjawab pertanyaan pada judul, bahasan utama buku ini adalah kritik tajam terhadap konstruksi sosial yang mengonsepkan pernikahan sebagai tolok ukur kedewasaan.

Budaya kolektif kerap mendikte bahwa seseorang baru dianggap "lulus" menjadi manusia dewasa seutuhnya jika sudah menikah dan memiliki anak.

Akibatnya, mereka yang belum melewati ritual ini sering dicap tidak matang atau produk gagal.

Buku I Choose Not to Get Married mendobrak pakem diskriminatif tersebut.

Kwon Mi Ju mengurai bahwa keputusan seseorang untuk menunda, memikirkan ulang, atau memilih hidup mandiri tanpa ikatan pernikahan sering kali lahir dari sebuah pertimbangan eksistensial yang matang, rasional, dan berani, bukannya sebuah tindakan egois.

Buku ini mengajak pembaca untuk keluar dari jebakan pikiran bahwa hidup adalah sebuah permainan mengumpulkan kartu tahapan level sosial masyarakat.

Melalui ulasannya, pembaca diajak merefleksikan kembali arti kedewasaan yang sejati, yaitu ketika seorang individu berani secara penuh bertanggung jawab atas otonomi dirinya sendiri, tanpa harus terus-menerus meminta validasi atau persetujuan dari lingkungan sekitarnya.

Fenomena Marriage Is Scary: Bukan Takut Komitmen, tetapi Takut Kehilangan Identitas

Keresahan kultural yang diangkat dalam buku ini berkaitan erat dengan fenomena digital yang belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial Indonesia, yaitu maraknya frasa marriage is scary.

Ketakutan yang disuarakan oleh para perempuan muda masa kini bukanlah sebuah bentuk fobia kekanak-kanakan terhadap komitmen atau keengganan untuk dicintai.

Justru sebaliknya, ketakutan tersebut muncul dari kesadaran setelah melihat bagaimana realitas domestik di sekeliling mereka kerap kali menuntut pengorbanan sepihak dari seorang perempuan hingga ia kehilangan identitas pribadinya.

Pergeseran sudut pandang ini juga divalidasi oleh sosiolog Universitas Sebelas Maret, Drajat Tri Kartono.

Beliau menyoroti bahwa perempuan modern hari ini menaruh prioritas yang jauh lebih tinggi pada pencapaian pendidikan dan kemandirian karier sebelum mereka membuka diri pada komitmen perkawinan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Secara sosiologis, terdapat kekhawatiran yang sangat nyata di kalangan perempuan modern bahwa institusi pernikahan konvensional yang belum setara secara kultural dapat merampas ruang gerak mereka.

Mereka takut kehilangan otonomi untuk mengelola waktu pribadi, mengontrol keuangan mandiri, serta mengejar aktualisasi potensi diri yang telah mereka bangun dengan susah payah.

Buku I Choose Not to Get Married menangkap dinamika ketakutan akan hilangnya identitas diri ini dengan sangat presisi.

Melalui esai-esai pendeknya, penulis memotret bagaimana ekspektasi sosial yang dibebankan pada predikat seorang istri dan ibu sering kali menjadi beban ganda yang sangat meletihkan bagi perempuan pekerja.

Oleh karena itu, buku ini mengubah cara pandang pembaca mengenai masa melajang.

Status lajang tidak lagi dicitrakan sebagai sebuah fase menunggu yang pasif atau menyedihkan, melainkan diakui sebagai sebuah ruang investasi diri yang sah dan berharga untuk membangun stabilitas emosional serta portofolio hidup yang utuh sebelum seseorang memutuskan untuk berbagi hidup dengan orang lain.

Mitos "Menikah biar Enggak Kesepian di Hari Tua"

Salah satu senjata sosial yang paling sering digunakan oleh lingkungan sekitar untuk mendesak seseorang agar segera menikah adalah narasi menakut-nakuti tentang kesepian atau bayang-bayang kelam tidak ada yang merawat saat menua dan jatuh sakit di hari tua.

Namun, esai-esai di dalam buku ini mengajak kita untuk berani membuka mata dan melihat realitas yang selama ini sengaja disembunyikan oleh masyarakat, yaitu bahwa status pernikahan sama sekali tidak otomatis menjadi penawar atau jaminan hilangnya rasa kesepian.

Buku ini memaparkan fakta emosional dari ruang terapi bahwa kesepian yang paling dingin dan menyiksa justru sering kali dialami oleh mereka yang sudah memiliki pasangan, tetapi terjebak di dalam rumah tangga yang telah kehilangan kehangatan, komunikasi, dan ruang saling mendengar.

Kwon Mi Ju menegaskan bahwa rasa sepi adalah bagian alami dan universal dari eksistensi perjalanan setiap manusia, tanpa memedulikan apakah status hukum perdatanya di atas kertas tertulis kawin atau belum kawin.

Daripada tergesa-gesa menikah karena panik, buku ini menawarkan perspektif untuk membangun alternative support system.

Rasa aman dan kebersamaan nyatanya bisa hadir kuat melalui persahabatan tulus, kehadiran keluarga yang saling menghormati, atau keaktifan di dalam komunitas sosial yang sefrekuensi.

Pesan yang Ingin Ditinggalkan Buku Ini

Secara keseluruhan, inti utama dari buku I Choose Not to Get Married adalah sebuah ajakan untuk mendekonstruksi standar kebahagiaan tunggal yang dipaksakan oleh masyarakat.

Buku ini mengajak kita memahami bahwa:

  1. Pernikahan adalah pilihan hidup yang sakral, tetapi ia harus dimasuki atas dasar kesiapan mental dan kesadaran penuh, bukan karena pelarian dari ketakutan akan umur atau desakan lingkungan.
  2. Menjadi lajang bukanlah sebuah kecacatan sosial, melainkan sebuah fase atau jalur hidup yang sah, yang tetap bisa dijalani dengan produktif, terhormat, penuh kasih, dan bertanggung jawab.

Hidup Ini Milikmu, Jalani dengan Berani

Buku I Choose Not to Get Married memberikan jawaban tegas: tidak, pernikahan bukanlah ijazah kelulusan hidup yang wajib dikejar demi level sosial.

Esensi terdalam dari hidup seorang manusia bukanlah status pernikahannya, melainkan apakah ia sudah menjalani hari-hari dengan jujur sesuai nilai yang bermakna bagi jiwanya sendiri.

Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah ruang perenungan untuk mengingatkan siapa saja, baik yang masih melajang maupun yang sudah berkeluarga, tentang satu pesan penting: "Kita harus selalu mengingat hal ini; kita sendirilah yang dapat menentukan nilai diri kita, lebih dari apa pun." - Hlm. 106

Nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh status perdata di atas kertas, melainkan dari bagaimana ia menghargai hidupnya dan memperlakukan dirinya sendiri dengan baik.

Jangan biarkan riuh rendah tuntutan dunia meredam ketukan tenang dari hatimu sendiri.

Pilihan untuk melangkah, berhenti sejenak, atau berbelok arah sepenuhnya adalah hak prerogatifmu yang harus dihormati.

Buku I Choose Not to Get Married karya Kwon Mi Ju ini telah tersedia dalam versi terjemahan bahasa Indonesia dan bisa kamu dapatkan di jaringan Toko Buku Gramedia terdekat di kotamu atau dipesan secara daring melalui situs resmi Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau