Buku I Choose Not to Get Married Pernahkah kamu duduk di tengah acara keluarga besar, lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur tanpa diundang: "Kapan menyusul?" atau "Sudah umur segini, kok masih betah sendiri?".
Seketika, atmosfer hangat berubah menjadi canggung.
Banyak perempuan modern yang sedang berada di fase terbaik dalam hidupnya (memiliki karier stabil, rutinitas mandiri yang nyaman, dan lingkaran pertemanan suportif), justru dipandang seolah belum "sah" bahagia sebelum ada “pernikahan” yang melegalisasinya.
Jika kamu pernah atau sedang berada di posisi ini, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri dan kamu tidak salah.
Bukan sekadar perasaan personal, pergeseran cara pandang ini terpotret nyata dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang mencatat bahwa sebanyak 71,04 persen pemuda Indonesia berusia 16–30 tahun berstatus belum menikah.
Angka ini melonjak tajam dalam satu dekade terakhir dibandingkan dengan tahun 2014 yang hanya sebesar 54,1 persen.
Pernikahan yang dulu dianggap sebagai milestone atau “upacara kelulusan wajib” setelah lulus kuliah, kini mulai kini mulai ditandai oleh tren marriage is scary dan dipertanyakan ulang tujuannya.
Fenomena inilah yang melandasi buku I Choose Not to Get Married karya Kwon Mi Ju.
Diterbitkan dalam versi Indonesia oleh m&c! pada 2026, buku esai reflektif karya konselor psikologi asal Korea Selatan ini hadir bukan untuk menggugat pernikahan, melainkan sebagai ruang literasi yang memvalidasi perasaan orang-orang yang tersisih oleh standar sosial.
Menjawab pertanyaan pada judul, bahasan utama buku ini adalah kritik tajam terhadap konstruksi sosial yang mengonsepkan pernikahan sebagai tolok ukur kedewasaan.
Budaya kolektif kerap mendikte bahwa seseorang baru dianggap "lulus" menjadi manusia dewasa seutuhnya jika sudah menikah dan memiliki anak.
Akibatnya, mereka yang belum melewati ritual ini sering dicap tidak matang atau produk gagal.
Buku I Choose Not to Get Married mendobrak pakem diskriminatif tersebut.
Kwon Mi Ju mengurai bahwa keputusan seseorang untuk menunda, memikirkan ulang, atau memilih hidup mandiri tanpa ikatan pernikahan sering kali lahir dari sebuah pertimbangan eksistensial yang matang, rasional, dan berani, bukannya sebuah tindakan egois.
Buku ini mengajak pembaca untuk keluar dari jebakan pikiran bahwa hidup adalah sebuah permainan mengumpulkan kartu tahapan level sosial masyarakat.
Melalui ulasannya, pembaca diajak merefleksikan kembali arti kedewasaan yang sejati, yaitu ketika seorang individu berani secara penuh bertanggung jawab atas otonomi dirinya sendiri, tanpa harus terus-menerus meminta validasi atau persetujuan dari lingkungan sekitarnya.
Keresahan kultural yang diangkat dalam buku ini berkaitan erat dengan fenomena digital yang belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial Indonesia, yaitu maraknya frasa marriage is scary.
Ketakutan yang disuarakan oleh para perempuan muda masa kini bukanlah sebuah bentuk fobia kekanak-kanakan terhadap komitmen atau keengganan untuk dicintai.
Justru sebaliknya, ketakutan tersebut muncul dari kesadaran setelah melihat bagaimana realitas domestik di sekeliling mereka kerap kali menuntut pengorbanan sepihak dari seorang perempuan hingga ia kehilangan identitas pribadinya.
Pergeseran sudut pandang ini juga divalidasi oleh sosiolog Universitas Sebelas Maret, Drajat Tri Kartono.
Beliau menyoroti bahwa perempuan modern hari ini menaruh prioritas yang jauh lebih tinggi pada pencapaian pendidikan dan kemandirian karier sebelum mereka membuka diri pada komitmen perkawinan.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Secara sosiologis, terdapat kekhawatiran yang sangat nyata di kalangan perempuan modern bahwa institusi pernikahan konvensional yang belum setara secara kultural dapat merampas ruang gerak mereka.
Mereka takut kehilangan otonomi untuk mengelola waktu pribadi, mengontrol keuangan mandiri, serta mengejar aktualisasi potensi diri yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Buku I Choose Not to Get Married menangkap dinamika ketakutan akan hilangnya identitas diri ini dengan sangat presisi.
Melalui esai-esai pendeknya, penulis memotret bagaimana ekspektasi sosial yang dibebankan pada predikat seorang istri dan ibu sering kali menjadi beban ganda yang sangat meletihkan bagi perempuan pekerja.
Oleh karena itu, buku ini mengubah cara pandang pembaca mengenai masa melajang.
Status lajang tidak lagi dicitrakan sebagai sebuah fase menunggu yang pasif atau menyedihkan, melainkan diakui sebagai sebuah ruang investasi diri yang sah dan berharga untuk membangun stabilitas emosional serta portofolio hidup yang utuh sebelum seseorang memutuskan untuk berbagi hidup dengan orang lain.
Salah satu senjata sosial yang paling sering digunakan oleh lingkungan sekitar untuk mendesak seseorang agar segera menikah adalah narasi menakut-nakuti tentang kesepian atau bayang-bayang kelam tidak ada yang merawat saat menua dan jatuh sakit di hari tua.
Namun, esai-esai di dalam buku ini mengajak kita untuk berani membuka mata dan melihat realitas yang selama ini sengaja disembunyikan oleh masyarakat, yaitu bahwa status pernikahan sama sekali tidak otomatis menjadi penawar atau jaminan hilangnya rasa kesepian.
Buku ini memaparkan fakta emosional dari ruang terapi bahwa kesepian yang paling dingin dan menyiksa justru sering kali dialami oleh mereka yang sudah memiliki pasangan, tetapi terjebak di dalam rumah tangga yang telah kehilangan kehangatan, komunikasi, dan ruang saling mendengar.
Kwon Mi Ju menegaskan bahwa rasa sepi adalah bagian alami dan universal dari eksistensi perjalanan setiap manusia, tanpa memedulikan apakah status hukum perdatanya di atas kertas tertulis kawin atau belum kawin.
Daripada tergesa-gesa menikah karena panik, buku ini menawarkan perspektif untuk membangun alternative support system.
Rasa aman dan kebersamaan nyatanya bisa hadir kuat melalui persahabatan tulus, kehadiran keluarga yang saling menghormati, atau keaktifan di dalam komunitas sosial yang sefrekuensi.
Secara keseluruhan, inti utama dari buku I Choose Not to Get Married adalah sebuah ajakan untuk mendekonstruksi standar kebahagiaan tunggal yang dipaksakan oleh masyarakat.
Buku ini mengajak kita memahami bahwa:
Buku I Choose Not to Get Married memberikan jawaban tegas: tidak, pernikahan bukanlah ijazah kelulusan hidup yang wajib dikejar demi level sosial.
Esensi terdalam dari hidup seorang manusia bukanlah status pernikahannya, melainkan apakah ia sudah menjalani hari-hari dengan jujur sesuai nilai yang bermakna bagi jiwanya sendiri.
Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah ruang perenungan untuk mengingatkan siapa saja, baik yang masih melajang maupun yang sudah berkeluarga, tentang satu pesan penting: "Kita harus selalu mengingat hal ini; kita sendirilah yang dapat menentukan nilai diri kita, lebih dari apa pun." - Hlm. 106
Nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh status perdata di atas kertas, melainkan dari bagaimana ia menghargai hidupnya dan memperlakukan dirinya sendiri dengan baik.
Jangan biarkan riuh rendah tuntutan dunia meredam ketukan tenang dari hatimu sendiri.
Pilihan untuk melangkah, berhenti sejenak, atau berbelok arah sepenuhnya adalah hak prerogatifmu yang harus dihormati.
Buku I Choose Not to Get Married karya Kwon Mi Ju ini telah tersedia dalam versi terjemahan bahasa Indonesia dan bisa kamu dapatkan di jaringan Toko Buku Gramedia terdekat di kotamu atau dipesan secara daring melalui situs resmi Gramedia.com.