Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daftar Negara yang Tidak Pernah Dijajah di Dunia: Sejarah dan Alasannya

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 09:00 WIB
Negara yang Tidak Pernah Dijajah  Sumber Gambar: Kompas.com Negara yang Tidak Pernah Dijajah 
Rujukan artikel ini:
Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme: Kronik…
Pengarang: Jan Breman
Penulis Adnan
|
Editor Novia Putri Anindhita

Banyak orang mengira semua negara di dunia pernah dijajah.

Padahal, ada beberapa negara yang berhasil mempertahankan kedaulatannya melalui diplomasi, modernisasi, kondisi geografis, atau keseimbangan politik internasional.

Meski begitu, istilah "tidak pernah dijajah" juga perlu dipahami dengan hati-hati.

Ada negara yang benar-benar terhindar dari kolonisasi penuh, tetapi pernah menjadi protektorat, wilayah pendudukan sementara, atau berada di bawah pengaruh kuat negara lain.

Oleh karena itu, penting memahami perbedaan istilah-istilah tersebut sebelum melihat daftarnya.

Apa itu Kolonialisme, Protektorat, dan Zona Penyangga?

Kolonialisme adalah kondisi ketika suatu wilayah berada di bawah pemerintahan langsung negara asing sehingga pemerintahan, hukum, dan sumber dayanya dikendalikan oleh kekuatan kolonial.

Berbeda dengan koloni, protektorat dan buffer state (zona penyangga) masih mempertahankan pemerintahan lokal, meskipun tingkat campur tangan negara lain berbeda.

Memahami perbedaannya akan membantu kamu melihat mengapa beberapa negara sering disebut "tidak pernah dijajah", meski memiliki pengalaman sejarah yang tidak sama.

Penjelasan ini mengacu pada kajian sejarah kolonial dan hubungan internasional yang digunakan oleh berbagai akademisi dan ensiklopedia sejarah.

1. Koloni

Koloni adalah wilayah yang diperintah secara langsung oleh kekuatan asing.

Salah satu contohnya adalah Hindia Belanda.

2. Protektorat

Protektorat adalah negara yang masih memiliki pemerintahan sendiri, tetapi urusan tertentu, terutama hubungan luar negeri atau pertahanan, dikendalikan oleh negara pelindung.

Contohnya adalah Tonga dan Bhutan.

3. Buffer State (Zona Penyangga)

Buffer state atau zona penyangga adalah negara yang dipertahankan tetap merdeka karena berada di antara dua kekuatan besar yang saling bersaing.

Salah satu contohnya adalah Siam (Thailand).

Daftar 10 Negara yang Tidak Pernah Dijajah

Berikut adalah sejumlah negara yang sering disebut berhasil menghindari kolonisasi formal.

Meski demikian, beberapa di antaranya pernah mengalami pendudukan sementara, menjadi protektorat, atau berada di bawah pengaruh kuat negara lain sehingga statusnya masih menjadi bahan diskusi di kalangan sejarawan.

1. Thailand (Siam)

Thailand dikenal sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah menjadi koloni bangsa Eropa.

Salah satu kuncinya adalah reformasi besar-besaran yang dilakukan Raja Chulalongkorn (Rama V) melalui modernisasi hukum, birokrasi, pendidikan, dan administrasi negara.

Selain itu, letak Siam yang berada di antara Indochina Prancis dan Burma Inggris menjadikannya buffer state atau negara penyangga.

Inggris dan Prancis sama-sama berkepentingan mempertahankan Siam sebagai wilayah penyangga agar tidak berbatasan langsung.

2. Etiopia

Etiopia menjadi salah satu simbol keberhasilan Afrika melawan kolonialisme setelah Kaisar Menelik II mempersatukan berbagai kerajaan dan memodernisasi angkatan perang dengan membeli persenjataan dari Eropa.

Strategi tersebut membawa kemenangan besar atas Italia dalam Pertempuran Adwa pada 1896.

Meski demikian, Etiopia sempat diduduki Italia pada 1936–1941 pada masa Benito Mussolini.

Karena pendudukan tersebut berlangsung relatif singkat dan tidak berkembang menjadi kolonisasi permanen, Etiopia tetap sering dimasukkan dalam daftar negara yang tidak pernah mengalami kolonisasi formal.

3. Jepang

Selama lebih dari dua abad, Jepang menerapkan kebijakan Sakoku, yaitu membatasi hubungan dengan dunia luar pada masa Keshogunan Tokugawa.

Kebijakan ini membantu Jepang mengurangi campur tangan asing sebelum akhirnya membuka diri pada pertengahan abad ke-19.

Setelah Restorasi Meiji pada 1868, Jepang melakukan modernisasi secara cepat di bidang militer, industri, pendidikan, dan pemerintahan.

Transformasi tersebut membuat Jepang bukan hanya mampu mempertahankan kemerdekaannya, tetapi juga berkembang menjadi salah satu kekuatan besar di Asia.

4. Iran (Persia)

Pada abad ke-19, Persia berada di tengah persaingan geopolitik antara Kekaisaran Rusia dan Britania Raya dalam persaingan yang dikenal sebagai The Great Game.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Kedua negara sama-sama ingin memperluas pengaruhnya tanpa memicu konflik langsung satu sama lain.

Akibatnya, Persia memang kehilangan sebagian wilayah dan menghadapi tekanan politik maupun ekonomi dari kedua kekuatan tersebut.

Namun, negara ini tidak pernah berubah menjadi koloni resmi sehingga tetap mempertahankan pemerintahan sendiri.

5. Arab Saudi

Wilayah Najd dan Hijaz memang didominasi gurun, tetapi hal itu bukan satu-satunya alasan kawasan ini tidak dijadikan koloni.

Inggris lebih memilih membangun hubungan politik dengan para penguasa lokal karena wilayah tersebut memiliki posisi strategis menuju India dan menjadi bagian dari dinamika politik Kesultanan Utsmaniyah.

Arab Saudi modern kemudian dipersatukan oleh Abdulaziz Ibn Saud dan secara resmi berdiri pada 1932.

Sejak saat itu, negara ini berkembang sebagai kerajaan berdaulat, meskipun sebelumnya beberapa wilayah memiliki hubungan politik yang kompleks dengan Inggris maupun Kesultanan Utsmaniyah.

6. Nepal

Nepal berhasil mempertahankan kemerdekaannya meskipun harus menghadapi Perang Anglo-Nepal (1814–1816) melawan British East India Company.

Ketangguhan para prajurit Gurkha membuat Inggris menyadari bahwa biaya untuk menaklukkan Nepal akan sangat besar.

Setelah Perjanjian Sugauli pada 1816, Nepal memang kehilangan sebagian wilayah dan menjalin hubungan erat dengan Inggris.

Namun, negara ini tetap mempertahankan pemerintahan sendiri sehingga sering disebut tidak pernah mengalami kolonisasi formal.

7. Bhutan

Letak Bhutan di kawasan Pegunungan Himalaya menjadi salah satu faktor yang membantu negara ini mempertahankan kedaulatannya.

Selain perlindungan alam, para penguasanya juga menjalankan diplomasi yang hati-hati untuk menghindari konflik langsung dengan kekuatan kolonial.

Bhutan lebih dahulu menjalin hubungan strategis dengan Inggris melalui sejumlah perjanjian, kemudian melanjutkan hubungan khusus tersebut dengan India setelah negara itu merdeka pada 1947.

Pendekatan ini memungkinkan Bhutan tetap mempertahankan pemerintahan nasionalnya hingga sekarang.

8. Tonga

Tonga merupakan kerajaan di Pasifik yang dipersatukan oleh Raja George Tupou I.

Ia memperkenalkan konstitusi modern pada 1875 serta melakukan reformasi pemerintahan untuk memperkuat posisi Tonga sebagai negara berdaulat.

Pada 1900, Tonga memang menjadi British Protected State (negara protektorat Inggris).

Meski urusan luar negerinya berada di bawah Inggris, pemerintahan dalam negeri tetap dijalankan oleh kerajaan Tonga sehingga negara ini tidak menjadi koloni langsung.

9. Liberia

Liberia berdiri pada 1847 dengan dukungan American Colonization Society (ACS) sebagai tempat pemukiman bagi orang kulit hitam yang dibebaskan dari Amerika Serikat.

Setelah memproklamasikan kemerdekaan, Liberia berkembang sebagai negara berdaulat di Afrika Barat.

Hubungan erat dengan ACS dan kemudian Amerika Serikat membuat Liberia tidak menjadi koloni kekuatan Eropa.

Namun, asal-usul pendiriannya masih menjadi bahan diskusi di kalangan sejarawan karena melibatkan organisasi asal Amerika Serikat.

10. Afghanistan

Afghanistan berkali-kali menjadi sasaran perebutan pengaruh kekuatan besar, terutama Inggris dan Rusia pada masa The Great Game.

Namun, medan pegunungan yang sulit ditembus dan perlawanan masyarakat setempat membuat upaya penguasaan wilayah ini selalu menghadapi tantangan besar.

Taktik perang gerilya, yaitu strategi menyerang secara cepat lalu berpindah tempat, menjadi salah satu faktor yang membuat Afghanistan tidak pernah berubah menjadi koloni formal.

Meski demikian, negara ini tetap mengalami berbagai bentuk intervensi asing sepanjang sejarahnya.

Kalau kamu ingin memahami mengapa kolonialisme meninggalkan dampak yang begitu panjang hingga sekarang, buku Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme: Kronik Pascakolonial karya Jan Breman layak masuk daftar bacaanmu.

Melalui kumpulan esai sejarah dan sosial, Breman mengupas hubungan antara kolonialisme, eksploitasi ekonomi, dan rasisme yang membentuk ketimpangan di banyak negara hingga era modern.

Buku ini juga membantu melihat bahwa kemerdekaan politik tidak selalu menghapus warisan kolonial.

Jika kamu ingin memahami sejarah kolonial dari sudut pandang yang lebih kritis dan mendalam setelah membaca artikel ini, kamu bisa mendapatkan buku Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme: Kronik Pascakolonial melalui Gramedia.com dan Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau