Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banyak Orang Salah Paham, Investasi Saham Bukan Sekadar Cari Harga Murah

Kompas.com, 24 Juli 2026, 11:00 WIB
#YukBelajarSaham untuk Pemula Sumber Gambar: Magnific.com #YukBelajarSaham untuk Pemula
Rujukan artikel ini:
#Yukbelajarsaham Untuk Pemula
Pengarang: Komunitas Investor Saham Pemula…
|
Editor Novia Putri Anindhita

Bagi sebagian orang, investasi saham masih identik dengan berburu harga termurah.

Tidak sedikit yang menganggap saham bagus adalah saham yang harganya rendah, lalu berharap nilainya melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat.

Padahal, cara berpikir seperti ini justru menjadi salah satu penyebab banyak investor pemula mengalami kerugian.

Topik tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam episode podcast di YouTube Monety Official bersama Frisca Devi, investor sekaligus edukator saham yang dikenal melalui akun @ngertisaham.

Dalam perbincangan tersebut dijelaskan bahwa kesalahan terbesar investor pemula sering kali bukan karena kurang modal, melainkan karena memiliki cara pandang yang keliru terhadap saham itu sendiri.

Tidak hanya melihat angka di layar aplikasi investasi, investor juga perlu memahami bahwa membeli saham berarti membeli sebagian kepemilikan sebuah bisnis.

Perubahan sudut pandang inilah yang menjadi fondasi penting sebelum seseorang mulai berinvestasi.

Saham Bukan Barang Dagangan, tetapi Kepemilikan Bisnis

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam podcast adalah pentingnya memahami hakikat saham.

Ketika seseorang membeli saham sebuah perusahaan, yang sebenarnya dibeli bukan sekadar kode emiten atau angka yang bergerak naik turun setiap hari.

Investor sedang membeli sebagian kepemilikan dari sebuah bisnis yang memiliki produk, pelanggan, manajemen, hingga potensi pertumbuhan di masa depan.

Cara berpikir ini akan memengaruhi bagaimana seseorang mengambil keputusan investasi.

Daripada sibuk memantau pergerakan harga setiap saat, investor akan lebih fokus memperhatikan apakah bisnis yang dimiliki terus berkembang atau justru mengalami penurunan.

Dengan memahami konsep tersebut, fluktuasi harga harian tidak lagi menjadi sumber kepanikan, melainkan bagian yang wajar dari perjalanan sebuah investasi.

Harga Murah Belum Tentu Layak Dibeli

Dalam podcast juga dibahas bahwa banyak investor pemula terjebak pada anggapan bahwa saham dengan harga murah pasti lebih menguntungkan.

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Harga sebuah saham tidak bisa dinilai hanya dari nominalnya.

Saham seharga ratusan rupiah belum tentu lebih murah dibanding saham yang diperdagangkan jutaan rupiah per lembar.

Yang perlu dilihat adalah nilai perusahaan, kondisi bisnis, prospek pertumbuhan, hingga valuasinya.

Oleh karena itu, keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada harga semata, tetapi pada kualitas bisnis yang ada di balik saham tersebut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli saham antara lain:

  • Memahami model bisnis perusahaan.
  • Melihat kinerja keuangan perusahaan.
  • Memperhatikan prospek pertumbuhan bisnis.
  • Menilai apakah harga saham sudah sesuai dengan nilai wajarnya.

Dengan pendekatan tersebut, investor tidak mudah tergoda membeli saham hanya karena terlihat murah.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Terlalu Sering Melihat Aplikasi Justru Bisa Merugikan

Kemudahan teknologi membuat investor bisa memantau portofolionya kapan saja.

Namun, dalam podcast dijelaskan bahwa kebiasaan membuka aplikasi investasi terlalu sering justru dapat memengaruhi kondisi psikologis investor.

Ketika harga saham turun sedikit, muncul rasa cemas.

Saat harga naik, muncul keinginan untuk segera menjual.

Akibatnya, keputusan investasi lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dibandingkan analisis.

Padahal investasi, terutama untuk jangka panjang, membutuhkan kesabaran.

Pergerakan harga harian bukanlah cerminan nilai sebuah perusahaan secara keseluruhan.

Selama fundamental bisnis masih baik, fluktuasi jangka pendek tidak selalu menjadi alasan untuk mengambil keputusan secara tergesa-gesa.

Belajar Investasi Tidak Berhenti Setelah Membeli Saham Pertama

Banyak orang merasa proses belajar selesai setelah berhasil membuka rekening efek dan membeli saham pertama.

Menurut Frisca Devi, justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai.

Investor perlu terus meningkatkan pemahaman mengenai laporan keuangan, kondisi industri, strategi perusahaan, hingga berbagai faktor yang dapat memengaruhi kinerja bisnis.

Semakin baik pengetahuan yang dimiliki, semakin rasional pula keputusan investasi yang dapat diambil.

Oleh karena itu, investasi bukan sekadar aktivitas membeli dan menjual saham, tetapi juga proses belajar yang berlangsung secara terus-menerus.

Investasi yang Baik Dimulai dari Cara Berpikir yang Benar

Keberhasilan seorang investor tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memilih saham, tetapi juga oleh cara berpikirnya.

Ketika saham dipandang sebagai kepemilikan bisnis, investor akan lebih sabar menghadapi fluktuasi pasar dan tidak mudah terbawa emosi.

Sebaliknya, jika saham hanya dianggap sebagai angka yang terus bergerak setiap hari, keputusan investasi akan lebih mudah dipengaruhi rasa takut maupun keserakahan.

Membangun mindset yang tepat sejak awal menjadi langkah penting agar investasi dapat memberikan hasil yang optimal dalam jangka panjang.

Pembahasan lengkap mengenai cara membangun mindset investor, memahami saham sebagai kepemilikan bisnis, hingga berbagai kesalahan yang sering dilakukan investor pemula dapat kamu tonton secara utuh melalui episode podcast di YouTube Monety Official bersama Frisca Devi.

Untuk kamu yang ingin memulai perjalanan investasi saham dari nol dengan pemahaman yang lebih terarah, buku #YukBelajarSaham untuk Pemula karya Frisca Devi dapat menjadi referensi yang tepat.

Buku ini tersedia di Gramedia.com, Gramedia Digital, maupun toko Gramedia terdekat.

Jangan lupa untuk terus mendapatkan insight menarik seputar bisnis, keuangan, dan teknologi dengan mengikuti Instagram @monety.id, subscribe YouTube Monety Official, dan mengunjungi www.monety.id.

Monety adalah platform belajar bagi Milenial dan Gen Z yang menghadirkan konten seputar bisnis, keuangan, teknologi, lifestyle, news update, serta rekomendasi buku untuk membantu meningkatkan skill dan wawasan.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau