Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar Seni Berelasi melalui Karakter Himmel dan Buku Winning with People 

Kompas.com, 28 Agustus 2026, 13:00 WIB
Buku Winning with People Sumber Gambar: Dok. Bhuana Ilmu Populer Buku Winning with People
Rujukan artikel ini:
Winning With People: 5 Pertanyaan…
Pengarang: John C. Maxwell
|
Editor Novia Putri Anindhita

Hubungan antarmanusia sering kali baru dipikirkan setelah urusan pendidikan, pekerjaan, atau pencapaian pribadi selesai.

Padahal kalau kita renungkan kembali, hal yang paling lama bertahan dalam ingatan seseorang sering kali bukan apa yang kita miliki atau capai, melainkan bagaimana cara kita memperlakukan mereka.

Cara kita mendengarkan, menghargai, dan hadir dalam momen-momen sederhana justru menjadi jejak yang sulit dilupakan.

John C. Maxwell menulis buku Winning with People dengan gagasan yang sederhana, yakni kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh kualitas hubungannya dengan orang lain.

Bukan karena kemampuan teknis tidak penting, tetapi karena sehebat apa pun seseorang, ia tetap membutuhkan kepercayaan, kerja sama, dan hubungan yang sehat untuk bertumbuh.

Selama membaca buku ini, ingatanku berkali-kali tertuju pada Himmel dalam serial Frieren: Beyond Journey's End.

Banyak tindakan yang ia lakukan sepanjang perjalanan bersama Frieren, Heiter, dan Eisen ternyata sejalan dengan prinsip-prinsip yang dijelaskan Maxwell.

Seolah-olah, buku Winning with People memberi bahasa untuk menjelaskan mengapa kehadiran Himmel terasa begitu membekas, sekaligus mengingatkan bahwa jejak serupa juga bisa kita hidupkan dalam keseharian.

Mari kita bedah bukunya!

Semua Berawal dari Cara Kita Memandang Orang Lain

Maxwell dalam bukunya membuka pembahasannya dengan Lens Principle, sebuah pengingat bahwa cara kita memperlakukan orang lain selalu dipengaruhi oleh cara kita memandang diri sendiri.

Ketika seseorang masih sibuk mencari pengakuan, ia lebih mudah membandingkan diri, menghakimi, atau merasa terancam oleh kelebihan orang lain.

Sebaliknya, hati yang telah berdamai dengan dirinya sendiri akan lebih lapang dalam menerima manusia apa adanya.

Prinsip ini tergambar dalam diri Himmel.

Ia beberapa kali terlihat menikmati wajahnya sendiri di depan cermin dan dengan santai mengakui bahwa dirinya tampan dengan narsisistiknya.

Kebiasaan itu hadir sebagai selingan yang mengocok perut, tanpa pernah mengikis rasa empatinya sedikit pun.

Karena sudah selesai dengan dirinya sendiri, Himmel justru punya ruang yang lapang untuk menghargai Heiter dengan kebiasaan mabuknya, menghormati Eisen yang pernah diliputi rasa takut, dan sabar mendampingi Frieren yang amat dingin karena belum memahami emosi manusia.

Sikap tersebut mengingatkan bahwa hubungan yang hangat tidak lahir karena kita bertemu orang-orang yang sempurna.

Hubungan bertumbuh ketika kita bersedia menerima bahwa setiap orang sedang menjalani prosesnya masing-masing, termasuk diri kita sendiri.

Dari cara pandang inilah perhatian, kepercayaan, dan ketulusan perlahan menemukan tempatnya.

Memedulikan Hal-Hal yang Berarti bagi Orang Lain

Setelah membahas cara memandang orang lain, Winning with People mengajak pembacanya melangkah lebih jauh.

Hubungan yang hangat tidak cukup dibangun melalui niat baik.

Hubungan bertumbuh ketika kita benar-benar peduli pada hal-hal yang dianggap penting oleh orang lain.

Maxwell menyebutnya sebagai Key Principle.

Prinsip ini tergambar jelas dalam perjalanan Himmel.

Di tengah misi mengalahkan Raja Iblis, ia kerap menghentikan langkahnya untuk membantu permintaan yang tampak sepele.

Mencari kalung milik seorang warga, membersihkan patung tua, atau menyelesaikan persoalan kecil di sebuah desa menjadi bagian dari perjalanan yang ia jalani bersama Frieren, Heiter, dan Eisen.

Bagi sebagian orang, tindakan tersebut mungkin hanya membuang waktu.

Himmel melihatnya dengan cara yang berbeda.

Ia memahami bahwa sesuatu yang tampak kecil bagi dirinya bisa menjadi persoalan besar bagi orang lain.

Karena itu, ia tidak pernah mengukur penting atau tidaknya sebuah masalah dari sudut pandangnya sendiri.

Pesan Maxwell terasa begitu relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak semua bentuk kepedulian hadir melalui tindakan besar.

Mengingat cerita yang pernah disampaikan seorang teman, menyempatkan diri mendengarkan tanpa tergesa-gesa memberi solusi, atau menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh sering kali menjadi bentuk perhatian yang jauh lebih bermakna daripada yang kita bayangkan.

Kepercayaan yang Membantu Seseorang Bertumbuh

Hubungan yang sehat tidak berhenti pada rasa diterima.

Hubungan juga memberi ruang bagi seseorang untuk berkembang.

Melalui Trust Principle, Maxwell menjelaskan bahwa kepercayaan adalah salah satu hadiah terbesar yang bisa diberikan kepada orang lain.

Ketika seseorang dipercaya, ia mulai berani melihat potensi yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.

Himmel memperlihatkan prinsip tersebut melalui cara ia memandang teman-temannya.

Ia tidak menilai mereka berdasarkan keterbatasan yang tampak saat itu.

Eisen dipercaya meski pernah bergumul dengan rasa takut, Heiter tetap dihormati dengan segala kebiasaannya, dan Frieren pun tidak pernah didesak untuk segera memahami emosi manusia.

Himmel memilih berjalan bersama mereka sambil percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk bertumbuh.

Sikap seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi pengaruhnya begitu besar.

Banyak orang mampu melangkah lebih jauh karena pernah ada seseorang yang lebih dulu yakin pada mereka.

Sebaliknya, keraguan yang terus-menerus diterima sering membuat seseorang berhenti bahkan sebelum mencoba.

Maxwell mengingatkan bahwa kepercayaan bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan seseorang.

Kepercayaan adalah keberanian melihat kemungkinan terbaik yang masih tersembunyi, lalu memberi ruang agar kemungkinan itu perlahan menjadi kenyataan.

Perhatian membuat seseorang merasa dihargai dan kepercayaan membuat seseorang berani bertumbuh.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Dua prinsip ini menjadi pengingat bahwa hubungan yang baik bukan hanya menghadirkan rasa nyaman, tetapi juga membantu setiap orang menemukan versi terbaik dari dirinya.

Meninggalkan Kenangan yang Bertahan Lebih Lama

Hubungan yang baik tidak hanya diukur dari seberapa lama kita mengenal seseorang, tetapi juga dari kesan yang kita tinggalkan setelah perjumpaan itu berakhir.

Gagasan inilah yang dibahas Maxwell melalui Memory Principle.

Setiap interaksi yang kita bangun hari ini berpotensi menjadi kenangan yang terus hidup dalam ingatan orang lain.

Prinsip tersebut terasa begitu kuat ketika melihat kembali perjalanan Himmel.

Selama bertahun-tahun, keinginannya membangun patung di berbagai kota sering dianggap sebagai bentuk rasa percaya diri yang berlebihan.

Alasan di balik keputusan itu baru dipahami jauh setelah perjalanannya berakhir.

Himmel menyadari bahwa usianya sebagai manusia akan jauh lebih singkat dibandingkan Frieren.

Sepuluh tahun yang mereka lalui bersama mungkin terasa panjang bagi manusia, tetapi hanya menjadi bagian kecil dari kehidupan seorang elf.

Patung-patung itu bukan sekadar penanda bahwa seorang pahlawan pernah singgah di tempat tersebut.

Himmel ingin meninggalkan jejak yang dapat membawa Frieren kembali mengingat perjalanan mereka ketika semua teman seperjalanannya telah tiada.

Melalui pembahasan ini, Maxwell mengingatkan bahwa kenangan tidak selalu lahir dari peristiwa besar.

Kenangan justru lebih sering tumbuh dari perhatian yang diberikan secara tulus dan berulang.

Senyuman yang kita hadirkan, waktu yang kita luangkan, atau kesediaan menemani seseorang di masa sulit bisa menjadi hal yang terus mereka ingat, bahkan ketika nama kita perlahan mulai terlupakan.

Kebaikan yang Memantul Kembali

Setiap orang ingin merasa kehadirannya berdampak, dan kebaikan yang kita bagikan kepada orang lain tidak pernah benar-benar terbuang sia-sia.

Dalam buku Winning with People, Maxwell menjelaskan hal ini melalui Boomerang Principle, yaitu pemahaman bahwa ketika kita membantu dan mengangkat orang lain, kita sebenarnya sedang membantu diri kita sendiri.

Kebaikan, empati, dan kehangatan yang kita lemparkan ke luar akan selalu memantul kembali dan memperkaya jiwa kita di masa depan.

Prinsip bumerang ini terlihat begitu indah dalam jejak hidup Himmel.

Saat masih kecil dan tersesat di hutan, Himmel pernah ditolong oleh Frieren melalui sihir kebun bunga yang sederhana.

Rasa bahagia yang Himmel rasakan hari itu memantul kembali ketika Himmel dewasa mengajak Frieren bergabung dalam kelompok pahlawan.

Tidak berhenti di situ, setiap pertolongan kecil yang Himmel lemparkan kepada warga desa di sepanjang benua juga terus memantul kembali saat keturunan dari orang-orang yang dulu diselamatkan Himmel kini menjadi pihak yang selalu menyambut dan mempermudah langkah Frieren dalam melanjutkan perjalanan.

Himmel membuktikan bahwa membantu orang lain bukanlah pengorbanan yang merugikan.

Kebiasaan mengulurkan tangan sering kali terasa berat ketika kita terus memikirkan hitung-hitungan untung-rugi.

Padahal, seperti prinsip bumerang, kehangatan yang kita berikan kepada orang lain pada akhirnya akan menjadi kebaikan yang kembali memeluk kita atau orang-orang yang kita cintai di saat yang paling dibutuhkan.

Ketulusan yang Menjadi Inti Sebuah Hubungan

Di bagian akhir bukunya, Maxwell mengingatkan bahwa hubungan yang bertahan lama tidak lahir dari perhitungan untung dan rugi.

Hubungan tumbuh ketika seseorang menikmati proses berjalan bersama, memberi perhatian dengan tulus, dan menghadirkan nilai bagi kehidupan orang lain.

Karena itu, perhatian, kepercayaan, dan apresiasi yang telah dibahas pada bagian-bagian sebelumnya tidak berhenti sebagai tindakan baik semata.

Semuanya menjadi fondasi yang membuat sebuah hubungan mampu bertahan.

Ketulusan seperti itulah yang tercermin dalam cara Himmel mencintai Frieren.

Ia tidak pernah memaksa Frieren memahami perasaannya saat itu juga.

Himmel mengetahui bahwa manusia dan elf memiliki cara yang berbeda dalam memandang waktu.

Ia memilih tetap menunjukkan perhatian melalui tindakan-tindakan sederhana tanpa menjadikan perasaannya sebagai beban yang harus segera dijawab.

Pilihan tersebut justru menjadi alasan mengapa kehadiran Himmel terus hidup dalam perjalanan Frieren.

Setelah Himmel tiada, Frieren mulai memahami bahwa setiap perhatian kecil yang pernah ia terima ternyata menyimpan makna yang jauh lebih besar.

Pesan serupa menjadi penutup yang indah dalam buku Winning with People.

Pada halaman 307, Maxwell menulis, "Dalam hubungan yang hebat, sukacita dari kebersamaan itu sudah cukup."

Kalimat ini terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu dalam.

Hubungan yang sehat tidak selalu ditandai oleh banyaknya keuntungan yang kita peroleh, melainkan oleh rasa syukur karena pernah bertumbuh bersama orang-orang yang dihadirkan dalam kehidupan kita.

Mengapa Buku Winning with People Layak Dibaca?

Winning with People tidak menawarkan cara agar kita menjadi pribadi yang dikagumi semua orang.

Buku ini mengajak kita belajar menjadi seseorang yang mampu menghargai orang lain dengan lebih tulus.

Himmel memberi gambaran tentang seperti apa prinsip-prinsip itu ketika dijalankan, sementara Maxwel dalam buku ini membantu kita memahami bagaimana dan mengapa tindakan-tindakan sederhana tersebut mampu meninggalkan kesan yang begitu mendalam.

Mungkin kita tidak akan dikenang sebagai pahlawan seperti Himmel.

Namun, setiap hari selalu memberi kesempatan untuk menjadi seseorang yang membuat orang lain merasa didengar, dipercaya, dan dihargai.

Jika ada satu buku yang layak dibaca untuk memulai perjalanan itu, buku Winning with People adalah salah satunya.

Bukan karena buku ini mengajarkan cara memenangkan hati orang lain, melainkan karena ia mengingatkan bahwa hubungan yang baik memang lebih dari sekadar pemanis kehidupan.

Seperti yang ditulis Maxwell, hubungan adalah inti kehidupan itu sendiri.

Buku Winning with People bisa kamu dapatkan di toko buku Gramedia terdekat, Gramedia.com, dan Gramedia Digital!

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau