Wisata Sejarah di Seoul Seoul menyimpan banyak destinasi bersejarah, mulai dari istana kerajaan Dinasti Joseon, Desa Hanok tradisional, hingga bekas penjara kolonial yang menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Korea.
Dari tempat-tempat tersebut, kamu bisa melihat bagaimana perjalanan sejarah Korea membentuk identitasnya hingga sekarang.
Berikut beberapa destinasi bersejarah di Seoul yang layak masuk ke dalam daftar kunjunganmu.
Kalau kamu ingin menyusuri jejak sejarah Korea Selatan, delapan destinasi berikut layak masuk ke dalam itinerary selama berada di Seoul.
Istana Gyeongbokgung merupakan istana utama Dinasti Joseon yang dibangun pada tahun 1395 atas perintah Raja Taejo, pendiri dinasti tersebut.
Hingga kini, kompleks istana ini masih menjadi salah satu simbol sejarah dan budaya Korea Selatan.
Di dalam kawasan istana, pengunjung dapat melihat Geunjeongjeon, aula utama yang digunakan raja untuk menggelar upacara kenegaraan, serta Gyeonghoeru, sebuah tempat perjamuan megah yang berdiri di atas kolam dan dikenal sebagai salah satu mahakarya arsitektur pada masa Dinasti Joseon.
Kalau datang pada waktu yang tepat, sempatkan menyaksikan Upacara Pergantian Pengawal Kerajaan (Sumunjang) yang berlangsung di depan Gerbang Heungnyemun.
Berdasarkan jadwal resmi Korea Heritage Foundation, upacara ini rutin digelar setiap hari pada pukul 10.00 dan 14.00 dengan durasi sekitar 20 menit.
Berbeda dengan Gyeongbokgung yang megah dan simetris, Istana Changdeokgung dirancang mengikuti kontur alam di sekitarnya.
Keunikan tersebut menjadi salah satu alasan UNESCO menetapkannya sebagai World Heritage Site pada 1997.
Arsitektur istana ini menyatu secara harmonis dengan lanskap pegunungan dan hutan di belakangnya.
Daya tarik utamanya adalah Secret Garden (Huwon) yang dipenuhi paviliun, kolam, dan pepohonan tua.
Karena jumlah pengunjung dibatasi, tiket tur Huwon sebaiknya dipesan jauh-jauh hari melalui situs resmi pengelola agar tidak kehabisan kuota.
Bukchon Hanok Village merupakan kawasan permukiman tradisional yang berada di antara Istana Gyeongbokgung dan Istana Changdeokgung.
Pada masa Joseon, daerah ini menjadi tempat tinggal para pejabat tinggi, bangsawan, dan keluarga kerajaan.
Meski kini menjadi destinasi wisata populer, Bukchon tetap dihuni oleh warga setempat.
Oleh karena itu, pengunjung diimbau menjaga ketenangan, tidak membuat keributan, dan menghormati privasi penduduk selama berkeliling kawasan tersebut.
Jongmyo merupakan kuil leluhur kerajaan Joseon yang dibangun untuk menghormati raja dan ratu terdahulu.
Kompleks kuil ini diakui sebagai UNESCO World Heritage Site, sedangkan ritual leluhurnya, Jongmyo Jerye, beserta musik pengiring Jongmyo Jeryeak, juga diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Suasana Jongmyo jauh lebih tenang dibandingkan istana-istana lainnya.
Tata letak bangunan yang sederhana justru memperkuat nilai Konfusianisme yang menjadi dasar pelaksanaan ritual penghormatan leluhur kerajaan Joseon.
Jika ingin memahami perjuangan rakyat Korea pada masa penjajahan Jepang, Museum Penjara Seodaemun menjadi salah satu destinasi yang paling berkesan.
Penjara ini dibangun pada tahun 1908 dan kemudian digunakan pemerintah kolonial Jepang untuk menahan, menginterogasi, hingga menghukum para pejuang kemerdekaan Korea.
Bekas penjara kini diubah menjadi museum sejarah yang masih mempertahankan sel tahanan, ruang interogasi, ruang eksekusi, dan lorong yang dahulu digunakan untuk mengangkut jenazah para tahanan.
Tempat ini dibuka sebagai museum pada tahun 1998 untuk mengenang para pejuang kemerdekaan Korea.
Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Ryu Gwan-sun, aktivis muda Gerakan 1 Maret 1919.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Ia dipenjara di Seodaemun setelah memimpin demonstrasi anti-kolonial dan wafat di sana akibat penyiksaan pada usia 17 tahun.
Hanyangdoseong merupakan benteng kota yang dibangun pada akhir abad ke-14 pada masa Raja Taejo untuk melindungi ibu kota Dinasti Joseon.
Tembok ini membentang mengikuti empat gunung utama Seoul, yaitu Bugaksan, Naksan, Namsan, dan Inwangsan.
Saat ini, sebagian besar jalur benteng dapat dijelajahi melalui rute trekking dengan panorama kota Seoul dari berbagai sudut.
Selain menikmati pemandangan, kamu juga bisa melihat empat gerbang utama benteng, termasuk Sungnyemun atau Namdaemun, salah satu gerbang bersejarah paling terkenal di Korea Selatan.
National Museum of Korea menjadi museum terbesar di Korea Selatan dengan koleksi yang merangkum perjalanan sejarah bangsa Korea dari zaman prasejarah hingga Dinasti Joseon.
Museum ini juga dikenal sebagai salah satu museum nasional terbesar di Asia.
Beberapa koleksi yang paling terkenal antara lain mahkota emas Kerajaan Silla, berbagai keramik celadon dari Dinasti Goryeo, hingga sejumlah Harta Nasional Korea.
Koleksi permanennya dapat dinikmati secara gratis, sedangkan pameran khusus biasanya memerlukan tiket terpisah.
Selain ruang pamer modern, museum ini juga dilengkapi fasilitas berstandar internasional seperti taman, area edukasi, auditorium, restoran, dan ruang istirahat sehingga nyaman dikunjungi selama beberapa jam.
Jika Bukchon Hanok Village masih menjadi kawasan permukiman warga, Namsangol Hanok Village menawarkan pengalaman yang lebih tenang karena berfungsi sebagai kawasan budaya dan museum terbuka.
Di dalamnya terdapat lima rumah hanok yang telah direlokasi dan direstorasi dari berbagai wilayah Seoul.
Kelima rumah tersebut mewakili lapisan masyarakat yang berbeda, mulai dari keluarga bangsawan hingga kalangan pejabat dan rakyat biasa pada era Joseon.
Selain menjelajahi rumah-rumah tradisional, kamu juga dapat mengikuti berbagai aktivitas budaya, seperti mencoba permainan tradisional Korea, mengenakan hanbok, atau mengikuti lokakarya kerajinan yang sering diadakan di kawasan ini.
Kalau ingin berhemat sekaligus merasakan suasana Korea tempo dulu, kamu bisa menyewa hanbok (pakaian tradisional Korea).
Berdasarkan aturan resmi Korea Heritage Service, pengunjung yang mengenakan hanbok sesuai ketentuan berhak memperoleh tiket masuk gratis ke istana-istana kerajaan seperti Gyeongbokgung, Changdeokgung, Changgyeonggung, Deoksugung, hingga Jongmyo.
Pastikan hanbok yang dikenakan lengkap, yaitu terdiri atas atasan (jeogori) dan bawahan berupa rok (chima) atau celana (baji).
Hanbok yang dipadukan dengan pakaian kasual, seperti jeans atau kaus, tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan fasilitas ini.
Jika berencana mengunjungi beberapa situs bersejarah sekaligus, kamu bisa membeli Royal Palace Integrated Ticket seharga 10.000 KRW.
Tiket ini berlaku selama 3 bulan sejak tanggal pembelian dan dapat digunakan untuk satu kali masuk ke Gyeongbokgung, Changdeokgung, Changgyeonggung, Deoksugung, serta Jongmyo.
Tiket ini membuat lebih hemat dibanding membeli tiket satuan.
Kalau rencana perjalananmu mencakup banyak objek wisata di Seoul, Discover Seoul Pass juga layak dipertimbangkan.
Selain memberikan akses ke berbagai destinasi populer, kartu ini menawarkan beragam potongan harga untuk atraksi wisata, transportasi, dan layanan wisata lainnya.
Itulah beberapa rekomendasi tempat wisata sejarah di Seoul yang dapat kamu kunjungi untuk mengenal lebih dekat sejarah dan budaya Korea Selatan.
Kalau ingin menjelajahi destinasi wisata lain di luar Seoul, kamu bisa mengunjungi Incheon, Nami Island, Jinhae, dan berbagai kota menarik lainnya.
Untuk membantu merencanakan perjalanan, kamu dapat membaca buku Panduan Wisata Korea: Seoul, Nami Island, dan Jinhae.
Buku ini memuat informasi mengenai berbagai destinasi wisata, tips perjalanan menuju tempat wisata, hingga panduan praktis yang dapat menjadi bekal sebelum berlibur ke Korea Selatan.
Kamu bisa dapatkan buku ini dengan mudah hanya di Gramedia Digital.