Tokoh Kemerdekaan Korea Selatan Gerakan kemerdekaan Korea tidak hanya digerakkan oleh pejuang bersenjata, tetapi juga oleh pemimpin politik, diplomat, aktivis massa, pendidik, dan tokoh pers.
Perjuangan tersebut berlangsung melalui berbagai jalur, baik di dalam negeri maupun di luar Korea.
Setelah Jepang menganeksasi Korea pada tahun 1910, gerakan kemerdekaan terus berkembang hingga Gerakan 1 Maret 1919 dan pembentukan Pemerintahan Sementara Republik Korea di Shanghai pada tahun yang sama.
Lalu, siapa saja tokoh yang paling berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Korea?
Perjuangan kemerdekaan Korea berlangsung selama puluhan tahun, sejak Jepang secara resmi menganeksasi Korea pada tahun 1910 hingga berakhirnya kekuasaan kolonial Jepang pada tahun 1945.
Perlawanan itu berkembang dari gerakan rakyat di dalam negeri menjadi perjuangan diplomatik dan bersenjata yang melibatkan organisasi Korea di luar negeri.
Titik penting berikutnya terjadi pada 1 Maret 1919, ketika Gerakan 1 Maret menyebar sebagai aksi protes kemerdekaan di berbagai wilayah Korea.
Gerakan massa ini kemudian mendorong pembentukan Pemerintahan Sementara Republik Korea di Shanghai pada April 1919, yang menjadi salah satu pusat perjuangan kemerdekaan Korea di luar negeri selama masa penjajahan.
Pemerintahan Sementara tersebut bertahan hingga tahun 1945 dan menjalankan berbagai kegiatan, mulai dari diplomasi dan jaringan komunikasi hingga perjuangan bersenjata.
Pada tahun 1940, pemerintahan ini juga membentuk Korean Liberation Army (Kwangbokgun) sebagai bagian dari upaya melanjutkan perjuangan melawan Jepang pada masa Perang Dunia II.
Hingga akhirnya, pada 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu dan Korea terbebas dari kekuasaan kolonial Jepang.
Peristiwa ini dikenal sebagai Gwangbok, tetapi pembebasan tersebut tidak langsung menghasilkan negara Korea yang bersatu karena wilayah semenanjung kemudian berada di bawah pendudukan militer Amerika Serikat di selatan dan Uni Soviet di utara.
Dengan demikian, sejarah kemerdekaan Korea tidak berhenti pada 15 Agustus 1945.
Hari tersebut menandai berakhirnya penjajahan Jepang, sementara persoalan pembentukan pemerintahan dan masa depan Korea justru memasuki babak baru yang akhirnya berujung pada pembentukan dua negara di Semenanjung Korea.
Tokoh kemerdekaan Korea yang paling berpengaruh mencakup Kim Koo, Yu Gwan-sun, An Jung-geun, Syngman Rhee, Yun Bong-gil, Ahn Chang-ho, Han Yong-un, dan Seo Jae-pil.
Mereka menempuh jalur perjuangan yang berbeda, mulai dari gerakan politik dan bersenjata hingga diplomasi, pendidikan, pers, serta gerakan massa.
Berikut ringkasan peran kedelapan tokoh tersebut dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Korea:
Kim Koo merupakan salah satu pemimpin utama gerakan kemerdekaan Korea dan tokoh penting dalam Pemerintahan Sementara Republik Korea.
Ia aktif dalam perjuangan melawan kolonialisme Jepang sejak awal abad ke-20 dan kemudian menjalankan aktivitas gerakan kemerdekaan dari luar Korea.
Di Shanghai, Kim Koo juga berperan penting dalam Korean Patriotic Organization (Han’in Aegukdan).
Organisasi ini mendukung aksi-aksi perlawanan terhadap Jepang, termasuk aksi Yun Bong-gil di Hongkou Park pada tahun 1932 yang kemudian membuat nama Kim Koo semakin dikenal dalam gerakan kemerdekaan internasional.
Pada masa Perang Dunia II, perjuangan bersenjata Pemerintahan Sementara semakin terorganisasi dengan pembentukan Korean Liberation Army (Kwangbokgun) pada 1940.
Kim Koo kemudian menjadi salah satu tokoh penting yang terus memperjuangkan kemerdekaan Korea sekaligus gagasan tentang Korea yang merdeka dan bersatu.
Yu Gwan-sun menjadi salah satu simbol paling terkenal dari Gerakan 1 Maret 1919.
Saat masih berusia 16 tahun, ia ikut dalam aksi demonstrasi kemerdekaan dan kemudian memimpin gerakan di wilayah kampung halamannya, termasuk demonstrasi besar di Pasar Aunae.
Aktivitas tersebut membuatnya ditangkap oleh aparat kolonial Jepang.
Ia kemudian dipenjara dan mengalami penyiksaan, tetapi tetap mempertahankan keyakinannya terhadap kemerdekaan Korea hingga meninggal di Penjara Seodaemun pada 28 September 1920.
Kisahnya kemudian dikenang sebagai simbol keberanian generasi muda dan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Korea.
Jika kamu bertanya siapa salah satu tokoh Korea yang paling dikenal karena aksi perlawanan bersenjata terhadap Jepang, nama An Jung-geun hampir selalu masuk dalam pembahasan.
Ia dikenal karena menembak Ito Hirobumi, mantan Perdana Menteri Jepang dan mantan Resident-General Jepang di Korea, di Stasiun Harbin pada 26 Oktober 1909.
An Jung-geun ditangkap setelah aksi tersebut dan kemudian dijatuhi hukuman mati.
Ia dieksekusi di Lüshun pada tahun 1910, tetapi pemikirannya tentang perdamaian dan kerja sama negara-negara Asia Timur membuat warisannya tidak hanya dipandang sebagai aksi perlawanan bersenjata, tetapi juga sebagai bagian dari gagasan politik yang lebih luas.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Syngman Rhee menempuh jalur perjuangan yang berbeda dari tokoh seperti An Jung-geun.
Ia banyak beraktivitas di luar Korea dan berusaha mendapatkan dukungan internasional, terutama melalui jaringan politik dan diplomasi di Amerika Serikat.
Rhee juga pernah menjadi tokoh dalam Pemerintahan Sementara Republik Korea.
Setelah Perang Dunia II dan berakhirnya pemerintahan kolonial Jepang, perjalanan politiknya berlanjut hingga ia menjadi presiden pertama Republik Korea pada tahun 1948.
Oleh karena itu, Syngman Rhee memiliki posisi yang unik dalam sejarah Korea.
Ia merupakan tokoh gerakan kemerdekaan sebelum tahun 1945, tetapi kemudian juga menjadi figur politik utama dalam pembentukan negara Korea Selatan setelah kemerdekaan.
Yun Bong-gil dikenal karena aksi perlawanan yang dilakukannya di Hongkou Park, Shanghai, pada 29 April 1932.
Saat itu, Jepang mengadakan upacara yang berkaitan dengan perayaan ulang tahun Kaisar Jepang sekaligus kemenangan militernya di Shanghai.
Yun Bong-gil melemparkan bom ke arah panggung utama yang dihadiri sejumlah pejabat militer dan pemerintahan Jepang.
Arsip sejarah Korea mencatat sejumlah pejabat Jepang tewas atau mengalami luka dalam serangan tersebut, termasuk Jenderal Shirakawa Yoshinori dan Menteri Shigemitsu Mamoru yang mengalami cedera.
Aksi tersebut membuat perjuangan kemerdekaan Korea mendapat perhatian luas, termasuk dari masyarakat Tiongkok.
Setelah ditangkap, Yun Bong-gil dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi di Jepang pada Desember 1932.
Ahn Chang-ho memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan, organisasi, dan pembentukan karakter masyarakat.
Ia meyakini bahwa kemerdekaan membutuhkan masyarakat yang berpendidikan, memiliki kesadaran nasional, dan mampu membangun kekuatan sendiri.
Ia menjadi salah satu pendiri Shinminhoe, organisasi nasionalis yang berupaya memperkuat pendidikan dan kesadaran kebangsaan Korea.
Ahn juga berhubungan dengan gerakan pendidikan, termasuk Daeseong School, yang bertujuan membentuk generasi muda yang terdidik dan memiliki semangat kebangsaan.
Jalur perjuangan Ahn menunjukkan bahwa gerakan kemerdekaan Korea tidak hanya dilakukan melalui aksi bersenjata.
Pendidikan dan pembangunan kapasitas masyarakat juga dianggap penting untuk mempersiapkan Korea menjadi negara yang merdeka.
Han Yong-un merupakan tokoh yang menggabungkan aktivisme kemerdekaan, kehidupan keagamaan, dan sastra.
Ia menjadi salah satu dari 33 penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Korea yang berkaitan dengan Gerakan 1 Maret 1919.
Selain aktivitas politik, Han Yong-un dikenal sebagai penyair dan penulis.
Karya-karyanya sering dikaitkan dengan gagasan kebebasan, nasionalisme, dan penolakan terhadap penjajahan sehingga perjuangannya tidak hanya berlangsung melalui gerakan politik, tetapi juga melalui kebudayaan dan sastra.
Seo Jae-pil merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan pers dan gerakan reformasi Korea.
Pada 1896, ia berperan dalam pendirian Tongnip Sinmun atau The Independent, surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Korea dan Inggris.
Surat kabar tersebut menyuarakan gagasan reformasi, pendidikan, dan kesadaran nasional.
Penggunaan bahasa Korea dalam publikasi juga membantu memperluas penyebaran gagasan kepada masyarakat, sementara edisi berbahasa Inggris menjadi sarana untuk memperkenalkan persoalan Korea kepada pembaca internasional.
Peran Seo Jae-pil memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Korea telah menggunakan berbagai jalur jauh sebelum tahun 1945.
Pers, pendidikan, diplomasi, gerakan massa, dan perlawanan bersenjata semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju berakhirnya kekuasaan kolonial Jepang.
Untuk memahami sejarah kemerdekaan Korea secara lebih utuh, kamu juga perlu melihat apa yang terjadi setelah penjajahan Jepang berakhir.
Kemerdekaan pada tahun 1945 tidak langsung menghapus konflik di Semenanjung Korea, tetapi justru menjadi awal dari ketegangan politik yang kemudian berkembang menjadi Perang Korea.
Buku Perang yang Tidak Boleh Dimenangkan: Konflik Korea karya Nino Oktorino membahas perjalanan konflik tersebut, mulai dari ketegangan di Garis Paralel ke-38, invasi Korea Utara, keterlibatan pasukan PBB yang dipimpin Amerika Serikat, hingga intervensi Tiongkok.
Buku ini juga membantu kamu memahami mengapa Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 1953 tanpa perjanjian damai resmi sehingga pembelahan Korea terus bertahan hingga sekarang.
Jika kamu ingin mendalami sejarah di balik terbentuknya Korea Utara dan Korea Selatan serta memahami mengapa konflik tersebut menjadi salah satu titik panas Perang Dingin, dapatkan segera bukunya hanya di Gramedia Digital.