Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 Tokoh Perlawanan terhadap Belanda dan Perjuangannya dalam Sejarah Indonesia

Kompas.com, 12 Agustus 2026, 13:00 WIB
Tokoh Perlawanan terhadap Belanda  Sumber Gambar: Kompas.com Tokoh Perlawanan terhadap Belanda 
Rujukan artikel ini:
Konflik Bersejarah - Runtuhnya Hindia…
Pengarang: Nino Oktorino
Penulis Nadia
|
Editor Novia Putri Anindhita

Penjajahan Belanda di Indonesia berlangsung selama ratusan tahun dan membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat Nusantara.

Monopoli perdagangan, pajak yang memberatkan, kerja paksa, serta campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan-kerajaan lokal menimbulkan penderitaan bagi rakyat.

Kondisi tersebut memicu berbagai bentuk perlawanan di banyak daerah, baik yang dipimpin oleh raja, bangsawan, ulama, maupun rakyat biasa.

Perlawanan terhadap Belanda tidak terjadi hanya di satu wilayah, melainkan menyebar ke seluruh Nusantara.

Meskipun banyak perjuangan yang akhirnya berhasil dipadamkan, semangat juang para tokoh tersebut menjadi inspirasi penting bagi lahirnya nasionalisme Indonesia dan perjuangan menuju kemerdekaan.

Siapa saja tokoh-tokoh perlawanan terhadap Belanda, latar belakang perjuangan mereka, strategi yang digunakan, serta pengaruhnya terhadap sejarah Indonesia? Simak artikel berikut ini.

Latar Belakang Perlawanan terhadap Belanda

Beberapa faktor utama yang menyebabkan munculnya perlawanan terhadap Belanda antara lain:

1. Monopoli Perdagangan

Monopoli perdagangan yang dilakukan VOC memaksa rakyat untuk menjual hasil bumi hanya kepada Belanda dengan harga yang sangat rendah.

Hal ini menyebabkan petani dan pedagang lokal mengalami kerugian.

2. Campur Tangan Politik

Belanda sering ikut menentukan pergantian raja atau mengatur kebijakan kerajaan.

Hal ini dilakukan demi kepentingan kolonial.

3. Pajak dan Kerja Paksa

Belanda memberlakukan berbagai pungutan serta kewajiban kerja paksa yang membuat kehidupan rakyat semakin berat.

4. Perampasan Wilayah

Ekspansi wilayah yang dilakukan oleh Belanda mengancam kekuasaan kerajaan-kerajaan lokal dan memicu perlawanan bersenjata.

Tokoh Perlawanan terhadap Belanda

1. Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin merupakan raja Kerajaan Gowa-Tallo di Makassar yang memimpin perlawanan terhadap VOC pada abad ke-17.

Karena keberaniannya, ia mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur.

Belanda berusaha menguasai perdagangan di Makassar karena wilayah tersebut merupakan pelabuhan penting yang menjadi pusat perdagangan bebas di Indonesia bagian timur.

Sultan Hasanuddin menolak monopoli VOC dan memilih mempertahankan kebebasan perdagangan.

Perang antara Gowa dan VOC berlangsung sengit hingga akhirnya Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667.

Meskipun demikian, perjuangannya dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap monopoli Belanda.

2. Pattimura

Pattimura memiliki nama asli Thomas Matulessy dan memimpin perlawanan rakyat Maluku pada tahun 1817.

Penyebab utama perlawanan ini adalah kebijakan Belanda yang memberatkan rakyat, termasuk pajak tinggi dan monopoli perdagangan.

Pattimura berhasil memimpin penyerbuan Benteng Duurstede di Pulau Saparua dan sempat menguasainya.

Walaupun akhirnya ditangkap dan dihukum mati, perjuangan Pattimura menunjukkan semangat rakyat Maluku dalam mempertahankan hak dan kebebasan mereka dari penjajahan Belanda.

3. Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah pemimpin Perang Jawa (1825–1830), salah satu perang terbesar yang pernah dihadapi Belanda di Indonesia.

Penyebab perang antara lain:

  • Campur tangan Belanda dalam urusan Keraton Yogyakarta.
  • Pajak yang memberatkan rakyat.
  • Pemasangan patok jalan yang melewati makam leluhur Diponegoro tanpa izin.

Diponegoro menggunakan strategi perang gerilya yang sangat merepotkan Belanda.

Perang ini menguras keuangan Belanda dan menimbulkan korban yang besar di kedua pihak.

Pada tahun 1830, Diponegoro ditangkap melalui tipu muslihat saat menghadiri perundingan di Magelang dan kemudian diasingkan hingga wafat di Makassar.

4. Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol memimpin Perang Padri di Sumatra Barat.

Awalnya perang terjadi antara kaum Padri dan kaum Adat, tetapi kemudian berkembang menjadi perlawanan terhadap Belanda yang ikut campur dalam konflik tersebut.

Ia membangun Benteng Bonjol sebagai pusat pertahanan dan melakukan perlawanan selama bertahun-tahun.

Setelah melalui pengepungan panjang, Tuanku Imam Bonjol akhirnya ditangkap dan diasingkan oleh Belanda.

Perjuangannya menunjukkan peran penting ulama dalam memimpin perlawanan terhadap penjajah.

5. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien merupakan salah satu pahlawan perempuan paling terkenal dalam sejarah Indonesia.

Ia melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Umar, dalam Perang Aceh setelah suaminya gugur.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Meskipun kondisi fisiknya semakin lemah, Cut Nyak Dien tetap memimpin perjuangan gerilya di pedalaman Aceh.

Ia akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.

Keberanian dan keteguhannya menjadikan Cut Nyak Dien simbol perjuangan perempuan Indonesia melawan penjajahan.

6. Teuku Umar

Teuku Umar dikenal karena strategi perjuangannya yang cerdik.

Ia pernah bekerja sama dengan Belanda untuk memperoleh senjata dan perlengkapan militer, kemudian kembali bergabung dengan pejuang Aceh dan menggunakan perlengkapan tersebut untuk melawan Belanda.

Taktik ini membuat Belanda mengalami kerugian besar dan menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan melalui perang terbuka, tetapi juga melalui strategi yang cerdas.

7. Sultan Agung

Sultan Agung adalah raja Kerajaan Mataram yang berusaha mengusir VOC dari Batavia.

Ia melancarkan dua serangan besar pada tahun 1628 dan 1629.

Meskipun serangan tersebut belum berhasil merebut Batavia, upaya Sultan Agung menunjukkan tekad kuat kerajaan-kerajaan Nusantara untuk menentang kekuasaan VOC sejak awal kedatangannya di Indonesia.

8. Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII memimpin perlawanan rakyat Batak di wilayah Tapanuli, Sumatra Utara.

Ia menolak ekspansi Belanda yang mengancam kedaulatan wilayah Batak dan memimpin perjuangan selama bertahun-tahun bersama rakyatnya.

Pada tahun 1907, Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran melawan Belanda dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Strategi Perlawanan terhadap Belanda

Tokoh-tokoh perlawanan menggunakan berbagai strategi, antara lain:

1. Perang Terbuka

Dilakukan oleh kerajaan yang memiliki kekuatan militer cukup besar, seperti Gowa dan Mataram.

2. Perang Gerilya

Digunakan oleh Pangeran Diponegoro dan pejuang Aceh untuk memanfaatkan pengetahuan tentang medan dan dukungan rakyat.

3. Benteng Pertahanan

Benteng Bonjol menjadi contoh bagaimana pertahanan wilayah digunakan untuk menghadapi serangan Belanda.

4. Diplomasi dan Perjanjian

Beberapa tokoh terpaksa melakukan perundingan dengan Belanda meskipun sering kali hasilnya merugikan pihak Indonesia.

5. Penyusupan dan Taktik Tipu Daya

Strategi Teuku Umar menunjukkan kecerdikan dalam memanfaatkan kelemahan lawan.

Dampak Perlawanan terhadap Belanda

Walaupun sebagian besar perlawanan berhasil dipadamkan, perjuangan para tokoh tersebut memberikan dampak penting bagi sejarah Indonesia.

1. Menumbuhkan Semangat Persatuan

Perlawanan di berbagai daerah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memiliki keinginan yang sama untuk bebas dari penjajahan.

2. Menginspirasi Generasi Berikutnya

Semangat juang para tokoh menjadi inspirasi bagi organisasi pergerakan nasional pada awal abad ke-20.

3. Membebani Keuangan Belanda

Perang-perang besar seperti Perang Jawa dan Perang Aceh menghabiskan biaya yang sangat besar bagi pemerintah kolonial.

4. Menjadi Dasar Nasionalisme Indonesia

Kesadaran bahwa penjajahan harus dilawan akhirnya berkembang menjadi gerakan nasional yang lebih terorganisasi.

Nilai Keteladanan dari Tokoh Perlawanan

Ada beberapa nilai penting yang dapat dipelajari dari perjuangan para tokoh perlawanan.

1. Keberanian

Mereka berani menghadapi kekuatan kolonial yang jauh lebih besar dan memiliki persenjataan modern.

2. Pantang Menyerah

Banyak tokoh tetap berjuang meskipun mengalami kekalahan atau kehilangan keluarga dan wilayah kekuasaan.

3. Rela Berkorban

Sebagian besar pejuang rela kehilangan harta, kedudukan, bahkan nyawa demi mempertahankan tanah air.

4. Cinta Tanah Air

Perjuangan mereka dilandasi keinginan untuk menjaga kedaulatan dan martabat bangsa.

Tokoh-tokoh perlawanan terhadap Belanda di atas merupakan bagian penting dari perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Meskipun perjuangan mereka sering dilakukan secara terpisah di berbagai daerah, semangat yang mereka tunjukkan memiliki tujuan yang sama, yaitu mempertahankan kedaulatan dan menolak penindasan kolonial.

Sultan Hasanuddin, Pattimura, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Sultan Agung, dan Sisingamangaraja XII telah memberikan teladan tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air yang tetap relevan hingga sekarang.

Untuk memperdalam pemahaman tentang sejarah kolonial dan berbagai konflik yang mengakhiri kekuasaan Belanda di Indonesia, buku Konflik Bersejarah: Runtuhnya Hindia Belanda dapat menjadi bacaan yang sangat relevan.

Buku ini membahas dinamika politik, konflik militer, serta proses runtuhnya pemerintahan Hindia Belanda yang menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Dengan membaca buku ini, kamu bisa memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai hubungan antara perlawanan rakyat Indonesia dan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda.

Buku ini tersedia di Gramedia Digital sehingga dapat dibaca dengan mudah kapan saja dan di mana saja untuk menambah wawasan tentang sejarah perjuangan Indonesia.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau