Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 Bukti Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang Bersejarah

Kompas.com, 23 Januari 2026, 15:30 WIB
Bukti Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo  Sumber Gambar: indonesiakaya.com (Benteng Rotterdam) Bukti Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo 
Rujukan artikel ini:
Sejarah Peradaban Islam di Indonesia
Pengarang: Prof. Dr. H. J.…
Penulis Vadiyah
|
Editor Novia Putri Anindhita

Ketika membicarakan kerajaan besar di Nusantara, perhatian sering tertuju pada Majapahit atau Sriwijaya.

Padahal, di Indonesia timur pernah berdiri sebuah kekuatan maritim yang pengaruhnya menjangkau jalur perdagangan internasional dan disegani bangsa Eropa, yaitu Kerajaan Gowa Tallo.

Berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Makassar, Kerajaan Gowa Tallo tumbuh menjadi kerajaan Islam besar pada abad ke-16.

Kejayaannya tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga meninggalkan bukti peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang masih bisa kita lihat, kunjungi, dan pelajari hingga hari ini.

Berikut beberapa peninggalan Kerajaan Gowa Tallo.

Bukti Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo dalam Bentuk Benteng dan Sistem Pertahanan Maritim

Salah satu ciri kerajaan maritim yang kuat adalah sistem pertahanannya.

Kerajaan Gowa Tallo memahami betul bahwa penguasaan laut harus dibarengi dengan benteng yang kokoh dan strategis.

Hal ini tercermin dari dua benteng utama yang hingga kini masih menjadi saksi sejarah penting.

1. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu adalah pusat kekuasaan Kerajaan Gowa Tallo.

Benteng ini berfungsi ganda sebagai pusat pemerintahan, pertahanan, sekaligus pusat perdagangan internasional.

Letaknya yang dekat dengan jalur pelayaran membuat kawasan ini dulu sangat hidup.

Pedagang dari Arab, India, Cina, hingga Eropa singgah dan bertransaksi di sini.

Dari Somba Opu, kerajaan mengatur kebijakan dagang bebas yang membuat Makassar berkembang pesat.

Struktur Benteng Somba Opu dibangun dari batu bata besar dan tanah liat dengan dinding tebal.

Di dalamnya terdapat istana raja, gudang perdagangan, dan permukiman bangsawan.

Meski kini hanya tersisa reruntuhan dan bagian yang direkonstruksi, keberadaan benteng ini tetap menjadi bukti nyata kejayaan politik dan ekonomi Kerajaan Gowa Tallo.

2. Benteng Rotterdam

Sementara itu, Benteng Rotterdam memiliki kisah yang lebih kompleks.

Awalnya bernama Benteng Ujung Pandang, benteng ini dibangun oleh Kerajaan Gowa sebagai pertahanan pesisir.

Setelah Perjanjian Bongaya tahun 1667, benteng ini diambil alih VOC dan difungsikan sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah hasil rampasan.

Selain fungsinya, benteng ini juga berganti nama menjadi Fort Rotterdam, sesuai dengan nama tempat kelahiran pemimpin Belanda saat itu.

Meski tampilannya berubah, fondasi dan sejarah awalnya tetap melekat sebagai bukti peninggalan Kerajaan Gowa Tallo.

Kini, Benteng Rotterdam menjadi salah satu ikon sejarah Makassar, lengkap dengan museum yang menyimpan berbagai artefak, naskah lontara, dan dokumentasi perjalanan panjang Gowa Tallo.

Bukti Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang Menunjukkan Islamisasi dan Identitas Budaya

Kejayaan Gowa Tallo tidak hanya diukur dari kekuatan militer dan perdagangan, tetapi juga dari perannya dalam penyebaran Islam di Indonesia timur.

Proses Islamisasi ini meninggalkan jejak yang kuat dan masih terjaga hingga sekarang.

1. Masjid Tua Katangka

Dibangun pada awal abad ke-17, masjid ini merupakan masjid tertua di Sulawesi Selatan.

Pada masanya, Masjid Katangka bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat dakwah dan pendidikan Islam.

Dari sinilah nilai-nilai Islam menyatu dengan kehidupan masyarakat Gowa dan membentuk identitas keagamaan yang kuat.

Secara arsitektur, Masjid Katangka tampil sederhana namun kokoh.

Dindingnya tebal, desainnya memadukan unsur Islam dan kearifan lokal.

Fakta bahwa masjid ini masih berdiri hingga kini menunjukkan keseriusan Kerajaan Gowa Tallo dalam membangun fondasi spiritual yang berkelanjutan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

2. Kompleks Makam Raja-Raja Gowa di Katangka

Di sini dimakamkan para raja dan sultan Gowa Tallo, termasuk Sultan Hasanuddin.

Makam-makam ini mencerminkan perpaduan budaya lokal dan nilai Islam, sekaligus menjadi ruang refleksi tentang kepemimpinan dan perjuangan melawan kolonialisme.

Bukti Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang Tercatat dalam Tulisan dan Artefak

Selain meninggalkan bangunan fisik yang masih bisa kita kunjungi hingga sekarang,

Kerajaan Gowa Tallo juga mewariskan peninggalan dalam bentuk tulisan dan artefak yang nilainya sangat besar bagi sejarah Nusantara.

Berikut beberapa bukti peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang tercatat dalam tulisan dan artefak, lengkap dengan peran pentingnya dalam perjalanan kerajaan ini.

1. Naskah Lontara Gowa Tallo

Naskah lontara merupakan peninggalan tertulis paling berharga dari Kerajaan Gowa Tallo.

Lontara berfungsi sebagai arsip kerajaan yang mencatat berbagai aspek kehidupan, mulai dari silsilah raja-raja, sistem pemerintahan, hukum adat, perjanjian politik, hingga peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi.

Ditulis menggunakan aksara Lontara Bugis-Makassar, naskah ini menunjukkan bahwa masyarakat Gowa Tallo memiliki tradisi literasi yang kuat dan terstruktur.

Keberadaan lontara membuat sejarah Gowa Tallo tidak hanya bertumpu pada cerita lisan, tetapi juga didukung oleh catatan tertulis yang sistematis.

Oleh karena itu, lontara menjadi sumber utama bagi sejarawan untuk merekonstruksi perjalanan Kerajaan Gowa Tallo secara lebih akurat.

2. Senjata Tradisional

Peninggalan senjata tradisional seperti badik, tombak, dan senjata tajam lainnya mencerminkan budaya keprajuritan masyarakat Gowa Tallo.

Badik memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar alat perang.

Bagi masyarakat Makassar, badik adalah simbol kehormatan, keberanian, dan jati diri.

Senjata-senjata ini digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari peperangan, pertahanan wilayah, hingga simbol status sosial.

Keberadaan senjata tradisional sebagai peninggalan Kerajaan Gowa Tallo memperlihatkan bahwa kekuatan militer kerajaan ini dibangun di atas nilai-nilai budaya yang kuat dan diwariskan secara turun-temurun.

3. Meriam dan Persenjataan Berat

Selain senjata tradisional, Kerajaan Gowa Tallo juga meninggalkan meriam dan persenjataan berat yang menjadi bukti kesiapan militernya sebagai kerajaan maritim besar.

Meriam-meriam ini dulu ditempatkan di benteng-benteng dan kawasan pelabuhan strategis untuk melindungi jalur perdagangan laut.

Keberadaan meriam menunjukkan bahwa Gowa Tallo memiliki teknologi pertahanan yang maju dan mampu bersaing dengan kekuatan Eropa, termasuk VOC.

Peninggalan ini sekaligus menegaskan bahwa Kerajaan Gowa Tallo tidak hanya mengandalkan keberanian prajurit, tetapi juga strategi dan teknologi dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya.

4. Sistem Perdagangan dan Pelabuhan

Meski tidak berwujud benda tunggal, sistem perdagangan dan pelabuhan merupakan salah satu peninggalan penting Kerajaan Gowa Tallo yang dampaknya sangat besar.

Pelabuhan Makassar pada masa itu dikenal menerapkan sistem perdagangan terbuka tanpa monopoli sehingga pedagang dari berbagai bangsa dapat berdagang dengan bebas.

Kebijakan ini menjadikan Makassar sebagai pusat ekonomi internasional di Indonesia timur.

Namun, sistem perdagangan bebas inilah yang kemudian memicu konflik dengan VOC yang ingin menerapkan monopoli perdagangan rempah-rempah.

Dari sini terlihat bahwa kekuatan ekonomi Gowa Tallo dibangun di atas prinsip keterbukaan dan kecerdasan dalam mengelola jalur perdagangan maritim.

Melihat bagaimana Kerajaan Gowa Tallo membangun kekuatannya lewat integrasi politik, ekonomi, militer, dan intelektual, kita jadi paham bahwa peradaban besar tidak lahir secara instan.

Untuk memahami konteks yang lebih luas tentang bagaimana peradaban Islam berkembang dan membentuk kerajaan-kerajaan di Nusantara, termasuk Gowa Tallo, membaca referensi yang komprehensif jadi langkah yang tepat.

Buku Sejarah Peradaban Islam di Indonesia bisa menjadi lanjutan bacaan yang tepat setelah kamu mengenal jejak Kerajaan Gowa Tallo lewat peninggalannya.

Buku ini mengajak kamu melihat perjalanan Islam secara lebih luas, seperti bagaimana awalnya datang ke Nusantara, lalu berkembang melalui kerajaan-kerajaan Islam, sampai akhirnya membentuk pola sosial, politik, dan kekuasaan di berbagai daerah.

Pembahasan dalam buku ini fokus pada proses dan perubahan yang terjadi sehingga kamu dapat dengan mudah melihat bagaimana Islam beradaptasi dengan budaya lokal dan ikut membentuk peradaban.

Ditulis dalam bahasa Indonesia, membuat buku ini lebih mudah untuk dipahami bagi yang kesulitan membaca literatur sejarah peradaban Islam dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Yuk, baca buku Sejarah Peradaban Islam di Indonesia sekarang hanya di Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau