Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukti Peninggalan Kerajaan Singasari: Jejak Nyata Peradaban Besar Nusantara

Kompas.com, 20 Januari 2026, 13:00 WIB
Bukti Peninggalan Kerajaan Singasari Sumber Gambar: Wikimedia/Anandajoti Bhikkhu   Bukti Peninggalan Kerajaan Singasari
Rujukan artikel ini:
Mengenal Candi-Candi Nusantara
Pengarang: Thomas Wendoris
Penulis Vadiyah
|
Editor Novia Putri Anindhita

Ketika membicarakan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, Kerajaan Singasari hampir selalu muncul sebagai salah satu titik penting dalam sejarah.

Bukan hanya karena perannya sebagai pendahulu Majapahit, tetapi juga karena bukti peninggalan Kerajaan Singasari yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini, nyata, berwujud, dan penuh cerita.

Berbeda dengan kisah sejarah yang hanya hidup di teks dan ingatan, peninggalan Singasari hadir dalam bentuk candi, arca, dan prasasti yang tersebar di Jawa Timur, terutama wilayah Malang dan sekitarnya.

Lewat peninggalan inilah kita dapat melihat bagaimana sebuah kerajaan dijalankan, bagaimana ajaran agama dipraktikkan, hingga bagaimana kekuasaan ditampilkan ke hadapan rakyat dan dunia luar.

Menariknya, peninggalan Kerajaan Singasari bukan sekadar sisa bangunan tua.

Setiap relief, pahatan, dan tulisan menyimpan lapisan makna, tentang ambisi, spiritualitas, konflik politik, dan cara manusia Nusantara abad ke-13 memaknai hidup dan kekuasaan.

Dari sini, Singasari terasa hidup, bukan sebagai nama dalam buku pelajaran, melainkan sebagai peradaban yang pernah benar-benar ada.

Bukti Peninggalan Kerajaan Singasari dan Maknanya bagi Sejarah Nusantara

Secara garis besar, peninggalan Singasari dapat dibaca sebagai cerminan tiga hal besar, yaitu agama, kekuasaan, dan visi politik.

Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan membentuk wajah peradaban Singasari.

Candi-candi Singasari menunjukkan bagaimana agama Hindu-Buddha, khususnya ajaran Siwa-Buddha dipraktikkan secara berdampingan.

Arca-arca raksasa memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan perlindungan simbolik ditampilkan ke ruang publik, sementara prasasti menjadi bukti tertulis bahwa kerajaan memiliki sistem pemerintahan dan administrasi yang terstruktur.

Peninggalan Singasari juga berfungsi sebagai jembatan sejarah.

Dengan kata lain, bukti peninggalan Kerajaan Singasari bukan hanya penting untuk mengenal Singasari itu sendiri, tetapi juga untuk memahami fondasi peradaban Nusantara yang lebih luas.

Jenis Bukti Peninggalan Kerajaan Singasari yang Masih Bisa Dilacak

1. Candi Singasari, Kidal, dan Jago

Candi merupakan peninggalan paling menonjol dari Kerajaan Singasari.

Namun, fungsinya jauh melampaui tempat ibadah.

Pada masa itu, candi juga menjadi tempat pendharmaan raja atau ruang sakral untuk memuliakan penguasa yang telah wafat.

Candi Singasari diyakini sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari.

Perpaduan unsur Hindu dan Buddha pada bangunannya mencerminkan ajaran Siwa-Buddha yang dianut sang raja.

Menariknya, candi ini tidak selesai dibangun, detailnya sering dikaitkan dengan runtuhnya Singasari akibat serangan Jayakatwang.

Berbeda dengan Candi Singasari, Candi Kidal didedikasikan untuk Raja Anusapati dan menyimpan kisah yang lebih kelam.

Relief Garudeya pada dindingnya sering dimaknai sebagai simbol pembebasan dan penebusan, sebuah refleksi dari intrik politik dan kekerasan yang mewarnai masa pemerintahannya.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sementara itu, Candi Jago (Jajaghu) menampilkan wajah Singasari yang lebih edukatif.

Relief-relief kisah moral seperti Kunjarakarna, Parthayajna, dan Tantri menunjukkan bahwa ajaran agama juga disampaikan sebagai pendidikan etika dan kebijaksanaan hidup.

2. Arca Dwarapala

Arca Dwarapala menjadi salah satu bukti peninggalan Kerajaan Singasari yang paling mencolok secara visual.

Arca raksasa ini dipercaya sebagai penjaga simbolis kawasan penting kerajaan.

Ukurannya yang monumental dan ekspresinya yang tegas bukan sekadar ornamen, melainkan pernyataan kekuasaan.

Arca ini menandai batas wilayah sakral sekaligus menegaskan wibawa kerajaan.

Di balik fungsinya, Arca Dwarapala juga menjadi bukti kemajuan seni pahat Singasari yang detail dan penuh karakter.

3. Prasasti Mula Malurung

Berbeda dengan candi dan arca yang menyampaikan makna lewat bentuk dan simbol, prasasti berbicara lewat rangkaian kata.

Prasasti Mula Malurung menjadi salah satu sumber tertulis paling penting untuk menelusuri Kerajaan Singasari, mulai dari silsilah para rajanya, pembagian wilayah kekuasaan, hingga kebijakan yang dijalankan kerajaan.

Melalui prasasti inilah Singasari seolah menyapa generasi setelahnya secara langsung.

Menunjukkan bahwa kerajaan ini tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga memiliki sistem pemerintahan yang tertata, kesadaran administrasi yang matang, dan cara berpikir politik yang jauh ke depan.

Dari tulisan-tulisan inilah, Singasari tak sekadar dikenang, tetapi benar-benar dipahami.

Menyusuri bukti peninggalan Kerajaan Singasari membuat kita sadar bahwa sejarah Nusantara sering kali hadir dalam bentuk yang tidak lengkap.

Ada candi yang berdiri megah, ada prasasti yang menyimpan cerita, tapi tak sedikit pula jejak yang hilang, terpendam, atau menyisakan tanda tanya.

Untuk memperdalam pemahamanmu tentang Candi dan sejarahnya, buku Mengenal Candi-Candi Nusantara yang ditulis oleh Thomas Wendoris dapat menjadi pilihan referensi yang tepat.

Buku ini membahas beragam candi kuno di Nusantara, mulai dari candi-candi peninggalan Dinasti Syailendra, Kerajaan Mataram Kuno, hingga pengaruhnya terhadap berbagai sistem kepercayaan.

Beberapa candi yang dibahas antara lain Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Jago, Candi Kidal, Candi Singasari, serta masih banyak peninggalan lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Ditulis dengan bahasa yang ringan, runtut, dan jelas, penulis mengajak pembaca, terutama generasi muda, untuk mengenal peninggalan sejarah secara lebih mendalam dan memiliki cara pandang yang lebih bijaksana dalam memperlakukannya.

Penulis juga berharap buku ini dapat mendorong generasi muda untuk ikut berperan dalam upaya pelestarian candi sebagai warisan sejarah dan kebudayaan Indonesia, meskipun berasal dari latar kepercayaan yang berbeda dengan para raja pendirinya.

Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang karena candi merupakan bagian penting dari sejarah kebudayaan bangsa.

Menarik, bukan? Yuk, segera baca bukunya di Gramedia Digital!

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau