Bukti Peninggalan Kerajaan Singasari Ketika membicarakan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, Kerajaan Singasari hampir selalu muncul sebagai salah satu titik penting dalam sejarah.
Bukan hanya karena perannya sebagai pendahulu Majapahit, tetapi juga karena bukti peninggalan Kerajaan Singasari yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini, nyata, berwujud, dan penuh cerita.
Berbeda dengan kisah sejarah yang hanya hidup di teks dan ingatan, peninggalan Singasari hadir dalam bentuk candi, arca, dan prasasti yang tersebar di Jawa Timur, terutama wilayah Malang dan sekitarnya.
Lewat peninggalan inilah kita dapat melihat bagaimana sebuah kerajaan dijalankan, bagaimana ajaran agama dipraktikkan, hingga bagaimana kekuasaan ditampilkan ke hadapan rakyat dan dunia luar.
Menariknya, peninggalan Kerajaan Singasari bukan sekadar sisa bangunan tua.
Setiap relief, pahatan, dan tulisan menyimpan lapisan makna, tentang ambisi, spiritualitas, konflik politik, dan cara manusia Nusantara abad ke-13 memaknai hidup dan kekuasaan.
Dari sini, Singasari terasa hidup, bukan sebagai nama dalam buku pelajaran, melainkan sebagai peradaban yang pernah benar-benar ada.
Secara garis besar, peninggalan Singasari dapat dibaca sebagai cerminan tiga hal besar, yaitu agama, kekuasaan, dan visi politik.
Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan membentuk wajah peradaban Singasari.
Candi-candi Singasari menunjukkan bagaimana agama Hindu-Buddha, khususnya ajaran Siwa-Buddha dipraktikkan secara berdampingan.
Arca-arca raksasa memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan perlindungan simbolik ditampilkan ke ruang publik, sementara prasasti menjadi bukti tertulis bahwa kerajaan memiliki sistem pemerintahan dan administrasi yang terstruktur.
Peninggalan Singasari juga berfungsi sebagai jembatan sejarah.
Dengan kata lain, bukti peninggalan Kerajaan Singasari bukan hanya penting untuk mengenal Singasari itu sendiri, tetapi juga untuk memahami fondasi peradaban Nusantara yang lebih luas.
Candi merupakan peninggalan paling menonjol dari Kerajaan Singasari.
Namun, fungsinya jauh melampaui tempat ibadah.
Pada masa itu, candi juga menjadi tempat pendharmaan raja atau ruang sakral untuk memuliakan penguasa yang telah wafat.
Candi Singasari diyakini sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari.
Perpaduan unsur Hindu dan Buddha pada bangunannya mencerminkan ajaran Siwa-Buddha yang dianut sang raja.
Menariknya, candi ini tidak selesai dibangun, detailnya sering dikaitkan dengan runtuhnya Singasari akibat serangan Jayakatwang.
Berbeda dengan Candi Singasari, Candi Kidal didedikasikan untuk Raja Anusapati dan menyimpan kisah yang lebih kelam.
Relief Garudeya pada dindingnya sering dimaknai sebagai simbol pembebasan dan penebusan, sebuah refleksi dari intrik politik dan kekerasan yang mewarnai masa pemerintahannya.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Sementara itu, Candi Jago (Jajaghu) menampilkan wajah Singasari yang lebih edukatif.
Relief-relief kisah moral seperti Kunjarakarna, Parthayajna, dan Tantri menunjukkan bahwa ajaran agama juga disampaikan sebagai pendidikan etika dan kebijaksanaan hidup.
Arca Dwarapala menjadi salah satu bukti peninggalan Kerajaan Singasari yang paling mencolok secara visual.
Arca raksasa ini dipercaya sebagai penjaga simbolis kawasan penting kerajaan.
Ukurannya yang monumental dan ekspresinya yang tegas bukan sekadar ornamen, melainkan pernyataan kekuasaan.
Arca ini menandai batas wilayah sakral sekaligus menegaskan wibawa kerajaan.
Di balik fungsinya, Arca Dwarapala juga menjadi bukti kemajuan seni pahat Singasari yang detail dan penuh karakter.
Berbeda dengan candi dan arca yang menyampaikan makna lewat bentuk dan simbol, prasasti berbicara lewat rangkaian kata.
Prasasti Mula Malurung menjadi salah satu sumber tertulis paling penting untuk menelusuri Kerajaan Singasari, mulai dari silsilah para rajanya, pembagian wilayah kekuasaan, hingga kebijakan yang dijalankan kerajaan.
Melalui prasasti inilah Singasari seolah menyapa generasi setelahnya secara langsung.
Menunjukkan bahwa kerajaan ini tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga memiliki sistem pemerintahan yang tertata, kesadaran administrasi yang matang, dan cara berpikir politik yang jauh ke depan.
Dari tulisan-tulisan inilah, Singasari tak sekadar dikenang, tetapi benar-benar dipahami.
Menyusuri bukti peninggalan Kerajaan Singasari membuat kita sadar bahwa sejarah Nusantara sering kali hadir dalam bentuk yang tidak lengkap.
Ada candi yang berdiri megah, ada prasasti yang menyimpan cerita, tapi tak sedikit pula jejak yang hilang, terpendam, atau menyisakan tanda tanya.
Untuk memperdalam pemahamanmu tentang Candi dan sejarahnya, buku Mengenal Candi-Candi Nusantara yang ditulis oleh Thomas Wendoris dapat menjadi pilihan referensi yang tepat.
Buku ini membahas beragam candi kuno di Nusantara, mulai dari candi-candi peninggalan Dinasti Syailendra, Kerajaan Mataram Kuno, hingga pengaruhnya terhadap berbagai sistem kepercayaan.
Beberapa candi yang dibahas antara lain Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Jago, Candi Kidal, Candi Singasari, serta masih banyak peninggalan lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Ditulis dengan bahasa yang ringan, runtut, dan jelas, penulis mengajak pembaca, terutama generasi muda, untuk mengenal peninggalan sejarah secara lebih mendalam dan memiliki cara pandang yang lebih bijaksana dalam memperlakukannya.
Penulis juga berharap buku ini dapat mendorong generasi muda untuk ikut berperan dalam upaya pelestarian candi sebagai warisan sejarah dan kebudayaan Indonesia, meskipun berasal dari latar kepercayaan yang berbeda dengan para raja pendirinya.
Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang karena candi merupakan bagian penting dari sejarah kebudayaan bangsa.
Menarik, bukan? Yuk, segera baca bukunya di Gramedia Digital!