Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penjelasan Mengenai Pemersatu Umat Manusia Berdasarkan Buku Sapiens

Kompas.com, 13 Januari 2022, 10:00 WIB
Sumber Foto: Canva Pro
Rujukan artikel ini:
Sapiens
Pengarang: Yuval Noah Harari
Penulis Renny Novita
|
Editor Almira Rahma Natasya

Setelah masa revolusi kognitif yang membawa manusia ke puncak rantai makanan, kemudian 10.000 tahun yang lalu Sapiens mengalami revolusi pertanian.

Di masa revolusi pertanian, Sapiens menemukan cara bercocok tanam sehingga mereka tidak lagi hidup berpindah-pindah mencari sumber makanan.

Mereka juga belajar menyimpan makanan dan hidup dalam komunitas yang populasinya semakin besar.

Mereka sudah bisa berkawan membentuk suku-suku besar dan telah menciptakan pranata sosial politik yang jauh melebihi apa yang didiktekan DNA kita.

Bagaimana mereka bisa membuat sistem dalam sebuah masyarakat melampaui pola perilaku spesies-spesies manusia ataupun hewan lainnya.

Apa sebenarnya yang membuat mereka bersatu di dalam sebuah populasi yang besar?

Pemersatu Umat Manusia Lewat Uang, Agama, dan Negara

Berkaca dari kehidupan masyarakat di revolusi pertanian, Harari menggarisbawahi bahwa kerja sama dalam skala besar sering kali bergantung pada kepercayaan dengan ide yang sama dan mengikuti aturan yang sama.

Mereka mengembangkan tatanan yang dibayangkan seperti gagasan, nilai dan kepercayaan kolektif baru dimana dewa atau Tuhan berada di puncak hierarki, baru kemudian diikuti oleh manusia dan kemudian hewan.

Sayangnya, tatanan inilah yang menyebabkan manusia menyalahgunakan hewan lain di planet bumi.

Selain kepercayaan atau mitos dan agama, ada hal lain yang menyatukan umat manusia yaitu uang dan negara.

Harari berpikir bahwa dari ketiganya, uang adalah konsep yang paling menyatukan dunia saat ini, dan dia ingin mencari tahu alasannya.

Jika di zaman purba, spesies manusia melakukan sistem barter barang, di masa revolusi pertanian mereka mempunyai uang sebagai tanda atau simbol kesepakatan.

Harari menekankan bahwa benda apa pun dapat digunakan sebagai uang selama orang setuju dengan nilainya.

Ini memperkuat gagasan bahwa uang lebih seperti gagasan daripada benda nyata, karena ini menunjukkan bahwa benda-benda (seperti koin atau kerang) berubah, tetapi konsepnya tetap ada.

Meskipun demikian, uang adalah fiksi yang efektif, di mana uang meyakinkan semua umat manusia untuk setuju bahwa ada sesuatu yang berharga dan percaya bahwa semua orang juga akan melakukannya.

Harari menekankan bahwa bahkan masyarakat yang bertikai setuju bahwa mereka dapat memperdagangkan uang.

Harari membahas sejarah umat manusia sebelum penemuan uang untuk memperkuat gagasan bahwa uang (seperti agama, gagasan politik, dan konsep seperti bangsa) adalah fiksi.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Ini adalah gagasan yang diciptakan manusia untuk memfasilitasi kerjasama massal, yang dilengkapi dengan seperangkat aturannya sendiri yang disetujui semua orang untuk diikuti (misalnya, gagasan bahwa uang tertentu atau emas sangat berharga).

Ini yang membuat uang sebagai tatanan imajiner paling kuat di dunia.

Saking kuatnya, bahkan sampai manusia modern pun banyak yang diperbudak oleh uang.

Seperti halnya uang yang merupakan sebuah konsep dan tidak didasarkan pada pada kenyataan, begitu juga negara atau kerajaan.

Kerajaan atau negara adalah fiksi yang kuat untuk memfasilitasi kerjasama yang luas.

Konsep kerajaan dan negara ini sangat kuat dan meresap dalam, di mana masyarakat sudah berbagi banyak ide dan keyakinan yang sama.

Kerajaan atau negara bukanlah hal yang konkret atau nyata, namun memiliki beberapa fitur pemersatu yang didasarkan pada kenyataan.

Masyarakat di dalamnya menggunakan bahasa yang sama, mempunyai mata uang yang sama, dan mengikuti aturan yang sama.

Mereka berpikir bahwa mereka adalah bagian dari entitas yang sama.

Sebagai contoh, jika satu negara diserang, lalu siapa yang menderita? Tentu bukan negara.

Melainkan orang-orang yang hidup di dalamnya.

Buku Sapiens

Setelah mengetahui hal yang dapat mempersatukan umat manusia, kita memasuki revolusi yang terakhir yaitu revolusi ilmiah yang diikuti oleh revolusi industri.

Mau tahu seperti apa manusia di zaman ini?

Kalian bisa melihat penjelasannya di artikel berikutnya atau lebih mudah lagi jika kalian membeli buku Sapiens untuk mengetahui penjelasan dan gambaran yang lebih lengkap.

Buku Sapiens karya Dr. Yuval Noah Harari yang fenomenal ini bisa segera kamu dapatkan di Gramedia.com.

Dapatkan Diskonnya! Dapatkan Diskonnya!

Selain itu, ada gratis voucher diskon yang bisa kamu gunakan tanpa minimal pembelian. Yuk, borong semua buku di atas dengan lebih hemat! Langsung klik di sini untuk ambil vouchernya.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Cara Memakai Kompas Digital di HP dan Panduan Kalibrasinya

Cara Memakai Kompas Digital di HP dan Panduan Kalibrasinya

buku
Cerita Pong Tiku: Kisah Pahlawan Toraja yang Gigih Melawan Penjajahan

Cerita Pong Tiku: Kisah Pahlawan Toraja yang Gigih Melawan Penjajahan

buku
6 Legenda Betawi Terkenal Beserta Sejarah dan Pesan Moralnya

6 Legenda Betawi Terkenal Beserta Sejarah dan Pesan Moralnya

buku
Tren

Tren "Marriage Is Scary": Benarkah Menikah Adalah 'Ijazah Kelulusan' Hidup yang Wajib Dikejar?

buku
Ketika Validasi Menjadi Candu dan Hubungan Kehilangan Empati

Ketika Validasi Menjadi Candu dan Hubungan Kehilangan Empati

buku
Cerita Rakyat Gorontalo Singkat: Mengenal Legenda dan Kisah Tradisional yang Penuh Pesan Moral

Cerita Rakyat Gorontalo Singkat: Mengenal Legenda dan Kisah Tradisional yang Penuh Pesan Moral

buku
Asal Usul Gorontalo: Sejarah, Arti Nama, dan Perjalanan Panjang Daerah Hulonthalo

Asal Usul Gorontalo: Sejarah, Arti Nama, dan Perjalanan Panjang Daerah Hulonthalo

buku
Tema Trivia Halloween Paling Seru untuk Kuis Gathering dan Malam Keakraban

Tema Trivia Halloween Paling Seru untuk Kuis Gathering dan Malam Keakraban

buku
Cerita Rakyat Makassar: Kisah Legenda yang Masih Dikenang Hingga Kini 

Cerita Rakyat Makassar: Kisah Legenda yang Masih Dikenang Hingga Kini 

buku
Legenda Batu Kepampang: Cerita Rakyat Lampung yang Penuh Pesan Moral

Legenda Batu Kepampang: Cerita Rakyat Lampung yang Penuh Pesan Moral

buku
Konsep Trivia Retro Paling Seru untuk Acara Kumpul Komunitas dan Keluarga

Konsep Trivia Retro Paling Seru untuk Acara Kumpul Komunitas dan Keluarga

buku
Asal Usul Ondel-Ondel Betawi: Sejarah, Makna Wajah, dan Rahasia Masa Lalunya

Asal Usul Ondel-Ondel Betawi: Sejarah, Makna Wajah, dan Rahasia Masa Lalunya

buku
Tema Game Night Kantor Paling Seru untuk Meningkatkan Kekompakan Karyawan

Tema Game Night Kantor Paling Seru untuk Meningkatkan Kekompakan Karyawan

buku
7 Cerita Rakyat Bugis yang Populer Hingga Kini 

7 Cerita Rakyat Bugis yang Populer Hingga Kini 

buku
Mengenal Legenda Kalimantan, dari Batu Menangis hingga Putri Junjung Buih 

Mengenal Legenda Kalimantan, dari Batu Menangis hingga Putri Junjung Buih 

buku
Asal Usul Lampung yang Jarang Diketahui, Dari Nama hingga Budayanya

Asal Usul Lampung yang Jarang Diketahui, Dari Nama hingga Budayanya

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau