Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prinsip Stoikisme dalam Ajaran Islam: Titik Temu Filsafat dan Akidah

Kompas.com, 19 Februari 2026, 14:00 WIB
Prinsip Stoikisme dalam Islam  Sumber Gambar: Freepik.com Prinsip Stoikisme dalam Islam 
Rujukan artikel ini:
Stoik: Apa dan Bagaimana
Pengarang: Massimo Pigliucci
Penulis Adnan
|
Editor Novia Putri Anindhita

Istilah Stoikisme kini semakin populer di kalangan anak muda dan sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan cara menghadapi tekanan hidup.

Penggunaan istilah ini sering kali digunakan saat sedang merasa stres, bahkan tak jarang digunakan sebagai bentuk pelarian.

Meski begitu, muncul pertanyaan mengenai prinsip Stoikisme ini apakah bertentangan dengan akidah agama Islam.

Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman yang lebih untuk menilai prinsip-prinsip tersebut.

Secara garis besar, beberapa nilai dalam stoikisme memang memiliki kesamaan dengan ajaran Islam, seperti pentingnya pengendalian diri, penerimaan takdir, dan fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali manusia.

Untuk memahami batasan dan kesesuaiannya dengan lebih jelas, simak penjelasan berikut ini.

Apa itu Stoikisme?

Stoikisme sering disalahartikan sebagai ajaran yang melarang manusia memiliki perasaan atau emosi sama sekali.

Padahal, Stoikisme adalah tentang pengelolaan pikiran sehat untuk mencapai ketenangan batin yang stabil.

Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak diperbudak oleh emosi reaktif seperti marah berlebihan atau ketakutan.

Seorang Stoik tidak mematikan perasaannya, melainkan melatih diri agar tidak dikendalikan oleh perasaan tersebut.

Fokus utama seorang Stoik adalah membangun ketahanan mental agar tidak terguncang oleh hal eksternal yang berada di luar kendalinya.

Menurut stoikisme, kebahagiaan tidak bergantung pada harta, pujian, atau kedudukan duniawi, melainkan pada kualitas sikap dan kebajikan pribadi.

Tujuan akhirnya dikenal sebagai eudaimonia, yakni kehidupan yang dijalani secara bermakna, berlandaskan kebajikan, dan selaras dengan tatanan kehidupan.

Konsep ini sangat menekankan pada penggunaan akal budi sebagai anugerah terbesar bagi manusia.

Dengan menggunakan akal, manusia bisa memilah mana fakta nyata dan mana sekadar persepsi ketakutan.

Sederhananya, Stoikisme adalah alat praktis untuk memangkas beban pikiran yang tidak perlu dalam kehidupan sehari-hari.

Dikotomi Kendali vs Konsep Tawakal

Pada Stoikisme diajarkan konsep fundamental yang disebut sebagai dikotomi kendali.

Bahwa penderitaan muncul saat manusia mencoba mengendalikan hal-hal di luar kuasanya.

Hal yang bisa kita kendalikan hanyalah pikiran, tindakan, perkataan, dan persepsi kita sendiri.

Sementara opini orang lain, cuaca, kekayaan, kesehatan, dan kematian adalah hal eksternal di luar kendali.

Dalam Islam, konsep ini berjalan beriringan dengan pemahaman mendalam tentang hubungan Ikhtiar dan Tawakal.

Agama mewajibkan kita berusaha semaksimal mungkin pada apa yang berada dalam kendali tangan kita.

Sementara hasil akhir adalah hak prerogatif Allah Swt. yang mutlak berada di luar kendali manusia.

Menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha keras ini lah yang disebut dengan Tawakal.

Jika kita stres memikirkan hasil atau cemas akan masa depan, itu tandanya kita melangkahi kuasa Tuhan.

Stoikisme menyebut ini sebagai pelanggaran logika alam, sedangkan Islam menyebutnya kurang adab kepada Rabb.

Dengan menyadari batasan ini, seorang Muslim akan menjadi lebih tenang dalam menghadapi ketidakpastian hidup.

Empat Kebajikan Stoik dalam Kacamata Akhlakul Karimah

Stoikisme memiliki empat pilar kebajikan utama yang menjadi landasan moral bagi setiap praktisinya.

Keempat pilar ini ternyata sangat selaras dengan sifat-sifat mulia atau Akhlakul Karimah dalam Islam.

Berikut adalah perbandingan harmonis antara nilai kebajikan Stoik dan ajaran moral Islam:

  • Wisdom (Kebijaksanaan): Kemampuan nalar dalam mengambil keputusan ini selaras dengan sifat Fatanah (cerdas/bijaksana) yang dimiliki Rasulullah.
  • Justice (Keadilan): Bersikap adil dan memperlakukan sesama dengan baik adalah inti dari konsep Muamalah dan Adil dalam Islam.
  • Courage (Keberanian): Berani berpegang pada prinsip kebenaran meski sulit adalah manifestasi dari sifat Syaja'ah dalam membela akidah.
  • Temperance (Menahan Diri): Kemampuan mengontrol hawa nafsu dan keinginan berlebih sangat mirip dengan konsep Iffah (menjaga kehormatan) dan Qanaah.

Konsep Amor Fati dan Rida

Dalam Stoikisme, amor fati dimaknai sebagai sikap menerima dan mencintai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, dengan sikap lapang dan tenang.

Penerimaan tersebut bukanlah bentuk kepasrahan, akan tetapi sebagai kesadaran bahwa setiap kejadian memiliki peran dalam membentuk diri.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Dalam Islam, sikap mental positif ini dikenal dengan istilah Rida terhadap Qadha dan Qadar Allah.

Iman kepada takdir adalah rukun iman keenam yang wajib diyakini oleh setiap Muslim yang taat.

Seorang mukmin sejati meyakini bahwa tidak ada satu pun daun yang jatuh tanpa izin-Nya.

Mengeluh pada takdir dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan terhadap skenario terbaik yang telah ditulis Allah.

Sikap Ridha berarti meyakini bahwa pilihan Allah untuk hamba-Nya adalah pasti yang terbaik.

Ujian dan cobaan dipandang sebagai cara Allah menggugurkan dosa dan mengangkat derajat manusia.

Jadi, menjadi Stoik yang baik justru membantu seseorang menjadi Muslim yang lebih berserah diri.

Apakah Belajar Stoikisme Itu Haram atau Bermanfaat?

Kekhawatiran akan lunturnya akidah saat belajar filsafat asing adalah hal yang sangat wajar dan perlu dihargai.

Namun, Islam sejatinya adalah agama yang sangat terbuka terhadap kebenaran dan hikmah dari mana pun asalnya.

Selama prinsip tersebut tidak mengajarkan kesyirikan atau menuhankan selain Allah, maka boleh dipelajari.

Stoikisme tidak mengajarkan penyembahan dewa-dewa Yunani, melainkan tata cara mengelola pikiran dan mental.

Filsafat ini lebih mirip dengan panduan psikologi praktis daripada sebuah agama atau kepercayaan teologis.

Mengambil teknik mental Stoik untuk memperkuat kesabaran Islam adalah langkah strategis yang bijak untuk menjadi hamba yang lebih tangguh.

Banyak pemikir Islam kontemporer yang justru menggunakan Stoikisme sebagai jembatan untuk menjelaskan tasawuf modern.

Jadi, tidak perlu merasa bersalah selama niat utamanya adalah memperbaiki akhlak dan kualitas diri.

Integrasi Zikir dan Refleksi Stoik di Malam Hari

Stoikisme mengajarkan praktik rutin jurnaling malam untuk mengevaluasi tindakan dan emosi sepanjang hari.

Dalam tradisi Islam, praktik serupa dikenal dengan istilah Muhasabah atau introspeksi diri sebelum beristirahat.

Umar bin Khattab pernah berkata, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab di hari akhir nanti."

Kamu bisa menggabungkan kedua metode ini untuk mendapatkan kualitas istirahat dan ketenangan yang maksimal.

Mulailah dengan berzikir ringan untuk menenangkan pikiran dan menyambungkan hati kepada Allah.

Setelah hati tenang, ambil buku jurnal dan tuliskan evaluasi diri secara objektif dan jujur.

Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah hari ini saya sudah berlaku adil, sabar, dan bermanfaat bagi orang lain?"

Identifikasi momen di mana kamu kehilangan kendali emosi dan cari tahu apa pemicunya.

Tutup sesi refleksi tersebut dengan beristighfar, memohon ampun atas kesalahan yang mungkin tidak disengaja.

Kombinasi zikir dan journaling ini akan membantu kamu membersihkan emosi negatif yang selama ini membebani diri.

Keduanya bisa berjalan beriringan untuk membentuk pribadi yang tangguh, tenang, dan berserah diri sepenuhnya.

Stoikisme memberikan kerangka berpikir logis, sementara Islam memberikan landasan spiritual dan tujuan akhir yang abadi.

Bagi kamu yang menyukai filsafat dan sedang mencari referensi komprehensif mengenai penerapan ajaran ini buku Stoik: Apa dan Bagaimana karya Massimo Pigliucci adalah panduan lengkap yang sangat direkomendasikan.

Buku ini merupakan referensi yang tepat bagi kamu yang sedang mencari buku mengenai Stoikisme atau kaum Stoik.

Penulis membahas semua hal tentang Stoikisme secara mendalam, mulai dari sejarah hingga latihan praktisnya.

Gaya bahasanya yang ringan membuat konsep filsafat yang rumit menjadi mudah dipahami dan juga diterapkan.

Selain itu, melalui buku ini kamu akan menemukan banyak keselarasan yang mengejutkan antara kebijaksanaan kuno ini dengan nilai-nilai universal.

Yuk, segera miliki buku inspiratif ini dengan membelinya di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Apa Itu Satelit Buatan dan Mengapa Penting bagi Kehidupan Sehari-hari?

Apa Itu Satelit Buatan dan Mengapa Penting bagi Kehidupan Sehari-hari?

buku
Karakteristik Planet Bumi: Ciri, Keunikan, dan Alasan Menjadi Tempat Kehidupan

Karakteristik Planet Bumi: Ciri, Keunikan, dan Alasan Menjadi Tempat Kehidupan

buku
Kreatifafa Penerbit Juz Amma for Little Ones Hadiri Istanbul Publishing Fellowship, Bawa Karya Anak Indonesia ke Panggung Dunia

Kreatifafa Penerbit Juz Amma for Little Ones Hadiri Istanbul Publishing Fellowship, Bawa Karya Anak Indonesia ke Panggung Dunia

buku
Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai: Jejak Sejarah Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai: Jejak Sejarah Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

buku
Masa Kejayaan Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

buku
Deretan Nama Raja Kerajaan Pajang dan Peran Mereka dalam Sejarah Jawa

Deretan Nama Raja Kerajaan Pajang dan Peran Mereka dalam Sejarah Jawa

buku
8 Fungsi Peroksisom pada Sel Tumbuhan dan Hewan

8 Fungsi Peroksisom pada Sel Tumbuhan dan Hewan

buku
Apa Itu Stoikisme: Mengenal Kedamaian dari Filsafat

Apa Itu Stoikisme: Mengenal Kedamaian dari Filsafat

buku
Letak Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Peralihan Kekuasaan di Tanah Jawa

Letak Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Peralihan Kekuasaan di Tanah Jawa

buku
Masa Kejayaan Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Sejarah Jawa

Masa Kejayaan Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Sejarah Jawa

buku
Cara Menggunakan Logika daripada Perasaan: Panduan Kendali Diri

Cara Menggunakan Logika daripada Perasaan: Panduan Kendali Diri

buku
Nama Raja Kerajaan Banten dan Jejak Kekuasaan yang Membentuk Sejarahnya

Nama Raja Kerajaan Banten dan Jejak Kekuasaan yang Membentuk Sejarahnya

buku
Detective These Days: Ketika Mantan Genius Kalah Lawan Usia dan Tagihan Sewa

Detective These Days: Ketika Mantan Genius Kalah Lawan Usia dan Tagihan Sewa

buku
Siapa Pencetus Filsafat Stoikisme? Mengenal Zeno dari Citium dan Sejarahnya

Siapa Pencetus Filsafat Stoikisme? Mengenal Zeno dari Citium dan Sejarahnya

buku
Sejarah dan Letak Kerajaan Samudera Pasai: Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Sejarah dan Letak Kerajaan Samudera Pasai: Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau