Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Review Buku Dilan: Belajar Berdamai dengan Kenangan

Kompas.com, 2 Desember 2021, 14:00 WIB
Sumber Gambar: Gramedia.com
Rujukan artikel ini:
Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun…
Pengarang: Pidi Baiq
Penulis Lika Purnama
|
Editor Almira Rahma Natasya

**Tulisan ini akan mengandung banyak spoiler.

Membicarakan Dilan dan Milea memang seolah tak ada habisnya.

Sejak pertama kali terbit di tahun 2014, buku pertama Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 telah banyak mencuri perhatian, disusul dengan kedua buku penerusnya yang sama-sama menjadi best seller bertahun-tahun.

Pidi Baiq atau yang sering disapa Surayah membawa cerita ini jadi terasa berbeda dari novel-novel remaja pada umumnya.

Dilan 1990 adalah cerita dari sudut pandang Milea. Lebih tepatnya, Milea di masa sekarang menceritakan kembali kisahnya dengan Dilan ketika mereka berpacaran saat masih duduk di bangku SMA.

Milea sendiri adalah gadis cantik yang kebetulan baru pindah dari Jakarta ke Bandung, lantas takdir membawanya untuk masuk ke sekolah yang sama dengan Dilan.

Namun, siapa sebenarnya sosok Dilan?


Baca juga: Review Novel Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi


Sang Peramal

Dilan muncul sebagai sosok laki-laki yang unik, bahkan cenderung aneh bagi gadis ibukota seperti Milea.

Pada tahun itu, tak banyak anak SMA yang mengendarai motor untuk berangkat sekolah. Namun sosok Dilan digambarkan sebagai anggota geng motor yang berpangkat “Panglima Tempur”.

Bayangkan, jika umumnya remaja tahun 90an butuh keberanian ekstra untuk sekadar mengajak berkenalan lewat surat atau titip salam, Dilan ini punya cara yang berbeda.

Pada pertemuan pertama, Dilan membuat Milea terheran-heran dengan ramalannya.

Milea, aku ramal nanti kita akan bertemu di kantin.” (Dilan 1990, hal. 8)

Klise memang, karena rata-rata anak sekolah pasti akan ke kantin ketika waktu istirahat tiba. Tapi jika sosok Dilan ini benar-benar ada dan kita adalah Milea, pasti akan buat kita bingung sekaligus bertanya-tanya juga, kan?

Masa PDKT

Sebelum benar-benar memproklamasikan hubungan mereka di warung Bi Eem, masa PDKT mereka ternyata juga tak benar-benar mulus.

Milea yang memang cantik dan baik banyak disukai oleh laki-laki lain, salah satunya adalah Nandan si ketua kelas.

Namun, berbanding terbalik dengan Dilan, Nandan ini tipe laki-laki yang terlalu biasa. Sehingga cara pendekatan yang dilakukan Nandan justru tidak bisa menarik perhatian Milea sama sekali.

Hanya Dilan yang bisa terang-terangan masuk ke kelas Milea pada saat jam pelajaran hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi kado. Hanya Dilan juga yang cukup berani datang ke rumah Milea meski hanya untuk memberitahu menu baru di kantin.

Masa PDKT Dilan dan Milea menjadi sangat seru sebab Dilan memakai cara yang tak pernah dipikirkan orang lain sebelumnya.

Karena tindakan dan semua yang dilakukan oleh Dilan, Milea merasa menjadi perempuan yang sangat dicintai dan dihargai dengan cara istimewa yang tak biasa.

“Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu, aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya. Dilan!” (Dilan 1990, hal. 72)

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Masa Pacaran

Ketiga buku Dilan memiliki fase cerita yang berbeda. Jika pada buku pertama fokus cerita ada pada fase ketika Dilan dan Milea PDKT hingga resmi berpacaran. Maka di buku kedua yaitu Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991, fokusnya menceritakan bagaimana mereka berdua sangat jatuh cinta dan manisnya masa-masa pacaran.

Mereka berdua bahagia, meskipun gombalan yang dilakukan Dilan ketika masih PDKT tak seintens ketika sudah pacaran. Ini yang justru menjadikan buku kedua Dilan sesuai dengan realita, masa pacaran tak perlu lagi mengejar.

Masih mengambil sudut pandang dari Milea, ia menuturkan bagaimana susah senang mendampingi seorang panglima tempur geng motor.

Dulu, menjadi anggota geng motor memang cukup berbahaya dan Milea amat sangat khawatir tentang hal itu.

Pertengkaran-pertengkaran kecil tentang aktivitas geng motor mulai membuat hubungan mereka menjadi renggang.

Puncaknya adalah ketika teman baik mereka tewas akibat serangan dari geng motor lain.

Milea marah, menangis, sekaligus takut karena Dilan juga bisa kehilangan nyawanya kapanpun.

Kata itu pun muncul, mereka putus dan berakhir dengan pisah begitu saja.

Selang beberapa waktu dari buku kedua beredar dipasaran, buku ketiga yang berjudul Milea: Suara dari Dilan menyusul dirilis. Berbeda dengan dua buku sebelumnya, buku ketiga ini mengambil sudut pandang dari Dilan.

Lewat buku ini juga, pembaca seolah diberi penjelasan atas sikap Dilan yang tidak berjuang kembali ketika Milea meminta untuk putus di buku kedua.

Milea dan Dilan sama-sama diliputi amarah dan emosi yang tidak stabil. Usia yang masih remaja membuat mereka mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.

Banyak salah paham yang terjadi pasca mereka putus, seperti anggapan bahwa masing-masing sudah punya pacar baru, padahal itu keliru.

Terlebih mereka berdua sudah berbeda kota ketika kuliah yang membuat kesenjangan hubungan mereka semakin terasa.


Baca juga: Review Buku Next Ria Ricis


Berdamai dengan Kenangan

Apa yang menjadi hal penting untuk dijadikan pelajaran dari ketiga buku Dilan adalah bagaimana mereka berdua menceritakan kisah ini dengan tenang.

Dilan bilang bahwa rasa cinta untuk Milea akan terus ada, bahkan ketika dewasa mereka bertemu tanpa sengaja, dan mereka mengakui tak ada yang berubah. Ada rasa kecewa ketika mengetahui banyak hal yang sebetulnya dapat diperbaiki.

Namun mereka berdua menyadari sepenuhnya bawah kisah Dilan dan Milea telah jauh tertinggal di masa SMA, pasangan yang mendampingi mereka kini adalah masa depannya.

Sosok Milea dan Dilan mengalami perkembangan yang baik dari segi emosi, sehingga pembaca ikut merasa tumbuh dewasa bersama dengan kisah mereka berdua.

Mereka pernah menjadi pasangan yang bahagia, penuh harapan, dan mengingat kenangan itu sebagai bagian dari hidup yang berharga.

Dari Dilan dan Milea kita belajar bahwa menerima baik buruknya masa lalu dan belajar dari kesalahan memiliki andil besar untuk membuat kita juga tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.

Tak perlu takut merindu, biar kenangan jadi selayaknya kenangan, kisah masa lalu yang tak mungkin dapat terulang.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Apa Itu Satelit Buatan dan Mengapa Penting bagi Kehidupan Sehari-hari?

Apa Itu Satelit Buatan dan Mengapa Penting bagi Kehidupan Sehari-hari?

buku
Karakteristik Planet Bumi: Ciri, Keunikan, dan Alasan Menjadi Tempat Kehidupan

Karakteristik Planet Bumi: Ciri, Keunikan, dan Alasan Menjadi Tempat Kehidupan

buku
Kreatifafa Penerbit Juz Amma for Little Ones Hadiri Istanbul Publishing Fellowship, Bawa Karya Anak Indonesia ke Panggung Dunia

Kreatifafa Penerbit Juz Amma for Little Ones Hadiri Istanbul Publishing Fellowship, Bawa Karya Anak Indonesia ke Panggung Dunia

buku
Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai: Jejak Sejarah Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai: Jejak Sejarah Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

buku
Masa Kejayaan Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

buku
Deretan Nama Raja Kerajaan Pajang dan Peran Mereka dalam Sejarah Jawa

Deretan Nama Raja Kerajaan Pajang dan Peran Mereka dalam Sejarah Jawa

buku
8 Fungsi Peroksisom pada Sel Tumbuhan dan Hewan

8 Fungsi Peroksisom pada Sel Tumbuhan dan Hewan

buku
Apa Itu Stoikisme: Mengenal Kedamaian dari Filsafat

Apa Itu Stoikisme: Mengenal Kedamaian dari Filsafat

buku
Letak Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Peralihan Kekuasaan di Tanah Jawa

Letak Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Peralihan Kekuasaan di Tanah Jawa

buku
Masa Kejayaan Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Sejarah Jawa

Masa Kejayaan Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Sejarah Jawa

buku
Cara Menggunakan Logika daripada Perasaan: Panduan Kendali Diri

Cara Menggunakan Logika daripada Perasaan: Panduan Kendali Diri

buku
Nama Raja Kerajaan Banten dan Jejak Kekuasaan yang Membentuk Sejarahnya

Nama Raja Kerajaan Banten dan Jejak Kekuasaan yang Membentuk Sejarahnya

buku
Detective These Days: Ketika Mantan Genius Kalah Lawan Usia dan Tagihan Sewa

Detective These Days: Ketika Mantan Genius Kalah Lawan Usia dan Tagihan Sewa

buku
Siapa Pencetus Filsafat Stoikisme? Mengenal Zeno dari Citium dan Sejarahnya

Siapa Pencetus Filsafat Stoikisme? Mengenal Zeno dari Citium dan Sejarahnya

buku
Sejarah dan Letak Kerajaan Samudera Pasai: Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Sejarah dan Letak Kerajaan Samudera Pasai: Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

buku
Merayakan Valentine Lewat Manga: Dari Gengsi Hingga Keajaiban Waktu

Merayakan Valentine Lewat Manga: Dari Gengsi Hingga Keajaiban Waktu

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau