Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Juara Piala Dunia Spanyol: Jatuh Bangunnya La Roja

Kompas.com, 24 Juli 2026, 13:00 WIB
Sejarah Juara Piala Dunia Spanyol Sumber Gambar: Fifa.com Sejarah Juara Piala Dunia Spanyol
Rujukan artikel ini:
Kepelatihan Sepak Bola: Teori dan…
Pengarang: Ketut Chandra Adinata Kusuma,…
Penulis Adnan
|
Editor Novia Putri Anindhita

Tim nasional Spanyol (La Roja) telah menjuarai Piala Dunia sebanyak 2 kali, yaitu pada 2010 dan 2026.

Pada 2010, Spanyol mengalahkan Belanda 1-0 lewat gol Andrés Iniesta pada menit ke-116, sedangkan pada 2026 La Roja menaklukkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106.

Kemenangan pada 2026 membuat Spanyol menjadi salah satu negara yang telah mengoleksi dua gelar Piala Dunia, menyamai Prancis dan Uruguay.

La Roja juga menjadi juara dengan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen Piala Dunia 2026.

Rekam Jejak dan Perjalanan Spanyol di Piala Dunia

Perjalanan Spanyol di Piala Dunia memperlihatkan perubahan panjang dari tim yang sering kesulitan di fase gugur menjadi juara dunia pada 2010 dan kembali meraih gelar pada 2026.

1. Era Panjang Penantian Gelar dan Kegagalan di Fase Gugur (Piala Dunia 1934–1998)

Spanyol menjalani debut Piala Dunia pada 1934 di Italia dan langsung menunjukkan potensi dengan mengalahkan Brasil 3-1 sebelum menyingkirkan tuan rumah Italia dalam laga ulangan perempat final dengan skor 1-0.

Pada Piala Dunia 1950 di Brasil, Spanyol mencatat pencapaian terbaiknya saat itu dengan menempati peringkat keempat dalam babak final yang menggunakan format grup, bukan sistem semifinal seperti yang dikenal sekarang.

Setelah itu, Spanyol kembali menghadapi perjalanan yang tidak mudah dengan beberapa kali tersingkir sebelum mencapai semifinal, termasuk pada Piala Dunia 1986 ketika mereka kalah dari Belgia melalui adu penalti di perempat final.

Pada periode 1934 hingga 1998, Spanyol memang belum mampu mengubah konsistensi penampilan di turnamen besar menjadi gelar Piala Dunia sehingga penantian panjang menuju trofi dunia terus berlanjut hingga generasi berikutnya.

2. Tragedi Perempat Final dan Drama Kontroversial (Piala Dunia 2002 & 2006)

Piala Dunia 2002 kembali meninggalkan kekecewaan setelah Spanyol tersingkir dari Korea Selatan di perempat final melalui adu penalti setelah pertandingan berakhir 0-0.

Pertandingan tersebut menjadi salah satu laga paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia karena sejumlah keputusan wasit yang diperdebatkan, termasuk dianulirnya dua gol Spanyol selama pertandingan.

Empat tahun kemudian, Spanyol tampil meyakinkan di fase grup Piala Dunia 2006 tetapi kembali gagal melewati babak 16 besar setelah kalah 1-3 dari Prancis.

Meski begitu, periode kepelatihan Luis Aragonés menjadi bagian penting dari perubahan generasi karena ia berani melakukan penyegaran skuad, termasuk keputusan mengejutkan untuk mencoret Raúl González dari tim pada kualifikasi Euro 2008.

Perubahan tersebut kemudian berlanjut ke keberhasilan Spanyol menjuarai Euro 2008 di bawah Aragonés, sebuah pencapaian yang menjadi fondasi penting sebelum La Roja menaklukkan dunia dua tahun kemudian.

3. Puncak Kejayaan Spanyol Juara Piala Dunia 2010

Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Spanyol karena La Roja akhirnya mengangkat trofi dunia untuk pertama kalinya.

Perjalanan tersebut justru dimulai dengan kekalahan mengejutkan 0-1 dari Swiss pada pertandingan pembuka fase grup.

Spanyol kemudian bangkit dengan mengalahkan Honduras 2-0 dan Chile 2-1 untuk memuncaki Grup H serta lolos ke babak 16 besar.

Di fase gugur, Spanyol mengalahkan Portugal 1-0 melalui gol David Villa dan melanjutkan perjalanan ke perempat final.

Melawan Paraguay, Spanyol kembali menang 1-0 setelah Iker Casillas menggagalkan penalti Óscar Cardozo sebelum David Villa mencetak gol penentu.

Di semifinal, Spanyol menundukkan Jerman 1-0 melalui sundulan Carles Puyol untuk mengamankan tiket menuju final Piala Dunia pertamanya.

La Roja kemudian menghadapi Belanda di final dan meraih kemenangan 1-0 melalui gol Andrés Iniesta pada menit ke-116 babak perpanjangan waktu.

Dengan kemenangan tersebut, Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya setelah sebelumnya meraih enam kemenangan beruntun sejak kekalahan dari Swiss di laga pembuka.

4. Pasca-Kejayaan 2010: Penurunan Performa di Piala Dunia 2014 dan 2018

Setelah mengangkat trofi Piala Dunia 2010, Spanyol memasuki turnamen 2014 sebagai juara bertahan, tetapi perjalanan mereka justru berakhir di fase grup dengan hasil yang mengecewakan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Pada laga pembuka melawan Belanda, Spanyol sempat unggul melalui penalti Xabi Alonso, tetapi akhirnya dihancurkan dengan skor 1-5 setelah Robin van Persie, Arjen Robben, Stefan de Vrij, dan Robben kembali mencetak gol untuk Belanda.

Kekalahan telak tersebut menjadi awal dari rangkaian hasil buruk karena Spanyol kemudian kalah 0-2 dari Chile dan hanya mengakhiri fase grup dengan kemenangan 3-0 atas Australia.

Empat tahun kemudian, Spanyol kembali gagal melangkah jauh di Piala Dunia 2018 yang digelar di Rusia setelah tersingkir pada babak 16 besar.

Spanyol bermain imbang 1-1 melawan Rusia setelah pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu, tetapi tuan rumah akhirnya menang 4-3 dalam adu penalti setelah Koke dan Iago Aspas gagal menjalankan tugasnya dari titik putih.

Dua kegagalan tersebut menunjukkan betapa sulitnya Spanyol mempertahankan dominasi setelah era kejayaan 2010, terlebih ketika generasi yang membawa mereka meraih gelar mulai memasuki fase akhir karier.

5. Era Regenerasi hingga Gelar Dunia Kedua Spanyol (2022–2026)

Spanyol kembali membangun skuad dengan menggabungkan pemain senior dan talenta muda, tetapi proses regenerasi itu belum langsung menghasilkan kesuksesan di Piala Dunia 2022.

Di Qatar, skuad Luis Enrique membuka turnamen dengan kemenangan besar 7-0 atas Kosta Rika, sebelum bermain imbang 1-1 melawan Jerman dan kalah 1-2 dari Jepang di fase grup.

La Roja kemudian tersingkir di babak 16 besar setelah bermain 0-0 melawan Maroko selama 120 menit dan kalah 0-3 dalam adu penalti, dengan Pablo Sarabia, Carlos Soler, dan Sergio Busquets gagal mengeksekusi tiga tendangan Spanyol.

Setelah Luis Enrique meninggalkan jabatan pelatih, Luis de la Fuente melanjutkan proses regenerasi dengan skuad yang semakin banyak diisi pemain muda, termasuk Pedri, Gavi, Pau Cubarsí, dan Lamine Yamal.

Perubahan tersebut kemudian mencapai puncaknya pada Piala Dunia 2026 ketika Spanyol berhasil merebut gelar dunia keduanya setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 di final.

Gelar tersebut menandai kebangkitan La Roja setelah dua kegagalan beruntun di babak 16 besar pada 2018 dan 2022, sekaligus menunjukkan keberhasilan regenerasi yang menggabungkan pengalaman pemain senior dengan munculnya generasi baru.

Pada Piala Dunia 2026, Pau Cubarsí bahkan mencatat 668 umpan sukses, sementara Lamine Yamal termasuk pemain yang disebut FIFA sebagai bagian penting dari keberhasilan Spanyol meraih gelar kedua dalam sejarahnya.

Dengan kemenangan atas Argentina tersebut, Spanyol kini memiliki dua gelar Piala Dunia, menyamai torehan Prancis dan Uruguay serta melampaui Inggris yang baru mengoleksi satu gelar.

Tabel Hasil Perjalanan Spanyol di Setiap Edisi Piala Dunia

Edisi Piala Dunia Tuan Rumah Pencapaian Akhir Pelatih Kepala
1934 Italia Perempat final Amadeo García
1950 Brasil Peringkat ke-4 Guillermo Eizaguirre
1962 Cile Fase grup Helenio Herrera
1966 Inggris Fase grup José Villalonga
1978 Argentina Fase grup Ladislao Kubala
1982 Spanyol Fase grup kedua José Santamaría
1986 Meksiko Perempat final Miguel Muñoz
1990 Italia Babak 16 besar Luis Suárez
1994 Amerika Serikat Perempat final Javier Clemente
1998 Prancis Fase grup Javier Clemente
2002 Korea Selatan–Jepang Perempat final José Antonio Camacho
2006 Jerman Babak 16 besar Luis Aragonés
2010 Afrika Selatan Juara Vicente del Bosque
2014 Brasil Fase grup Vicente del Bosque
2018 Rusia Babak 16 besar Fernando Hierro
2022 Qatar Babak 16 besar Luis Enrique
2026 Kanada–Meksiko–Amerika Serikat Juara Luis de la Fuente

FIFA mencatat Piala Dunia 2026 sebagai penampilan ke-17 Spanyol di putaran final setelah debut pada 1934.

Gelar 2026 menjadi trofi Piala Dunia kedua La Roja setelah keberhasilan mereka di Afrika Selatan pada 2010.

Pada 2026, Spanyol menutup turnamen dengan kemenangan 1-0 atas Argentina di final melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106.

Hasil tersebut memastikan Spanyol kembali menjadi juara dunia setelah 16 tahun dan mengangkat mereka sejajar dengan Prancis serta Uruguay yang sama-sama telah mengoleksi dua gelar.

Perjalanan Spanyol dari tim yang lama menanti gelar hingga mampu menjadi juara dunia dua kali menunjukkan bahwa keberhasilan di sepak bola tidak hanya lahir dari pemain berbakat.

Ada proses panjang yang melibatkan pembentukan teknik, pengembangan fisik, pematangan taktik, hingga kemampuan menerapkan strategi secara tepat di lapangan.

Jika kamu ingin memahami sepak bola lebih jauh dari sekadar melihat hasil pertandingan, buku Kepelatihan Sepak Bola: Teori dan Praktik karya Ketut Chandra Adinata Kusuma bisa menjadi bacaan yang relevan.

Buku ini membahas teknik dasar seperti passing, controlling, dribbling, shooting, dan heading, sekaligus mengulas latihan, taktik, strategi, serta peraturan permainan yang membantu kamu melihat bagaimana sebuah tim dibangun dan dikembangkan.

Tertarik mendalami dunia kepelatihan dan memahami sepak bola dari sisi teori hingga praktik?

Kamu bisa membaca buku ini melalui Gramedia Digital dan menjadikannya sebagai referensi untuk memperluas wawasanmu tentang olahraga yang terus berkembang ini.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau