Sejarah Juara Piala Dunia Spanyol Tim nasional Spanyol (La Roja) telah menjuarai Piala Dunia sebanyak 2 kali, yaitu pada 2010 dan 2026.
Pada 2010, Spanyol mengalahkan Belanda 1-0 lewat gol Andrés Iniesta pada menit ke-116, sedangkan pada 2026 La Roja menaklukkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106.
Kemenangan pada 2026 membuat Spanyol menjadi salah satu negara yang telah mengoleksi dua gelar Piala Dunia, menyamai Prancis dan Uruguay.
La Roja juga menjadi juara dengan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen Piala Dunia 2026.
Perjalanan Spanyol di Piala Dunia memperlihatkan perubahan panjang dari tim yang sering kesulitan di fase gugur menjadi juara dunia pada 2010 dan kembali meraih gelar pada 2026.
Spanyol menjalani debut Piala Dunia pada 1934 di Italia dan langsung menunjukkan potensi dengan mengalahkan Brasil 3-1 sebelum menyingkirkan tuan rumah Italia dalam laga ulangan perempat final dengan skor 1-0.
Pada Piala Dunia 1950 di Brasil, Spanyol mencatat pencapaian terbaiknya saat itu dengan menempati peringkat keempat dalam babak final yang menggunakan format grup, bukan sistem semifinal seperti yang dikenal sekarang.
Setelah itu, Spanyol kembali menghadapi perjalanan yang tidak mudah dengan beberapa kali tersingkir sebelum mencapai semifinal, termasuk pada Piala Dunia 1986 ketika mereka kalah dari Belgia melalui adu penalti di perempat final.
Pada periode 1934 hingga 1998, Spanyol memang belum mampu mengubah konsistensi penampilan di turnamen besar menjadi gelar Piala Dunia sehingga penantian panjang menuju trofi dunia terus berlanjut hingga generasi berikutnya.
Piala Dunia 2002 kembali meninggalkan kekecewaan setelah Spanyol tersingkir dari Korea Selatan di perempat final melalui adu penalti setelah pertandingan berakhir 0-0.
Pertandingan tersebut menjadi salah satu laga paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia karena sejumlah keputusan wasit yang diperdebatkan, termasuk dianulirnya dua gol Spanyol selama pertandingan.
Empat tahun kemudian, Spanyol tampil meyakinkan di fase grup Piala Dunia 2006 tetapi kembali gagal melewati babak 16 besar setelah kalah 1-3 dari Prancis.
Meski begitu, periode kepelatihan Luis Aragonés menjadi bagian penting dari perubahan generasi karena ia berani melakukan penyegaran skuad, termasuk keputusan mengejutkan untuk mencoret Raúl González dari tim pada kualifikasi Euro 2008.
Perubahan tersebut kemudian berlanjut ke keberhasilan Spanyol menjuarai Euro 2008 di bawah Aragonés, sebuah pencapaian yang menjadi fondasi penting sebelum La Roja menaklukkan dunia dua tahun kemudian.
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Spanyol karena La Roja akhirnya mengangkat trofi dunia untuk pertama kalinya.
Perjalanan tersebut justru dimulai dengan kekalahan mengejutkan 0-1 dari Swiss pada pertandingan pembuka fase grup.
Spanyol kemudian bangkit dengan mengalahkan Honduras 2-0 dan Chile 2-1 untuk memuncaki Grup H serta lolos ke babak 16 besar.
Di fase gugur, Spanyol mengalahkan Portugal 1-0 melalui gol David Villa dan melanjutkan perjalanan ke perempat final.
Melawan Paraguay, Spanyol kembali menang 1-0 setelah Iker Casillas menggagalkan penalti Óscar Cardozo sebelum David Villa mencetak gol penentu.
Di semifinal, Spanyol menundukkan Jerman 1-0 melalui sundulan Carles Puyol untuk mengamankan tiket menuju final Piala Dunia pertamanya.
La Roja kemudian menghadapi Belanda di final dan meraih kemenangan 1-0 melalui gol Andrés Iniesta pada menit ke-116 babak perpanjangan waktu.
Dengan kemenangan tersebut, Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya setelah sebelumnya meraih enam kemenangan beruntun sejak kekalahan dari Swiss di laga pembuka.
Setelah mengangkat trofi Piala Dunia 2010, Spanyol memasuki turnamen 2014 sebagai juara bertahan, tetapi perjalanan mereka justru berakhir di fase grup dengan hasil yang mengecewakan.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Pada laga pembuka melawan Belanda, Spanyol sempat unggul melalui penalti Xabi Alonso, tetapi akhirnya dihancurkan dengan skor 1-5 setelah Robin van Persie, Arjen Robben, Stefan de Vrij, dan Robben kembali mencetak gol untuk Belanda.
Kekalahan telak tersebut menjadi awal dari rangkaian hasil buruk karena Spanyol kemudian kalah 0-2 dari Chile dan hanya mengakhiri fase grup dengan kemenangan 3-0 atas Australia.
Empat tahun kemudian, Spanyol kembali gagal melangkah jauh di Piala Dunia 2018 yang digelar di Rusia setelah tersingkir pada babak 16 besar.
Spanyol bermain imbang 1-1 melawan Rusia setelah pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu, tetapi tuan rumah akhirnya menang 4-3 dalam adu penalti setelah Koke dan Iago Aspas gagal menjalankan tugasnya dari titik putih.
Dua kegagalan tersebut menunjukkan betapa sulitnya Spanyol mempertahankan dominasi setelah era kejayaan 2010, terlebih ketika generasi yang membawa mereka meraih gelar mulai memasuki fase akhir karier.
Spanyol kembali membangun skuad dengan menggabungkan pemain senior dan talenta muda, tetapi proses regenerasi itu belum langsung menghasilkan kesuksesan di Piala Dunia 2022.
Di Qatar, skuad Luis Enrique membuka turnamen dengan kemenangan besar 7-0 atas Kosta Rika, sebelum bermain imbang 1-1 melawan Jerman dan kalah 1-2 dari Jepang di fase grup.
La Roja kemudian tersingkir di babak 16 besar setelah bermain 0-0 melawan Maroko selama 120 menit dan kalah 0-3 dalam adu penalti, dengan Pablo Sarabia, Carlos Soler, dan Sergio Busquets gagal mengeksekusi tiga tendangan Spanyol.
Setelah Luis Enrique meninggalkan jabatan pelatih, Luis de la Fuente melanjutkan proses regenerasi dengan skuad yang semakin banyak diisi pemain muda, termasuk Pedri, Gavi, Pau Cubarsí, dan Lamine Yamal.
Perubahan tersebut kemudian mencapai puncaknya pada Piala Dunia 2026 ketika Spanyol berhasil merebut gelar dunia keduanya setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 di final.
Gelar tersebut menandai kebangkitan La Roja setelah dua kegagalan beruntun di babak 16 besar pada 2018 dan 2022, sekaligus menunjukkan keberhasilan regenerasi yang menggabungkan pengalaman pemain senior dengan munculnya generasi baru.
Pada Piala Dunia 2026, Pau Cubarsí bahkan mencatat 668 umpan sukses, sementara Lamine Yamal termasuk pemain yang disebut FIFA sebagai bagian penting dari keberhasilan Spanyol meraih gelar kedua dalam sejarahnya.
Dengan kemenangan atas Argentina tersebut, Spanyol kini memiliki dua gelar Piala Dunia, menyamai torehan Prancis dan Uruguay serta melampaui Inggris yang baru mengoleksi satu gelar.
| Edisi Piala Dunia | Tuan Rumah | Pencapaian Akhir | Pelatih Kepala |
| 1934 | Italia | Perempat final | Amadeo García |
| 1950 | Brasil | Peringkat ke-4 | Guillermo Eizaguirre |
| 1962 | Cile | Fase grup | Helenio Herrera |
| 1966 | Inggris | Fase grup | José Villalonga |
| 1978 | Argentina | Fase grup | Ladislao Kubala |
| 1982 | Spanyol | Fase grup kedua | José Santamaría |
| 1986 | Meksiko | Perempat final | Miguel Muñoz |
| 1990 | Italia | Babak 16 besar | Luis Suárez |
| 1994 | Amerika Serikat | Perempat final | Javier Clemente |
| 1998 | Prancis | Fase grup | Javier Clemente |
| 2002 | Korea Selatan–Jepang | Perempat final | José Antonio Camacho |
| 2006 | Jerman | Babak 16 besar | Luis Aragonés |
| 2010 | Afrika Selatan | Juara | Vicente del Bosque |
| 2014 | Brasil | Fase grup | Vicente del Bosque |
| 2018 | Rusia | Babak 16 besar | Fernando Hierro |
| 2022 | Qatar | Babak 16 besar | Luis Enrique |
| 2026 | Kanada–Meksiko–Amerika Serikat | Juara | Luis de la Fuente |
FIFA mencatat Piala Dunia 2026 sebagai penampilan ke-17 Spanyol di putaran final setelah debut pada 1934.
Gelar 2026 menjadi trofi Piala Dunia kedua La Roja setelah keberhasilan mereka di Afrika Selatan pada 2010.
Pada 2026, Spanyol menutup turnamen dengan kemenangan 1-0 atas Argentina di final melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106.
Hasil tersebut memastikan Spanyol kembali menjadi juara dunia setelah 16 tahun dan mengangkat mereka sejajar dengan Prancis serta Uruguay yang sama-sama telah mengoleksi dua gelar.
Perjalanan Spanyol dari tim yang lama menanti gelar hingga mampu menjadi juara dunia dua kali menunjukkan bahwa keberhasilan di sepak bola tidak hanya lahir dari pemain berbakat.
Ada proses panjang yang melibatkan pembentukan teknik, pengembangan fisik, pematangan taktik, hingga kemampuan menerapkan strategi secara tepat di lapangan.
Jika kamu ingin memahami sepak bola lebih jauh dari sekadar melihat hasil pertandingan, buku Kepelatihan Sepak Bola: Teori dan Praktik karya Ketut Chandra Adinata Kusuma bisa menjadi bacaan yang relevan.
Buku ini membahas teknik dasar seperti passing, controlling, dribbling, shooting, dan heading, sekaligus mengulas latihan, taktik, strategi, serta peraturan permainan yang membantu kamu melihat bagaimana sebuah tim dibangun dan dikembangkan.
Tertarik mendalami dunia kepelatihan dan memahami sepak bola dari sisi teori hingga praktik?
Kamu bisa membaca buku ini melalui Gramedia Digital dan menjadikannya sebagai referensi untuk memperluas wawasanmu tentang olahraga yang terus berkembang ini.