Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Diaspora Indonesia di Arab Saudi Hanya Pekerja Biasa?

Kompas.com, 4 Mei 2026, 15:33 WIB
Buku Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab: Jembatan Diaspora Indonesia–Arab Saudi Sumber Gambar: Dok. Elex Media Komputindo Buku Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab: Jembatan Diaspora Indonesia–Arab Saudi
Rujukan artikel ini:
Wajah Baru Indonesia di Tanah…
Pengarang: Dr. A.M. Sidqi
|
Editor Novia Putri Anindhita

Di antara bentang gurun yang luas dan kota-kota yang tumbuh cepat di Jazirah Arab, tersimpan jejak panjang yang jarang benar-benar kita pahami: kisah tentang orang-orang Indonesia yang hidup, bekerja, dan perlahan menjadi bagian dari denyut kehidupan di Arab Saudi.

Hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak pernah sekadar relasi antarnegara karena lebih menyerupai ikatan batin yang telah berurat akar sejak berabad-abad lalu.

Jauh sebelum istilah “diaspora” menjadi populer, orang-orang Nusantara telah lebih dulu menapakkan kaki di Tanah Suci, bukan untuk mencari penghidupan, melainkan untuk menuntut ilmu dan mendekat kepada Tuhan.

Nama-nama seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi penanda bahwa Indonesia pernah menjadi sumber rujukan keilmuan di jantung dunia Islam.

Dari Makkah, mereka menyalakan cahaya yang kelak menyebar hingga ke pelosok Nusantara.

Namun, waktu bergerak.

Motif diaspora pun berubah.

Memasuki akhir abad ke-20, gelombang baru hadir dengan wajah berbeda.

Arab Saudi tak lagi sekadar tujuan spiritual, tetapi juga ruang ekonomi.

Ratusan ribu orang Indonesia berangkat sebagai pekerja migran, mengisi sektor-sektor domestik dan informal.

Mereka menjadi tulang punggung keluarga di tanah air, meski sering kali harus menanggung rindu dan berbagai tantangan di negeri orang.

Selama bertahun-tahun, narasi tentang diaspora Indonesia di Arab Saudi didominasi oleh kisah-kisah getir: tentang perjuangan, keterbatasan, dan kerentanan.

Narasi itu tidak salah, tetapi juga tidak utuh.

Sebab di saat yang sama, perlahan muncul wajah lain yang jarang terlihat.

Dalam kesunyian yang tidak banyak disorot, generasi baru diaspora Indonesia mulai menapaki jalur berbeda.

Generasi baru diaspora Indonesia mulai hadir sebagai insinyur, akademisi, tenaga medis, profesional teknologi, hingga pelaku industri kreatif.

Mereka bekerja di sektor-sektor yang justru menjadi tulang punggung transformasi Arab Saudi hari ini.

Sejak Visi Saudi 2030 diluncurkan, negara itu bergerak cepat dengan membangun kota, memperluas sistem digital, membuka ruang bagi talenta global.

Di tengah perubahan besar itu, orang Indonesia tidak hanya menjadi penonton.

Mereka ikut bekerja, merancang, mengelola, bahkan memimpin di berbagai bidang.

Ada yang terlibat dalam proyek transportasi masa depan.

Ada yang mengembangkan sistem teknologi.

Ada yang mengajar di kampus ternama.

Ada pula yang bekerja di perusahaan energi dan keuangan berskala global.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi membawa sesuatu yang sama: ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan etos kerja yang pelan-pelan membangun kepercayaan.

Menariknya, kehadiran mereka tidak menggantikan cerita lama.

Justru melengkapinya.

Dari pekerja domestik hingga profesional kelas dunia, semuanya adalah bagian dari satu kisah besar tentang orang Indonesia yang bertahan, berkembang, dan memberi makna di perantauan.

Di titik ini, diaspora tidak lagi sekadar berarti “orang yang tinggal di luar negeri”.

Mereka adalah jembatan hidup yang menghubungkan dua budaya, dua masyarakat, bahkan dua cara pandang tentang dunia.

Setiap interaksi kecil yang mereka lakukan, dari pelayanan di rumah sakit, pengajaran di ruang kelas, hingga keputusan di ruang rapat, menjadi cara halus memperkenalkan Indonesia.

Bukan melalui pidato, tetapi melalui tindakan sehari-hari.

Mereka adalah penutur cerita tanpa panggung, dan dari sanalah citra Indonesia perlahan berubah.

Dan mungkin justru di situlah letak kekuatannya.

Hubungan antarnegara bisa naik dan turun, bergantung pada dinamika politik dan kepentingan.

Kunjungan pejabat datang dan pergi.

Kesepakatan ditandatangani, lalu diperbarui.

Namun, hubungan yang dibangun oleh mereka yang hidup bersama, bekerja bersama, dan saling percaya bertahan jauh lebih lama.

Sayangnya, kisah-kisah seperti ini jarang benar-benar kita dengar.

Jika dulu dikenal melalui ulama dan pelajar, kemudian melalui pekerja migran, kini Indonesia mulai dikenali melalui profesional yang kompeten dan dipercaya.

Ini bukan sekadar perubahan citra, tetapi juga pergeseran posisi: dari yang dulu datang untuk belajar, kini ikut membangun.

Namun, perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak kisah yang belum terdengar, banyak nama yang belum tercatat, dan banyak kontribusi yang belum sepenuhnya dipahami.

Di balik angka-angka statistik diaspora, selalu ada cerita personal tentang mimpi, pengorbanan, dan harapan yang terus dijaga.

Di sanalah pentingnya merawat narasi. Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh apa yang dikerjakan, tetapi juga oleh bagaimana kisah-kisahnya diceritakan.

Pada akhirnya, tulisan ini hanya menangkap sebagian kecil dari mozaik besar diaspora Indonesia di Arab Saudi.

Kisah yang lebih utuh, lebih personal, dan lebih mendalam tentang perjalanan para profesional Indonesia di negeri tersebut dihimpun dalam buku Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab: Jembatan Diaspora Indonesia–Arab Saudi karya Dr. A.M. Sidqi.

Melalui puluhan cerita nyata lintas sektor, buku ini tidak hanya merekam perubahan wajah diaspora, tetapi juga mengajak kita melihat satu hal sederhana: bahwa di tempat yang jauh, dalam diam, anak-anak bangsa sedang menulis babak baru tentang Indonesia.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Biaya Hidup di Kyoto per Bulan: Rincian Lengkap dan Perbandingan Pengeluaran

Biaya Hidup di Kyoto per Bulan: Rincian Lengkap dan Perbandingan Pengeluaran

buku
Asal Usul Suku Jawa dari Masa Purba hingga Modern

Asal Usul Suku Jawa dari Masa Purba hingga Modern

buku
Menjelajahi Dunia Hololive Lebih Luas: Dari Kehidupan Santai hingga Petualangan di Dunia Fantasi 

Menjelajahi Dunia Hololive Lebih Luas: Dari Kehidupan Santai hingga Petualangan di Dunia Fantasi 

buku
Belajar Bahasa Inggris Lewat BaLiTa Reading Set

Belajar Bahasa Inggris Lewat BaLiTa Reading Set

buku
Hari Kedua Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata: Semarak dari Sains, Dongeng, hingga Penampilan Spesial Quinn Salman

Hari Kedua Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata: Semarak dari Sains, Dongeng, hingga Penampilan Spesial Quinn Salman

buku
Latair dan Penyelamat Bumi: Mengajak Anak Memahami Suara Bumi Lewat Cerita

Latair dan Penyelamat Bumi: Mengajak Anak Memahami Suara Bumi Lewat Cerita

buku
Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata Resmi Dimulai, Hari Pertama Disambut Antusias

Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata Resmi Dimulai, Hari Pertama Disambut Antusias

buku
Semesta Buku Anak Meriahkan Festival Literasi Anak Rimba Kata di Bintaro Xchange

Semesta Buku Anak Meriahkan Festival Literasi Anak Rimba Kata di Bintaro Xchange

buku
Buku Anak Jadi Jembatan, Watiek Ideo dan Yanne TW Dorong Pendidikan Seksual Sejak Dini

Buku Anak Jadi Jembatan, Watiek Ideo dan Yanne TW Dorong Pendidikan Seksual Sejak Dini

buku
Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata Resmi Dimulai, Soroti Perkembangan Dunia Buku Anak Indonesia

Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata Resmi Dimulai, Soroti Perkembangan Dunia Buku Anak Indonesia

buku
7 Keutamaan Membaca Surah Maryam Setiap Hari untuk Mentalitas Pejuang

7 Keutamaan Membaca Surah Maryam Setiap Hari untuk Mentalitas Pejuang

buku
Berapa Biaya Hidup di Nagoya Jepang per Bulan? Ini Estimasi yang Perlu Disiapkan

Berapa Biaya Hidup di Nagoya Jepang per Bulan? Ini Estimasi yang Perlu Disiapkan

buku
Kenapa Penolakan Justru Bisa Jadi Jalan Menuju Kesuksesan?

Kenapa Penolakan Justru Bisa Jadi Jalan Menuju Kesuksesan?

buku
Bagaimana Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Lahar? Berikut Penjelasannya

Bagaimana Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Lahar? Berikut Penjelasannya

buku
Bisnis Tanpa Kepercayaan Pasti Tumbang! Ini Cara Menjaganya

Bisnis Tanpa Kepercayaan Pasti Tumbang! Ini Cara Menjaganya

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau