Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengantin Setan: Film Adaptasi Buku yang Layak Ditonton Awal Tahun

Kompas.com, 13 Januari 2025, 13:00 WIB
Film Pengantin Setan Sumber Gambar: Dok. Elex Media Komputindo  Film Pengantin Setan
Rujukan artikel ini:
Pengantin Setan
Pengarang: Fajar Aditya
|
Editor Laila Wulanalfi

Bagi penggemar podcast dan novel horor, nama RJL 5 barangkali sudah tidak asing lagi.

Dipenggawai oleh Fajar Aditya, RJL 5 kerap mengangkat kisah-kisah horor dengan pendekatan unik dalam podcast-nya di YouTube, yaitu pendekatan logika dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Berkat itu, ternyata banyak penonton yang menyukainya.

Terbukti dengan banyaknya jumlah viewers di Youtube, Tiktok, dan Instagram RJL 5.

“Banyaknya budaya yang dimiliki Indonesia bisa dibilang sebagai sebuah aset yang harus dijaga, maka itulah cita-cita RJL ketika membuat konten di platform media sosial, lalu buku, dan sekarang berubah bentuk menjadi film, semoga nilai-nilai itu akan tetap kami jaga,” kata Fajar Aditya dalam wawancara screening film Pengantin Setan di bioskop XXI Kota Kasablanka, 7 Januari 2025 lalu.

Harapannya, selain punya sisi menghibur bagi pencinta horor, film ini juga bisa menyisipkan nilai edukasi mengenai dampak dari perceraian.

Saat seorang malas menikah, malas mempunyai anak, tentu saja hal tersebut dapat berpengaruh terhadap skala individu, sosial, dan nasional.

Misalnya pada kasus anak yang broken home dengan rasa trauma yang mendalam.

“Terkadang, kita suka mendengar anggapan lebih baik memelihara anjing dibandingkan mempunyai anak. Dengan pengalaman yang buruk, tidak jarang mereka akhirnya memilih untuk tidak mau menikah,” lanjut Fajar Aditya.

Dalam momen yang sama, Kun Wardhana, cawagub independen DKI Jakarta 2024 yang turut memeriahkan screening film Pengantin Setan, melihat fenomena tingkat perceraian sangat tinggi di zaman yang semakin modern, membuat orang semakin malas menikah.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

“Dampaknya cukup besar kalau orang malas menikah pada generasi ke depan. Jadi kita perlu melakukan edukasi dan mereduksi nilai-nilai dari pernikahan itu, karena dengan perkembangan teknologi ini membuat perubahan sosial ekonomi dan budaya,” ujar Kun Wardhana.

Sama seperti dalam bukunya, film Pengantin Setan mengisahkan tokoh Echa yang diperankan oleh Erika Carlina dan Ariel yang diperankan oleh Emir Mahira, pasangan muda yang terus mengalami konflik rumah tangga yang disebabkan oleh hal sepele.

Namun, dampaknya sangat besar hingga nyaris berujung pada perceraian.

“Mungkin itulah sebabnya dalam agama Islam dijelaskan Iblis dan anak buahnya sangat senang jika terjadi sebuah perceraian dalam rumah tangga,” sambungan Kun Wardhana.

Echa yang larut dalam permasalahan rumah tangganya, ternyata justru menikmati hubungannya dengan seorang lelaki tampan yang hadir dalam setiap mimpinya, membuatnya nyaman melebihi hubungan dengan suaminya sendiri.

Termasuk saat mimpi berhubungan badan yang terasa sangat nyata.

Tanpa Echa sadari, bahwa kejadian tersebut adalah gangguan dari jin dan sebagai awal dari dirinya yang dijadikan pengantin setan.

“Akibatnya, teror mengerikan terus terjadi tidak hanya dalam mimpi. Justru teror yang mencekam itu telah muncul di dunia nyata,” jelas Fajar kembali.

Screening film bergenre horor yang digubah dari kisah nyata ini juga dihadiri oleh Dustin Tiffany, Bopak, Reza Surya, Kun Wardhana, dan masih banyak lagi artis serta influencer.

“Buat yang mau nonton, film Pengantin Setan akan tayang 16 Januari 2025 di bioskop kesayangan kalian,” tutup Fajar Aditya.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau