Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenali Tanda-Tanda Emotionally Unavailable Berikut Ini

Kompas.com, 28 November 2023, 12:00 WIB
 Emotionally Unavailable  Sumber Gambar: Freepik.com Emotionally Unavailable 
Rujukan artikel ini:
Semua Orang Butuh Curhat
Pengarang: Lori Gottlieb
|
Editor Ratih Widiastuty

Sulitnya seseorang untuk mengekspresikan emosi dan perasaannya dikenal dengan sebutan emotionally unavailable.

Tidak adanya ikatan hubungan emosional yang baik akan membuat seseorang tidak memungkinkan untuk mempunyai hubungan yang sehat atau bertahan lama.

Individu yang memiliki emotionally unavailable cenderung menganggap hubungan sebagai suatu tantangan serta lebih menyukai menjalin relasi secara santai serta menjaga jarak.

Mereka biasanya akan bersikap acuh tak acuh dan tidak pernah mau membicarakan hal-hal yang terlalu dalam tentang hubungan.

Kekurangan dari orang dengan emotionally unavailable dalam menjalin hubungan, kerap membuat pasangan mempertanyakan perasaan mereka yang menjadikan ancaman hancurnya hubungan tersebut.

Dapat disimpulkan, emotionally unavailable adalah kondisi mental yang menjadikan seseorang sulit menanggapi kebutuhan emosional orang lain.

Seseorang dengan emotionally unavailable, biasanya akan merasa kesulitan dalam mengekspresikan atau menghadapi emosi yang tengah dirasakan maupun yang dikeluarkan oleh orang lain.

Hal ini akan menjadikan mereka tampak angkuh atau dingin.

Mereka juga cenderung menghindari situasi atau topik tertentu yang mengharuskan ekspresi emosi terlibat di dalamnya.

Kondisi seperti ini akan membuat seseorang menjadi tidak nyaman akan emosi yang mereka rasakan, berbagi emosi dengan orang lain atau merespons dan menerima emosi orang lain.

Biasanya, kondisi emotionally unavailable cenderung lebih banyak dialami oleh laki-laki akibat terdapat tekanan budaya yang menjadikan seorang laki-laki terlihat lemah apabila menunjukkan perasaannya.

Apa saja tanda-tanda emotionally unavailable yang harus diketahui? Simak penuturannya berikut ini.

Tanda-Tanda Emotionally Unavailable

1. Menghindari Keintiman

Seseorang dengan emotionally unavailable akan merasa ketakutan saat dihadapkan dengan keintiman sebab ini menjadi pertanda bagi mereka untuk berbagi perasaan serta pikiran terdalam mereka dengan orang lain.

Hal ini juga terlihat dari kebiasaan mereka yang selalu menghindari situasi atau percakapan intim sehingga sulit percaya pada orang lain.

2. Menghindari Komitmen

Individu dengan emotionally unavailable dapat menjadi sangat takut serta susah untuk berkomitmen dalam menjalin sebuah hubungan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Mereka biasanya akan lebih memilih menjalin hubungan tanpa status atau enggan membawa hubungan ke jenjang yang jauh lebih serius.

Mereka akan lebih menyukai mempunyai banyak sahabat dengan hubungan yang biasa saja, atau mengakhiri hubungan saat sudah dirasa terlalu serius.

3. Bersikap Defensif

Individu dengan emotionally unavailable akan lebih sering merespons dengan cara defensif, atau menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka jalani.

Pasalnya, bagi mereka, memberikan kepercayaan pada orang lain merupakan sebuah tantangan sehingga membuat mereka enggan terikat secara emosional.

4. Mengabaikan Hubungan

Demi menjaga emosi serta melindungi diri supaya tidak terikat, seseorang dengan emotionally unavailable tidak akan melakukan usaha apa pun untuk mempertahankan sebuah hubungan dengan baik.

Maka dari itu, pasangannya lah yang mesti menjadi pihak yang berusaha membereskan masalah dalam hubungan tersebut.

5. Tidak Pernah Ada untuk Orang Lain

Pembicaraan secara emosional adalah hal yang dihindari orang-orang dengan emotionally unavailable.

Maka ketika ada teman, pasangan, atau keluarga yang ingin curhat, maka mereka akan mencari seribu alasan untuk menghindarinya.

Meskipun mereka berusaha hadir untuk orang terdekat, tapi ada saja upaya untuk mengurangi perasaan emosi dengan mengubah topik pembicaraan atau tidak menghiraukan percakapan emosional.

Oleh sebabnya, curhat atau menceritakan perasaan dan emosi kita pada orang lain memang perlu untuk dilakukan.

Beban emosi yang ditumpuk sendiri justru malah membuat masalah di berbagai aspek kehidupan, salah satunya terkait hubungan dengan orang lain.

Buku Semua Orang Butuh Curhat akan sangat cocok dibaca bagi kamu yang kerap memendam emosi dan perasaan sendiri.

Ditulis oleh Lori Gottlieb, seorang psikoterapis handal dan berpengalaman yang akan membagikan ilmu dan pengalamannya melalui buku ini.

Meskipun buku ini bisa dibilang sangat tebal dengan jumlah halaman sebanyak 632, tapi melalui gaya penulisan Lori yang ringan dan juga santai akan menjadikan pengalaman membaca buku ini menjadi menyenangkan.

Segera pesan dan miliki buku Semua Orang Butuh Curhat sekarang juga melalui online di Gramedia.com atau Toko Gramedia favoritmu.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau