Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perbedaan Arti Kata dalam Bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah yang Biasa Digunakan

Kompas.com, 24 Juni 2023, 12:00 WIB
 Bahasa Jawa Timur  Sumber Gambar: Pexels.com Bahasa Jawa Timur 
Rujukan artikel ini:
Tahta Di Timur Jawa Catatan…
Pengarang: Zainollah Ahmad
|
Editor Ratih Widiastuty

Bahasa Jawa Timur termasuk salah satu bahasa yang ada di Pulau Jawa dengan tutur dialek arekan.

Rumpun dialek arekan ini biasanya dituturkan di wilayah Jawa Timur, terutama di daerah Surabaya Raya, Malang Raya, Pasuruan, Lumajang, dan daerah-daerah di sekitarnya.

Dalam perkembangannya, dialek ini bercabang dari dialek Jawa Timuran yang terdiri dari dialek Surabaya dan dialek Malang-Pasuruan.

Bahasa Jawa Timuran secara umum memiliki ciri khas berupa sifatnya yang egaliter, terus terang dan cenderung tidak bersifat normatif.

Di Malang, penutur bahasa dialek Malang menggunakan prokem bahasa walikan atau bahasa terbalik, seperti memanggil sam untuk menyebut mas atau makan menjadi nakam.

Pada dasarnya, kosakata bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah memiliki kemiripan yang sebagian besar hampir sama.

Meski begitu, bahasa Jawa Timur memiliki beragam dialek dan variasi sehingga ada perbedaan dalam penggunaan kosa kata yang memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa tergantung pada daerah atau konteksnya.

Untuk lebih memahami bahasa Jawa Timur, simak perbedaan artinya dengan bahasa Jawa Tengah berikut ini.

Perbedaan Arti Kata dalam Bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah

1. "Dolanan" (Jawa Timur) vs "Guyonan" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti lelucon atau bercanda, tetapi dalam Jawa Timur, "dolanan" cenderung lebih mengarah pada permainan tradisional atau mainan anak-anak.

2. "Ndang" (Jawa Timur) vs "Mong" (Jawa Tengah)

Keduanya digunakan untuk mengungkapkan permintaan atau ajakan.

Namun, "ndang" dalam bahasa Jawa Timur cenderung lebih kuat dan tegas, sementara "mong" dalam bahasa Jawa Tengah lebih halus dan sopan.

3. "Gawe" (Jawa Timur) vs "Nggawe" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti bekerja atau membuat sesuatu, tetapi "gawe" dalam bahasa Jawa Timur dapat merujuk pada pekerjaan secara umum, sedangkan "nggawe" dalam bahasa Jawa Tengah lebih khusus merujuk pada tindakan menciptakan atau membuat.

4. "Jum" (Jawa Timur) vs "Kang" (Jawa Tengah)

Keduanya digunakan sebagai kata penghubung atau pengganti kata benda.

Kata "jum" dalam bahasa Jawa Timur lebih sering digunakan dalam konteks informal atau sehari-hari, sedangkan "kang" dalam bahasa Jawa Tengah lebih umum digunakan dalam konteks formal atau resmi.

5. "Edan" (Jawa Timur) vs "Keblinger" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti gila atau tidak waras, tetapi "edan" dalam bahasa Jawa Timur cenderung lebih umum digunakan, sedangkan "keblinger" dalam bahasa Jawa Tengah lebih khas untuk menggambarkan tingkat kegilaan yang lebih tinggi.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

6. "Kaplok" (Jawa Timur) vs "Pegat" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti terjebak atau terperangkap, namun "kaplok" dalam bahasa Jawa Timur cenderung lebih merujuk pada situasi fisik, sedangkan "pegat" dalam bahasa Jawa Tengah dapat merujuk pada situasi fisik maupun non-fisik.

7. "Ngguyu" (Jawa Timur) vs "Ngayahi" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti mengecup atau mencium dengan ari kata"ngguyu" dalam bahasa Jawa Timur cenderung lebih sering digunakan dalam konteks kasih sayang atau keakraban, sedangkan "ngayahi" dalam bahasa Jawa Tengah lebih bersifat umum dan dapat digunakan dalam berbagai konteks.

8. "Adus" (Jawa Timur) vs "Bersih" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti bersih atau membersihkan, tetapi, "adus" dalam bahasa Jawa Timur lebih sering digunakan dalam konteks membersihkan secara kasar atau membersihkan dengan air.

Sementara "bersih" dalam bahasa Jawa Tengah lebih umum digunakan dan mencakup konsep kebersihan secara umum.

9. "Wiji" (Jawa Timur) vs "Rerami" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti cermin. Namun, "wiji" dalam bahasa Jawa Timur cenderung lebih sering digunakan, sedangkan "rerami" dalam bahasa Jawa Tengah lebih jarang digunakan dan terdengar lebih kuno.

10. "Welas" (Jawa Timur) vs "Eling" (Jawa Tengah)

Keduanya berarti ingat atau mengingat.

Namun, "welas" dalam bahasa Jawa Timur cenderung lebih umum digunakan, sedangkan "eling" dalam bahasa Jawa Tengah cenderung lebih kuat dalam arti mengingat dengan hati-hati atau hati-hati.

Itulah perbedaan bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dapat menambah wawasan pengetahuan terkait ragam bahasa di Indonesia.

Selain mengenali ragam bahasa, penting juga untuk mempelajari daerah-daerah di Indonesia tak terkecuali di Jawa Timur.

Sejarah keberadaan provinsi Jawa Timur dapat kamu baca dalam buku berjudul Tahta di Timur Jawa: Catatan Konflik dan Pergolakan pada Abad 13.

Seperti judulnya, buku ini merangkum berbagai catatan konflik dan pergolakan yang terjadi di Jawa Timur pada abad ke-13 hingga ke-16.

Salah satu sumber sejarah yang terangkum dalam buku ini, yaitu berdasarkan Perjanjian Songenep yang menuliskan perjalanan Aria Wiraraja dalam mendapatkan bagian sebelah timur Majapahit, yaitu Lumajang utara dan selatan.

Selain itu, jatuh bangun pergolakan tahta ke tahta di wilayah ujung Jawa Timur juga akan dijelaskan dalam buku ini.

Meski mengalami pergantian tahta, masyarakat di wilayah ujung timur Jawa ini disebutkan dalam buku tidak kehilangan arah dan ketinggalan peradaban.

Sebaliknya, wilayah Jawa Timur justru semakin berkembang dan eksistensinya tetap lestari melintasi zaman meski melewati berbagai konflik, peperangan, dan pembumihangusan.

Tertarik membaca buku Tahta di Timur Jawa: Catatan Konflik dan Pergolakan pada Abad 13? Dapat dibeli secara langsung di toko buku Gramedia atau secara online melalui Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Doa yang Dibaca Saat Sedekah Subuh dan Cara Mengamalkannya 

Doa yang Dibaca Saat Sedekah Subuh dan Cara Mengamalkannya 

buku
Letak Kerajaan Samudera Pasai: Lokasi, Sejarah, dan Bukti Peninggalannya

Letak Kerajaan Samudera Pasai: Lokasi, Sejarah, dan Bukti Peninggalannya

buku
6 Manfaat Meditasi untuk Ketenangan di Tengah Hidup yang Serba Cepat

6 Manfaat Meditasi untuk Ketenangan di Tengah Hidup yang Serba Cepat

buku
Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang yang Menjadi Jejak Penting Sejarah Islam Jawa

Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang yang Menjadi Jejak Penting Sejarah Islam Jawa

buku
Letak Kerajaan Gowa Tallo: Lokasi Geografis dan Buktinya

Letak Kerajaan Gowa Tallo: Lokasi Geografis dan Buktinya

buku
Apa Itu Banjir Rob dan Mengapa Sering Terjadi di Wilayah Pesisir?

Apa Itu Banjir Rob dan Mengapa Sering Terjadi di Wilayah Pesisir?

buku
Apa Itu Penyandang Disabilitas? Berikut Jenis dan Haknya

Apa Itu Penyandang Disabilitas? Berikut Jenis dan Haknya

buku
Makanan yang Mengandung Vitamin E: Rahasia Kulit Sehat, Awet Muda, dan Daya Tahan Tubuh

Makanan yang Mengandung Vitamin E: Rahasia Kulit Sehat, Awet Muda, dan Daya Tahan Tubuh

buku
Apakah Diet Rendah Gula Bisa Bikin Kurus? Berikut Penjelasannya

Apakah Diet Rendah Gula Bisa Bikin Kurus? Berikut Penjelasannya

buku
Makanan yang Mengandung Protein Tinggi: Kunci Hidup Lebih Bertenaga

Makanan yang Mengandung Protein Tinggi: Kunci Hidup Lebih Bertenaga

buku
Macam-Macam Wakaf Beserta Contohnya yang Wajib Diketahui Umat Islam

Macam-Macam Wakaf Beserta Contohnya yang Wajib Diketahui Umat Islam

buku
Bagaimana Cara Bulking yang Benar? Simak Caranya di Sini! 

Bagaimana Cara Bulking yang Benar? Simak Caranya di Sini! 

buku
Warna yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang: Panduan agar Tidak Salah Pilih Warna

Warna yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang: Panduan agar Tidak Salah Pilih Warna

buku
Daftar Makanan Penyebab Asam Urat yang Wajib Kamu Tahu!

Daftar Makanan Penyebab Asam Urat yang Wajib Kamu Tahu!

buku
Apa Itu Resolusi Tahun Baru dan Mengapa Banyak Orang Sulit Menepatinya

Apa Itu Resolusi Tahun Baru dan Mengapa Banyak Orang Sulit Menepatinya

buku
Fondasi Keragaman, Mengenal Kitab Suci Agama di Indonesia

Fondasi Keragaman, Mengenal Kitab Suci Agama di Indonesia

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau