Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masa Kejayaan Kerajaan Banten: Perdagangan Internasional, Pusat Islam, dan Simbol Kedaulatan Nusantara

Kompas.com, 4 Februari 2026, 15:00 WIB
Masa Kejayaan Kerajaan Banten  Sumber Gambar: Indonesiakaya.com Masa Kejayaan Kerajaan Banten 
Rujukan artikel ini:
Legasi Maulana Hasanuddin Banten
Pengarang: Prof. Mufti Ali, Ph.D.,…
Penulis Anggi
|
Editor Novia Putri Anindhita

Ketika membicarakan sejarah maritim Nusantara, nama Banten selalu punya tempat istimewa.

Pada puncak masa kejayaan Kerajaan Banten, wilayah ini bukan sekadar kerajaan pesisir biasa, melainkan simpul penting perdagangan dunia, pusat penyebaran Islam, sekaligus simbol kemandirian politik di tengah gempuran kekuatan asing.

Banten adalah contoh bagaimana kekuatan ekonomi, budaya, dan spiritual bisa tumbuh berdampingan, membentuk peradaban yang berpengaruh jauh melampaui batas geografisnya.

Masa Kejayaan Kerajaan Banten sebagai Pusat Perdagangan Internasional

Salah satu fondasi terkuat di balik masa kejayaan Kerajaan Banten adalah kekuatan ekonominya.

Letak geografis Banten yang strategis, yakni tepat menghadap Selat Sunda membuat wilayah ini menjadi jalur lintasan penting bagi kapal-kapal dagang dari Asia, Timur Tengah, hingga Eropa.

Memasuki abad ke-16 hingga ke-17, Pelabuhan Banten menjelma sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara.

Di sinilah lada menjadi komoditas andalan yang mengangkat nama Banten di dunia.

Ada beberapa faktor kunci yang membuat Banten mampu tumbuh dan bertahan sebagai pusat perdagangan penting di kawasan ini.

1. Pelabuhan yang Terbuka untuk Berbagai Bangsa

Berbeda dengan sistem monopoli ketat yang diterapkan VOC, Banten memilih membuka pelabuhannya bagi siapa saja.

Pedagang Arab, Gujarat, Cina, Persia, hingga Eropa bisa berdagang secara bebas.

Kebijakan ini menciptakan suasana pelabuhan yang ramai, dinamis, dan penuh pertukaran budaya.

2. Sistem Ekonomi yang Relatif Bebas dan Adil

Para pedagang tidak dipaksa tunduk pada satu kekuatan dagang tertentu.

Kebebasan ini membuat Banten dipandang sebagai mitra yang aman dan dapat dipercaya sehingga arus perdagangan terus mengalir tanpa henti.

3. Jaringan Dagang dan Diplomasi Internasional yang Luas

Kerajaan Banten aktif membangun hubungan dengan berbagai kekuatan dunia, mulai dari Kesultanan Utsmaniyah, Inggris, hingga kerajaan-kerajaan di Asia Selatan.

Jaringan ini yang memperkuat posisi Banten sebagai pemain penting dalam perdagangan global.

Puncak kejayaan ekonomi Banten terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada periode ini, pelabuhan dipenuhi aktivitas dagang, kas kerajaan menguat, dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Banten tak lagi sekadar tempat singgah, melainkan pusat perputaran ekonomi dunia yang berpengaruh pada zamannya.

Masa Kejayaan Kerajaan Banten sebagai Pusat Penyebaran Islam dan Ilmu

Kejayaan Banten tak hanya karena dari ramainya lalu lintas kapal dagang di pelabuhan, tetapi juga dari kuatnya kehidupan spiritual dan intelektual masyarakatnya.

Pada masa kejayaan Kerajaan Banten, Islam tumbuh dan berkembang sebagai fondasi utama kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan.

Masjid Agung Banten menjadi simbol paling nyata dari peran ini.

Arsitekturnya yang khas, perpaduan unsur Jawa, Cina, dan Eropa mencerminkan keterbukaan Banten terhadap berbagai pengaruh budaya.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang bersama mulai dari tempat belajar, berdiskusi, hingga merumuskan keputusan penting kerajaan.

Banten juga dikenal sebagai magnet bagi para ulama dan cendekiawan dari berbagai wilayah.

Di kota ini, ilmu agama, hukum Islam, hingga pemikiran filsafat berkembang pesat.

Penyebarannya juga berlangsung secara alami, melalui teladan hidup, dialog antarbudaya, dan interaksi dagang, bukan lewat paksaan.

Ada beberapa nilai penting yang menandai kuatnya peran keislaman dalam kejayaan Banten, sebagai berikut:

Islam menjadi perekat sosial di tengah masyarakat yang multietnis dan multikultural.

Ulama berperan aktif dalam pemerintahan, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.

Tradisi keilmuan berjalan seiring dengan perdagangan, menciptakan keseimbangan antara aktivitas duniawi dan nilai spiritual

Perlawanan terhadap Kolonialisme, dan Warisan yang Tertinggal

Di saat banyak wilayah Nusantara mulai terjerat dominasi VOC, Banten justru memilih berdiri berseberangan.

Kerajaan ini menolak tunduk pada monopoli dagang dan mempertahankan kedaulatannya dengan cara yang berani.

Sosok sentral dalam fase ini adalah Sultan Ageng Tirtayasa.

Ia menolak keras campur tangan VOC, memperkuat armada laut, membangun kekuatan militer, serta menjalin diplomasi dengan berbagai pihak.

Bagi Kerajaan Banten, perdagangan boleh terbuka, tetapi kedaulatan tidak untuk ditawar bagi kepentingan asing yang ingin menguasai jalur ekonomi.

Namun, keadaan berbalik ketika konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji, yang kemudian dimanfaatkan oleh VOC.

Politik adu domba pun perlahan melemahkan Banten dari dalam, hingga terjadilah perpecahan yang berujung pada runtuhnya kekuatan politik dan ekonomi Kerajaan Banten.

Saat ini, jejak masa kejayaan Kerajaan Banten masih dapat disaksikan melalui berbagai peninggalan sejarah, seperti reruntuhan Keraton Surosowan, Masjid Agung Banten, serta beragam benda cagar budaya lainnya.

Tak hanya itu, tradisi dan identitas masyarakat setempat pun menjadi saksi bisu kebesaran Banten di masa lalu.

Seluruh peninggalan tersebut berada di kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Bagi kamu yang ingin mengenal Banten dari akar sejarahnya, buku Legasi Maulana Hasanuddin Banten bisa menjadi bacaan yang menarik.

Buku ini mengulas jejak Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, yang berperan penting dalam membangun fondasi Banten, baik dalam bidang agama, politik, ekonomi, maupun sosial.

Tak hanya itu, kamu juga akan diajak memahami perkembangan Banten dari sisi literasi, kondisi geografis, hingga sumber daya alam dan manusianya.

Ditulis berdasarkan berbagai sumber sejarah, buku ini memberi gambaran yang utuh tentang sosok Maulana Hasanuddin dan perannya dalam membentuk peradaban Banten.

Yuk, dapatkan bukunya segera di Gramedia.com atau Gramedia Digital untuk versi buku digitalnya.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau