7 Bukti Peninggalan Kerajaan Banten yang Masih Ada Hingga Kini

Lihat Foto
Sumber Gambar: Kompas.com
Bukti Peninggalan Kerajaan Banten 
Rujukan artikel ini:
Mengenal Kerajaan Islam Nusantara
Pengarang: Khairul Saleh
Penulis Adnan
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Kerajaan Banten pernah berdiri gagah sebagai penguasa maritim yang disegani di ujung barat Pulau Jawa.

Runtuhan bangunan dan artefak kuno di kawasan Banten Lama menjadi saksi bisu betapa majunya peradaban Islam kala itu.

Mengunjungi situs-situs ini seolah membawa kita lorong waktu, kembali ke masa di mana pelabuhan Karangantu dipenuhi kapal asing.

Penting bagi generasi muda untuk tidak sekadar mendengar cerita, tetapi mengenali wujud fisik dari warisan nenek moyang mereka.

Artikel ini akan mengulas tujuh bukti peninggalan kerajaan banten yang paling ikonik dan sarat akan nilai sejarah.

Sekilas tentang Kesultanan Banten

Sebelum menelusuri peninggalan fisiknya, kita perlu memahami sedikit konteks mengenai siapa yang membangun peradaban megah ini.

Kesultanan Banten didirikan pada abad ke-16, melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu di pedalaman.

Sultan Maulana Hasanuddin adalah sosok kunci yang meletakkan fondasi pertama pemerintahan Islam di wilayah pesisir nan strategis ini.

Di bawah kepemimpinannya, Banten bertransformasi dari kadipaten kecil menjadi kekuatan politik dan ekonomi baru yang diperhitungkan dunia.

Ia membangun pusat pemerintahan, masjid, dan pasar yang terintegrasi, menciptakan tata kota yang sangat modern pada zamannya.

Visi besarnya diteruskan oleh sultan-sultan berikutnya yang membawa Banten mencapai puncak keemasan.

Daftar Bukti Peninggalan Kerajaan Banten yang Ikonik

Berikut adalah tujuh situs bersejarah yang wajib kamu tahu untuk memahami kebesaran Kesultanan Banten secara utuh.

1. Masjid Agung Banten (Pusat Religi & Akulturasi)

Situs ini adalah ikon paling terkenal yang menjadi ikon utama kawasan wisata sejarah Banten Lama hingga hari ini.

Keunikan utamanya terletak pada desain atap tumpang lima yang menyerupai pagoda, menunjukkan pengaruh arsitektur Tiongkok yang kuat.

Masjid ini dirancang oleh seorang arsitek keturunan Tionghoa bernama Tjek Ban Tjut atau lebih dikenal sebagai Lucas Cardeel.

Akulturasi budaya terlihat jelas dari perpaduan gaya Jawa, Tiongkok, dan Eropa yang menyatu harmonis dalam satu bangunan ibadah.

Di sisi utara masjid, terdapat serambi memanjang yang dulunya digunakan sebagai tempat musyawarah para ulama dan petinggi kerajaan.

Bagian paling mencolok adalah menara putih setinggi 24 meter yang berdiri kokoh menjulang di halaman depan masjid.

Menara yang mirip mercusuar ini berfungsi sebagai tempat muazin mengumandangkan azan sekaligus pos pengawas lalu lintas laut.

Pengunjung diperbolehkan menaiki tangga spiral sempit di dalam menara untuk melihat pemandangan pesisir Banten dari ketinggian.

Di kompleks ini pula terdapat makam sultan-sultan Banten dan keluarganya yang selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

2. Keraton Surosowan (Kediaman Sultan)

Keraton Surosowan dulunya adalah pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal resmi keluarga Sultan Banten yang sangat megah.

Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin dan mengalami beberapa kali renovasi perluasan oleh penerusnya.

Sayangnya, istana yang indah ini dihancurkan hingga rata dengan tanah oleh Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808.

Kini, kita hanya bisa melihat sisa-sisa fondasi dinding bata merah dan lantai keraton yang masih tersisa.

Meski tinggal reruntuhan, luas area keraton yang mencapai kurang lebih tiga hektare menunjukkan betapa besarnya kekuasaan sultan saat itu.

Salah satu fitur menarik yang masih utuh adalah kolam pemandian putri atau Roro Denok di bagian dalam kompleks.

Sistem pengairan keraton ini sangat canggih, menggunakan pipa terakota untuk mengalirkan air bersih ke berbagai penjuru istana.

Benteng keliling setinggi dua meter yang mengitari keraton menjadi bukti bahwa Surosowan dirancang dengan sistem pertahanan militer yang kuat.

3. Keraton Kaibon (Istana Ibu Suri)

Berbeda dengan Surosowan yang merupakan pusat pemerintahan, Keraton Kaibon dibangun khusus sebagai tempat tinggal Ibu Suri atau Ratu Aisyah.

Keraton ini dibangun karena Sultan Syafiuddin saat itu masih sangat belia untuk memegang tampuk kekuasaan pemerintahan sendirian.

Arsitektur Kaibon cenderung lebih terbuka dan asri, mencerminkan fungsinya sebagai hunian keluarga kerajaan yang lebih privat.

Ciri khas yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah gerbang paduraksa yang megah dengan motif hiasan khas Jawa-Bali.

Gerbang ini seolah menyambut pengunjung untuk masuk dan membayangkan kehidupan sehari-hari ibunda sultan di masa lalu.

Struktur bangunan yang tersisa menunjukkan adanya kanal air yang memungkinkan perahu kecil masuk langsung ke area istana.

Kanal ini menghubungkan keraton dengan sungai besar, memudahkan transportasi air bagi penghuni istana tanpa harus melalui jalan darat.

Runtuhan pilar-pilar besar di area utama memberikan gambaran betapa megahnya pendopo istana ini sebelum dihancurkan Belanda.

4. Benteng Speelwijk (Saksi Banten & VOC)

Terletak tidak jauh dari Keraton Surosowan, Benteng Speelwijk adalah simbol kekuasaan kolonial Belanda di tanah Banten.

Benteng ini dibangun pada abad ke-17 sebagai markas pertahanan VOC untuk mengawasi aktivitas perdagangan di pelabuhan Banten.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Nama "Speelwijk" diambil dari nama Gubernur Jenderal VOC saat itu, Cornelis Speelman, sebagai bentuk penghormatan.

Bangunan ini memiliki arsitektur militer Eropa yang khas dengan dinding tebal, ruang bawah tanah, dan menara pengawas.

Dari atas bastion benteng, serdadu Belanda dapat memantau pergerakan kapal yang keluar masuk melalui Teluk Banten.

Di dalam area benteng, terdapat pemakaman kuno orang-orang Eropa yang meninggal saat bertugas di Hindia Belanda.

Kondisi benteng yang berhadap-hadapan dengan keraton menyimbolkan persaingan sengit dan hubungan panas dingin antara Sultan dan VOC.

Kini, dinding-dindingnya yang mulai lapuk ditumbuhi akar pohon tua, menambah kesan eksotis dan misterius bagi pengunjung.

5. Meriam Ki Amuk

Meriam raksasa ini adalah salah satu benda pusaka paling legendaris yang dimiliki oleh Kesultanan Banten.

Ki Amuk terbuat dari perunggu dengan ukuran yang sangat besar, jauh melebihi ukuran meriam tempur pada umumnya.

Menurut legenda lokal, meriam ini adalah jelmaan prajurit yang dikutuk, namun sejarah mencatatnya sebagai hadiah atau rampasan perang.

Daya ledak meriam ini konon sangat dahsyat, mampu melontarkan peluru besi hingga menghancurkan kapal musuh di tengah laut.

Nama "Ki Amuk" sendiri menggambarkan kekuatannya yang mampu mengamuk dan memporak-porandakan barisan pertahanan lawan dalam sekejap.

Saat ini, Ki Amuk diletakkan di sebuah pendopo khusus di dekat Masjid Agung Banten dan dikeramatkan oleh sebagian warga.

Banyak mitos beredar di masyarakat, salah satunya keyakinan bahwa memeluk meriam ini bisa mendatangkan keberuntungan atau jodoh.

Terlepas dari mitosnya, Ki Amuk adalah bukti kemajuan teknologi metalurgi dan persenjataan yang dimiliki Banten masa itu.

6. Danau Tasikardi (Sistem Irigasi Canggih)

Danau Tasikardi bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan mahakarya infrastruktur pengolahan air bersih buatan manusia abad ke-16.

Nama Tasikardi berasal dari bahasa Sunda yang berarti "danau buatan", diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf.

Dasar danau ini dilapisi ubin bata untuk mencegah air meresap ke tanah dan menjaga kejernihan airnya.

Fungsi utamanya adalah menampung air Sungai Cibanten, mengendapkannya, lalu menyalurkannya ke Keraton Surosowan melalui pipa filter.

Teknologi penyaringan air kuno ini dikenal dengan sebutan pengindelan, yang memisahkan air kotor dan air bersih secara bertahap.

Selain fungsi teknis, danau ini juga memiliki pulau kecil di tengahnya yang disebut Pulau Kaputren.

Pulau tersebut digunakan sebagai tempat peristirahatan dan ibadah bagi keluarga sultan yang ingin mencari ketenangan.

Keberadaan Tasikardi membuktikan bahwa insinyur Banten masa lalu sudah memikirkan sanitasi dan tata kelola air perkotaan.

7. Vihara Avalokitesvara (Simbol Toleransi)

Bukti peninggalan Banten tidak melulu soal Islam, tetapi juga tentang toleransi beragama yang sangat tinggi.

Vihara Avalokitesvara adalah kelenteng tertua di Banten yang lokasinya sangat dekat dengan Masjid Agung Banten.

Keberadaan rumah ibadah ini tak lepas dari peran Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang memiliki istri berdarah Tiongkok.

Sultan Banten memberikan lahan khusus bagi komunitas Tionghoa untuk membangun tempat ibadah mereka dengan aman dan damai.

Selama berabad-abad, umat Islam dan Buddha di Banten hidup berdampingan tanpa gesekan, saling menghormati keyakinan masing-masing.

Bangunan vihara ini masih terawat dengan sangat baik, dihiasi ornamen naga dan lampion merah yang menyala indah.

Relief di dinding vihara menceritakan kisah perjalanan Biksu Tong Sam Chong mencari kitab suci ke arah barat.

Situs ini menjadi pengingat abadi bahwa Banten dibangun di atas fondasi keberagaman dan persaudaraan antar-etnis yang kuat.

Mempelajari Bukti Peninggalan Sejarah

Mempelajari bukti peninggalan Kerajaan Banten mengajarkan kita bahwa Islam di Nusantara pernah mencapai puncak peradaban yang gemilang.

Situs-situs ini bukan sekadar tumpukan batu bata tua, melainkan representasi dari visi kepemimpinan, kemajuan teknologi, dan toleransi yang luhur.

Sebagai generasi penerus, sudah sepatutnya kita menjadikan sejarah ini sebagai cermin untuk membangun masa depan bangsa yang lebih bermartabat.

Jika kamu ingin memahami lebih dalam nilai-nilai sejarah dan karakter dari kesultanan Islam di Indonesia, membaca literatur berkualitas adalah kuncinya.

Buku Mengenal Kerajaan Islam Nusantara karya Khairul Saleh hadir untuk melengkapi wawasan.

Buku ini mencoba mengenalkan kepada kita tentang sejarah kerajaan Islam di Nusantara dengan bahasa yang mudah dipahami.

Sebagai umat muslim, seyogyanya kita tahu sejarah ini tidak hanya sebagai wawasan, namun dapat menjadi fondasi karakter islami.

Penulis merangkai fakta sejarah menjadi narasi inspiratif yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari umat zaman sekarang.

Miliki segera buku yang kaya manfaat ini dengan membelinya melalui Gramedia Digital.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi