Kenali Penyebab Emotional Distress dan Gejalanya Berikut Ini

Lihat Foto
Sumber Gambar: Pexels.com
Rujukan artikel ini:
Mengapa Kita Tidur: Mengungkap Keampuhan…
Pengarang: MATTHEW WALKER
Penulis Lika Purnama
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Emotional distress adalah sebuah respon atau reaksi terhadap tekanan yang dialami sehari-hari.

Kondisi ini bisa berupa rasa khawatir, takut, marah, sedih, yang berhubungan dengan gangguan psikologis maupun hal-hal traumatis.

Emotional distress merupakan istilah luas yang dapat merujuk pada berbagai gejala dari berbagai gangguan kesehatan mental.

Istilah ini juga sering berkaitan dengan emotional injury dan emotional damage.

Ketiganya sama-sama merujuk pada respon emosional setelah mengalami sesuatu yang dianggap mengancam kehidupan.

Penyebab Emotional Distress

Penyebab emotional distress sangat bervariasi dan merupakan kombinasi dari berbagai sumber dan melibatkan banyak faktor.

Sebuah studi dalam jurnal Psychological Medicine University of Cambridge tahun 2020 memuat penelitian mengenai emotional distress yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Penelitian tersebut menghasilkan data bahwa hal-hal yang menjadi akibat dari pandemi (misalnya gangguan ekonomi atau kondisi kesehatan menurun) menjadi salah satu pemicu peningkatan emotional distress pada partisipan.

Selain itu, emotional distress juga bisa disebabkan karena hal-hal yang bersifat traumatis, seperti kehilangan orang terdekat entah karena kematian atau perpisahan.

Pada kasus tertentu, emotional distress juga bisa disebabkan hal-hal berikut ini:

1. Di Lingkungan Rumah

Memiliki masalah dengan pasangan atau keluarga, memiliki kondisi ekonomi yang buruk, mengalami deskriminasi, merasa kesepian, atau mengalami perubahan besar secara tiba-tiba.

2. Di Lingkungan Kerja

Seseorang bisa menjadi sangat stres di tempat kerja, mungkin karena mengkhawatirkan jenjang karir, kinerja, memikirkan upah yang tidak sesuai, permasalahan dengan rekan kerja, tekanan dari atasan, atau tanggung jawab yang kesulitan dipenuhi.

Gejala Emotional Distress

Ketika mengalami emotional distress, maka seseorang akan sangat menderita secara emosional.

Kondisi ini dapat memunculkan berbagai gejala, namun yang mungkin sering muncul sangat mirip dengan gejala depresi dan kecemasan.

Emotional distress dapat terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dapat berlangsung lama.

Gejala emotional distress yang parah mungkin juga bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan mental lainnya.

Beberapa gejala emotional distress:

  1. Hopeless dan tidak berdaya
  2. Merasa bersalah tanpa sebab yang jelas
  3. Cemas akan suatu hal sepanjang hari
  4. Mengalami rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan
  5. Ada perubahan nafsu makan
  6. Menjadi sulit berpikir dan mengingat sesuatu
  7. Merasa lelah dan ingin mengasingkan diri
  8. Marah tanpa alasan jelas
  9. Terlalu banyak tidur atau justru kurang tidur

Cara Mengatasi Emotional Distress

Emotional distress dapat memengaruhi semua aspek kehidupan, seperti karier, hubungan, dan bahkan masa depan finansial.

Sayangnya, tidak seperti luka pada fisik yang bisa dibuktikan dan disembuhkan dengan mudah, emotional distress cenderung tersembunyi dan sulit diatasi.

Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuat kondisi penderita emotional distress menjadi lebih baik, yaitu:

1. Cognitive Behavior Therapy

Emotional distress dapat mengganggu kegiatan sehari-hari.

Jika sudah begitu, maka berdiskusi dengan keluarga, teman, terapis atau konselor dapat membantu mengidentifikasi dan menemukan cara alternatif untuk mengatasinya.

Cognitive behavior therapy adalah metode yang paling sering digunakan untuk mengatasi emotional distress.

Ada banyak jenisnya dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang, misalnya manajemen stres atau relaksasi.

Selain itu, banyak juga yang menerapkan meditasi mindfulness sebagai upaya jangka panjang menangani emotional distress.

Mindfulness melibatkan fokus ke dalam diri kita untuk meningkatkan perhatian dan self awareness.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

2. Ubah Gaya Hidup

Mengubah gaya hidup ke arah yang lebih positif dapat membantu mengatasi emotional distress, misalnya dengan berhenti merokok dan berhenti mengonsumsi alkohol.

Selain itu, kamu juga bisa mencoba lebih sering berolahraga dengan teratur.

Penelitian tentang anxiety disorder yang dilakukan oleh psikiater dari University College London−Aaron Kandola, menghasilkan temuan bahwa olahraga teratur dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi.

Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Aaron Kandola di Jurnal the Lancet Psychiatry juga membuktikan bahwa remaja yang melakukan olahraga ringan memiliki risiko lebih rendah mengalami gejala depresi pada usia 18 tahun.

3. Tidur yang Cukup

Tidur sama pentingnya untuk kesehatan yang baik seperti olahraga.

Tidur yang berkualitas meningkatkan kinerja otak, suasana hati, dan kesehatan fisik serta mental.

Selain itu, tidak cukup tidur yang berkualitas bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit, mulai dari penyakit jantung dan stroke, hingga obesitas dan demensia.

Matthew Walker pernah menulis buku berjudul Mengapa Kita Tidur: Mengungkap Keampuhan Tidur dan Bermimpi.

Buku ini dapat menjelaskan berbagai hal tentang rahasia tidur, mulai dari apa yang sebenarnya terjadi selama tidur REM hingga bagaimana kafein dan alkohol memengaruhi tidur.

Membaca buku ini kamu juga akan mendapat jawaban mengapa pola tidur kita dapat berubah dan berpengaruh pada kesehatan.

4. Journaling

Menulis adalah terapi yang cukup efekif untuk mengatasi stres dan kecemasan.

Para peneliti menemukan bahwa menulis selama 15 menit tiga hari seminggu selama periode 12 minggu, dapat meningkatkan perasaan bahagia dan menurunkan gejala depresi.

Menulis juga membantu kita untuk rehat sejenak dari berbagai rutinitas padat yang membelenggu sehari-hari.

Kegiatan ini bisa membuat pikiran kita lebih rileks dan tenang.

Saat ini banyak cara untuk melakukan journaling, apalagi jika kamu merupakan sosok pengelola rumah tangga yang terkena emotional distress akibat masalah yang terjadi di rumah.

Kamu bisa menggunakan buku Home Manager Journal 2022 yang disusun oleh Risa Arisanti dan Yasmin Indriasti.

Tidak hanya meredakan stres, buku ini juga akan sangat membantu kamu menata kehidupan dan urusan rumah.

Home Manager Journal 2022 terbagi menjadi dua bagian dengan ilustrasi yang menarik.

Bagian pertama tentang mengenali diri sendiri, di mana ada banyak halaman yang bisa kamu isi dengan topik-topik menarik seputar menata hati hingga menata mimpi.

Bagian kedua dipenuhi dengan halaman-halaman yang akan membantu kamu memecahkan satu per satu problematika yang kerap terjadi di rumah, seperti memilah 20% terpenting, menentukan antara yang mendesak dan penting, manajemen waktu, me time, hingga perencanaan budget.

Itulah penyebab, gejala, dan cara mengatasi emotional distress.

Gejala yang dialami ketika menderita emotional distress mungkin dapat hilang dengan sendirinya setelah melakukan berbagai penanganan sendiri.

Namun, jika semakin lama gejala tersebut semakin memburuk, maka jangan ragu untuk menghubungi dukungan professional seperti terapis maupun konselor.

Semua buku di atas bisa kamu beli dan dapatkan di Gramedia.com.

Selain itu, ada gratis voucher diskon yang bisa kamu gunakan tanpa minimal pembelian. Yuk, borong semua buku di atas dengan lebih hemat! Langsung klik di sini untuk ambil vouchernya.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi