Asal Usul Reog Ponorogo Reog Ponorogo bukan hanya pertunjukan topeng besar yang memukau penonton.
Di balik dadak merak, iringan musik, dan gerak para tokohnya, ada cerita panjang tentang asal-usul, sindiran politik, hingga identitas masyarakat Ponorogo.
Kesenian ini juga semakin dikenal dunia setelah UNESCO menginskripsi Reog Ponorogo performing art ke dalam List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding pada 2024.
Simak asal usul Reog Ponorogo berikut ini.
Reog Ponorogo adalah seni pertunjukan dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Dalam cerita populer, Reog sering dikaitkan dengan kisah Prabu Kelono Sewandono yang ingin melamar Dewi Songgolangit.
Dari kisah itu, muncul tokoh Singo Barong, dadak merak, dan iring-iringan yang kemudian hidup dalam seni pertunjukan.
Ada pula versi lain yang mengaitkan Reog dengan kritik Ki Ageng Kutu terhadap kekuasaan Majapahit akhir.
Dua versi ini membuat Reog tidak hanya menarik sebagai tontonan, tetapi juga sebagai cerita tentang cinta, kekuasaan, keberanian, dan identitas Ponorogo.
Asal-usul Reog Ponorogo paling sering dijelaskan melalui dua sudut pandang besar, yakni kisah mitologi romantis dan tafsir satire politik pada masa akhir Majapahit.
Dalam versi Babad Bantarangin, Reog berkaitan dengan kisah Prabu Kelono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin.
Ia digambarkan sebagai raja muda yang ingin melamar Dewi Songgolangit dari Kediri.
Kerajaan Bantarangin diperintah Kelono Sewandono, dengan Bujangganong sebagai patihnya.
Keduanya dikisahkan pergi melamar Dewi Songgolangit, lalu syarat seserahan dari sang putri menjadi awal terciptanya kesenian Reog Ponorogo.
Dalam cerita populer, perjalanan lamaran itu tidak berjalan mudah.
Kelono Sewandono harus menghadapi Singo Barong dari Kerajaan Lodaya, sosok kuat yang juga terhubung dengan bentuk dadak merak dalam pertunjukan Reog.
Dadak Merak sebagai topeng menyerupai harimau berukuran besar dengan hiasan bulu ekor merak.
Dalam pertunjukan, bentuk ini melambangkan sosok raja hutan Lodaya.
Dari versi ini, Reog terlihat sebagai cerita tentang cinta, sayembara, keberanian, dan usaha memenuhi syarat yang hampir mustahil.
Unsur dongengnya kuat, tetapi justru itu yang membuat cerita Reog mudah diwariskan dari generasi ke generasi.
Versi lain mengaitkan Reog dengan tokoh Ki Ageng Kutu.
Dalam tafsir ini, Reog bukan hanya kisah percintaan, tetapi juga media kritik terhadap kekuasaan Majapahit akhir.
Reog bermula dari sindiran Ki Ageng Kutu terhadap Raja Majapahit Prabu Brawijaya V.
Setelah kekuasaan Ki Ageng Kutu di Wengker berakhir dan Raden Bathoro Katong mulai berkuasa di Ponorogo, Reog kemudian disempurnakan dan diangkat menjadi kesenian asli Ponorogo.
Dalam pembacaan satire, Singo Barong sering dimaknai sebagai lambang raja yang tampak kuat, tetapi berada di bawah pengaruh besar permaisuri.
Hiasan merak di atas kepala singa menjadi simbol pengaruh yang menunggangi kekuasaan.
Versi ini membuat Reog terasa lebih politis.
Di balik tari, topeng, dan iringan musiknya, ada cara masyarakat menyampaikan kritik tanpa harus berbicara secara langsung.
Dua versi tersebut tidak harus saling meniadakan.
Reog bisa dibaca sebagai legenda cinta dari Bantarangin, sekaligus sebagai kesenian rakyat yang menyimpan kritik sosial terhadap kekuasaan.
Dua versi asal-usul Reog Ponorogo punya penekanan yang berbeda.
Versi Bantarangin lebih dekat dengan kisah cinta dan sayembara, sedangkan versi Ki Ageng Kutu lebih kuat sebagai kritik terhadap kekuasaan.
| Aspek Pembanding | Versi Babad Bantarangin | Versi Ki Ageng Kutu |
| Tokoh Utama | Prabu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, Bujangganong, dan Singo Barong. | Ki Ageng Kutu, Prabu Brawijaya V, dan simbol Singo Barong. |
| Latar Belakang Cerita | Lamaran Prabu Kelono Sewandono kepada Dewi Songgolangit dari Kediri. | Kritik terhadap kondisi politik Majapahit akhir. |
| Simbolisme Dadak Merak | Menggambarkan Singo Barong sebagai sosok kuat dari Kerajaan Lodaya. | Melambangkan raja yang tampak kuat, tetapi dipengaruhi kekuasaan lain. |
| Tujuan Utama Cerita | Menjelaskan asal-usul Reog melalui kisah cinta, sayembara, dan keberanian. | Menyampaikan sindiran sosial-politik melalui bentuk pertunjukan rakyat. |
| Makna yang Menonjol | Keteguhan, perjuangan, dan keberanian memenuhi syarat yang sulit. | Kritik kekuasaan, kecerdikan rakyat, dan keberanian menyampaikan pesan. |
Dalam versi Ki Ageng Kutu, Reog menjadi ruang ekspresi rakyat untuk membaca kekuasaan secara simbolis.
Sementara dalam versi Bantarangin lebih dekat dengan cerita Kelono Sewandono yang hendak melamar Dewi Songgolangit.
Dari dua versi ini, Reog terlihat sebagai kesenian yang punya banyak lapisan.
Bisa dibaca sebagai legenda cinta, pertunjukan rakyat, sekaligus bahasa simbolik untuk menyampaikan kritik sosial.
Setiap tokoh dalam Reog Ponorogo membawa watak dan simbolnya sendiri, dari raja, patih, prajurit, sampai sosok penjaga spiritual.
Prabu Kelono Sewandono dikenal sebagai tokoh raja dalam pertunjukan Reog.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Dalam versi Bantarangin, Kelono Sewandono digambarkan sebagai raja yang hendak melamar Dewi Songgolangit.
Sosoknya melekat dengan keberanian, kehendak kuat, dan wibawa seorang pemimpin.
Kelono Sewandono juga lekat dengan pusaka Pecut Samandiman.
Dalam pertunjukan, pecut ini menjadi properti penting yang memperkuat kesan gagah dan tegas pada gerak tariannya.
Bujang Ganong atau Pujangga Anom adalah tokoh patih dalam Reog Ponorogo.
Bujang Ganong mewakili patih yang cerdik, lincah, jenaka, dan penuh energi.
Ciri khasnya terlihat dari topeng merah dengan hidung besar, mata melotot, dan rambut hitam-putih.
Wajahnya memang dibuat mencolok, tetapi justru dari situlah muncul karakter yang kuat di panggung.
Gerak Bujang Ganong biasanya lebih atraktif dan akrobatis.
Ia memberi warna jenaka di tengah pertunjukan, sekaligus menunjukkan bahwa kecerdikan tidak selalu tampil dalam bentuk yang serius.
Singo Barong adalah sosok besar yang paling mudah dikenali dalam Reog.
Dalam versi satire politik, Singo Barong sering dibaca sebagai lambang kekuasaan yang tampak kuat dan menjadi sindiran terhadap kecongkakan raja yang tidak lagi mendengarkan nasihat para penasihat kerajaan.
Hiasan merak di atas kepala singa kemudian memperkuat lapisan simboliknya.
Dalam pembacaan populer, merak itu menggambarkan pengaruh besar sang permaisuri terhadap raja.
Jathilan menggambarkan prajurit berkuda dalam pertunjukan Reog.
Tokoh ini biasanya tampil dengan properti kuda kepang.
Geraknya memberi kesan pasukan yang lincah, tertata, dan siap mengiringi perjalanan raja.
Dalam perkembangan modern, penari Jathilan banyak diperankan perempuan.
Awalnya jathilan dimainkan laki-laki berparas halus atau cenderung feminin, lalu kini lebih sering dibawakan penari perempuan.
Warok menjadi tokoh penting dalam dunia Reog Ponorogo.
Dalam tradisi Ponorogo, Warok tidak hanya dipahami sebagai orang kuat secara fisik.
Ia juga lekat dengan laku batin, pengendalian diri, dan wibawa sebagai penjaga nilai.
Dalam versi Ki Ageng Kutu, tokoh warok menggambarkan fungsi sesepuh yang tetap diperlukan dalam tata pemerintahan.
Dari sini, Warok menjadi simbol pengalaman, keteguhan, dan keberanian menjaga kebenaran.
Reog Ponorogo terus berkembang dari pertunjukan rakyat yang lekat dengan unsur magis menjadi identitas budaya yang dikenal dunia.
Dalam laman resminya, UNESCO mencatat Reog Ponorogo performing art masuk Urgent Safeguarding List 2024.
Status itu menunjukkan bahwa Reog bukan hanya milik Ponorogo, tetapi juga bagian dari warisan budaya takbenda yang perlu dijaga.
UNESCO juga menyoroti pentingnya pewarisan Reog melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal.
Pengakuan tersebut resmi diputuskan dalam sidang Komite Antarpemerintah UNESCO sesi ke-19.
Dalam keputusan UNESCO, Reog Ponorogo diinskripsi ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding.
Di tingkat daerah, Reog juga terus hidup lewat berbagai festival.
Tercatat Festival Nasional Reog Ponorogo dan Grebeg Suro sebagai perayaan budaya yang menampilkan Reog sebagai warisan yang terus diwariskan lintas generasi.
Grebeg Suro membuat Reog tidak hanya tampil sebagai hiburan panggung karena menjadi bagian dari pesta rakyat, ruang pertemuan seniman, dan cara masyarakat Ponorogo merawat identitas daerahnya.
Dengan perjalanan itu, Reog Ponorogo memperlihatkan perubahan yang panjang.
Dari cerita asal-usul, simbol kekuasaan, dan unsur spiritual, Reog kini menjadi wajah budaya Indonesia yang diakui di panggung dunia.
Kalau kamu ingin mengenalkan ragam cerita rakyat Indonesia kepada anak dengan cara yang ringan, 100 Cerita Rakyat Nusantara karya Dian Kristiani bisa menjadi pilihan bacaan yang menarik.
Buku setebal 488 halaman ini berisi kisah-kisah yang mengajak anak mengenal keberanian, kecerdikan, kejujuran, dan kekayaan cerita daerah.
Dengan gaya cerita yang ramah anak, buku ini bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan legenda Nusantara tanpa terasa berat.
Jika ingin melanjutkan rasa penasaran setelah mengenal Reog Ponorogo, buku 100 Cerita Rakyat Nusantara tersedia di Gramedia.com dan Gramedia Digital.