Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masa Kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo Makassar: Kisah Kejayaan Hingga Keruntuhannya

Kompas.com, 30 Januari 2026, 16:00 WIB
Masa Kejayaan Kerajaan Gowa Tallo  Sumber Gambar: Wikipedia Masa Kejayaan Kerajaan Gowa Tallo 
Rujukan artikel ini:
Karaeng Pattingalloang: Model Kepemimpinan Negarawan…
Pengarang: Arafah Palu Daeng Bella,…
Penulis Adnan
|
Editor Novia Putri Anindhita

Kerajaan Gowa Tallo pernah mencatatkan diri sebagai salah satu imperium maritim terbesar di Asia Tenggara pada masanya.

Dua kerajaan yang bersatu ini berhasil membangun hegemoni kekuasaan yang disegani oleh kawan maupun lawan di lautan.

Kisah kejayaan mereka bukan hanya soal kekuatan militer, melainkan juga tentang kecerdasan diplomasi dan kemajuan ekonomi.

Para pedagang dari Eropa, Arab, dan Tiongkok berbondong-bondong datang untuk mencari rempah-rempah di pelabuhan Somba Opu yang ramai.

Namun, setiap masa keemasan pasti memiliki titik balik yang membawa pada akhir sebuah era pemerintahan.

Memahami sejarah naik turunnya kerajaan ini memberikan pelajaran berharga tentang kedaulatan dan harga sebuah kemerdekaan.

Artikel ini akan mengupas tuntas masa kejayaan Kerajaan Gowa Tallo serta faktor-faktor yang menyebabkannya runtuh.

Kapan Masa Kejayaan Kerajaan Gowa Tallo Berlangsung?

Puncak keemasan Kesultanan Gowa Tallo berlangsung pada pertengahan abad ke-17 Masehi.

Periode emas ini terjadi tepatnya saat pemerintahan Sultan Hasanuddin yang berkuasa antara tahun 1653 - 1669 M.

Meskipun fondasi kemajuan sudah dibangun oleh raja-raja sebelumnya, ekspansi terbesar terjadi di tangan Sultan Hasanuddin.

Pada era ini, pengaruh politik Makassar meluas hingga ke sebagian besar Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sebagian Maluku.

Kekuatan armada lautnya mampu mengamankan jalur perdagangan rempah dari ancaman bajak laut maupun dominasi bangsa asing.

Stabilitas politik dan ekonomi yang kuat menjadikan Makassar sebagai pusat peradaban Islam terbesar di Indonesia Timur.

Faktor Utama Pendukung Puncak Keemasan Gowa Tallo

Kejayaan Makassar tidak terjadi secara kebetulan, melainkan didukung oleh tiga pilar utama yang sangat kokoh.

1. Letak Geografis sebagai Bandar Transito Internasional

Posisi Makassar sangat strategis karena berada di persimpangan jalur perdagangan antara Malaka di barat dan Maluku di timur.

Pelabuhan Somba Opu berfungsi sebagai Bandar Transito atau tempat kapal-kapal asing singgah untuk mengisi perbekalan dan air bersih.

Pedagang yang lelah berlayar dari Jawa atau Melayu akan beristirahat di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat rempah.

Tempat ini juga menjadi titik temu para pedagang dari utara (Tiongkok/Filipina) yang hendak menuju selatan (Nusa Tenggara).

2. Prinsip Laut Bebas (Mare Liberum) dan Perlawanan terhadap Monopoli

Para raja Gowa Tallo menganut prinsip Mare Liberum yang meyakini bahwa laut adalah milik bersama dan bebas dilayari.

Prinsip ini sangat bertentangan dengan ambisi VOC Belanda yang ingin memaksakan sistem monopoli dagang di perairan Nusantara.

Kebijakan laut bebas ini menarik simpati pedagang internasional yang merasa dirugikan oleh aturan ketat kongsi dagang Belanda.

Makassar menjadi surga bagi pedagang Inggris, Denmark, dan Portugis yang ingin bertransaksi rempah tanpa campur tangan VOC.

3. Kemajuan Teknologi Galangan Kapal Pinisi

Masyarakat Bugis-Makassar dikenal sebagai pelaut ulung yang memiliki teknologi pembuatan kapal yang sangat maju pada zamannya.

Mereka mampu memproduksi kapal jenis pinisi dan padewakang yang tangguh untuk mengarungi samudra luas berbulan-bulan.

Keahlian maritim ini menjadi tulang punggung kekuatan angkatan laut kerajaan dalam menjaga kedaulatan wilayah perairannya.

Armada kapal yang kuat memungkinkan Makassar melakukan ekspansi militer dan memobilisasi pasukan dengan cepat ke pulau lain.

Sultan Hasanuddin: "Ayam Jantan dari Timur" dan Perlawanan terhadap VOC

Nama Sultan Hasanuddin tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan Makassar melawan hegemoni kolonialisme Belanda di tanah air.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang sangat keras menolak segala bentuk monopoli perdagangan yang merugikan rakyatnya.

Keberaniannya di medan tempur membuat Belanda memberinya julukan De Haantjes van Het Oosten atau Ayam Jantan dari Timur.

Perang Makassar yang meletus pada tahun 1666 menjadi panggung pembuktian strategi militer dan ketangguhan pasukan Gowa Tallo.

Sultan Hasanuddin memimpin langsung pertahanan dari benteng-benteng yang berjejer di sepanjang pantai untuk menghalau armada VOC.

Ia menerapkan taktik gerilya laut yang sangat merepotkan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis Speelman.

Meski kalah dalam persenjataan modern, semangat juang pasukannya membuat perang ini berlangsung lama dan memakan biaya besar.

Perlawanan gigih ini membuktikan bahwa Makassar bukanlah kerajaan lemah yang bisa ditundukkan dengan mudah oleh asing.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Karaeng Pattingalloang: Otak Intelektual di Balik Kejayaan Makassar

Di balik gemuruh perang dan strategi militer, terdapat sosok pemikir jenius yang menjadi otak kemajuan peradaban Makassar.

Karaeng Pattingalloang menjabat sebagai Tuma'bicara-butta atau Perdana Menteri yang mendampingi raja dalam mengurus pemerintahan dan diplomasi.

Ia dikenal luas di kalangan orang Eropa sebagai sosok yang sangat cerdas, fasih berbagai bahasa asing, dan mencintai ilmu pengetahuan.

Kefasihannya berbahasa Latin, Portugis, Spanyol, dan Melayu membuatnya sangat disegani oleh para duta besar negara sahabat.

Kecintaannya pada ilmu geografi dibuktikan dengan koleksi peta dan atlas dunia yang ia pesan langsung dari Eropa.

Ia bahkan memiliki bola dunia buatan kartografer terkenal, Joan Blaeu, yang harganya sangat mahal pada masa itu.

Pattingalloang menjadikan istana sebagai pusat diskusi intelektual, membahas astronomi hingga teknologi militer dengan orang asing.

Visi modernnya membawa Makassar menjadi kerajaan yang tidak hanya kuat secara otot, tetapi juga cerdas secara otak.

Kondisi Ekonomi dan Sosial pada Masa Keemasan

Perekonomian Gowa Tallo tumbuh pesat berkat kebijakan pintu terbuka yang ramah terhadap semua pedagang tanpa pandang bulu.

Pasar-pasar di Makassar dipenuhi oleh komoditas keramik dari Tiongkok, tekstil dari India, dan rempah dari Maluku.

Pemerintah kerajaan menerapkan sistem pajak yang adil dan tidak mencekik, membuat pedagang asing betah berbisnis di sana.

Masyarakat Makassar hidup makmur dan memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap pendatang yang berbeda agama dan budaya.

Pedagang Portugis yang beragama Katolik diizinkan membangun tempat ibadah dan tinggal dengan aman di wilayah kerajaan.

Hubungan harmonis antar-etnis ini menciptakan stabilitas sosial yang menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi kerajaan.

Struktur sosial masyarakat sangat tertata dengan pembagian tugas yang jelas antara kaum bangsawan, pedagang, dan pelaut.

Kesejahteraan rakyat terjamin berkat surplus perdagangan beras dan lada yang menjadi komoditas ekspor andalan selain rempah.

Penyebab Berakhirnya Masa Kejayaan (Perjanjian Bongaya)

Setiap kejayaan pasti menemui akhirnya, dan bagi Gowa Tallo, akhir itu datang melalui sebuah perjanjian yang menyakitkan.

Perang berkepanjangan melawan VOC yang dibantu oleh pasukan Aru Palaka dari Bone akhirnya menguras kekuatan Makassar.

Jatuhnya benteng pertahanan utama Somba Opu memaksa Sultan Hasanuddin untuk duduk di meja perundingan demi menyelamatkan rakyat.

Pada tanggal 18 November 1667, ditandatanganilah Perjanjian Bongaya yang isinya sangat merugikan pihak Kerajaan Gowa Tallo.

Isi perjanjian tersebut memaksa Makassar melepaskan seluruh wilayah kekuasaannya di luar Sulawesi Selatan kepada pihak Belanda.

VOC mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Makassar dan melarang pedagang asing lain untuk berbisnis.

Seluruh benteng pertahanan kerajaan harus dihancurkan, kecuali Benteng Ujung Pandang yang kemudian diubah namanya menjadi Fort Rotterdam.

Perjanjian ini secara efektif memangkas sayap "Ayam Jantan dari Timur" dan mengakhiri kedaulatan maritim mereka selamanya.

Meskipun perlawanan sporadis masih terjadi setelahnya, kejayaan Makassar sebagai imperium laut tidak pernah benar-benar pulih kembali.

Runtuhnya ekonomi akibat monopoli Belanda membuat pelabuhan Somba Opu perlahan mati dan ditinggalkan oleh pedagang internasional.

Belajar Kepemimpinan dari Sejarah

Sejarah Kerajaan Gowa Tallo mengajarkan kita bahwa kejayaan sebuah bangsa dibangun di atas fondasi kekuatan militer dan kecerdasan intelektual.

Sosok Sultan Hasanuddin mewakili keberanian membela kedaulatan, sementara Karaeng Pattingalloang mewakili visi pengetahuan yang melampaui zamannya.

Perpaduan dua karakter kepemimpinan inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia masa kini.

Untuk menyelami lebih dalam pemikiran jenius di balik kejayaan Makassar, buku Karaeng Pattingalloang Model Kepemimpinan Negarawan dan Intelektual yang Relevan dengan Perubahan Zaman adalah referensi wajib.

Buku karya Arafah Palu Daeng Bella dan I Mannuntungi Daeng Situju ini mengangkat kisah hidup sang bangsawan Makassar abad ke-17.

Penulis menguraikan perjalanan hidupnya mulai dari silsilah keturunan hingga peran besarnya sebagai Perdana Menteri Kesultanan Gowa.

Anda akan diajak memahami bagaimana seorang pemimpin bisa bertindak sebagai pengarah kebijakan sekaligus diplomat ulung yang disegani dunia.

Kisah hidupnya adalah teladan sempurna tentang pentingnya literasi dan wawasan global dalam mengelola sebuah negara besar.

Segera miliki buku inspiratif ini dengan membeli buku digitalnya melalui Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau