Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa, Bacaan yang Cocok Bagi Kamu yang Selalu Overthinking

Kompas.com, 10 Januari 2022, 22:02 WIB
Sumber Gambar: instagram.com/fahrirasihan
Rujukan artikel ini:
Jika Kita Tak Pernah Jadi…
Pengarang: Alvi Syahrin
|
Editor Novia Putri Anindhita

Ketika telah beranjak dewasa, segala sesuatu yang kita lihat dan rasakan berubah menjadi jauh lebih berat, kompleks, dan penuh tekanan untuk menjalankan kehidupan yang pada awalnya tampak biasa saja.

Setelah lulus dari SMA, mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang menjurus pada pencapaian atau apa yang kita inginkan agar bisa bahagia, tapi sayangnya kebahagiaan itu selalu diukur dengan pencapaian orang lain.

Melihat orang-orang sekitar yang sepertinya sudah menemukan atau mencapai kesuksesan di dalam kehidupan, membuat kita merasa tertinggal dan menumbuhkan perasaan insecure akan kemampuan diri sendiri.

Lingkungan memang menjadi momok yang paling memengaruhi emosi dan karakter yang kita miliki, sehingga pencapaian yang diperoleh orang lain tampak begitu berpengaruh pada psikologis kita.

Kita menjadi merasa tak berguna dan tak berdaya karena tak jadi apa-apa jika dibandingkan dengan teman, kakak, adik, ataupun saudara yang mungkin sudah tampak menjadi “sesuatu” di kehidupannya.

Namun, tidak perlu ragu ataupun resah, karena perasaan seperti itu memang dirasakan oleh hampir semua orang, dan kabar baiknya, ada satu buah buku yang akan menjadi teman “ngobrol” yang asyik untuk membahas perasaan kamu tersebut.

Buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa merupakan kumpulan esai yang dijamin akan menjadi sahabat yang hangat, peduli, dan mengerti akan perasaan insecure yang kamu alami ketika beranjak dewasa.

Fase Menjadi Dewasa

Rasa gembira saat tahu jika diri kita dinyatakan telah lulus SMA tidak akan bertahan lama, karena setelahnya akan muncul beragam ekspektasi yang menyertainya tentang masa depan kita selanjutnya.

Biasanya ekspektasi atau harapan tersebut muncul dari orang-orang terdekat, seperti orang tua, saudara, dan sahabat yang berharap kita dapat kuliah di universitas ternama, mengambil jurusan yang bergengsi, hingga cepat lulus dengan IPK yang memuaskan.

Mungkin, tuntutan dan harapan-harapan tersebut pada awalnya tidak terpikirkan oleh kita yang pada saat itu masih remaja, namun saat telah meninggalkan bangku sekolah, secara tiba-tiba semua tuntutan dan harapan meledak di depan mata kita.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Alvi Syahrin dengan cakap mampu menangkap keresahan tersebut dan menuliskannya di dalam buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa yang bisa mengingatkan kita akan kehidupan fana dan tidak sempurna tentang menjadi dewasa.

Review Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang terkesan seperti sedang berbincang atau mengobrol dengan seorang sahabat yang penuh perhatian, sehingga mampu menciptakan atmosfer yang hangat dan terasa dekat.

Dalam setiap bagian, Alvi hanya sedikit memberikan materi pembahasan yang dikemas secara ringan, padat, dan relevan yang membuat pembaca akan terasa sangat relatable dengan setiap materi yang sedang dibicarakan dalam setiap babnya.

Secara memikat, Alvi mampu membawakan sebuah tulisan yang terkesan sederhana, tapi mempunyai pesan dan makna yang mendalam untuk direnungkan oleh pembaca tentang menjadi dewasa.

Standar kehidupan yang kerap diciptakan oleh lingkungan merupakan sumber kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan yang biasanya dialami oleh kita semua yang sedang memasuki dunia orang dewasa.

Faktanya, Alvi menjelaskan jika semua standar tersebut hanya merupakan sebuah ilusi bagi kehidupan kita yang fana dan sementara ini, sehingga tiada artinya untuk kita terlalu memusingkan hal tersebut.

Kita akan diajak untuk dapat lebih bersyukur lagi dan menerima apapun kondisi serta pencapaian yang telah kita raih sejauh ini agar mampu berhenti untuk merasa insecure dan overthinking yang berlebihan.

Mungkin, banyak di antara teman-teman kita yang tampak sudah meraih “kesuksesan” dan kita terlihat begini-begini saja, tapi coba renungkan kembali apakah kehidupan yang “begini-begini” saja ini telah berguna untuk makhluk hidup di sekitar kita.

Buku ini mampu mengingatkan kita akan ketidaksempurnaan selama menjadi manusia dan buku ini juga akan cocok untuk kamu yang baru lulus SMA, karena hampir semua materinya membahas perihal dunia setelah lulus SMA.

Buku ini sudah bisa kamu dapatkan di Gramedia.com.

Selamat “berbincang-bincang” dengan buku yang akan menjadi sahabat bagi kamu yang sering overthinking.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau