Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Tentang Keluarga, Orang Tua Pun Dapat Torehkan Luka Pada Anaknya

Kompas.com, 4 November 2022, 09:00 WIB
Cerita tentang Keluarga Sumber Gambar: Freepik.com Cerita tentang Keluarga
Rujukan artikel ini:
Merawat Luka Batin
Pengarang: Dr Jiemi Ardian
|
Editor Ratih Widiastuty

Cerita tentang keluarga yang menginspirasi dan menghangatkan hati pasti sudah banyak berseliweran di mana-mana karena memang banyak orang yang mencari bacaan yang terasa relate dengan kehidupan mereka.

Namun, faktanya, tidak semua keluarga mempunyai anggota yang mampu saling memahami, menyayangi, bahkan memberikan kebahagiaan antar satu sama lain.

Apalagi akhir-akhir ini isu tentang toxic relationship memang tengah banyak dibahas, karena pada kenyataannya hal ini bukan hanya terjadi pada hubungan asmara, tapi juga dalam interaksi keluarga, khususnya orang tua dan anaknya.

Banyak orang tua yang masih menganggap jika diri mereka selalu benar dan merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Hal ini tentu saja tidak salah, jika para orang tua mau mendengarkan pendapat dan pemikiran anak mereka, alih-alih hanya memaksakan dan menekan anak untuk mengikuti apa pun yang diperintahkan.

Otoritas orang tua yang keras dan minta dihormati, tanpa menghormati anaknya sendiri justru malah menimbulkan luka dan interaksi yang bersifat destruktif.

Maka dibutuhkan pemahaman dan pola pikir yang terbuka untuk membangun relasi antara orang tua dan anak di masa kini yang pastinya sudah tidak relevan lagi dengan treatment memaksakan kehendak pada anak.

Cerita tentang keluarga yang memberikan perspektif tentang orang tua yang justru menorehkan luka pada anaknya akan menunjukkan bahwasanya anak bukanlah properti atau investasi bagi mereka.

Untuk belajar dan memberikan inspirasi, berikut cerita tentang keluarga yang dapat kamu baca sebagai bahan renungan untuk saling menghargai.

Cerita tentang Keluarga

Pada tahun 1998, lahirlah seorang anak laki-laki ke dunia ini dari sepasang suami istri yang percaya akan masa depan yang cerah bagi keluarga mereka.

Anak tersebut diberi nama Arland dan menjadi harapan bagi kedua orang tuanya untuk bisa membanggakan mereka suatu saat nanti.

Namun, bentuk kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh kedua orang tuanya ternyata tidak sesuai dengan harapan Arland yang bercita-cita ingin menjadi seorang atlet bulutangkis.

Orang tuanya berpendapat menjadi atlet hanya akan memberikan masa depan yang buruk bagi Arland karena penuh dengan ketidakpastian.

Arland pun memutuskan untuk mengalah dan mengikuti keinginan orang tuanya untuk fokus kuliah di jurusan bisnis dan ekonomi dengan harapan Arland bisa bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Tekanan dan harapan orang tua Arland memang tidak salah, mereka hanya ingin anaknya memiliki penghasilan dan kehidupan yang stabil.

Sayangnya, meskipun sudah memenuhi ekspektasi orang tuanya dengan lulus kuliah dan menjadi PNS, hal itu belum membuat mereka bahagia karena kali ini Arland dituntut untuk segera menikah.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Meskipun Arland merasa tidak siap, pada akhirnya Arland pun setuju untuk dijodohkan oleh kedua orang tuanya.

Setelah menikah, Arland kini dipaksa untuk segera mempunyai anak agar orang tuanya bisa menggendong cucu.

Akhirnya Arland kembali memenuhi keinginan orang tuanya dengan memiliki anak.

Seiring waktu berjalan Arland mulai kehilangan arah akan apa sesungguhnya yang ia mau dan cita-citakan.

Selama ini dirinya hanya memenuhi ekspektasi kedua orang tuanya, seakan-akan mimpi dan keinginan Arland tidak pernah masuk perhitungan untuk didengarkan.

Kehadiran Arland di dunia seakan-akan hanya menjadi alat untuk memenuhi keinginan kedua orang tuanya dengan mengesampingkan perasaan Arland.

Kini hanya ada rasa hampa dan luka dalam diri Arland karena kehidupannya seperti hilang arah.

Tuntutan orang tuanya sukses membuat Arland hidup tanpa jiwa dan pada akhirnya ikatannya sebagai keluarga dengan kedua orang tuanya terasa membebani dan menekan.

Buku untuk Merawat Luka Batin

Cerita di atas mampu menjadi pembelajaran bahwasanya seorang anak bukanlah objek pemuas harapan dan impian orang tuanya.

Anak lahir ke dunia hanya sebagai titipan yang harus dijaga, bukan dipaksa untuk membahagiakan orang tuanya dengan mengesampingkan keinginannya sendiri.

Maka dari itu, jika kamu mempunyai luka batin dan ingin segera menyembuhkannya, buku Merawat Luka Batin yang ditulis oleh seorang dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Jiemi Ardian Sp.Kj. ini berisi proses berpikir, tapi tidak hanya sekedar berpikir positif.

Buku ini memuat beberapa pola dalam membentuk cara berpikir yang tepat, tidak hanya untuk orang-orang yang tengah merawat luka batin, tapi juga untuk caregiver dan penyintas depresi pun bisa mengambil manfaat dari buku ini.

Diharapkan buku ini mampu menghapus stigma akan depresi dan gangguan kejiwaan yang pada dasarnya bisa dialami oleh siapa saja.

Yuk, segera rawat luka batinmu dengan order bukunya di Gramedia.com atau akses secara digital melalui aplikasi Gramedia Digital.

Selain itu, ada gratis voucher diskon yang bisa kamu gunakan tanpa minimal pembelian. Yuk, beli buku di atas dengan lebih hemat! Langsung klik di sini untuk ambil vouchernya.

Promo Diskon Promo Diskon

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Unlocking Knowledge: Bahasa Inggris dan Akses Pengetahuan

Unlocking Knowledge: Bahasa Inggris dan Akses Pengetahuan

buku
Bebas dari Beban Ganda, Ini Kunci Berhenti Jadi Generasi Sandwich

Bebas dari Beban Ganda, Ini Kunci Berhenti Jadi Generasi Sandwich

buku
Skill yang Dibutuhkan Software Engineer dan Programmer: Lebih dari Sekadar Mengetik Kode!

Skill yang Dibutuhkan Software Engineer dan Programmer: Lebih dari Sekadar Mengetik Kode!

buku
Prosedur Pemeriksaan Fisik Red Line Bea Cukai dan Tahapan SPJM

Prosedur Pemeriksaan Fisik Red Line Bea Cukai dan Tahapan SPJM

buku
Proses Verifikasi Dokumen Bea Cukai: Tahapan, Fungsi, dan Faktor yang Memengaruhi

Proses Verifikasi Dokumen Bea Cukai: Tahapan, Fungsi, dan Faktor yang Memengaruhi

buku
Berapa Lama Barang Tertahan di Bea Cukai Red Line dan Cara Mempercepat Prosesnya

Berapa Lama Barang Tertahan di Bea Cukai Red Line dan Cara Mempercepat Prosesnya

buku
Mengenal Organisasi Semi Militer: Peran dan Fungsinya di Indonesia

Mengenal Organisasi Semi Militer: Peran dan Fungsinya di Indonesia

buku
Arti Yellow Line Bea Cukai dan Prosedur Pemeriksaan Dokumen Impor

Arti Yellow Line Bea Cukai dan Prosedur Pemeriksaan Dokumen Impor

buku
6 Cara Membersihkan Lumpur Vulkanik dari Rumah, Jangan Sampai Salah! 

6 Cara Membersihkan Lumpur Vulkanik dari Rumah, Jangan Sampai Salah! 

buku
Kenapa Paket Kena Red Line Bea Cukai? Berikut Penjelasannya

Kenapa Paket Kena Red Line Bea Cukai? Berikut Penjelasannya

buku
Pusat Keuangan Amerika Serikat di Mana? Ini Penjelasan Lengkapnya

Pusat Keuangan Amerika Serikat di Mana? Ini Penjelasan Lengkapnya

buku
7 Tips Menerapkan Integritas di Dunia Kerja

7 Tips Menerapkan Integritas di Dunia Kerja

buku
Berapa Biaya Kos Mahasiswa di Jepang per Bulan? Ini Rincian Lengkapnya 

Berapa Biaya Kos Mahasiswa di Jepang per Bulan? Ini Rincian Lengkapnya 

buku
Cara Lolos Red Line Bea Cukai dan Prosedur Pemeriksaan Fisik Barang

Cara Lolos Red Line Bea Cukai dan Prosedur Pemeriksaan Fisik Barang

buku
Berapa Biaya Hidup di Jepang Per Bulan untuk Pekerja? Simak di Sini!

Berapa Biaya Hidup di Jepang Per Bulan untuk Pekerja? Simak di Sini!

buku
Cara Menentukan Prioritas agar Karier Melejit Cepat

Cara Menentukan Prioritas agar Karier Melejit Cepat

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau