Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unlocking Knowledge: Bahasa Inggris dan Akses Pengetahuan

Kompas.com, 20 Mei 2026, 15:00 WIB
Mantra IELTS Sumber Gambar: Ilustrasi oleh Riedel Tiwow Mantra IELTS
Rujukan artikel ini:
Mantra IELTS
Pengarang: Yuliana Istiyani dan Nuraini…
|
Editor Novia Putri Anindhita

Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, bahasa Inggris menjadi hal yang kian sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Tidak lagi dipandang sebagai kemampuan komunikasi semata, bahasa Inggris kini juga memegang peran penting dalam dunia akademik modern.

Jika sebelumnya kemampuan tersebut dianggap sebagai nilai tambah, bahasa Inggris terus bergeser menjadi kebutuhan yang semakin krusial, terutama dalam mengakses pengetahuan dan berbagai sumber informasi akademik.

Bahasa Inggris sebagai “Kunci Akses”

Dunia akademik hari ini terhubung secara global, yang berarti penggunaan bahasa Inggris dalam lingkungan perkuliahan juga menjadi semakin lazim.

Banyak sumber pembelajaran, seperti jurnal ilmiah, buku referensi, hingga publikasi penelitian, tersedia dalam bahasa Inggris dan menjadi bagian penting dari kebutuhan akademik mahasiswa.

Selain itu, kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri juga semakin terbuka melalui berbagai program beasiswa dan pertukaran pelajar.

Bahkan, sejumlah negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama tetap menawarkan program perkuliahan berbahasa Inggris untuk menjangkau mahasiswa internasional.

Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Inggris telah menjadi salah satu bahasa penghubung utama dalam ekosistem pendidikan global.

Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang yang jauh lebih luas bagi mahasiswa untuk mengakses pengetahuan.

Berbagai sumber pembelajaran, termasuk yang bersifat interaktif seperti kelas daring dan webinar internasional, dapat diakses dengan mudah dan cepat berkat perkembangan teknologi digital.

Pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas atau perpustakaan fisik, melainkan hadir dalam bentuk yang semakin beragam dan dapat dijangkau kapan saja.

Namun di sisi lain, sebagian besar sumber pembelajaran tersebut tersedia dalam bahasa Inggris.

Dalam kata lain, kemampuan memahami bahasa Inggris akademik menjadi “kunci” penting untuk membuka akses terhadap berbagai informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Ketika kemampuan bahasa Inggris masih terbatas, maka akses terhadap sumber pembelajaran pun menjadi terbatas.

Masalah Language Barrier dalam Mengakses Informasi

Sayangnya, sebagian mahasiswa bisa jadi kesulitan mengikuti perkembangan pengetahuan terbaru, bukan karena kurang mampu memahami materi, melainkan karena terhambat oleh bahasa yang digunakan dalam sumber pembelajaran tersebut.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Tidak sedikit mahasiswa cerdas yang sebenarnya mampu memahami konsep dan gagasan akademik kompleks, namun merasa dibatasi oleh masalah language barrier ini.

Ketika banyak informasi, penelitian, dan referensi tersedia dalam bahasa Inggris, kemampuan memahami bahasa tersebut menjadi syarat penting dalam proses mengakses ilmu pengetahuan itu sendiri.

Tantangannya, kemampuan bahasa Inggris sehari-hari tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan memahami bahasa Inggris akademik.

Keduanya memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan yang berbeda.

Terkadang, masih ada anggapan bahwa seseorang yang sudah fasih menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari akan otomatis mampu memahami bahasa Inggris di lingkungan akademik.

Padahal, situasinya tidak sesederhana itu.

Hal ini tercermin dalam berbagai penelitian mengenai penggunaan bahasa Inggris akademik di perguruan tinggi.

Sebuah studi terhadap mahasiswa tahun pertama di Swedia menemukan bahwa lebih dari sepertiga mahasiswa mengalami kesulitan memahami bacaan akademik berbahasa Inggris, terutama karena vocabulary akademik dan kecepatan membaca.

Sementara itu, penelitian terhadap mahasiswa EFL di Indonesia juga menunjukkan bahwa banyak mahasiswa masih mengalami kesulitan memahami teks akademik berbahasa Inggris akibat keterbatasan kosakata akademik, kompleksitas struktur teks, dan pemahaman artikel ilmiah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan dalam memahami bahasa Inggris akademik bukan hanya dialami oleh mahasiswa di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika pembelajaran di berbagai negara.

Perlu diingat bahwa sebagai penutur asli bahasa Indonesia pun, tidak sedikit orang yang tetap mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada bahasa Indonesia akademik yang lebih formal dan kompleks.

Maka bisa disimpulkan bahwa bahasa akademik pada dasarnya memang memiliki karakter yang berbeda dari bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, terlepas dari bahasa apa yang digunakan.

Di tengah dunia akademik yang semakin terhubung secara global, kemampuan memahami bahasa Inggris akademik menjadi kunci penting dalam memperluas akses pengetahuan.

Karena itu, proses belajar tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan percakapan sehari-hari, tetapi juga pembiasaan terhadap teks, istilah, dan pola komunikasi akademik.

Berbagai pendamping belajar kini dirancang khusus untuk membantu kebutuhan tersebut, termasuk buku Mantra IELTS terbitan Gramedia Edukasi Nusantara yang menghadirkan latihan dan pembahasan sesuai karakter tes IELTS akademik.

Buku Mantra IELTS tersedia di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau