TKA Bahasa Indonesia Pada 20–30 April 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menggelar Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas 6 SD.
Tes ini tidak bersifat wajib, namun bertujuan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kemampuan akademik siswa.
Selama ini, TKA kerap dipahami sebagai pengujian atas penguasaan materi semata.
Padahal, khususnya dalam TKA Bahasa Indonesia, proses yang terjadi tidak sesederhana itu.
Terdapat kemampuan lain yang tidak kalah penting dalam pengerjaannya, namun jarang menjadi bagian dari pembahasan.
Soal TKA Bahasa Indonesia umumnya memuat teks bacaan yang menjadi dasar penyusunan pertanyaan.
Pertanyaan tersebut tidak hanya menuntut pemahaman terhadap informasi yang tersurat, tetapi juga kemampuan menangkap makna tersirat di dalam teks.
Artinya, peserta tidak cukup hanya membaca, tetapi perlu memahami isi bacaan secara akurat dalam waktu pengerjaan yang terbatas.
Pada titik inilah tantangan attention span muncul.
Dalam psikologi kognitif, attention span adalah kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus pada satu tugas dalam jangka waktu tertentu tanpa mudah terdistraksi.
Kemampuan ini membantu seseorang memproses informasi secara utuh, termasuk memahami gagasan utama maupun makna yang tidak tertulis secara langsung.
Jika perhatian mudah teralihkan, pemahaman terhadap teks menjadi kurang maksimal, terutama pada bacaan yang relatif panjang.
Karena itu, dalam soal berbasis bacaan seperti pada TKA Bahasa Indonesia, attention span menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi proses pengerjaan secara signifikan.
Di era digital, kemampuan mempertahankan fokus menjadi tantangan tersendiri karena pola konsumsi informasi cenderung serba cepat.
Informasi hadir dalam bentuk notifikasi singkat, video berdurasi pendek, serta konten yang dirancang untuk dikonsumsi dalam hitungan detik.
Pola ini membentuk kebiasaan berpindah dari satu informasi ke informasi lain secara cepat.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Sejumlah laporan bahkan menunjukkan bahwa rentang perhatian rata-rata manusia pada konten digital menurun dari sekitar 12 detik pada tahun 2000 menjadi sekitar 8 detik pada dekade terakhir.
Di sisi lain, laporan The Common Sense Census: Media Use by Tweens and Teens menunjukkan kontras antara kebiasaan mengonsumsi media digital dengan kebiasaan membaca pada anak dan remaja.
Meskipun waktu yang dihabiskan untuk mengonsumsi media digital meningkat secara signifikan setelah pandemi, waktu yang dihabiskan untuk membaca tidak mengalami peningkatan.
Rata-rata remaja hanya menghabiskan sekitar 34 menit per hari untuk membaca buku, majalah, maupun artikel secara mandiri.
Dampak dari pola konsumsi ini mulai terasa ketika siswa dihadapkan pada bacaan yang relatif panjang dalam TKA Bahasa Indonesia.
Mereka tidak hanya berhadapan dengan isi teks, tetapi juga dengan kebutuhan untuk mempertahankan fokus dalam durasi tertentu.
Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, melainkan juga dengan bagaimana sistem informasi modern membentuk kebiasaan membaca itu sendiri.
TKA Bahasa Indonesia dapat dilihat sebagai cerminan tantangan pembelajaran masa kini.
Penilaian tidak lagi hanya berkaitan dengan seberapa banyak materi yang dihafal, tetapi juga sejauh mana siswa mampu mengolah informasi secara mendalam dalam waktu terbatas.
Kemampuan membaca dengan fokus serta memahami konteks bacaan menjadi bagian penting dari kompetensi akademik yang relevan di tengah perubahan cara manusia berinteraksi dengan informasi.
Hal ini menunjukkan bahwa penguatan literasi membaca tetap menjadi kebutuhan utama.
Latihan membaca teks secara utuh, membiasakan diri memahami isi bacaan secara kritis, serta melatih konsentrasi dalam durasi tertentu dapat membantu siswa beradaptasi dengan bentuk ujian seperti TKA.
Dengan demikian, tantangan attention span tidak hanya dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai keterampilan yang perlu dilatih seiring perkembangan ekosistem belajar di era digital.
Dalam menghadapi bentuk evaluasi seperti TKA, latihan yang konsisten menjadi kunci penting.
Siswa perlu terbiasa membaca teks secara menyeluruh, memahami informasi tersurat maupun tersirat, serta menjaga fokus selama proses pengerjaan soal.
Berbagai buku latihan yang dirancang sesuai karakter soal TKA, seperti Mantra TKA SD/MI 2026-2027 terbitan Gramedia Edukasi Nusantara, dapat menjadi salah satu pendamping belajar bagi siswa mempersiapkan diri secara lebih terarah.
Buku ini bisa langsung dipesan secara online melalui Gramedia.com.