Di balik tampilannya yang meriah, ondel-ondel menyimpan jejak panjang tentang kepercayaan, perlindungan kampung, dan identitas budaya Betawi.
Boneka raksasa ini tidak lahir hanya sebagai hiburan jalanan atau dekorasi acara.
Dalam sejarahnya, ondel-ondel pernah dipercaya sebagai penjaga kampung sebelum akhirnya dikenal sebagai ikon budaya Jakarta.
Berikut ini penjelasan singkat mengenai ondel-ondel yang perlu kamu tahu.
Ringkasan Sejarah dan Asal usul Ondel-Ondel
Sebelum masuk ke sejarah panjangnya, berikut ringkasan asal-usul ondel-ondel yang bisa kamu pahami lebih cepat:
- Ondel-ondel berasal dari budaya Betawi: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menyebut ondel-ondel sebagai boneka raksasa khas Betawi yang biasanya tampil berpasangan.
- Nama lamanya dikenal sebagai Barongan: Dalam banyak penjelasan budaya Betawi, ondel-ondel dulu dikenal sebagai Barongan sebelum namanya lebih populer sebagai ondel-ondel.
- Fungsi awalnya berkaitan dengan penolak bala: Indonesia Kaya mencatat ondel-ondel dahulu digunakan sebagai penolak bala dan penjaga kampung, sebelum kemudian berkembang menjadi simbol budaya Jakarta.
- Kini ondel-ondel menjadi ikon budaya Betawi: Pergub DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2017 menetapkan ondel-ondel sebagai salah satu ikon budaya Betawi bersama kembang kelapa, ornamen gigi balang, baju sadariah, dan ikon lainnya.
Dari ringkasan ini, kamu bisa melihat bahwa ondel-ondel bukan sekadar boneka besar untuk memeriahkan acara.
Ondel-ondel lahir dari tradisi masyarakat Betawi, lalu berubah mengikuti zaman.
Perubahan itu membuat ondel-ondel punya dua wajah sekaligus.
Di satu sisi, ia menyimpan jejak ritual lama, di sisi lain, ia menjadi simbol budaya yang mudah dikenali di Jakarta hari ini.
Akar Sejarah Ondel-Ondel dari Tradisi Barongan
Sebelum dikenal sebagai ikon budaya Betawi, ondel-ondel lebih dulu hidup dalam tradisi lama yang disebut Barongan.
Fungsi Magis sebagai Penolak Bala dan Pengusir Wabah Penyakit
Pada masa awal, ondel-ondel tidak hanya hadir sebagai tontonan.
Kesenian ini dipercaya punya fungsi perlindungan bagi kampung dan masyarakat Betawi.
Indonesia Kaya mencatat bahwa ondel-ondel dahulu digunakan sebagai penolak bala sehingga dipercaya dapat melindungi masyarakat dari marabahaya dan gangguan roh jahat.
Kepercayaan seperti ini berkaitan dengan pandangan lama masyarakat terhadap kekuatan gaib di sekitar mereka.
Oleh karena itu, ondel-ondel sering dipahami sebagai simbol penjaga kampung, bukan sekadar boneka besar yang diarak.
Dalam tradisi lama, fungsi perlindungan itu juga dikaitkan dengan upaya menjauhkan warga dari penyakit atau wabah.
Namun, bagian ini lebih aman dibaca sebagai kepercayaan budaya masyarakat, bukan penjelasan medis.
Seiring berjalannya waktu, fungsi magis itu perlahan berubah.
Ondel-ondel tetap hadir di ruang publik, tetapi perannya semakin bergeser menjadi hiburan, identitas daerah, dan ikon budaya Betawi yang diakui secara resmi melalui Pergub DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2017.
Mengapa Dulu Wajah Ondel-Ondel Dibuat Menyeramkan?
Wajah ondel-ondel lama sering digambarkan lebih seram daripada yang banyak dilihat hari ini.
Rupa yang besar, mata mencolok, rambut ijuk, dan ekspresi keras dipercaya dapat membuat roh jahat atau memedi takut mendekat.
Jadi, kesan menyeramkan justru menjadi bagian dari fungsi perlindungan dalam tradisi lama.
Dalam bahasa Betawi, istilah barongan juga berkaitan dengan boneka raksasa atau ondel-ondel.
Kamus Bahasa Betawi terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mencatat “barong, barongan” sebagai tiruan binatang buas atau boneka raksasa, termasuk ondel-ondel.
Perubahan wajah ondel-ondel kemudian mengikuti kebutuhan zaman.
Ketika fungsi hiburan dan pariwisata makin kuat, tampilannya dibuat lebih ramah agar mudah diterima dalam acara budaya, festival, dan ruang publik keluarga.
Transformasi Nama dari Barongan Menjadi Ondel-Ondel
Perubahan nama dari Barongan menjadi ondel-ondel menunjukkan perjalanan panjang kesenian Betawi ini.
Dari tradisi pelindung kampung, ondel-ondel kemudian tumbuh menjadi pertunjukan rakyat yang lebih dikenal luas.
Catatan Sejarah Kolonial tentang Boneka Raksasa
Jejak boneka raksasa di kawasan sekitar Batavia sudah sering dikaitkan dengan catatan awal abad ke-17.
Dalam kajian Ondel-ondel as Icons of Betawi Traditional Art, disebutkan bahwa W. Fruin Mees dalam Geschiedenis van Java mencatat peristiwa tahun 1605 di Banten
Saat itu, iring-iringan kerajaan membawa banyak hadiah, termasuk sepasang boneka raksasa.
Catatan ini menunjukkan bahwa tradisi boneka besar sudah lama hadir di kawasan budaya sekitar Batavia dan Banten.
Dalam ingatan masyarakat Betawi, ondel-ondel juga dikenal dengan nama lama Barongan.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Laman Indonesia Kaya juga mencatat bahwa banyak yang menyebut ondel-ondel semula bernama Barongan dan dianggap sebagai perwujudan danyang desa.
Dari latar itu, ondel-ondel tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pelindung kampung, keselamatan warga, dan penolak gangguan buruk.
Asal Usul Kata “Ondel-Ondel” dari Bahasa Betawi
Nama ondel-ondel menjadi lebih populer ketika kesenian ini makin sering hadir sebagai hiburan rakyat.
Indonesia Kaya mencatat bahwa tubuh ondel-ondel memiliki rongga kecil untuk pemain di bagian depan.
Dengan cara itu, pemain bisa melihat arah jalan, menggoyangkan tubuh, dan melakukan gerakan memutar cepat atau ngibing mengikuti irama.
Gerak bergoyang itulah yang membuat nama ondel-ondel terasa dekat dengan pengalaman orang saat melihatnya.
Dinas Kebudayaan DKI Jakarta juga menyebut ondel-ondel sebagai boneka raksasa khas Betawi yang biasanya tampil berpasangan.
Pemerintah DKI menempatkannya sebagai perlambang kekuatan, keberanian, ketegasan, dan kemampuan menjaga keamanan serta ketertiban.
Perubahan dari Barongan menjadi ondel-ondel menunjukkan pergeseran makna, dari sosok pelindung kampung menjadi ikon Betawi yang meriah, akrab, dan mudah dikenali masyarakat luas.
Makna Filosofis Anatomi dan Warna Wajah Ondel-Ondel
Setiap bagian tubuh ondel-ondel punya makna, dari warna wajah sampai hiasan yang dipasang di kepalanya.
1. Arti Wajah Merah pada Ondel-Ondel Laki-Laki
Ondel-ondel laki-laki biasanya dikenali dari wajah berwarna merah.
Dalam penjelasan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, warna merah pada wajah laki-laki melambangkan keberanian dan kekuatan.
Makna ini sesuai dengan citra ondel-ondel sebagai sosok pelindung.
Wajah merah membuat karakternya terlihat tegas, kuat, dan siap menjaga kampung dari gangguan buruk.
Selain wajah merah, ondel-ondel laki-laki juga identik dengan rambut dari ijuk.
Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menyebut penggunaan ijuk sebagai bagian dari bentuk ondel-ondel, terutama pada rambut yang membuat tampilannya tampak besar dan mencolok.
Dari sisi visual, ijuk membuat sosok ondel-ondel terlihat lebih hidup saat bergerak.
Rambut itu ikut bergoyang ketika boneka berjalan mengikuti irama musik.
2. Arti Wajah Putih pada Ondel-Ondel Perempuan
Ondel-ondel perempuan biasanya memiliki wajah berwarna putih.
Dalam penjelasan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, warna putih pada wajah perempuan melambangkan kesucian dan kebaikan.
Makna ini membuat pasangan ondel-ondel terasa seimbang.
Sosok laki-laki membawa kesan kuat dan berani, sedangkan sosok perempuan membawa kesan lembut, bersih, dan menenangkan.
Ondel-ondel perempuan juga lekat dengan hiasan kembang kelapa di bagian kepala.
Pergub DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2017 menetapkan kembang kelapa sebagai salah satu ikon budaya Betawi, bersama ondel-ondel dan beberapa simbol budaya lain.
Hiasan itu membuat ondel-ondel terlihat lebih meriah saat tampil di ruang publik.
Dalam arak-arakan, kembang kelapa juga membantu memperkuat kesan pesta, perayaan, dan identitas Betawi.
Itu dia penjelasan mengenai asal usul ondel-ondel dalam budaya Betawi dan sebagai ikon kota Jakarta.
Selain ondel-ondel yang menjadi simbol budaya Betawi, Lenong juga termasuk kesenian tradisional Betawi yang memiliki peran penting sebagai identitas budaya Jakarta.
Kalau kamu ingin mengenal lebih jauh tentang perjalanan dan perkembangan lenong, buku Lenong: Masa Lampau, Masa Kini dan Masa Depan – Komedi Betawi dapat menjadi pilihan bacaan yang menarik.
Komedi Betawi merupakan kreasi penulis sebagai bentuk adaptasi lenong dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, seperti silat, gambang kromong, pantun, dan humor.
Penulis juga menjelaskan bahwa lenong tidak dapat dipertahankan sepenuhnya dalam bentuk aslinya sehingga lahirlah bentuk lenong baru yang tetap membawa nilai budaya Betawi.
Melalui buku ini, kamu dapat melihat bagaimana lenong terus berkembang dan tetap menjadi bagian dari identitas kebetawian di Jakarta.
Baca selengkapnya buku Lenong: Masa Lampau, Masa Kini dan Masa Depan – Komedi Betawi hanya di Gramedia Digital.