Sejarah Populer Gulai Tikungan, Kuliner Malam Legendaris dari Blok M

Lihat Foto
Sumber Gambar: Pexels.com
Sejarah Populer Gulai Tikungan
Rujukan artikel ini:
Resep Lauk Praktis Selera Nusantara…
Pengarang: Reza Permadi
Penulis Nadia
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Gulai tikungan atau yang lebih dikenal sebagai gultik telah lama menjadi bagian dari kehidupan malam di Blok M.

Kuliner sederhana ini dikenal lewat sajian nasi, potongan daging sapi, dan kuah gulai hangat yang disajikan dalam porsi kecil, namun memiliki cita rasa khas yang membuat banyak orang kembali mencarinya.

Popularitas gultik tidak lepas dari keberadaannya di kawasan ramai Jakarta, terutama sebagai pilihan makan malam yang praktis, terjangkau, dan mudah ditemukan.

Dari pedagang kaki lima di pinggir jalan, gulai tikungan kemudian tumbuh menjadi salah satu kuliner legendaris yang identik dengan suasana malam kota.

Awal Mula Gulai Tikungan

Gulai tikungan mulai dikenal sebagai salah satu kuliner malam khas kawasan Blok M, Jakarta, yang sejak dulu ramai oleh aktivitas masyarakat hingga larut malam.

Nama gulai tikungan muncul karena para penjual makanan ini awalnya berjualan di area tikungan jalan, memanfaatkan lokasi yang mudah dijangkau oleh pejalan kaki maupun pengendara.

Pada masa awal kemunculannya, gulai tikungan hadir sebagai pilihan makanan sederhana yang cepat disajikan.

Penjual menggunakan konsep kaki lima dengan peralatan sederhana, tetapi tetap mampu menarik perhatian karena aroma kuah rempah yang khas.

Beberapa ciri awal gulai tikungan yang mudah dikenali antara lain:

Menu yang disajikan biasanya terdiri dari nasi putih, potongan daging sapi kecil, lalu disiram kuah gulai hangat.

Meski sederhana, perpaduan rasa gurih dari santan dan rempah membuat makanan ini cepat digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari pekerja malam hingga anak muda yang berkumpul di kawasan tersebut.

Keunikan lain dari gulai tikungan sejak awal adalah porsinya yang tidak besar.

Hal ini justru membuat pembeli sering menambah porsi atau memadukannya dengan lauk tambahan seperti sate.

Ciri penyajian awal yang masih bertahan hingga sekarang yaitu:

Seiring waktu, gulai tikungan tidak hanya dikenal sebagai makanan pengganjal lapar, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari identitas kuliner malam Jakarta yang tetap dicari hingga kini.

Perkembangan Popularitas Gultik

Seiring berjalannya waktu, gultik tidak lagi dikenal hanya oleh warga sekitar Blok M, tetapi juga mulai menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.

Lokasinya yang berada di pusat aktivitas malam membuat kuliner ini mudah ditemukan dan cepat menyebar dari cerita mulut ke mulut.

Pada awalnya, pembeli gultik didominasi oleh pekerja malam, sopir, serta mahasiswa yang mencari makanan hangat dengan harga terjangkau.

Namun lama-kelamaan, banyak wisatawan kuliner datang khusus untuk mencoba sensasi makan gultik langsung di tempat asalnya.

Beberapa faktor yang membuat popularitas gultik terus meningkat antara lain:

Popularitas gultik juga semakin kuat karena suasana makannya yang khas.

Deretan warung kaki lima yang buka hingga larut malam menciptakan pengalaman tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati kuliner sederhana dengan nuansa perkotaan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Selain itu, perkembangan media sosial ikut memperluas dikenalinya gultik.

Banyak orang membagikan pengalaman makan di kawasan Blok M sehingga kuliner ini semakin sering muncul dalam daftar rekomendasi makanan malam di Jakarta.

Bentuk perkembangan yang terlihat hingga sekarang meliputi:

Dari makanan kaki lima sederhana, gultik kini berkembang menjadi kuliner legendaris yang tetap bertahan di tengah banyaknya pilihan makanan modern.

Daya Tarik Kuliner Malam Legendaris

Salah satu alasan gultik tetap bertahan hingga sekarang adalah daya tariknya yang sederhana tetapi sulit digantikan.

Di tengah banyaknya pilihan kuliner modern, gultik tetap punya tempat tersendiri karena menghadirkan rasa hangat yang akrab bagi banyak orang.

Saat malam tiba, kawasan Blok M mulai dipenuhi pengunjung yang datang untuk menikmati sajian ini.

Suasana makan di pinggir jalan dengan deretan penjual yang ramai justru menjadi pengalaman yang dicari, bukan sekadar soal rasa makanan.

Beberapa hal yang membuat gultik tetap menarik sebagai kuliner malam yaitu:

Selain suasananya, rasa gultik yang ringan juga menjadi keunggulan tersendiri.

Kuahnya tidak terlalu berat, tetapi tetap kaya rempah sehingga nyaman disantap meski dalam porsi lebih dari satu mangkuk.

Banyak pengunjung juga menyukai fleksibilitas menu yang bisa dipadukan dengan lauk tambahan seperti sate atau kerupuk.

Hal ini membuat pengalaman makan terasa lebih lengkap tanpa kehilangan ciri khas utamanya.

Ciri daya tarik yang paling sering dicari pengunjung antara lain:

Karena itulah gultik bukan hanya dikenal sebagai makanan malam biasa, tetapi juga sudah menjadi bagian dari identitas kuliner legendaris Jakarta yang terus dicari hingga sekarang.

Sejarah gulai tikungan menunjukkan bagaimana sebuah hidangan sederhana bisa tumbuh menjadi ikon kuliner malam yang melekat kuat dengan kawasan Blok M.

Dari warung kaki lima di pinggir jalan, gultik berkembang menjadi makanan legendaris yang tetap dicari karena rasa gurih, porsi praktis, dan suasana makan yang khas hingga sekarang.

Bagi kamu yang ingin mengenal lebih jauh masakan nusantara sekaligus mencoba membuat sendiri di rumah, buku Resep Lauk Praktis Selera Nusantara ala Chef Reza bisa jadi referensi yang tepat.

Buku ini berisi aneka resep praktis dalam mengolah aneka bahan menjadi lauk khas Indonesia seperti sop atau pindang iga sapi, rawon, rendang, gulai tunjang, ayam bakar padang, tempoyak udang, hingga jengkol balado dan aneka sambal.

Meski praktis dan ringkas, resep-resep dalam buku ini ditulis dengan sangat jelas dan rinci.

Resep-resep dalam buku ini juga telah melalui uji coba berkali-kali termasuk oleh followers Chef Reza di media sosial.

Buku ini bisa kamu dapatkan dengan mudah melalui Gramedia.com dan Gramedia Digital untuk versi e-book!

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi