Perbedaan Gultik dengan Gulai Biasa: Ini Ciri Khas yang Banyak Orang Belum Tahu

Lihat Foto
Sumber Gambar: Pexels.com
Perbedaan Gultik dengan Gulai Biasa
Rujukan artikel ini:
Resep Lauk Praktis Selera Nusantara…
Pengarang: Reza Permadi
Penulis Nadia
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Kalau sekilas dilihat, gultik dan gulai biasa memang tampak mirip: sama-sama berkuah, berwarna kuning kecokelatan, dan kaya rempah.

Tapi jangan salah, keduanya punya karakter yang cukup berbeda.

Mulai dari rasa, tekstur kuah, sampai cara penyajiannya.

Banyak orang bahkan baru sadar bahwa gultik bukan sekadar gulai dalam versi mini.

Nama gultik sendiri merupakan singkatan dari gulai tikungan, kuliner khas malam hari yang sangat identik dengan kawasan Blok M, khususnya di sekitar tikungan jalan yang dipenuhi penjual kaki lima.

Sementara gulai biasa sudah lama dikenal sebagai hidangan berkuah santan khas berbagai daerah di Indonesia dengan banyak variasi bahan dan bumbu.

Lalu sebenarnya apa yang membuat gultik terasa berbeda dibanding gulai biasa? Kenapa porsinya kecil, kuahnya lebih ringan, tetapi justru punya cita rasa yang khas dan bikin nagih?

Nah, artikel ini kita akan membahas ciri khas keduanya supaya kamu tidak lagi keliru lagi membedakannya.

Asal Usul Gultik

Gultik dikenal sebagai salah satu kuliner malam yang lekat dengan suasana jalanan Jakarta.

Nama gultik sendiri berasal dari singkatan gulai tikungan karena awalnya makanan ini banyak dijual di area tikungan jalan kawasan Blok M.

Dari tempat sederhana inilah gultik mulai dikenal luas dan menjadi pilihan banyak orang saat mencari makanan hangat di malam hari.

Beberapa hal yang membuat nama gultik cepat populer antara lain:

Pada masa awal kemunculannya, gultik banyak diburu oleh pekerja malam, mahasiswa, hingga pengunjung yang datang ke kawasan tersebut.

Sajian sederhana berupa nasi putih, potongan daging sapi, dan kuah rempah hangat membuat makanan ini terasa pas disantap kapan saja, terutama saat udara malam mulai dingin.

Ciri penyajian yang sejak dulu melekat pada gultik adalah:

Meski sama-sama menggunakan bumbu gulai, gultik memiliki karakter berbeda dibanding gulai biasa.

Kuahnya cenderung lebih encer, tetapi aroma rempahnya tetap kuat karena menggunakan campuran santan, kunyit, serai, dan berbagai bumbu dapur lainnya.

Selain itu, dari segi rasa banyak orang menyukai gultik karena gurih tetapi tidak terlalu berat, dagingnya empuk dan mudah disantap, serta cocok dipadukan dengan tambahan sate atau kerupuk.

Seiring waktu, popularitas gultik terus berkembang dan tidak hanya dikenal di Jakarta.

Banyak daerah mulai menghadirkan menu serupa, meskipun nuansa khas pedagang kaki lima di Blok M tetap menjadi identitas utama yang sulit dipisahkan dari sejarah kuliner ini.

Perbedaan Kuah dan Rasa

Salah satu hal yang paling mudah membedakan gultik dengan gulai biasa adalah dari tampilan kuahnya.

Sekilas warnanya memang sama-sama kekuningan dengan aroma rempah yang kuat, tetapi teksturnya berbeda saat disajikan.

Pada gultik, kuah biasanya dibuat lebih ringan sehingga tidak terlalu kental saat disantap.

Porsi kuah yang sedikit justru membuat rasa rempahnya terasa langsung menyatu dengan nasi dan potongan daging.

Ciri kuah gultik yang paling khas antara lain:

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sementara itu, gulai biasa umumnya memiliki kuah yang lebih kental karena penggunaan santan yang lebih banyak.

Dalam berbagai masakan khas Indonesia, gulai sering dimasak hingga bumbunya benar-benar meresap dan kuahnya terasa lebih berat.

Perbedaan rasa juga cukup terasa saat dicicipi.

Gultik cenderung menghadirkan rasa gurih yang ringan, sedangkan gulai biasa punya karakter rempah yang lebih kuat dan kaya santan.

Beberapa perbedaan rasa yang sering dirasakan yaitu:

Karena itulah banyak orang memilih gultik untuk makan malam santai, sementara gulai biasa sering dijadikan lauk utama dalam porsi makan yang lebih besar.

Ciri Khas Penyajian

Selain kuah dan rasa, perbedaan gultik dengan gulai biasa juga terlihat jelas dari cara penyajiannya.

Gultik identik dengan porsi kecil yang disajikan sederhana, tetapi justru itulah daya tarik utamanya.

Biasanya, satu porsi gultik terdiri dari nasi putih, beberapa potong daging sapi, lalu disiram kuah hangat secukupnya.

Karena porsinya tidak terlalu banyak, banyak orang memilih menambah porsi atau menikmati bersama lauk pendamping.

Ciri khas penyajian gultik antara lain:

Di kawasan Blok M, gultik sering disantap langsung di warung kaki lima dengan suasana santai pada malam hari.

Pengunjung biasanya duduk berdekatan sambil menikmati hidangan yang datang dengan cepat.

Berbeda dengan itu, gulai biasa umumnya disajikan sebagai lauk utama dalam satu porsi makan lengkap.

Kuahnya lebih banyak dan pilihan isinya juga beragam, mulai dari daging, ayam, hingga jeroan.

Beberapa pelengkap yang sering menemani gultik yaitu sate-satean sebagai lauk tambahan, kerupuk atau emping, dan sambal untuk menambah rasa pedas

Kesederhanaan penyajian inilah yang membuat gultik punya identitas kuat sebagai kuliner malam khas Jakarta yang tetap digemari hingga sekarang.

Gultik dan gulai biasa memang sama-sama berakar dari tradisi masakan berempah khas Indonesia, tetapi keduanya memiliki identitas yang berbeda.

Gultik tampil lebih sederhana dengan kuah ringan, porsi kecil, dan nuansa kuliner kaki lima yang khas, sedangkan gulai biasa identik dengan kuah santan yang lebih kental serta variasi bahan yang lebih beragam.

Perbedaan inilah yang membuat masing-masing punya penggemar tersendiri.

Kalau ingin lebih memahami racikan masakan nusantara selain gulai, kamu bisa membaca buku Resep Lauk Praktis Selera Nusantara ala Chef Reza.

Buku ini berisi aneka resep praktis dalam mengolah aneka bahan menjadi lauk khas Indonesia seperti sop atau pindang iga sapi, rawon, rendang, gulai tunjang, ayam bakar padang, tempoyak udang, hingga jengkol balado dan aneka sambal.

Meski praktis dan ringkas, resep-resep dalam buku ini ditulis dengan sangat jelas dan rinci.

Resep-resep dalam buku ini telah melalui uji coba berkali-kali termasuk oleh follower Chef Reza di media sosial.

Buku ini bisa kamu dapatkan dengan mudah melalui Gramedia.com dan Gramedia Digital untuk versi e-book!

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi