Kerajaan Banten merupakan salah satu entitas politik Islam terbesar yang pernah menguasai jalur perdagangan di tanah Jawa.
Namanya tercatat dengan tinta emas dalam sejarah dunia sebagai penguasa maritim yang disegani oleh kawan maupun lawan.
Kejayaan kerajaan ini tidak bisa dilepaskan dari kejeniusan para pendirinya dalam memilih lokasi pusat pemerintahan.
Posisi geografisnya menjadi kunci utama yang memungkinkan Banten memegang kendali penuh atas arus keluar masuk kapal dagang.
Namun, mungkin kita masih bingung menentukan lokasi nya, menentukan titik persis keberadaan kerajaan ini di peta modern.
Sering kali terjadi kerancuan antara lokasi Banten Girang di pedalaman dengan Banten Lama yang berada di pesisir.
Artikel ini akan mengupas tuntas letak kerajaan banten mulai dari tinjauan geografis hingga panduan lokasi situsnya saat ini.
Di Mana Letak Kerajaan Banten Secara Geografis?
Secara administratif modern, pusat Kerajaan Banten terletak di wilayah Provinsi Banten yang merupakan pecahan dari Jawa Barat.
Lokasi inti keraton berada di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota.
Secara geografis, kerajaan ini menempati posisi paling ujung barat Pulau Jawa yang menghadap langsung ke Laut Jawa.
Wilayah kekuasaannya pada masa puncak kejayaan mencakup hampir seluruh bagian barat pulau Jawa hingga ke Lampung di Sumatera.
Batas utara kerajaan adalah Laut Jawa, sementara di sebelah barat berbatasan langsung dengan perairan strategis Selat Sunda.
Jika dilihat melalui peta satelit modern, situs pusat pemerintahan Banten Lama berada pada titik koordinat 6°02' Lintang Selatan dan 106°09' Bujur Timur.
Kawasan ini merupakan dataran rendah yang dialiri oleh sungai-sungai besar, menjadikannya lahan yang subur sekaligus akses transportasi air.
Kondisi tanah rawa di sekitar keraton dulunya dimanfaatkan sebagai sistem pertahanan alami untuk menghambat pergerakan pasukan musuh darat.
Pusat Pemerintahan: Dari Banten Girang ke Banten Lama
Sejarah mencatat adanya pergeseran lokasi pusat pemerintahan yang menandai perubahan corak kerajaan dari Hindu ke Islam.
Sebelum Kesultanan Banten berdiri, pusat kekuasaan berada di Banten Girang yang terletak lebih ke arah pedalaman (selatan).
Wilayah Banten Girang saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu dengan Sungai Cibanten sebagai akses utama.
Perubahan besar terjadi ketika Sunan Gunung Jati dan putranya, Maulana Hasanuddin, mengambil alih wilayah tersebut pada tahun 1525.
Sultan Maulana Hasanuddin kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari pedalaman ke wilayah pesisir utara yang kini disebut Banten Lama.
Pemindahan ibu kota ini bertujuan untuk memudahkan kontrol terhadap aktivitas perdagangan laut dan penyebaran Islam di Jawa Barat.
Lokasi baru di Surosowan (Banten Lama) dianggap jauh lebih relevan dengan visi Banten sebagai kerajaan maritim yang terbuka.
Transformasi lokasi ini mengubah wajah Banten dari kerajaan agraris pedalaman menjadi kekuatan dagang internasional yang sangat dominan.
Mengapa Letak Kerajaan Banten Sangat Strategis?
Keberhasilan Banten menjadi bandar dagang kelas dunia didorong oleh keuntungan posisi geografis yang sulit ditandingi kerajaan lain.
1. Penguasaan Selat Sunda sebagai Jalur Internasional
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 mengubah peta pelayaran perdagangan di Asia Tenggara secara drastis.
Pedagang muslim dan Asia enggan berdagang di Malaka dan mulai mencari jalur alternatif melalui Selat Sunda untuk menghindari Portugis.
Letak Banten yang berada tepat di gerbang Selat Sunda menjadikannya pelabuhan transit utama bagi kapal-kapal tersebut.
Semua kapal yang hendak menuju ke Maluku atau Jawa bagian timur mau tidak mau harus singgah di pelabuhan Banten.
Posisi ini memberikan Banten hak istimewa untuk memungut pajak cukai dan mengontrol harga pasar komoditas internasional.
2. Dekat dengan Sumber Komoditas Lada
Selain posisi silang lalu lintas laut, Banten memiliki keunggulan akses terhadap sumber daya alam yang paling dicari dunia.
Wilayah pedalaman Banten dan Lampung (yang berada di bawah kekuasaannya) adalah penghasil lada hitam kualitas terbaik.
Kedekatan geografis antara pelabuhan dan kebun lada memungkinkan Banten melakukan monopoli perdagangan lada dengan biaya distribusi rendah.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Pedagang Eropa seperti Belanda dan Inggris rela antre di pelabuhan Banten demi mendapatkan "emas hitam" tersebut.
Kombinasi antara pelabuhan strategis dan komoditas unggulan inilah yang membuat kas negara Banten selalu melimpah ruah.
Bukti Arkeologis Lokasi Kerajaan Banten
Klaim mengenai lokasi dan kebesaran Banten didukung oleh peninggalan fisik yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini.
1. Keraton Surosowan
Pusat pemerintahan Sultan Banten dijalankan dari Keraton Surosowan yang kini tinggal berupa reruntuhan fondasi dinding bata merah.
Keraton ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 3 hektare dan dikelilingi oleh benteng pertahanan yang kokoh.
Di dalam kompleks keraton, terdapat sisa-sisa sistem tata air kuno atau pengindelan yang menyaring air bersih untuk penghuni istana.
Lokasi keraton ini menjadi titik nol yang menegaskan di sinilah dahulu Sultan Banten mengendalikan roda pemerintahan kerajaannya.
2. Pelabuhan Karangantu
Tidak jauh dari keraton, terdapat Pelabuhan Karangantu yang dulunya merupakan pintu gerbang ekonomi Kesultanan Banten.
Pelabuhan ini pada abad ke-16 dan 17 dipenuhi oleh kapal-kapal besar dari Tiongkok, Arab, India, Inggris, dan Belanda.
Kawasan ini menjadi pusat pertemuan pedagang multinasional dan tempat terjadinya pertukaran budaya serta teknologi perkapalan.
3. Benteng Speelwijk
Di seberang sungai, berdiri kokoh Benteng Speelwijk yang dibangun oleh VOC sebagai simbol persaingan kekuasaan di Banten.
Keberadaan benteng Belanda yang sangat dekat dengan keraton menunjukkan betapa pentingnya lokasi ini bagi kepentingan kolonial.
Situs-situs ini membentuk satu kesatuan kawasan cagar budaya Banten Lama yang menjadi bukti bisu sejarah kejayaan masa lalu.
Peta Lokasi Kerajaan Banten di Masa Modern
Bagi kamu yang ingin napak tilas sejarah, lokasi bekas Kerajaan Banten kini sangat mudah diakses oleh publik.
Kawasan Banten Lama telah direvitalisasi menjadi destinasi wisata religi dan sejarah yang nyaman dengan fasilitas yang memadai.
Jika berangkat dari Jakarta, kamu dapat menggunakan akses Jalan Tol Jakarta-Merak dan keluar di Gerbang Tol Serang Timur.
Dari pusat Kota Serang, perjalanan dilanjutkan ke arah utara sejauh kurang lebih 10 kilometer menuju Kecamatan Kasemen.
Titik patokan utamanya adalah Masjid Agung Banten yang terkenal dengan menara putihnya yang menyerupai mercusuar.
Kawasan ini mencakup Keraton Surosowan, Masjid Agung, Keraton Kaibon, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.
Bagi pengguna transportasi umum, tersedia kereta lokal dari Stasiun Rangkasbitung atau Merak yang berhenti di Stasiun Karangantu.
Dari stasiun tersebut, kamu cukup berjalan kaki singkat atau menggunakan kendaraan lokal untuk mencapai kompleks bersejarah tersebut.
Mengunjungi lokasi ini secara langsung akan memberikan gambaran spasial yang nyata tentang tata kota kerajaan Islam masa lalu.
Kamu bisa melihat langsung bagaimana keraton, masjid, pasar, dan pelabuhan diintegrasikan dalam satu kawasan yang kompak.
Belajar dari Sejarah untuk Membangun Karakter
Memahami letak dan sejarah Kerajaan Banten membuka mata kita bahwa nenek moyang bangsa ini adalah visioner ulung.
Mereka mampu membaca potensi alam dan mengubah letak geografis menjadi kekuatan ekonomi politik yang disegani dunia.
Pengetahuan ini seharusnya tidak berhenti sebagai hafalan lokasi semata, tetapi menjadi inspirasi untuk membangun wawasan kemaritiman kita hari ini.
Untuk mendalami nilai-nilai luhur dari peradaban masa lalu, membaca literatur yang tepat adalah langkah awal yang bijak.
Buku Mengenal Kerajaan Islam Nusantara karya Khairul Saleh hadir untuk mengenalkan kita pada sejarah emas tersebut.
Buku ini tidak sekadar menyajikan deretan fakta dan tahun kejadian yang seringkali membosankan bagi pembaca umum.
Penulis mencoba menggali nilai-nilai keislaman dan kepemimpinan yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.
Sebagai umat muslim, mengetahui sejarah kerajaan Islam di Nusantara seyogyanya menjadi sarana membentuk karakter dan jati diri.
Wawasan sejarah yang kuat akan menumbuhkan rasa bangga dan memperkokoh identitas keislaman kita di tengah arus globalisasi.
Segera miliki buku inspiratif ini dengan membelinya di Gramedia Digital.