Buku The Wealth You Can't Lose Di sebuah seminar profesional yang cukup bergengsi, seorang peserta memberanikan diri bergabung dalam lingkaran kecil obrolan setelah sesi utama usai.
Ia baru saja menyapa ketika lawan bicaranya berkata singkat, "Saya ke toilet dulu, ya"—dan tak pernah kembali.
Momen canggung semacam itu ternyata jauh lebih umum dialami daripada yang kita kira.
Banyak orang datang ke acara networking dengan ekspektasi bisa membangun relasi, tapi pulang membawa rasa tidak nyaman dan setumpuk kartu nama yang tak pernah dihubungi lagi.
Pengalaman semacam ini membentuk sebuah kesimpulan keliru di kepala banyak orang bahwa networking hanya cocok untuk mereka yang ekstrover, pandai bicara, dan nyaman "menjual diri" di ruangan penuh orang asing.
Kesimpulan itu kemudian membuat sebagian besar dari kita memilih jalan aman dengan menghindar dari acara networking, bekerja sendirian, dan berharap kompetensi saja akan cukup berbicara.
Ironisnya, di saat yang sama, ada satu istilah yang begitu akrab di telinga hampir setiap pencari kerja dan pelaku bisnis Indonesia yaitu "orang dalam".
Setiap kali sebuah lowongan diumumkan atau proyek besar jatuh ke perusahaan tertentu, istilah ini nyaris selalu muncul.
Kadang sebagai kecurigaan, tidak jarang sebagai sebagai keluhan pahit.
Ada jarak yang aneh antara dua kenyataan ini.
Kita malas membangun relasi, tapi diam-diam tahu betul bahwa relasi adalah salah satu penentu terbesar keberhasilan seseorang.
Secara sederhana, networking adalah proses membangun dan merawat hubungan yang saling menguntungkan, biasanya dalam konteks profesional.
Namun, definisi ini sering disalahpahami sebagai sekadar "kenal banyak orang" atau rajin menukar kartu nama.
Padahal adalah seberapa jauh orang lain memercayai, mengingat, dan bersedia merekomendasikan kita ketika kesempatan muncul—bahkan saat kita tidak berada di ruangan itu.
Data yang dilaporkan CNBC meenunjukkan bahwa 70 persen lowongan kerja tidak pernah diiklankan secara terbuka, dan lebih dari 80 persen perekrutan sesungguhnya terjadi lewat jalur networking.
Artinya, sebaik apa pun kemampuan seseorang, jika ia tidak dikenalkan kepada orang yang tepat, ia bisa tertinggal mengingat dunia kerja dan bisnis tidak hanya soal kompetensi, tapi juga eksposur dan koneksi.
Penulis Adam Grant dalam Give and Take menekankan bahwa kesuksesan jangka panjang lebih ditentukan oleh kemampuan seseorang membangun relasi dan memberi nilai bagi orang lain, ketimbang kemampuan teknis semata.
Keith Ferrazzi, penulis Never Eat Alone bahkan berpendapat bahwa kesuksesan dalam bisnis pada dasarnya adalah soal bekerja bersama orang lain.
Kalau networking sepenting itu, mengapa begitu banyak orang tetap menghindarinya? Ada beberapa pola yang berulang.
Sebagian orang terlalu meromantisasi networking—membayangkannya harus berlangsung di ballroom hotel sambil memegang gelas anggur dan berbincang dengan CEO sehingga merasa tidak cukup pantas untuk "masuk" ke dunia itu.
Sebagian lain menahan diri karena takut dicap "panjat sosial" atau “menjilat” saat mendekati orang yang lebih berpengaruh.
Ada juga kelompok introver yang sudah lelah duluan membayangkan harus menyapa orang baru, ditambah pengalaman pahit di masa lalu—pulang dari sebuah acara hanya dengan kartu nama kosong dan percakapan yang terasa dibuat-buat.
Semua kendala ini sebenarnya bersumber dari satu miskonsepsi yang sama.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Kebanyakan orang menilai networking itu bakat bawaan orang ekstrover.
Susan Cain, penulis Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking menulis bahwa dunia terlalu lama menyanjung sosok ekstrover sebagai ideal.
Padahal, dalam kata-katanya sendiri, tidak ada korelasi sama sekali antara menjadi pembicara terbaik dan memiliki ide-ide terbaik.
Prinsip ini berlaku juga dalam membangun relasi.
Bukan yang paling banyak bicara yang paling diingat, melainkan yang paling membuat orang lain merasa didengar.
Ada perbedaan penting antara cara pandang Barat dan masyarakat Asia, khususnya Indonesia, terhadap kesuksesan.
Budaya profesional Barat cenderung menekankan meritokrasi murni—anggapan bahwa kompetensi dan kerja keras individu adalah faktor penentu utama.
Namun, di banyak masyarakat Asia, hubungan baik, kepercayaan, dan rasa saling kenal sering menjadi prasyarat sebelum kompetensi seseorang benar-benar dipertimbangkan.
Konsep seperti guanxi di Tiongkok atau budaya silaturahmi di Indonesia tidak sesederhana tradisi sosial, melainkan mekanisme nyata yang menentukan siapa dipercaya memegang proyek, direkomendasikan untuk posisi penting, dan diajak masuk lingkaran kolaborasi.
Ini bukan berarti kompetensi tidak penting—kompetensi tetap membuka pintu.
Namun, di tengah masyarakat yang menjunjung kolektivitas dan kepercayaan interpersonal seperti Indonesia, kedekatan hubunganlah yang sering menentukan pintu mana yang terbuka lebih dulu dan seberapa lama pintu itu tetap terbuka.
Realitas inilah yang membuat istilah "orang dalam" begitu hidup di masyarakat kita.
Ini bukan semata soal kolusi, tapi cerminan sistem sosial yang memang menghargai kedekatan relasional—sesuatu yang sayangnya jarang dipelajari secara serius sebagai sebuah keterampilan.
Riset jangka panjang Harvard Study of Adult Development—studi longitudinal terpanjang di dunia yang berjalan lebih dari 80 tahun—bahkan menemukan bahwa faktor terbesar yang memengaruhi kebahagiaan dan kesehatan seseorang di masa tua adalah kualitas hubungan yang mereka miliki.
Stephen M.R. Covey dalam The Speed of Trust menambahkan bahwa ketika ada kepercayaan tinggi, segala hal berjalan lebih cepat dengan biaya lebih rendah.
Sebaliknya, ketika kepercayaan rendah, biaya meningkat dan segalanya melambat.
Kesenjangan antara pentingnya relasi dan minimnya pemahaman soal cara membangunnya inilah yang coba dijembatani Agung Setiyo Wibowo lewat bukunya, The Wealth You Can't Lose, yang telah tersedia di Gramedia di seluruh Indonesia dan Gramedia.com.
Buku ini berangkat dari premis bahwa networking bukan bakat alami segelintir orang ekstrover, melainkan keterampilan yang bisa dilatih siapa pun—termasuk mereka yang introver, sibuk, atau selama ini merasa canggung "menjual diri".
Agung mengajak pembaca bergeser dari paradigma "berapa banyak orang yang saya kenal" menuju "seberapa dalam saya dipercaya oleh orang yang tepat", sekaligus menawarkan kerangka praktis untuk keluar dari jebakan networking yang transaksional dan melelahkan.
Buku ini juga menegaskan bahwa kekayaan relasional dibangun di atas lima pilar yang saling menopang yaitu kepercayaan, sikap saling memberi, konsistensi kehadiran, reputasi yang terjaga, dan jaringan yang beragam—bukan sekadar seberapa ramai daftar kontak yang dimiliki seseorang.
Yang membedakan buku ini adalah penekanannya pada perawatan relasi jangka panjang.
Di tengah budaya profesional yang serba cepat—saat kolega lama mudah terlupakan begitu berganti pekerjaan, dan mitra proyek jarang dihubungi lagi setelah kerja sama usai—buku ini mengingatkan bahwa kekayaan relasional sesungguhnya tumbuh dari konsistensi merawat hubungan yang sudah ada, sesuatu yang sangat relevan dengan nilai silaturahmi yang sebenarnya sudah lama hidup dalam masyarakat Indonesia, hanya saja sering direduksi menjadi rutinitas Lebaran belaka.
Pada akhirnya, di tengah dunia kerja yang penuh ketidakpastian—industri yang bisa berubah drastis, jabatan yang bisa hilang tanpa peringatan, dan persaingan yang kian sengit untuk setiap posisi dan proyek—ada satu bentuk kekayaan yang tidak bisa dicuri, tidak tergerus zaman, dan justru semakin bernilai seiring waktu, yaitu kepercayaan yang dibangun dari relasi yang tulus dan dirawat dengan sadar.